bab 4

998 Words
Mobil Gevan memasuki pelataran parkir rumah sakit. Ivy sangat senang ketika melihat mobil-mobil yang berjejer rapi. "Pa, Ivy mau yang putih itu," tunjuk Ivy pada sebuah mobil berwarna putih. "Ivy mau kasi ke mama," lanjutnya dengan wajah polosnya. Gevan tersenyum, "papa gak di kasi juga?" Ivy menggelengkan kepalanya. "Papa minta sama Oma aja," sahut Ivy sambil tersenyum lebar. Cari mati kalau minta mobil sama mama Shania, sayang. Mengurus perusahaan ayah kamu aja papa masih belum di lepas seratus persen, keluh Gevan dalam hati. Gevan memang di beri kepercayaan mengurus perusahaan mantan suami Araya yang kini telah di akuisisi sebagai anak dari CT Cooperation. Mengurus perusahaan itu jelas tak mudah apalagi sebelumnya sudah terjadi kecacatan di berbagai departemen. Setelah memarkirkan mobilnya, Gevan pun membuka seatbelt nya dan juga punya Ivy. Gevan hanya berharap dia tak bertemu dengan dokter gadungan itu. "Coklat nya biar papa yang bawa," ucap Gevan sambil mengambil paper bag di kursi belakang. "Pa, buka pintunya," jerit Ivy tak sabaran. "Sabar sayang," sahut Gevan. "Dokter Selly nya gak kemana-mana kok." Dokter Selly adalah salah satu dokter anak yang selalu menangani Ivy sejak bayi. Jadi Ivy sudah sangat akrab dengan dokter cantik itu. "Ivy mau ketemu papa dokter, papa," ucap Ivy tak sabaran pada Gevan. "Ivy janji mau kasi coklat ini ke papa dokter. Nanti mama marah sama Ivy," rajuknya lagi. Gevan menghela nafas panjang sekali. Mana mungkin ada yang tega memarahi anak selucu dan menggemaskan seperti Ivy. Jelas gak akan ada. "Kita ketemu dokter Selly dulu ya baru ke dokter Arlan, janji?" Bujuk Gevan dan Gevan pun mengeluarkan kelingkingnya sembari menatap Ivy. Ivy menyambut kelingking Gevan dan menautkan pada kelingking mungilnya. "Janji papa," sahut Ivy girang. Jika Ivy kegirangan bertemu dengan Arlan, berbanding terbalik dengan Gevan yang harus mati-matian menetralkan raut wajahnya saat ini. Jangan sampai Ivy cemberut lagi. "Oke, mari kita ke dokter Selly dulu." Gevan pun keluar dari mobil lalu membuka pintu mobil disebelah Ivy. Gevan menggendong Ivy, mana tega Gevan membiarkan Ivy berjalan di sepanjang koridor rumah sakit. Bisa bengkak pipi Ivy kalau bertemu dengan perawat-perawat yang bar-bar itu. Kebanyakan dari perawat itu suka lupa diri jika bertemu dengan Ivy, katanya bawaannya pengen cubit dan cium pipi Ivy. Begini nih kalau sejak balita, Ivy sudah dikenali dengan lingkungan rumah sakit. Dan pelakunya siapa lagi kalau bukan papa Rama, katanya dalam rangka mempererat chemistry antara Ivy dan juga Arlan. Gevan tak akan membiarkan hal itu terjadi dengan mulus. "Pa, Ivy mau jalan." Baru saja Gevan mewanti-wanti, anaknya sendiri malah minta jalan. "No, papa akan gendong kamu sampai ke tempat dokter Selly," putus Gevan menyelamatkan pipi gembul Ivy. Ivy menggembungkan pipinya. "Habis itu ke tempat papa dokter, ya papa," tuntut Ivy pada Gevan. Satu hal yang Gevan pelajari semenjak memiliki keponakan. Jangan janjikan apapun pada anak kecil, daya ingat anak kecil begitu kuat dan mereka akan menuntut sampai tercapai. Dan sayangnya Gevan selalu menjanjikan hal-hal yang terkadang dia sendiri sulit mengabulkannya, salah satunya membiarkan Ivy bertemu dengan Arlan. "Baik princess," sahut Gevan menyerah untuk kesekian kalinya. Gevan melihat jam di pergelangan tangan kirinya, masih jam setengah sembilan pagi dan terlalu cepat untuk pergi menemui dokter Selly. Sebenarnya dia tak masalah jika Ivy bertemu dengan dokter Selly tapi Gevan terlanjur membuat janji pada Ivy untuk menemui dokter gadungan itu. Janji yang menyebalkan tapi Gevan sendiri tak punya pilihan lain. Langkah kaki Gevan yang biasanya cepat, kini sengaja ia perlambat. Gevan belum siap untuk bersaing dengan dokter gadungan itu. Di sepanjang koridor menuju ruang praktek dokter Selly, beberapa perawat berpapasan dengan Ivy dan juga Gevan. Ivy yang ada dalam gendongan Gevan menatap kakak-kakak perawat sambil melambaikan tangannya serta tersenyum lebar. Gevan bukannya tak tahu aksi Ivy yang kelewat centil itu. Gevan hanya diam kalau tak mau Ivy bakalan ngambek nantinya. Yang bisa Gevan lakukan saat ini adalah memasang wajah kelewat serius sehingga tak ada seorang pun yang akan berani mencoba mendekati Ivy. Biasanya para perawat-perawat wanita selalu gemas ingin mencubit atau sekedar mencium pipi chubby keponakannya itu. Jika bersama dengan papa Rama, pipi Ivy yang gembul pasti jadi sasaran empuk para perawat-perawat itu. Mereka mencubit pipi Ivy dengan sangat barbar terlebih lagi mereka tak segan mendaratkan ciuman maut pada pipi keponakannya itu. Jika bersama Gevan jangan harap mereka bisa melaksanakan niat jelek itu. "Dadaaa, kakak perawat," sapa Ivy sebelum berbelok menuju lift. Perawat-perawat yang dilambaikan tangan oleh Ivy hanya bisa menatap penuh gemas. Sudah menjadi rahasia umum jika Gevan yang menjaga Ivy, tak ada boleh seorangpun yang boleh mendekat bahkan menyentuh Ivy. Sikap Gevan kelewat posesif. Berbanding terbalik dengan dokter Rama, jika Rama yang bersama Ivy. Rama akan membiarkan Ivy bermain dengan para perawat-perawat itu. Asalkan Ivy senang dan tetap dalam pengawasan. Makanya jika Gevan yang datang, para perawat bahkan beberapa dokter wanita hanya bisa menatap Ivy dari jauh. "Papa, tempat papa dokter kan?" Tanya Ivy tak sabaran saat mereka masuk ke dalam lift. "Ke tempat dokter Selly dulu, sayang. Nanti dokter Selly nangis loh kalau Ivy gak kesana," jelas Gevan dengan penuh hati-hati, jangan sampai dia salah ucap. Kenapa yang harus di ingat dokter gadungan itu? Gevan meratap dalam hati. "Masa kakak dokter nangis, sih pa," ucap Ivy bingung. "Beneran loh, nanti dokter Selly nangis kalau Ivy lebih memilih ketemu dengan..." Gevan menjeda ucapannya takut keceplosan bilang dokter gadungan pada Ivy. "nanti dokter Selly nangis kalau Ivy lebih milih ketemu dokter Arlan." Tenggorakan Gevan rasanya gatal mengucapkan nama Arlan. Bahkan setelah mengucapkan nama Arlan, Gevan langsung batuk-batuk. "Papa dokter, papa," protes Ivy pada Gevan yang hanya menyebut Arlan dengan nama saja. Ivy ini anak siapa sih, aku masih ingat bapak si bocah masih Rion belum berganti, keluh Gevan dalam hati. "Iya-iya," sahut Gevan malas. Walaupun Ivy sepertinya sangat memihak pada Arlan, Gevan tahu jika Ivy memang sangat membutuhkan sosok seorang ayah. Makanya sejak Ivy lahir, Gevan pun memproklamirkan dirinya di panggil dengan sebutan papa Gevan. Sebutan papa Gevan jauh terdengar keren dibandingkan dengan paman Gevan. Gevan akan selalu ada di samping Ivy hingga gadis itu dewasa nantinya. Gevan tak akan pernah meninggalkan gadis kecilnya itu dalam sendirian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD