bab 11

1395 Words
Dokter Merlin melihat Arlan yang baru saja datang dan meletakkan sebuah bungkusan di atas meja. Sikap Arlan terlihat tak biasa di mata mamanya Arlan saat ini. Dan benar saja saat Arlan naik tangga menuju kamarnya, dokter Merlin melihat bungkusan yang di bawa oleh Arlan tak sesuai dengan keinginan si nyonya rumah. "Arlan." Panggilan pertama dari mamanya dihiraukannya oleh Arlan. Bahkan Arlan dengan cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua, kamarnya. Pikirannya lelah luar biasa. "Arlan." Ulang mamanya lagi ketika Arlan sama sekali tak menyahut. "Arlan." Kali ini mamanya sedikit menaikkan nada suaranya dan berhasil. Anaknya yang dingin dan menyebalkan itu akhirnya menoleh. "Apa sih ma." Arlan sedikit sewot. "Kamu itu yang apa," balas mamanya tak kalah sewot sambil berkacak pinggang menatap sebal ke arah Arlan. "Mama suruh kamu beli donat bukan martabak." "Arlan beli donat kok," sanggah Arlan tak terima. "Lili, bawa kemari martabak yang Abang kamu beli tadi," perintah nyonya rumah pada anak bungsunya itu. Lili yang sedang asik membaca novel segera beranjak dan menunjukkan pesanan si nyonya rumah yang tak sesuai keinginan. Senyum Lili melebar ketika mendapati bukan donat yang di beli melainkan martabak. Ada apa dengan abangnya yang super dingin itu? Lili jadi penasaran. "Ini apa hayo?" Goda Lili sambil membuka kotak kecil yang berisi martabak. Arlan segera menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Arlan langsung menyambar kotak martabak yang masih di pegang Lili dengan kasar. "Nah anak mama si bujang lapuk ini, kenapa bisa salah beli donat ke martabak?" Sindir mamanya dengan tatapan kesal. "Namanya manusia sih ma, pasti ada khilaf nya. Kayak mama yang sering benar aja," sahut Arlan santai tapi mampu membuat tanduk mamanya keluar. Lili berusaha menahan tawanya. Abangnya itu memang selalu bermulut pedas dan bicara apa adanya. Saking bicara apa adanya, Arlan terkadang tak sadar apakah si lawan bicara sakit hati atau tidak karena ucapannya. "Apa kamu bilang??" Arlan segera kabur sebelum mamanya mengamuk. Kalau udah marah, mamanya bisa berubah menjadi sosok yang lebih seram daripada ibu tiri Cinderella. Arlan segera mengunci pintu kamarnya. Mamanya benar-benar berubah menyeramkan karena ia salah beli makanan. Kalau mau gak salah beli, ya mamanya tinggal beli sendiri kenapa juga mesti Arlan yang disalahin. Ibu-ibu memang selalu begitu, gak mau disalahkan. Arlan pun bergegas untuk bersih-bersih dan ia ingin segera mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya. Sejak tak sengaja ia mendengar pembicaraan antara Araya dan juga Gevan, perasaannya merasa aneh. Arlan merebahkan tubuhnya setelah selesai bersih-bersih dan berganti pakaian. Kedua matanya menatap langit-langit kamarnya. Baru kali ini Arlan merasa sangat terusik. Biasanya dia akan bersikap acuh terlebih lagi terhadap lawan jenis. Bukannya Arlan tak tertarik hanya saja Arlan masih enggan untuk membangun komitmen jangka panjang dalam waktu dekat. "Ibu kamu aneh Ivy. Kalau sedari awal gak mau menyandang status janda ngapain juga mesti nikah dengan pria seperti itu," gerutu Arlan. Arlan mengingat kejadian saat itu dimana mantan suami Araya bersimpuh meminta maaf. Maaf yang terlambat sebenarnya. "Aku tahu kalau paman Rama, papa dan juga mama berniat menjodohkan aku sama kamu. Kalau kamu mengatakan jika kamu gak pantas, apalagi aku yang hanya seorang dokter dan sialnya bekerja di rumah sakit milik paman Rama." Arlan menghela nafas. Bukanya dia tak tahu segala usaha yang dilakukan oleh kedua orangtuanya dan juga paman Rama. Arlan jelas mengetahui hal itu tapi dia bersikap seolah-olah biasa saja dan tak mau terlalu mau menanggapi secara berlebihan. Karena kedua orangtuanya punya hutang budi yang sangat besar pada paman Rama. Kalau saja saat itu paman Rama tak membantu mereka, bisa jadi rumah sakit tempat sekarang ia bekerja sudah berganti nama menjadi instansi lain. Setelah mengetahui rahasia terbesar itu, sampai sekarang Arlan tak bisa bersikap biasa pada paman Rama terutama pada Araya. Rasa segan itu mendominasi Arlan hingga saat ini. "Aku gak mau di sebut lintah yang hanya menumpang hidup sama kamu yang kaya raya." Arlan benar-benar merasa gusar. Arlan tahu jika Araya adalah wanita yang luar biasa, siapapun pria yang melihatnya pasti terkesima. Wanita yang kuat dan juga tegar, di saat rumah tangganya di hembusan angin topan dengan adanya pelakor. Araya masih tampak tenang meskipun ombak di dalam hatinya tengah menghantam dengan kuat. "Bang," teriak Lili dari balik pintu sambil menggedor-gedor dengan sekuat tenaga. "buka pintunya, Lili mau curhat." Arlan terperanjat mendengar suara Lili ."Curhat sama mama sana," teriak Arlan. Arlan bosan mendengar curhatan adiknya yang remaja itu. Beda usia tujuh belas tahun dengan Lili membuat emosi Arlan terkadang tak stabil jika Lili mulai cerita tentang cowok-cowok yang naksir padanya. Bukannya belajar dengan benar, malah asik membahas cowok mana yang bagus dijadikan gebetan. Arlan dulu juga menjalani kehidupan sebagai remaja seperti adiknya tapi kehidupan remaja nya gak separah adiknya itu. "Mama lagi mesra-mesraan sama papa," sahut Lili dengan keras. "cepat bang buka pintunya kalau gak mau foto nista Abang Lili posting," ancam Lili licik. Arlan segera bergegas membuka pintu. Ketika pintu di buka, Arlan mendapati wajah adiknya sudah tersenyum lebar dan langsung masuk tanpa permisi seperti biasa. "Abang mau istirahat." Arlan berusaha mengusir Lili agar tak mengacak kamarnya seperti biasa. Lili melihat-lihat isi kamar Arlan dan menghiraukan ucapan Arlan. "Abang gak ada simpan buku plus-plus, gitu?" Tanya Lili menyelidik sambil menatap rak buku yang berisi buku-buku tebal yang membuat mata sakit jika di baca. "Ada tuh bagian reproduksi kalau kamu minat," jawab Arlan acuh sambil terus memperhatikan Lili sampai merasa puas. Setelah puas melihat-lihat Lili pun duduk di atas ranjang Arlan. Kamar abangnya selalu membosankan seperti biasa, hanya berisi kumpulan buku-buku bahasa planet yang Lili tak pahami. Di tambah lagi nuansa kamar yang terkesan suram membuat Lili menjadi ngantuk. Arlan akhirnya mengalah dan duduk di kursi tempat dimana ia biasa belajar. Kedua matanya menatap sebal ke arah adiknya yang tampak sangat bersemangat. Melihat Lili mengingatkan Arlan pada Ivy yang selalu tampak bersemangat. "Aku tahu, Abang pasti galau kan sama mamanya si bocil," ledek Lili tepat sasaran sambil tersenyum puas. "Udah ngaku aja bang, Abang itu ada rasa sama kak Araya tapi sok jual mahal." Lili berusaha memancing Arlan agar mau bercerita. "Yang biasanya jual mahal itu cewek loh bang bukan cowok." Menurut penuturan mamanya, Arlan itu sedang berada di fase galau seperti anak remaja. Jadi di utuslah Lili sebagai detektif untuk membongkar isi hati Arlan saat ini. Entah berhasil atau gak, mamanya mempercayakan Lili sebagai utusan yang tepat. Arlan mengambil pena yang ada di atas meja dan melemparkan ke arah Lili. Lili dengan gesit menghindar. "Sok tahu." Arlan merasa kesal. "Anak kecil gak usah sok campur urusan orang dewasa." Lili malah tertawa terbahak-bahak. Jelas sekali jika abangnya menghindar sok berkelit pula. "Udah ngaku aja kali bang, waktu Ivy datang ke rumah sama paman Rama. Ivy lengket banget sama abang. Mana mungkin abang mau repot-repot ngurusin anak kecil,"jelas Lili panjang lebar seolah Lili adalah pakar cinta yang sedang memberikan penjabaran yang rasional. "Abang tuh gak suka sama anak kecil. Anak tetangga aja kalau gak sengaja lihat abang pasti langsung nangis," tambah Lili penuh semangat menjabarkan nilai minus yang dimiliki Arlan. Arlan menatap tajam ke arah Lili. Bukan salah Arlan jika anak tetangga itu menangis melihat wajah tampan nya yang sedang kesal. Bocah berusia lima tahun itu memanggilnya dengan sebutan om sedangkan Lili malah di panggil kakak. Kan Arlan merasa tua banget di panggil seperti itu. "Ampun bang, ampun." Lili mengangkat kedua tangannya ke udara. "Mama sama papa tuh udah kepengen gendong cucu. Abang nya malah cuek, wajar lah kalau mama tuh uring-uringan kalau bahas hal ginian." Lili merebahkan tubuhnya. "Tau gak sih bang, tiap Lili temani mama ke acara bakti sosial, yang di bahas ibu-ibu di sana itu ya tentang perkembangan cucu-cucu mereka." "Kalau tahu bahas kayak gitu ngapain mama repot-repot harus datang." Suka banget mama nya cari penyakit, yang dibahas racun semua masih aja suka gabung ke acara bakti sosial kayak gitu. Lili segera bangkit dan menatap abangnya dengan kesal. Dasar kepala batu, gerutu lili dalam hati. "Lili doain moga kak Araya ketemu jodoh yang lebih hangat daripada abang," gerutu Lili kesal sambil beranjak dari ranjang Arlan. Sebelum Lili beranjak keluar dari kamar Arlan, Lili menatap wajah abangnya yang kaku itu. "Dan kalau Abang suka dan cinta sama kak Araya, Lili doain Abang bucin stadium akut." Setelah mengucapkan hal itu, Lili keluar dari kamar Arlan dengan hati yang dongkol dengan membanting pintu. Ternyata gak selamanya cowok tampan itu sempurna, contohnya saja tampan dan berprestasi nyatanya kelakuannya hampir minus. Percuma aja tampan kalau kepala batu. Sepeninggal Lili, Arlan merenungi segala ucapan adiknya itu. Satu hal yang mengganjal di benak Arlan. Bucin itu apa?!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD