Tak terasa, Gevan pun sampai di depan ruang praktek dokter Selly. Sebagai pria normal, dokter anak bernama Selly itu sangat cantik dan juga cerdas. Senyumnya mampu membuat Ivy ceria dan hal itu menjadi nilai plus di mata Gevan. Tapi sayangnya dokter cantik itu sudah memiliki pendamping hidup beberapa bulan lalu.
Tanpa mengetuk pintu, Gevan langsung saja masuk karena dia benar-benar telah terbiasa. Mungkin terkesan seenaknya tapi ya begitulah Gevan si paman posesif.
"Pagi cantik," sapa dokter Selly saat Gevan dan Ivy memasuki ruangan praktek dokter Selly.
"Pa, Ivy mau turun," perintah Ivy sambil menggoyang-goyangkan badannya. "Pagi dokter," balas Ivy setelah berhasil turun dari gendongan Gevan.
Gevan membantu Ivy untuk duduk di kursi yang ada di seberang meja dokter Selly. Dan Gevan pun ikut duduk di sebelah Ivy.
"Dokter cepat ya, Ivy mau ketemu papa dokter," ucap Ivy tak sabaran. Lalu kepalanya menoleh ke arah Gevan. Seperti biasa Ivy akan merengek agar permintaannya segera dikabulkan. "Kalau udah selesai langsung ke tempat papa dokter, kan pa," ucap Ivy dengan wajah senang. Permintaan yang bersifat mutlak dan jawabannya tidak boleh tidak, jawabannya harus iya.
"Iya sayang," sahut Gevan dengan nada kelewat datar. Gevan hanya bisa pasrah walaupun dia tak terima.
Dokter Selly yang melihat interaksi itu berusaha menahan ketawanya. Sudah menjadi rahasia umum jika Gevan dan juga Arlan tak akur. Terlebih lagi jika Ivy berada di antara Gevan dan juga Arlan. Ivy akan memilih Arlan dan Gevan pun terabaikan.
"Wahh, Ivy bawa oleh-oleh apa?" Tanya dokter Selly sedikit kepo sembari melirik paper bag yang tadi di pegang Gevan.
"Ivy mau kasi papa dokter coklat," jawab Ivy semangat. "Ivy mau kasi dua," lanjutnya sambil mengangkat tangan kanannya ke arah dokter Selly dan membentuk huruf V.
Dokter Selly melirik ke arah Gevan. Jelas sekali jika paman yang satu itu tengah cemburu parah. "dokter di kasi gak?" Pancing dokter Selly.
"Ivy udah janji sama mama mau kasi papa dokter," sahut Ivy dengan raut wajah sedih.
"Jangankan dokter, saya aja gak dapat coklat dari Ivy," celetuk Gevan terang-terangan.
Tawa dokter Selly pun meledak. Ya ampun, ekspresi Gevan yang cemburuan seperti itu terlihat menggemaskan. Apakah benar Gevan berusia dua puluh delapan tahun? Seriusan dia benar-benar cemburu hanya karena coklat?
"Astaga pak Gevan, udah dua tahun loh masih aja cemburuan sama dokter Arlan," ucap dokter Selly sembari menyeka sudut kelopak matanya yang berair.
Gevan hanya mendengus kesal dan tak mau menyahut ucapan dokter Selly yang menyebalkan itu.
"Makanya pak, cari calon istri sesegera mungkin," imbuh dokter Selly setelah berhasil meredakan tawanya yang membuat Ivy menatap heran.
"Dokter jadi periksa Ivy?" Tanya Ivy polos sembari mengerjabkan kedua matanya. Kedua kaki Ivy yang terjuntai pun mengayun kesana-kemari karena tak sabaran.
"Baiklah, ayok cantik." Dokter Selly pun bergerak dari kursinya.
Tak butuh waktu lama untuk memeriksa Ivy karena pada dasarnya Ivy hanya mendapatkan suntikan imunisasi saja. Karena Ivy tampaknya tak sabaran ingin bertemu dengan dokter Arlan, dokter Selly pun tak ada alasan untuk menahan Ivy lebih lama lagi diruangannya.
"Pa, ayo ke tempat papa dokter," ajak Ivy sambil menarik tangan Gevan setelah keluar dari ruangan dokter Selly.
"Sabar sayang, dokter Arlan ada jadwal operasi sekarang," ucap Gevan bohong.
Ini adalah salah satu dari sekian siasat Gevan agar Ivy tak berlama-lama dengan Arlan. Alasan dokter Arlan sedang operasi, alasan sedang tak ada di kantor dan banyak lagi alasan yang Gevan beri pada Ivy.
"Ivy mau ketemu sekarang pa, sekarang," Rajuk Ivy sambil menendang-nendang udara.
Tingkahnya yang menendang udara tampak menggemaskan di tambah lagi Ivy menggembungkan kedua pipinya.
Gevan menghela nafas yang sangat panjang. "baiklah, ayo ke tempat dokter Arlan."
***
Arlan memijit keningnya pelan setelah pasien terakhir baru saja keluar dari ruangannya. Ruangan praktek Arlan yang awalnya tertata rapi kini menjadi sangat berantakan. Bagaimana tidak, si ibu-ibu itu turut serta membawa anak perempuannya yang berusia lima tahun yang sayangnya sangat aktif dan bandel sekali.
Semua mainan yang ada di sudut kiri ruangannya habis di acak di sana-sini. Di tambah lagi suster yang membantunya mendadak di panggil oleh mamanya. Mau tak mau Arlan lah yang merapikan ruangannya saat ini seorang diri. Mau mengharapkan bala bantuan siapa?!
Hari-hari Arlan jelas tak lagi sama seperti sebelumnya semenjak lahirnya Quince Ivy Hutama. Arlan merasa hidupnya sangat berisik sekali karena di usia Ivy yang menginjak lima bulan, paman Rama sudah membawa Ivy bertamasya di rumah sakit ini. Entah apa tujuannya, tapi lama kelamaan Arlan terbiasa dengan kehadiran Ivy.
Mama dan papanya juga malah sangat senang kehadiran makhluk mungil itu. Dan entah sejak kapan Ivy malah di sebut-sebut sebagai maskot rumah sakit. Dampaknya yang sangat nyata adalah yang membuat Arlan heran adalah sejak kapan ruang prakteknya dipenuhi oleh mainan anak-anak mulai dari buku bergambar, puzzle dan juga beberapa boneka yang selalu saja bertambah jumlahnya.
Arlan itu dokter kandungan bukan dokter anak. Seharusnya kedua orangtuanya serta satu orang yang paling rese itu sadar, sangat sadar akan arti ruang prakteknya yang sangat sakral itu. Tapi yang ada orang-orang tua itu malah melupakan jika ruang praktek Arlan adalah praktek kandungan.
Arlan beranjak dari kursinya dan mulai berjalan dengan langkah gontai. Dia pun memungut satu persatu mainan yang berserakan di lantai. Jika Gevan melihat dirinya saat ini, pasti pria itu akan mencibirnya dengan hati yang teramat senang.
"Papa dokter," jerit seorang gadis kecil berusia sekitar dua tahun itu ketika berhasil membuka pintu ruang praktek Arlan.
Arlan kaget bukan main apalagi di belakang gadis kecil itu berdiri seorang pria yang selalu menatapnya dengan aura permusuhan, siapa lagi kalau bukan Gevan. Paman posesif yang sangat cemburuan.
"Papa dokter," jerit Ivy sekali lagi sambil berlari menuju ke arah Arlan. Ivy pun menubrukkan badannya ke arah Arlan yang masih kaget.
"Papa dokter kita makan coklat sama-sama yuk," ajak Ivy sambil menatap kedua mata Arlan. Kedua mata Ivy tampak berbinar.
Gevan berdehem karena kehadirannya seolah terlupakan. Ibarat Gevan seperti obat nyamuk jika ada orang yang kencan.
Arlan mengalihkan kedua matanya menatap Gevan yang sengaja mencari atensi. Arlan menatap Gevan dengan wajah datar seperti biasa.
"Mau kan pa, Ivy udah janji sama mama," lanjut bocah satu itu sembari menggoyangkan tangan kanan Arlan.
"Baiklah tapi setelah bantu papa beres-beres, ok?"
Ivy pun melepaskan tangan Arlan dan mengangguk senang. Tangan mungilnya mulai membantu Arlan yang memungut satu persatu mainan yang berantakan.
Ada yang merasa panas melihat Ivy saat ini, gumam Arlan dalam hati.
Arlan melihat Gevan yang tengah duduk santai di salah satu sofa kecil yang ada di ruangannya. Kedua mata pria itu tak lepas dari Ivy yang membatu dirinya mengambil mainan yang berantakan di lantai. Tak banyak sebenarnya tapi tingkah Ivy sangat menggemaskan. Paper bag yang Arlan yakini adalah coklat yang dimaksud Ivy tadi di letak di atas meja kecil. Paper bag itu tergeletak pasrah di sana.
"Turun kan aja suhu AC nya kalau kamu merasa panas," kata Arlan sambil melanjutkan lagi pekerjaannya.
Tanpa Arlan sadari, Gevan benar-benar mendengus kesal.