Langit senja yang tadinya berwarna jingga secara perlahan telah berganti menjadi warna gelap. Jika melihat langit saat ini, bisa melihat satu atau bintang yang telah bertengger manis di atas sana. Tapi sejak pergantian warna langit dari jingga hingga kelam, tak membuat seorang pria merasa terusik. Bahkan bisa dikatakan, pria itu malah sangat betah berlama-lama duduk di sana.
"Gue ngeri lama-lama lihat mas Gevan," bisik Anna pada Rena sambil melirik jam dinding. "Lakukan sesuatu gih sana." Anna memberi usulan sambil menyenggol lengan rekannya itu.
Rena masih belum memberikan tanggapan apapun. Anna masih menatap Rena dengan intens dan pada akhirnya Rena pun menyerah. Gadis itu lalu beranjak dari meja kasir menuju dapur sekedar membuat secangkir teh untuk seorang pria yang sedang tampak kacau. Rena hanya berharap jika usahanya ini akan membuahkan hasil walaupun dia sendiri pun tak begitu yakin. Duduk tanpa melakukan kegiatan selama lebih kurang lima jam membuat Rena malah jadi penasaran.
Rena keluar dari dapur dengan secangkir teh yang masih panas di tangan kanannya. Melihat hal itu membuat Anna memberikan dua jempolnya pada Rena sambil tersenyum lebar.
Rena malah menjulurkan lidahnya pada Anna lalu mengabaikan tatapan Anna yang seakan memberikan dukungan padanya.
"Mas Gevan mau sampai kapan di sini?" Tanya Rena sambil meletakkan secangkir teh di atas meja.
Jam operasional Aray florist akan berakhir sekitar sepuluh menit lagi dan tanda-tanda Gevan untuk beranjak belum terlihat. Rena menatap ke arah Anna dan mengangkat kedua bahunya karena tak mendapat jawaban dari Gevan.
Bakalan pulang telat kalau begini ceritanya, keluh Rena dalam hati. Sebenarnya bukan masalah pulang telat yang Rena galau kan, Rena belum menyelesaikan tugas yang diberikan dosennya Minggu lalu dan soalnya besok adalah jadwal dosen itu mengajar. Sedangkan tugas itu baru Rena cicil sekitar tiga puluh persen, sisanya Rena selalu mengerjakan sistem kebut semalam.
"Mas Gevan suram banget dari tadi sore sampai malam masih kayak gini aja," sambung Rena sedikit penasaran. Penasaran dan juga salah satu cara mengusir secara halus lebih tepatnya. Biar orangnya sadar kalau toko akan segera tutup. "Sedang ada masalah dengan gebetan ya?" Tebak Rena asal.
Gevan mengangkat wajahnya dan menatap Rena dengan pandangan sendu. Pria itu menggeleng pelan. "Araya marah."
Kedua mata Rena agak kaget. "Serius mas?" Tanya Rena dan suaranya sedikit besar. Wahhh, ini berita terpanas, cetus otak Rena seketika. Kalau begini tak masalah jika dia harus pulang malam dan begadang mengerjakan tugas.
Rena pun memberi kode pada Anna agar segera bergabung bersamanya. Sebentar lagi Rena akan mendengar sesi curhat yang jarang terjadi.
Anna segera bergabung dan duduk di samping Rena. Biasanya kalau sudah seperti ini, akan ada perbincangan yang seru dan sangat sayang untuk dilewatkan.
"Coba ceritakan mas kenapa mbak Ray sampai marah," pancing Rena penuh semangat. "Mbak Ray itu terkenal dengan stok kesabaran yang melimpah ruah loh," sambung Rena memprovokasi.
Gevan menghela nafas. Sedikit menimbang apakah tepat membicarakan hal ini pada kedua pegawai Araya. Tak baik membicarakan hal seperti ini pada orang lain tapi Gevan butuh solusi. Membicarakan hal ini pada mama Reni pastikan Gevan yang akan diceramahi balik.
"Tenang kita keep promise, mas," sahut Anna dan Rena kompak sambil membuat gerakan mengunci mulut.
"Mas jangan takut kita bakalan bocorin sesi curhat mas Gevan, kita orangnya amanah," sambung Rena meyakinkan Gevan agar segera memulai sesi ceritanya. Jiwa kepo Rena mulai meronta-ronta. Kapan lagi dia bisa mendengar curhatan galau dari pria tampan.
Anna memandang Rena yang tampaknya semangat sekali. Biasanya Rena akan memanfaatkan kelemahan dan kelengahan orang lain suatu hari nanti.
"Aku mencoba menjodohkan Ray dengan dokter gadungan itu," ucap Gevan memulai sesi ceritanya.
"Bukannya mas Gevan benci setengah hidup sama pak dokter," sela Rena berapi-api. " Mas Gevan kok gak konsisten sih." Rena tampak agak sewot.
"Iya nih, mas Gevan kok bisa mendadak berubah pikiran gini?" Anna pun turut kesal dengan sikap Gevan yang di anggap plin-plan itu.
Gevan menelan ludahnya susah payah, niatnya mau minta solusi yang ada dirinya malah di serang pula.
"Dengarin dulu dong," keluh Gevan pada dua wanita yang ada didepannya. "Dari semua pria yang mencoba mendekati Ray, hanya dokter gadungan itu yang memenuhi segala kriteria yang menjadi standar pilihan ku."
"Mas Gevan gimana sih, yang mau dijodohkan itu kan mbak Ray. Kenapa mas Gevan yang malah menerapkan standarisasi sih?" Rena malah ngegas tak terima.
Gevan meraup wajahnya. Sepertinya dia salah tempat untuk meminta pendapat. Gevan benar-benar membangun kan macan yang sedang tertidur. Gevan tak menyangka jika Rena akan sebawel ini.
"Kalau lo ngomel mulu, mas Gevan gak jadi lanjutin ceritanya." Anna berusaha menenangkan Rena. Anna memandang wajah Gevan dan tersenyum canggung. "Lanjut mas, gak usah dengarin ocehan Rena."
"Entah kenapa malah jadi malas untuk lanjuti ceritanya," ucap Gevan kehilangan semangat.
"Ehhhh, jangan gitu dong mas." Rena menggaruk-garuk pipinya dengan telunjuk kanannya. "maaf deh mas, lanjutin yaa," pinta Rena.
Gevan lagi-lagi menghela nafas. "Intinya gini, dari sekian banyak pria yang mencoba mendekati Ray. Hanya Arlan yang tak menunjukkan tanda-tanda gila harta."
Rena dan Anna kali ini benar-benar menjadi anak penurut dan mendengarkan semua cerita yang disampaikan oleh Gevan. Tiap kali Rena ingin menyela ucapan Gevan, Anna dengan kejam menginjak kaki Rena dan tak lupa pelototan tajam dari Anna.
"Mas gak salah sih." Anna membuka suara setelah Gevan selesai cerita. "Tapi mas ada satu hal yang mas lupa, mas gak bisa paksain mbak Ray. Mbak Ray tahu yang terbaik untuk hidupnya."
Rena akhirnya bernafas lega akhirnya dia bisa menyuarakan isi hatinya yang telah tertahan sejak tadi. "mas Gevan juga kalau ngomong suka seenak jidat. Pasti mbak Ray tuh kepikiran pendapat orang-orang jika dia menikah dengan dokter Arlan yang single sedangkan mbak Ray sendiri janda dengan anak satu," semprot Rena. "Mas Gevan saudara kembarnya atau bukan sih? Heran deh, perasaan cewek itu sensitif mas. Mbak Ray walaupun kelihatan cuek dengan omongan orang, makin ke sini setelah melahirkan Ivy. Mbak Ray makin menjaga diri dari omongan orang-orang. Semuanya demi Ivy agar Ivy nyaman dengan lingkungannya saat ini," sambung Rena berapi-api.
Gevan mengangguk lesu dan membenarkan semua ucapan Rena. "Saya menyesal," ungkap Gevan. "Dan sekarang, Ray gak mau lagi mengizinkan Ivy bermain sama aku lagi."
Rena dan Anna saling menghela nafas kasar. Ternyata si paman udah gak bisa posesif lagi kalau Araya tak mengizinkan Gevan membawa Ivy. Dan ini lah letak masalah sebenarnya. Gevan tanpa Ivy? Yamg pasti kehidupan Gevan tak akan baik-baik aja.
"Iya jelas salah mas lah. Minta maaf sana Mas jangan diam kayak gini. Kayak anak kecil tahu gak sih mas," cerocos Rena lagi dan Rena benar-benar menghiraukan kode yang sedari tadi Anna kirim padanya.
"Eh, cowok gue udah jemput. Gue pulang duluan ya," pamit Anna dan buru-buru ia segera beranjak sambil mengambil tas miliknya. "Mas Gevan tolong titip Rena ya," canda Anna sebelum keluar dari Aray florist.
Sepeninggal Anna, suasana yang terjadi malah menjadi canggung. Gevan pun mencoba mengalihkan fokusnya pada teh yang sudah diabaikannya sejak tadi.
"Kalau mas udah gak galau lagi, lebih baik mas pulang aja deh." Rena pun beranjak meninggalkan Gevan.
Kedua mata Gevan menatap Rena ya g berjalan menuju meja kasir dan mengambil sebuah buku lalu mencatat sesuatu di sana.
"Mas mau tetap di sini? Kalau iya, jangan lupa tutup tokonya." Rena sudah menyampirkan tasnya dan bersiap-siap pulang.
"Kamu pulang sama siapa, Ren?" Tanya Gevan dan ia pun beranjak sambil membawa cangkir kosong miliknya.
"Letak di situ aja mas, besok pagi aja aku cuci," ucap Rena ketika melihat Gevan akan membawa cangkir itu ke westafel. "Pakai bis lah mas. Emang sama siapa? Pacar aja gak punya apalagi gebetan." Rena terlalu ceplas-ceplos jadinya para cowok-cowok enggan berdekatan dengan Rena. Para pria biasanya suka cewek yang kalem bukan yang suka ceplas-ceplos kayak Rena.
"Aku antar kalau gitu," ucap Gevan tiba-tiba. "Jangan nolak."
Rena mengernyitkan dahinya dan menatap Gevan dengan tatapan bingung.
"Mas Gevan hari ini aneh banget," gumam Rena.
Walaupun begitu, Rena tetap bersorak dalam hati. Lumayan hemat ongkos.