Sama seperti pagi-pagi yang telah dilewati, Gevan selalu ikut bergabung untuk sarapan. Gevan bahkan sengaja datang pagi-pagi untuk sekedar melihat Ivy. Gadis kecil itu mampu membuat siapapun luluh dan juga jatuh hati.
Gevan lebih dulu berada di meja makan di saat penghuni resmi rumah belum tampak keberadaannya. Seolah tak merasa canggung atau sungkan, pria itu dengan santainya berjalan menuju kulkas mahal milik mama Shania dan mencari s**u segar di sana. Gevan sangat menyukai kulkas yang ada di rumah ini. Kulkas di rumah mama Reni masih kulkas model biasa.

Setelah berhasil mendapatkan s**u segar, Gevan pun segera kembali menuju meja makan dan menuangkan s**u itu ke dalam gelas. Tak hanya itu saja, Gevan telah mengambil dua potong roti lalu mengoles selai diatasnya.
Gevan termasuk penghuni tak tetap di rumah ini dan Shania juga sudah enggan membahas kehadiran Gevan yang terkadang datang seenaknya. Dan sebagai penghuni tak tetap, Gevan sudah merasa sangat nyaman berada di rumah ini.
"Pagi mama Shania, tetap cantik dan dingin seperti biasa," sapa Gevan sambil melemparkan senyum lebarnya pada Shania yang baru bergabung. "Dan di sayang papa Rama tentunya," lanjut Gevan tanpa dosa.
Rama yang berjalan tepat di belakang Shania berusaha menahan tawanya. Sejak Gevan selalu mondar-mandir datang ke rumah ini, mood Shania semakin anjlok jika bertemu dengan Gevan. Betapa tidak, Gevan selalu melemparkan kata-kata yang ajaib dan tentunya membuat Shania migrain mendadak.
Bagi Shania, Gevan seperti anak remaja yang membutuhkan perhatian dan bagi Rama sendiri. Kehadiran Gevan di rumah ini membawa angin baru dan tentunya membuat ekspresi Shania semakin bertambah. Kalau sudah seperti itu, Rama tak tega untuk mengusir Gevan cepat-cepat.
Contohnya seperti pagi ini, padahal mood Shania sedari tadi sangat bagus. Sayangnya ketika melihat Gevan yang sudah duduk manis membuat wajah Shania langsung mendadak kesal. Bagaimana tak kesal, saat melihat s**u murni yang ia impor dari Switzerland malah dihabiskan Gevan dengan santainya.
"Sesuai kesepakatan, hari ini Ivy sama Gevan seharian," ucap Gevan pada Rama. Gevan sama sekali tak terusik dengan tatapan menusuk Shania padanya.
"Tau aja kamu kalau seharian ini kami bakalan sibuk," kata Rama sambil tersenyum. Rama melirik ke arah Shania sebentar, wajah Shania yang selalu datar tampak semakin datar.
Araya, Rama dan juga Shania akan menghadiri rapat yang sangat penting. Seharusnya Gevan juga ikut dalam rapat itu karena posisi Gevan yang notabene telah beralih menjadi CEO dari perusahaan Rion terdahulu. Dan secara mendadak yang seharusnya Gevan yang hadir malah Rama yang menggantikan.
"Mama Shania tahu aja kalau hari ini waktu spesial Gevan sama Ivy," celetuk Gevan sangat santai sambil melemparkan senyum semangat paginya pada Shania.
Shania yang masih dongkol hanya melipat bibirnya.
"Papa Gevannn," teriak Ivy saat melihat Gevan sudah berada di ruang makan.
Kedua mata Gevan berbinar melihat Ivy yang berlari kecil dengan kaki mungilnya itu. Gevan pun beranjak dari tempat duduknya dan dia pun menekuk lutut nya ke lantai sembari merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan Ivy.
"Papa Gevannn," teriak Ivy lagi dan kali ini tubuh mungilnya berhasil diperangkap oleh kedua tangan Gevan.
"Waahh udah wangi," puji Gevan setelah mencium kedua pipi Ivy bergantian.
Ivy yang di cium Gevan malah tertawa bahagia. Gevan pun mengangkat tubuh Ivy dan mendudukkan Ivy di pangkuannya.
"Putri Ivy mau sarapan apa pagi ini?" Tanya Gevan yang sudah asik dengan Ivy.
"Ivy sarapan nasi goreng ya," kata Araya cepat sebelum Gevan menjejalkan roti yang penuh dengan selai coklat di atasnya pada Ivy.
Ivy mengangguk kecil. "Suapin ya pa," pinta Ivy sambil memandang Gevan.
"Ray, kamu urus semua CT cooperation di rapat kali ini," ucap Shania tiba-tiba. "Jangan sampai ada celah buat kamu dijatuhkan." Suara Shania terdengar dingin dan juga menusuk pagi ini.
"Baik ma," sahut Araya sambil mengangguk.
Sepertinya mood mama lagi gak bagus pagi ini. Batin Araya sambil melirik sedikit ke arah mamanya.
"Oma sihir," celetuk Ivy tiba-tiba dan membuat suasana pagi itu menjadi hening.
"Ivy bilang apa tadi nak?" Tanya Rama pada Ivy yang tampak biasa saja seolah apa yang diucapkannya barusan tak memiliki makna apapun.
"Oma sihir, opa," jawab Ivy dengan suara lantang.
Araya hampir tersedak dengan ucapan Ivy lalu ia melihat sekilas ke arah mamanya. Sepertinya ucapan Ivy sama sekali tak berpengaruh pada mamanya.
Gevan dan Ivy malah asik cekikikan berdua. Kali ini Gevan sepertinya berhasil membuat julukan baru untuk mama Shania. Terbukti mama Shania tak bereaksi apa-apa.
Rama hanya mengangguk-angguk sambil menatap antara Ivy dan ke arah Gevan yang tersenyum tipis. Siapa lagi yang suka mengajari Ivy ucapan aneh kalau bukan Gevan.
"Gev, hari ini jadwal Ivy imunisasi," ucap Araya sebelum dia kelupaan dengan sederet aktivitas yang akan menyita waktunya. "Tolong ya, kamu tahu kan dokternya."
Mendengar kata dokter, kedua mata Ivy berbinar. "Asikk ketemu papa dokter," jerit Ivy kesenangan.
Gevan yang sedari tadi telah menyusun jadwal bersama ivy langsung menekukkan wajahnya. Kalau Ivy sudah ketemu dengan dokter gadungan itu, keberadaan Gevan jadi sedikit terlupakan seolah Gevan adalah peran figuran jika Arlan berada di sekitar Ivy.
Apakah ini efek saat Ivy lahir, yang mengadzankan Ivy adalah Arlan?!