bab 13

1124 Words
Perasaan Araya menjadi tak karuan sejak dia dan juga Gevan perang dingin. Araya hanya mendiamkan Gevan selama dua hari. Bahkan beberapa pesan yang di kirim Gevan yang isinya permintaan maaf itu Araya abaikan. Araya tak menaruh rasa dendam hanya saja dia masih belum sanggup jika harus memikirkan tentang pernikahan lagi. Hari ini adalah hari dimana Ivy akan jalan-jalan dengan Gevan. Apa yang harus Araya lakukan? Sedangkan anaknya tampak antusias menunggu kedatangannya Gevan saat ini. Dari pantulan cermin, Ivy terlihat sangat cantik dengan memakai baju kembang berwarna biru muda. Kedua rambutnya di kuncir dua yang membuat tampilan Ivy tampak menggemaskan. Araya menarik senyumnya, anaknya selalu tampak sangat ceria. Ivy menggoyangkan kepalanya dan rambutnya pun ikut bergerak ketika duduk di pinggiran ranjang milik Araya. "Mama, papa Gevan kemana? Ivy kangen." Araya yang sedang memakai hijab nya menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah Ivy. Sudah dua hari Gevan tak datang ke rumah karena Araya melarangnya. Terhitung sejak Araya membawa Ivy saat itu. Araya tertegun, Araya kesal pada Gevan tapi anaknya sangat rindu pada Gevan. Araya sadar jika tindakannya salah, Araya pun mendekati Ivy dan kemudian dia pun sedikit bersimpuh mensejajarkan tingginya dengan tinggi Ivy. "Papa Gevan sibuk, Ivy ikut mama ke kantor ya sayang," bujuk Araya sambil mengelus rambut Ivy. Kedua mata Ivy tampak berkaca-kaca. "Ivy mau sama papa Gevan, ma." Suara Ivy terdengar merengek. Araya menghela nafas. Ivy terbiasa dengan kehadiran Gevan walaupun hanya sebentar. Dengan absennya Gevan selama dua hari membuat Ivy rindu. "Mama coba telp papa Gevan dulu ya," putus Araya akhirnya karena ia pun juga tak tega mendengar suara rengekan Ivy. Araya mengambil ponselnya dan mendial nomor Gevan sembari melirik wajah Ivy yang sedikit manyun. Walau bagaimanapun Araya harus menekan sedikit ego nya untuk Ivy saat ini. Karena kebahagiaan Ivy adalah hal utama dan di atas segalanya. "Hallo assalamualaikum, Gev," ucap Araya saat panggilan telpon nya telah terhubung. "Waalaikumsalam, ada apa Ray?" Tanya Gevan. "Mama, mana papa?" Suara Ivy terdengar tak sabaran saat mendengar suara Gevan. Araya menyerahkan ponselnya pada Ivy. "Papanya gak ada mama," ucap Ivy kecewa karena Ivy tak melihat wajah Gevan. Buru-buru araya mengambil lagi ponsel dari tangan Ivy. "Video call aja ya Gev." Setelah mengatakan hal itu, araya langsung mengubah panggilan menjadi video call dan memberikan ponselnya pada Ivy. Ivy memegang ponsel Araya dengan kedua tangannya, takut ponsel itu terjatuh. "Papa," pekik Ivy girang saat melihat wajah Gevan di ponsel. Ivy dengan penuh semangat mendekatkan ponselnya ke wajahnya lalu mengecupnya layar ponsel itu. "Papa gak kangen Ivy?" Tanya Ivy polos sambil memamerkan gigi-gigi kecilnya. Gevan tertawa melihat Ivy. "Kangen," jawab Gevan singkat. "Papa main sama Ivy lagi ya," pinta Ivy sambil menatap Gevan penuh harap. Araya menghela nafas. "Ivy mau ketemu papa Gevan?" Tanya Araya pada akhirnya. Ivy mengangguk. "Main sepuasnya sama papa, bolehkan mama?" Araya tersenyum lalu mengangguk kecil. "Boleh, nanti papa Gevan jemput Ivy." "Horeeeee," teriak Ivy senang. "Mama ambil dulu ya ponselnya," ucap Araya sambil mengambil ponselnya dari tangan Ivy. Araya pun mengubah panggilan ke mode panggilan biasa. "Gev, tolong jaga Ivy baik-baik. Maafin aku yang egois." "Aku pasti akan jaga Ivy dengan seluruh jiwa ku, kamu tenang aja Ray," sahut Gevan dari seberang sana. "Kamu gak perlu minta maaf. Aku yang seharusnya minta maaf udah memaksakan keinginan sepihak ku." Araya tertawa kecil. "Kita udah baikan ya berarti." Araya lega akhirnya dia bisa berbaikan lagi dengan Gevan. "Jangan lama-lama, Ivy nunggu kamu." "Siapp bos." *** Arlan sedikit terlambat bergabung sarapan pagi bersama keluarganya. Dua hari ini Arlan sulit tidur karena memikirkan beberapa hal. Terlebih lagi kemarin dia mendapatkan kiriman undangan pernikahan dari seseorang yang pernah mengisi hatinya beberapa tahun silam. Wanita itu adalah wanita pertama yang berhasil mendapatkan hati Arlan. Walaupun Arlan terkadang bersikap acuh pada wanita itu, buktinya hubungan mereka bertahan cukup lama sampai menginjak bulan ke enam. Iya, hanya bertahan sampai enam bulan karena si wanita akhirnya mengaku menyerah karena Arlan terlalu fokus dengan pendidikannya ketimbang si wanita yang berstatus menjadi pacarnya saat itu. "Pagi Abang galau," sapa Lili saat melihat abangnya yang baru bergabung. Wajah Arlan terlihat kusut dan membuat Lili tertawa jahil. "Masih pagi wajah kamu udah kusut kayak gitu, gimana mau ketemu pasien," omel mamanya saat melihat Arlan yang seperti biasa hanya diam. "Percuma punya wajah ganteng tapi gak ketemu jodoh." "Udah ma, masih pagi loh," tegur Aldo pada Merlin karena dia melihat ekspresi Arlan yang terlihat kesal. Gak ada pembahasan lain apa? Jodoh terus. Arlan hanya bisa menyuarakan itu dalam benaknya. Arlan benar-benar malas mendengar Omelan mamanya. Masih pagi udah dapat siraman rohani. Bukannya tambah segar yang ada pikirannya malah makin ruwet. Lili melipat dalam-dalam bibirnya. Dia berusaha menahan tawanya. "Karena masih pagi pa makanya bang Arlan itu perlu di kasi siraman rohani," kata Lili sambil melirik Arlan yang tampak santai memakan mie goreng nya dan tak terprovokasi dengan ucapan Lili. "Mama ingat gak mantan bang Arlan saat kuliah dulu?" Lili mengedarkan pandangannya ke arah orangtuanya. Sedangkan Arlan tetap diam tapi diam-diam menendang kaki adiknya dari bawah meja. Lili menatap tajam ke arah Arlan tapi Arlan tetap fokus dengan sarapannya. "Mama ingat, Mona yang cantik itu kan?" Lili menjentikkan jarinya. "Bingo, mama benar. Dan kak Mona akhirnya menemukan pria yang jadi pasangan hidupnya dan tiga hari lagi bakalan nikah," ujar Lili penuh semangat. "Tahu gak sih ma, calon kak Mona itu sumpah ganteng banget. Kalau Lili lihat nih ya dari sudut pandang Lili, orangnya humoris ma, gak kaku kayak di sebelah." Arlan kembali menendang kaki Lili dari bawah meja. Sumpah adiknya ini ember banget. Nyesel Arlan membawa undangan itu ke rumah kemarin malam dan berujung undangan itu ditemukan oleh adiknya yang terkutuk. Lili makin bersemangat untuk memprovokasi kedua orangtuanya sambil menatap tajam ke arah Arlan. "Nikahin aja kali ma anak bujang mama daripada kelamaan. Ntar kering kayak rumput laut." "Lili." "Nah kan baru bersuara. Suara bang Arlan itu mahalnya melebihi biduan dangdut yang sering di undang di hajatan kompleks sebelah deh," ejek Lili. "Lili udah," interupsi papanya karena kalau dibiarkan Lili bakalan makin menjadi dan ujungnya Arlan yang ngambek gak mau pulang ke rumah lagi. Lili hanya cengengesan mendapat teguran itu. "Harap pertimbangkan baik-baik ya." Tutup lili dan ia pun melanjutkan sarapannya. "Arlan, mama gak maksa kamu. Tapi pertimbangkan usia kamu saat ini." Kali ini mamanya bersuara. "Contoh dokter Selly dan dokter Damar, mereka akhirnya menikah setelah pacaran cukup lama kayak kredit perumahan sampai dua belas tahun." Suara rendah mama nya mampu membuat Arlan sedikit tertegun. "Mama gak minta kamu nikah secepat mungkin tapi jika sudah punya calon yang tepat, jangan lama-lama. Mama juga kepengen gendong cucu." Ujung-ujungnya pasti gak jauh dari gendong cucu. Ivy kan ada kenapa susah-susah minta aku cepat-cepat nikah. Kalau udah ada Ivy aja, mama suka lupa diri. Arlan lagi-lagi hanya bisa menyuarakan hal itu dalam hati kalau tak mau kena omelan panjang kayak kereta api.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD