bab 14

796 Words
"Sama kak Araya aja," usul Lili penuh semangat. "Bang Arlan akhirnya punya istri dan mama bisa gendong dan ajak Ivy menginap di sini sampai puas." "Mama juga kepikiran begitu, ya kan pa." Merlin menatap suaminya mencari dukungan. "Kalau gitu sama aja mama maksa Arlan." "Ya gak maksa juga pa," bantah Merlin tak terima. "Anak kita aja yang malu-malu kucing kalau ketemu Araya padahal saat Araya ngidam, Arlan mau tuh bela-belain beli buat Araya." Merlin mengatakan hal itu dengan lancar dan tanpa hambatan. Arlan terdiam. Lalu kedua matanya tertuju ke arah adiknya yang pura-pura tidak tahu. Hanya Lili yang tahu hal ini karena saat itu hanya Lili lah yang tahu lokasi dimana beli seblak yang enak. Arlan menyesal sudah pernah meminta tolong pada adiknya saat itu. Kalau tahu jika Lili akan berkhianat jelas Arlan tak akan pernah mau meminta bantuan. Sudah bayar upahnya mahal dan rahasianya malah di bongkar. Lili hanya tertawa kecil. Karena Arlan salah orang jika meminta bantuan padanya. Lili sudah mendapatkan peran ganda yaitu menjadi mata-mata untuk orangtuanya. "Peace, damai ya bang," ucap lili sambil membentuk huruf V kemudian Lili segera berdiri sebelum kakinya di tendang lagi oleh Arlan. Arlan menyesal pernah meminta tolong pada adiknya itu. Arlan berpikir jika Lili akan berpihak padanya ternyata setan kecil itu merupakan provokator utama. *** Arlan sedang mengosongkan isi otaknya dengan duduk santai sembari menikmati acara telivisi. Otaknya sedang melakukan reka adegan percakapan antara orangtua dan juga Lili kemarin. Entah siapa anggota rumahnya yang bisa dia percayai saat ini. Adiknya jelas-jelas mengkhianatinya. "Bang bagi duit." Arlan yang sedang menonton acara musik di salah satu stasiun tv terusik. Minggu pagi nya yang penuh kedamaian tiba-tiba lenyap. Lili berdiri tepat di depan Arlan dan menghalangi pandangannya dari layar televisi. Jarang Arlan bisa menikmati waktu santai nya seperti ini. "Minggir." Arlan tak memperdulikan adik pengkhianatnya itu. Arlan masih kesal dengan kejadian kemarin pagi dan kini adiknya itu dengan seenaknya meminta uang padanya. "Bang bagi duit," ulang Lili lagi sambil menyodorkan tangan kanannya meminta uang pada Arlan. "Minggir, Li. Abang mau nonton." Arlan menggeser tubuh Lili. Hari off nya ingin Arlan habiskan dengan bersantai-santai di rumah tanpa gangguan apapun. "Bagi kenapa bang. Gaji abang kan besar. Lili minta dua ratus ribu aja kok." Lili masih berusaha membujuk Arlan. "Dua ratus ribu loh, kan gak banyak itu mah." "Bukannya Minggu lalu mama baru kasi kamu uang. Kemana uang-uang itu kamu habiskan?" Tanya Arlan tanpa menatap Lili yang tengah memandang Arlan dengan tatapan sebal. "Minggu lalu Lili beli novel bang, ya uang Lili udah habis lah," jawab Lili cemberut. "Bang ayolah, Lili bisa telat ini ketemu teman-teman Lili." "Teman kamu yang mana?!" Tanya Arlan dengan nada dingin. Arlan sedikit banyak tahu circle pertemanan Lili yang dianggapnya penuh toxic itu. Terutama pada teman Lili si blasteran itu. Heran Arlan lihatnya, entah kenapa gadis itu betah berteman dengan lili. "Ya Rachel lah bang, yang mana lagi," decak Lili tak sabaran. "Rachel yang sering pakai baju kekurangan bahan itu?" Jerit Arlan histeris dan membuat Lili menutup telinganya. "Kalau Rachel aja gak beres pasti teman kamu yang lainnya juga ikutan gak beres." Lili mendengus kesal. Apa salahnya sih berteman dengan Rachel di antara temannya yang lain, Rachel lah yang benar-benar tulus walaupun gayanya agak urakan. "Rachel itu cewek berdarah panas bang, ya jadi wajar lah dia pakai baju kekurangan bahan gitu." Arlan memijit pelipisnya, dia benar-benar pusing dengan tingkah remaja zaman sekarang. Kalau di beri nasehat bukannya manut ini yang ada malah menjawab terus. Masih belajar pendidikan kewarganegaraan gak sih anak zaman sekarang? "Teman kamu itu manusia atau hewan?!" "Ish bang Arlan kebanyakan tanya nih." Lili mulai habis kesabarannya. "Lili ambil sendiri kalau gitu." Lili pun segera kabur menuju kamar Arlan. Lili tahu dimana tempat persembunyian harta Karun abang nya itu. "Rachel manusia bang, bukan hewan berdarah panas," teriak Lili kencang sambil menaiki anak tangga. "Oiii Lili, kemana kamu," teriak Arlan dan Arlan pun segera menyusul adiknya yang nakal itu. Bisa habis uang nya yang ada di dalam dompet kalau Lili sendiri yang ambil. Lili itu punya seribu satu cara agar menemukan dompet nya. Setibanya di kamar, Arlan melihat adiknya mencari-cari keberadaan dompetnya. Arlan hanya melihat dari depan pintu sambil menyender dan kedua tangan di lipat. "Gak ada pergi-pergi sama Rachel," larang Arlan sambil terus memperhatikan gerakan Lili. Lili menatap Arlan sewot. "Emang kenapa sih sama Rachel. Rachel itu baik tau bang," bela Lili kesal. "Kalau dia pakai baju yang buat mata abang gak sepet, bakalan apa pertimbangkan kasi kamu uang jajan." Arlan bersidekap sambil menatap adiknya. Lili mendengus sebal, mana mungkin dia mengatakan hal itu pada Rachel bisa putus hubungan pertemanannya. Lagian hanya Rachel teman sehidup sematinya. Rachel lah tempat dia bisa mengadu saat kekurangan uang. "Kalau kamu nekad mau pergi, abang akan ikuti kamu termasuk ke toilet sekalipun," putus Arlan final dan membuat Lili melongo.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD