15. Bilqis adalah Poros

1064 Words
Seorang remaja pria dengan sangat perhatian duduk di sebelah ranjang unit kesehatan sekolah. Matanya terus saja menatap gadis yang tengah terbaring dengan lemah di ranjang tersebut, berulang kali terus saja merutuki apa yang terjadi hari ini. Menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa melakukan yang terbaik untuk sahabatnya. Berulang kali merasa ingkar janji karena tidak bisa menjaga sahabatnya seperti yang sudah ia janjikan beberapa tahun lalu. Di samping pria tersebut, ada tiga orang gadis yang turut menemani juga. Menunggu sosok gadis yang sedang terbaring sakit itu bangun.   “Lo enggak mau makan dulu, Vel? Lo dari tadi belum makan loh, baru makan pas istirahat pertama doang. Lo bisa sakit kalau misalnya telat makan. Mendingan sekarang lo makan dulu, deh. Biar gue sama Pelita sama Abela di sini nungguin Iqis. Gue enggak mau kalau lo sampai ikutan sakit juga, Vel. Lagian juga Iqis aman kok di tangan kita,” ujar salah satu gadis yang berada di sebelah kanan dari pria tersebut. Ya, benar sekali! Tentu saja pria yang sedari tadi dibicarakan adalah Axvel, gadis yang sedari tadi terbaring tak berdaya di ranjang UKS adalah Bilqis yang pingsan karena tak kuat di saat dihukum berlari, setelah itu ketiga gadis yang bersama dengan Axvel adalah Pelita, Abela, dan juga Azila. Mereka bertiga memang sudah meminta izin kepada guru yang sedang mengajar untuk menjaga Bilqis. Walaupun meminta izinnya juga cukup sulit sekali mereka lakukan.   Axvel yang dikatakan seperti itu oleh Azila hanya menggelengkan kepalanya dengan sangat lemah. Ia tak membutuhkan asupan makanan untuk dirinya sendiri. Ia tak membutuhkan asupan makanan untuk membuat dirinya tetap sehat atau bagaimana, karena saat ini yang paling penting untuk Axvel adalah Bilqis. Bilqis adalah yang utama sampai kapan pun juga. Bilqis adalah sosok yang paling penting bagi Axvel. Tak peduli jika nanti Axvel akan sakit karena telat makan, tak peduli jika nantinya Axvel akan dimarahin mati-matian oleh kedua orang tuanya karena tak bisa menjaga kesehatan. Bagi Axvel saat ini rasa bersalah adalah yang utama. Rasa bersalah karena sudah membiarkan Bilqis sampai seperti ini.   “Lo jangan egois kayak gini dong, Vel. Kita semua tau kalau misalnya lo khawatir sama Iqis. Kita semua tau kalau misalnya lo enggak mau sampai Iqis kenapa-kenapa dan lain sebagainya. Kita tau itu. Tapi lo juga harus mikir kalau Iqis bakalan sedih nantinya di saat lo enggak mikirin diri lo sendiri. Iqis pastinya merasa bersalah banget kalau misalnya lo sakit karena lo nungguin dia terus. Jangan kayak gitu ya? Seenggaknya luangin waktu lo buat makan lah, palingan juga sepuluh sampai lima belas menit. Iqis enggak bakalan kenapa-kenapa juga kok. Kita yang bakalan nungguin Iqis. Kita yang bakalan jagain Iqis juga.” Kali ini Abela yang berusaha untuk membujuk Axvel. Ia terus saja meminta Axvel untuk meluangkan waktu makan di tengah-tengah kesibukannya menjaga Bilqis.   “Gue enggak laper, Bel. Gue mau nungguin Iqis aja,” sahut Axvel yang tetap kekeuh pada pendiriannya. Rasa bersalah memang terus menggerogoti hati Axvel. Tak terima jika Bilqis saat ini terbaring karenanya.   “Lo kan pernah bilang sendiri kalau makan bukan berarti lo laper doang. Gimana sih ini, Vel? Masa lo lupa sih sama apa yang lo omongin sendiri?” balas Pelita turut menimbrung dalam upaya pembujukan Axvel. “Gak usah khawatir gitu deh. Kita juga ada di sini. Kita juga ada buat jagain Iqis. Lo tenang aja kali, Vel.”   “Enggak. Gue gak bisa tenang aja. Iqis yang ada di posisi ini. Iqis yang kayak gini. Gue paling enggak bisa tenang kalau semuanya berhubungan dengan Iqis. Kalian semua tau kan gimana janji gue buat jagain Iqis. Iqis itu orang yang paling penting di hidup gue.”   Tak perlu diceritakan agaknya, Bilqis dan Axvel memang cukup kenal dekat. Mereka bersahabat dengan sangat baik sedari sekolah menengah pertama. Oleh sebab itulah, Axvel pernah berjanji kepada kedua orang tua Bilqis untuk menjaga putri tunggal mereka. Axvel berjanji untuk selalu ada di samping Bilqis bagaimana pun keadaannya, meskipun sering kali memang Bilqis membuatnya emosi. Meskipun sering kali Bilqis memang merepotkannya dan sangat jahil kepadanya.   “Lo udah berusaha sebaik mungkin, Vel. Lo bahkan udah ajuin ke guru kalau lo itu mau lari sepuluh kali demi Iqis. Tapi emang Iqis aja yang enggak mau, jangan terlalu nyalahin diri lo sendiri gitu dong! Lo udah berusaha sebaik mungkin kok. Orang tua Iqis juga pastinya ngerti banget sama posisi lo, mereka enggak bakalan nyalahin lo juga kok. Mereka tau apa yang terjadi, Vel. Bahkan sedari tadi lo duduk di sini, lo liatin gimana keadaan Iqis, itu udah termasuk lo jagain Iqis banget. Jangan terlalu strict sama diri lo sendiri.” Azila memberitahu. Memang sahabatnya ini selalu saja seperti itu, ia keras dengan dirinya sendiri, suka menyalahkan dirinya sendiri, padahal hal tersebut terjadi bukan karenanya.   Seketika saja obrolan mereka berempat langsung terhenti saat pintu UKS terbuka dan terpampang dengan jelas sosok pria jangkung yang sedang berjalan ke arah mereka semua. Sosok pria jangkung itu membawakan satu kresek plastik berisikan banyak sekali makanan. “Dimakan! Gue ada beliin kalian semua makanan di sini. Kalian semua boleh jagain temen kalian yang emang lagi sakit, tapi jangan sampai pertaruhin kesehatan kalian semua sendiri juga. Dimakan, Vel! Gue tau kalau lo belum makan.”   Tahukah kalian siapa sosok tersebut? Sosok yang digadang-gadangkan oleh hampir semua siswi dari sekolah ini. Siswa yang menjadi salah satu murid emas sekaligus murid kesayangan guru dan siswa dengan segudang prestasinya. Siapa lagi kalau bukan Ernest memang? Sosok yang dikenal juga sebagai es batu. Ia ke sini membawakan makanan untuk para sahabatnya, supaya para sahabatnya itu tak perlu ke kantin mengantre dan sebagainya. Ia sangat tahu sekali jika semua anak di kelasnya adalah anak-anak yang memiliki solidaritas sangat tinggi sekali. Jika salah satu di antara mereka sedang ada masalah, pasti mereka semua berinisiatif langsung untuk membantu. Pasti mereka semua langsung tanpa alasan melakukan yang terbaik, apalagi jika yang terdapat masalah adalah sosok Bilqis Theta Sarendra, Bilqis yang selalu menjadi penyatu di antara anak-anak kelas XI MIPA 4.   “Lo makan gih, Vel!” perintah Abela dengan memberikan katong plastik berisi banyak sekali makanan itu ke Axvel. Namun tetap saja, Axvel hanya menggeleng singkat sebagai jawaban. Ia tak mau menerima apa yang sudah diberikan oleh Ernest.   “Dimakan, Vel! Nanti lo sakit,” bujuk Pelita dengan membuka plastik tersebut dan mulai mengeluarkan semua isinya, ada nasi goreng dan beberapa jajanan lainnya juga. Namun Axvel tetaplah Axvel yang kekeuh, ia tetap memerhatikan Bilqis yang masih terbaring di ranjang.   “Argh!”   “Iqis!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD