14. Axvel Sahabat Sejati

1100 Words
Sudah tahu apa kesialan di kelas XI MIPA 4 kali ini? Mereka semua dihukum untuk hormat di tiang bendera padahal suasana hari ini sangatlah terik sekali. Mungkin saja jika ada telur beserta wajan ditaruh di tengah-tengah lapangan ini, telur itu bisa matang saking panasnya cuaca di lapangan ini. Mereka semua—anak kelas XI MIPA 4 dihukum karena berisik di saat guru sedang keluar, padahal menurut Bilqis mereka tidak berisik, hanya sedikit ramai saja. Mungkin memang gurunya yang malas mengajar sehingga seperti ini jadinya, sang guru playing victim atau banyak hal lagi. Argh, entahlah! Bilqis tak terlalu memikirkan hal tersebut. Ia sudah terlalu pusing dengan banyak kejadian yang terjadi.   “Qis, are you okay? Gue enggak ngerasa yakin deh kalau lo baik-baik aja di kondisi yang panasnya minta ampun ini. Kalau misalnya lo enggak kuat, lo bilang aja. Nanti gue anterin lo ke UKS, jangan maksain, kesehatan lo itu nomor satu.” Di situasi dan kondisi seperti ini, di mana semua orang sedang menjadi egois yang memikirkan diri mereka sendiri, Axvel justru tidak demikian. Axvel tetap memikirkan Bilqis yang sedari tadi sudah mulai merasa pusing. Memang di kelas ini yang mengerti seluk-beluk bagaimana Bilqis dan apa yang terjadi oleh Bilqis di dalam hidup ini hanyalah Axvel saja. Axvel memanglah yang terbaik.   “Gue pusing sih, Vel. Tapi ya udahlah, enggak usah terlalu dipikir. Semuanya bakalan baik-baik aja kok. Lo jangan terlalu fokus sama gue juga, nanti takutnya tambah dihukum lagi,” bisik Bilqis balik. Ia sangat tahu jika Axvel memang perhatian dengannya, namun Axvel sesekali perlu egois dengan memikirkan dirinya sendiri, bukan? Axvel harus melihat bagaimana situasi dan kondisi yang ada, tak perlu memikirkan Bilqis selalu sampai akhirnya membuat Bilqis merasa tak enak hati.   “Kalau lo merasa pusing, bilang ke gue ya, Qis! Jangan sampai lo enggak bilang ke gue! Gue bakalan marah banget kalau lo gak bilang!” ancam Axvel yang memang posisinya persis sekali di sebelah kiri Bilqis.   Semakin ke sini, agaknya matahari semakin naik dan Bilqis merasa semakin pusing sekali. Ia merasa matanya sudah berembun karena merasa silau. Ia juga merasa kepalanya sudah mengajak ia berputar. Entahlah apa yang terjadi dengan dirinya, kali ini Bilqis merasa sangat tidak enak badan sekali. Namun Bilqis berusaha untuk diam supaya tidak menjadi beban pikiran orang lain. Sangat berbanding terbalik sekali dengan Bilqis yang orang lain ketahui. Bahkan saat ini Bilqis yang biasanya dikenal dengan sangat barbar kali ini hanya diam saja, tak mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan tak mengeluh sedikit pun.   “Sepertinya hukuman hormat di tiang bendera ini belum seberapa ya, ibu mau kalian semua harus lebih kapok lagi supaya enggak berisik di saat guru kalian pergi. Ibu mau kalian semua lari mengitari lapangan ini sebanyak lima kali, setelah itu kalian baru boleh kembali ke kelas.” Lapangan yang semula hanya berisi keluhan saja, saat ini langsung ramai dengan pelototan murid karena merasa sang guru yang menyiksa ini tidak kira-kira.   Astaga! Ini sungguh hukuman yang sangat keterlaluan sekali. Dihukum dengan hormat di tiang bendera saja sudah membuat mereka semua merasa pusing sekaligus gerah, ini malah ditambah harus mengitari lapangan sebanyak lima kali? Yang benar saja! Yang ada semakin terasa lelah dan semakin pusing mereka semua.   “Bu, jangan muterin lapangan lima kali, kita hormat aja sampai jam pelajaran selesai juga enggak apa-apa, Bu. Ini udah panas banget, masa kita harus lari muterin lapangan sih, Bu?” keluh Pelita memprotes sang guru. Gadis tersebut sama sekali tak terima jika sang guru menambahkan hukuman yang terdengar sangat creepy sekali. Jauh lebih creepy daripada cerita horor yang biasanya Pelita dengar di malam jumat itu.   Tentunya semua murid yang ada di lapangan itu setuju dengan apa yang disampaikan oleh Pelita. Mereka semua mengangguk dengan sangat bersemangat sekali. “Iya, Bu. Jangan hukum kita kayak gini. Berdiri sambil hormat ke tiang bendera aja udah pusing banget. Gimana lagi kalau lari sebanyak lima kali? Kita mending hormat aja sampai jam pelajaran selesai deh, Bu.” Abela turut membuka suara. Abela yang selalu menjadi bagian top three dalam kelas, harapannya di saat speak up seperti ini sedikit membantu. Setidaknya sang guru atau sang pengajar ini dapat percaya dengan tiga murid terbaik di dalam kelas itu.   “Tidak bisa, Abela! Kamu mau nilai kamu yang jadi taruhannya kalau kamu enggak mau nurutin apa yang udah saya perintahkan? Kalau mau, enggak masalah. Kamu bahkan bisa pulang saat ini juga. Saya persilakan.” Sang guru justru mengancam, membuat Abela yang sangat ambisius itu hanya bisa menggeleng dengan ketakutan. Sangat tidak mau sekali jika nilainya ditaruhkan hanya demi pulang usai dihukum seperti ini. Nilainya yang sangat apik dan mumpuni itu tentu saja memerlukan pengorbanan yang sangat banyak sekali. Sejak dini Abela belajar mati-matian, namun jika harus ditukarkan hanya dengan beberapa jam saja, sangat disayangkan sekali.   “Enggak deh, Bu.”   “Bu!” Axvel dengan sangat berani langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Ia menatap dengan sangat lantang kepada guru yang sedang menghukum teman serta dirinya itu. “Saya mohon sekali, dengan sangat hormat untuk tidak menambahkan hukuman, Bu. Pasalnya di lapangan ini saja sudah cukup panas sekali, bagaimana jika nan—“   “AXVEL! JIKA KAMU MERASA KEPANASAN, KAMU PAKAI ROK AJA, DEH! MASA LAKI-LAKI ENGGAK BERANI BUAT LARI DI LAPANGAN SEBANYAK LIMA KALI? YANG LAIN AJA ENGGAK PROTES KOK.”   “SAYA ENGGAK TAKUT SAMA HUKUMANNYA, BU. TAPI KALAU MISALNYA IBU MAU HUKUM KITA LARI, BILQIS JANGAN IKUT. BIAR SAYA SAJA YANG MENGGANTIKAN HUKUMAN DIA, BU. BIAR SAYA SAJA YANG LARI SEPULUH KALI.”   Bilqis langsung memelototkan matanya kaget, ia tak tahu sama sekali jika Axvel akan berbuat seperti ini sampai berani mengajukan permohonan kepada guru untuk menggantikan dirinya. Padahal Bilqis sama sekali tak membutuhkan itu. Bilqis sangat yakin jika ia kuat berlari sendiri sebanyak lima kali. Bilqis yakin jika ia kuat tanpa merepotkan siapa pun. Axvel sudah terlalu banyak membantu dan direpotkan oleh Bilqis. Bilqis tak mau merepotkan sahabatnya itu lagi.   “Axvel! Lo apa-apaan sih? Gue bisa sendiri, Vel! Gue enggak perlu bantuan lo!” balas Bilqis dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya. “Stop, deh! Jangan kayak gini! Gue bisa sendiri! Biar saya menyelesaikan hukuman saya sendiri, Bu. Saya lari sekarang ya?” izin Bilqis yang langsung dibalas anggukan setuju oleh guru penghukum tersebut.   “Iqis! Lo jangan nekat gitu dong!”   Bilqis tak peduli dengan apa yang terjadi. Ia hanya tak mau merepotkan sahabatnya saja. Ia tak mau menjadi beban oleh para sahabat yang selama ini sudah banyak membantunya, terlebih Axvel. Dengan sangat penuh perjuangan, Bilqis terus melanjutkan larinya walaupun keringat sudah bercucuran dan walaupun kepalanya sudah berputar terus-menerus. Sampai akhirnya, pandangan Bilqis kabur dan mata Bilqis mulai tertutup secara perlahan.   BRUK!!!   “IQIS”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD