BAB 41 MEREBUTMU DARIKU Belinda mengerjapkan matanya menyesuaikan dengan ruangan yang redup. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan suasana rumah sakit juga sangat sunyi. Belinda berbaring miring seraya menyusui Nyra yang sedari tadi tidak mau melepaskan puncak dadanya. Kembali ia merasakan usapan di puncak kepalanya dari arah belakang tubuhnya. Ia tahu itu bukan dilakukan oleh Gio yang saat ini duduk di sofa menghadap televisi yang menyala dengan suara pelan. Belinda lantas mendongak dan tersenyum melihat Jendra Handari, kakek suaminya berdiri di sana. “Aku senang dan sangat lega kamu masih bertahan sejauh ini,” ujar Jendra menatap Belinda dengan senyum hangatnya. “Memangnya dia mau ke mana lagi jika tidak berada di sisiku?” ujar Gio mewakili Belinda yang belum sempat mem

