bab 3

1010 Words
Seluruh anggota keluarga telah berangkat kerja. Gevan dan juga Ivy mengantarkan orang-orang tercinta mereka dari depan pintu rumah. Setelah mobil mereka tak terlihat lagi, Gevan mengajak Ivy untuk berjemur ala-ala bule di pantai. Rutinitas yang sangat menyenangkan karena Gevan bisa bermain sepuasnya dengan keponakan tercintanya itu.  Gevan dan juga Ivy sedang duduk santai sembari menikmati sinar matahari pagi yang mengintip malu-malu di balik awan. Gevan memangku gadis kecil itu sembari mendengarkan suara Ivy yang sedang menyanyikan lagu first love nya Maudy Ayunda. Walaupun penggalan liriknya telah diubah Ivy jauh dari lirik lagu aslinya, Gevan tetap menikmati suara nyanyian keponakannya itu. Lagu first love adalah salah satu lagi wajib masuk ke dalam playlist di ponsel Gevan. Ketika pertama kali Ivy mendengar lagu itu, Ivy langsung suka dan ikut bersenandung walaupun tak tahu makna di balik liriknya. "Pa, papa," panggil Ivy sambil menepuk pipi Gevan pelan karena sedari tadi Ivy memanggil Gevan, Gevan tak menyahut. "Apa sayang," jawab Gevan sambil tersenyum. Bisa-bisanya Gevan membayangkan kedekatan Ivy dengan dokter gadungan itu di saat seperti ini. "Pergi sekarang yuk, Ivy bosan berjemur," ucap Ivy sambil turun dari pangkuan Gevan. Padahal Gevan sengaja mengajak keponakan tercinta itu untuk berjemur di pagi ini, sengaja agar Ivy tak berlama-lama dengan Arlan. Mengingat nama dokter itu sudah membuat kepala Gevan sakit mendadak. Mengulur waktu lebih tepatnya karena jadwal dengan dokter Selly sekitar jam sepuluh pagi. Dan sekarang masih jam delapan pagi, dua jam lebih cepat untuk pergi ke rumah sakit. Merasa tak mendapat jawaban dari Gevan, Ivy menepuk lagi wajah Gevan sedikit keras. Wajah mungilnya cemberut. Gevan menghela nafas mendapati wajah cemberut Ivy. Salah satu pelajaran yang diperoleh dari papa Rama, jangan sampai membuat setiap wanita kesal termasuk anak kecil sekalipun. Jika Ivy cemberut dan kesal padanya, bisa-bisa sepanjang jalan Ivy bakalan mogok bicara ataupun jika Ivy bicara harus di pancing dengan topik dokter gadungan itu. Inilah yang ditakutkan Gevan saat Araya masih mengandung Ivy, masih dalam kandungan saja bibit centil Ivy sudah kelihatan. "Baiklah-baiklah, kamu yang menang," ucap Gevan menyerah dan Ivy langsung melonjak kegirangan. Tubuh Ivy yang mungil itu pun di gendong oleh Gevan dan pria itu mengambil kunci mobil di balik saku celananya. Gevan tak bisa menolak dengan permintaan Ivy termasuk jika Ivy merengek minta bertemu dengan dokter gadungan itu. Kelemahan terbesar Gevan saat ini adalah pria itu tak bisa membiarkan Ivy kesal dan sebisa mungkin Gevan ingin memberikan kebahagiaan pada Ivy. "Pa, coklat," ucap Ivy sambil bergerak dalam gendongan Gevan. "Coklat Ivy ketinggalan." Dalam situasi apapun, cemilan favorit Ivy jangan sampai ketinggalan. Ivy dan coklat adalah kombinasi yang susah untuk dipisahkan. "Gak boleh makan coklat di pagi hari," ucap Gevan sambil menyentil dahi mungil Ivy dengan lembut. "Coklat Ivy, coklat." Ivy malah meraung-raung karena Gevan sedikit memarahinya. Mata Gevan menyipit memandang Ivy yang merengek di pagi hari. "Kasi tau papa dong coklatnya untuk siapa?" Tanya Gevan penasaran. Ivy mulai tampak tenang. Jari mungilnya menghitung. Bibir tipisnya mulai bergerak. "Ivy mau kasi dua coklat untuk papa dokter," ucap Ivy sambil memamerkan dua jarinya pada Gevan, wajah Gevan yang tadinya cerah mendadak menjadi mendung. "Ivy udah janji sama mama." Ivy tersenyum lebar karena dia telah menepati janjinya pada mamanya. "Papa gak di kasi?" Gevan mencoba bernegosiasi. Ivy malah memamerkan senyum riangnya. Lalu Ivy memeluk Gevan erat-erat. "Papa dapat ciuman dari Ivy." Ohhh, hati Gevan yang semula panas karena Ivy terlalu memihak pada dokter gadungan itu, mau tau mau jadi luluh dengan tingkah polos gadis kecil itu. Kalau semanis ini, aku kan gak rela bagi-bagi sama dokter gadungan itu. Gumam Gevan sambil memeluk Ivy dengan penuh kasih sayang. Pada akhirnya, Gevan pun menyerah dan mengikuti langkah mungil Ivy mengambil cokelat-cokelat itu. *** Arlan sedang melihat-lihat jadwal dokter-dokter yang berada di bawah naungan departemen dokter anak. Kedua netra Arlan benar-benar melihat secara teliti satu persatu jadwal dokter yang tertera di sana. Tangan kanannya bergerak lincah membuka satu persatu folder yang ada di dalam komputernya. Hampir tiga puluh menit lamanya Arlan melihat tapi sama saja, Arlan tak menemukan jadwal imunisasi Quince Ivy Hutama. Arlan menghembuskan nafas penuh kelegaan. Arlan memprediksi jika hari ini akan menjadi hari terbaik disepanjang pekan ini. Berinteraksi dengan Ivy sama sekali tak masalah bagi Arlan. Yang membuat Arlan terganggu adalah tatapan tajam, suara dengusan kesal dan juga suara jemari yang mengetuk-ngetuk meja kerjanya saat dia bersama Ivy. Iya siapa lagi jika bukan si paman posesif alias Gevan. "Menikmati secangkir kopi sembari menunggu pasien adalah pilihan yang bagus saat ini," gumam Arlan sambil menikmati kopi yang telah ia buat tadi. Sembari menikmati secangkir kopi nya, kedua mata Arlan menyapu ruang prakteknya. Ruang praktek Arlan sebenarnya tak terlalu luas tapi mampu membuat pasien-pasiennya sangat betah jika berkonsultasi. Tapi kedua mata Arlan benar-benar sakit saat melihat di sudut kiri ruangannya. Sudut kiri ruang prakteknya penuh dengan barang-barang Ivy. Arlan benar-benar sakit kepala jika mengingat dari mana asal benda-benda itu dan tentu saja si pembawa benda itu seolah sengaja meninggalkan di ruang prakteknya. Mari sebut mulai dari mama dan papanya yang sengaja meletakkan boneka Barbie lengkap dengan rumah nya di sana, paman Rama yang membawa puzzle yang membuat lantai ruang prakteknya tak pernah rapi, selalu berantakan. Jangan lupakan si paman posesif yang setiap ketemu dengan Arlan selalu melayangkan tatapan seperti melihat musuh yang harus dibasmi. Arlan ingin hidup dengan tenang. "Dok, pagi ini hanya tiga pasien yang telah buat janji." Suara suster Riska membuyarkan pikiran Arlan mengenai barang-barang Ivy. Suster Riska adalah salah satu suster yang mendampingi dokter Arlan dalam bertugas. Jangan harap dokter Arlan akan bersikap manis pada asistennya seperti kebanyakan orang bayangkan. Bekerja dengan Arlan sungguh menguji kesabaran. Dokter Arlan tak akan pernah memuji hasil kerja asistennya sekalipun, bicara sangat singkat dan hanya berubah ramah dengan pasien yang sangat penurut dan tak bawel. "Ok," sahut Arlan singkat. Suster Riska diam-diam menghela nafas takut ketahuan dokter tampan itu. Julukan pangeran es yang disematkan oleh rekan-rekan sejawatnya ternyata benar adanya. Si perawat hanya bisa berdoa dalam hati jika kelak si pangeran es memiliki istri bisa mengubah sifat jelek dokter Arlan yang satu itu. "Baik, panggilkan pasien pertama kita sus," ucap Arlan sambil melihat jam tangannya. Saatnya mulai bekerja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD