Ivy mulai kelelahan membantu Arlan merapikan mainan-mainan yang berantakan padahal gadis mungil itu baru memasukkan lima buah puzzle ke dalam kantong plastik. Gadis kecil itu langsung terduduk di atas lantai dengan nafas ngos-ngosan. Arlan yang tanggap langsung menoleh ke arah Ivy. Sebuah senyum tipis melengkung dari bibir Arlan. Pria itu segera menghampiri Ivy.
"Ivy tadi bawa apa?" Tanya Arlan mengalihkan fokus Ivy. Biasanya anak kecil akan bersemangat jika dialihkan dengan topik kesukaan mereka.
Wajah mungilnya yang tadi kelelahan mendadak berbinar ketika mendapat pertanyaan itu. Tubuhnya yang tadi terduduk di atas lantai langsung berdiri tegak. Semangat yang tadinya hilang kini mulai membara.
"Ivy bawa coklat, papa dokter," sahut Ivy kelewat girang lalu ia pun melangkahkan kakinya ke arah Gevan yang masih setia duduk di sana.
"Papa, mana coklat Ivy?" Tanya Ivy setelah sampai di tempat Gevan.
"Ivy mau makan coklat sekarang?" Tanya Gevan dan Ivy langsung mengangguk senang.
Gevan pun mengeluarkan coklat tadi dari paper bag yang ia bawa sembari menatap Arlan yang melanjutkan lagi kegiatan bersih-bersihnya. Cih beruntung sekali dokter gadungan itu bisa mendapatkan coklat dari Ivy. Aishh menyebalkan.
Gevan memberikan satu coklat pada Ivy. "Kalau gak habis, kasi papa ya," ucap Gevan sambil melemparkan senyumnya pada Ivy. Berharap agar Ivy mau berbagi makanan kesukaannya pada Gevan juga bukan dengan dokter gadungan itu terus-menerus.
"Habis papa, Ivy makannya sama papa dokter." Ivy pun berjalan ke arah Arlan.
Gevan menatap punggung Ivy lekat-lekat. Papa Rama telah berpesan harus menjaga Ivy dengan sangat ekstra karena mereka pernah hampir kecolongan saat Ivy hampir di bawa kabur oleh Rion. Kejadian itu terjadi setahun yang lalu dan membuat semua orang harus ekstra waspada dalam menjaga Ivy. Jadi sangat wajar jika setiap orang bertindak sangat posesif pada gadis mungil itu termasuk Gevan salah satunya.
Jika mengingat kejadian itu, darah Gevan seakan mendidih. Saat itu Gevan nyaris melayangkan tinjunya pada rahang Rion jika saja paman Rama tak mengehentikan aksinya. Semenjak saat itu, Gevan bersumpahtak akan pernah membiarkan Ivy bertemu dengan keluarga Brata, termasuk kakek dan nenek Ivy sekalipun.
"Papa dokter, ini coklat untuk papa dokter." Ivy menyodorkan sepotong kecil coklat ke arah Arlan.
Arlan langsung memakan coklat yang ada di tangan Ivy dan hal itu membuat Ivy tertawa girang.
"Lihatlah, tanpa ayah kandung pun Ivy tak pernah kekurangan kasih sayang." Gevan tersenyum, setiap hal kecil yang dilakukan oleh Ivy selalu membuat hati Gevan hangat.
***
Araya tampak gelisah selama rapat berlangsung. Walaupun dia masih bisa berkonsentrasi tapi tetap saja sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal itu membuat fokus Araya terganggu.
Pesan singkat yang di kirim sekitar pukul sembilan pagi itu, mau tak mau membuat Araya teringat akan kejadian setahun lalu saat Ivy hampir di bawa oleh Rion. Mantan suaminya itu nekad hendak membawa Ivy diam-diam padahal jika Rion berbicara padanya secara baik-baik, Araya pasti akan mengizinkan pria itu untuk menemui Ivy.
Araya sangat yakin pemilik nomor misterius tadi adalah Rion. Tak ada seorang pun yang sangat nekad kecuali mantan suaminya itu.
Akhirnya rapat telah selesai dan membuat Araya bisa menghela nafas penuh rasa syukur. Cepat-cepat ia menghubungi Gevan ingin menanyakan kabar Ivy.
Sembari berjalan keluar dari rumah rapat menuju kafetaria, Araya menekan nomor ponsel Gevan dan melakukan panggilan video call. Tak lama berselang, panggilan video call Araya tersambung.
"Assalamualaikum, mana Ivy nya Gev?" Tanya Araya tanpa basa-basi. Raut wajah Araya tampak waspada.
"Waalaikumsalam, Ivy asik main sama dokter gadungan itu," ucap Gevan dengan wajah cemberut maksimal.
Araya hanya tertawa kecil ketika Gevan mengalihkan kamera ponselnya ke arah Ivy. Syukurlah Di sana tampak Ivy asik main suap menyuap coklat pada dokter Arlan. Ivy jelas tampak sangat bahagia bisa bertemu dengan dokter Arlan.
"Ivy, mama telpon nih."
Araya dapat mendengar suara Gevan memanggil Ivy. Wanita cantik itu menggelengkan kepalanya karena ia tahu kalau ini adalah salah dari sekian banyak siasat Gevan agar anaknya tak berdekatan dengan dokter Arlan sering-sering.
"Mama," jerit Ivy sambil berlari ke arah ponsel Gevan.
Araya dapat melihat wajah Ivy yang sangat dekat dengan ponsel Gevan. Bahkan Gevan pun ikut tertawa di sana melihat tingkah menggemaskan Ivy.
"Anak mama makan apa? Wajahnya belepotan."
Ivy bukannya menjawab malah tersenyum malu-malu.
"Lah anak mama malah malu-malu." Araya malah menggoda Ivy.
"Ivy makan coklat sama papa dokter," ucap Ivy sambil tersenyum lebar memamerkan giginya yang masih ada sisa coklat.
"Papa Gevan gak di kasi, pasti," tebak Araya.
Ivy mengangguk. "Mama udah janji kalau coklatnya buat papa dokter. Papa Gevan Ivy kasi pelukan tadi," jawab Ivy polos.
Araya benar-benar tak habis pikir dengan Ivy. Anaknya itu jika sudah bertemu dengan dokter Arlan, Gevan pasti dicuekin habis-habisan.
Ivy, mau dokter Arlan jadi papa Ivy nak? batin Araya bertanya-tanya.
Araya mengenyahkan pikirannya itu, mana mungkin ada pria yang mau menikahinya. Wanita yang hanya punya satu ginjal, janda dan memiliki satu anak seperti dirinya.
"Coba dulu tanya sama papa Gevan, papa Gevan mau coklat juga gak?" Araya tersenyum tipis, saat ini dia hanya ingin membesarkan Ivy walaupun tanpa suami.
Ivy meanggukkan kepalanya dengan semangat. "Papa mau coklat?"
Gevan menggelengkan kepalanya. Mana tega Gevan mengambil jatah coklat Ivy. Biarlah dirinya harus menahan rasa kesal. "Gak sayang, coklatnya untuk Ivy semua."
"Papa Gevan gak mau mama," jerit Ivy senang. Tiba-tiba Ivy mendekatkan bibirnya ke layar ponsel Araya dan menciumnya. "Ivy sayang mama."
"Mama juga sayang Ivy. Baik-baik ya di sana."
"Ivy main dulu mama, dadaaa." Ivy pun bergegas menuju ke tempat Arlan.
Gevan pun mengarahkan lagi ponselnya ke arah dirinya. Raut wajah Araya tampak cemas."Ada apa Ray?"
"Bisa ubah ke panggilan biasa? Ada hal yang mau aku bicarakan," pinta Araya pada Gevan.
Gevan mengangguk lalu mengalihkan mode video call ke panggilan biasa. Gevan merasakan ada hal yang tak biasa saat melihat wajah Araya.
"Kenapa Ray? Aku tahu kamu lagi ada masalah sekarang." Gevan mengecilkan suaranya jangan sampai dokter gadungan itu mencuri dengar pembicaraannya dengan Araya.
"Aku dapat pesan dari nomor baru, Gev." Araya berusaha menetralkan suaranya agar tak terdengar kalut. "Aku takut Ivy di ambil dari aku, Gev."
Gevan menggeram mendengar hal itu. Gevan tadi memikirkan hal yang sama dan si b******k itu sudah mulai berani meneror Araya.
"Pasti mantan suami kamu yang b******k itu lagi," ucap Gevan penuh emosi. "Sekali sampah tetap jadi sampah," umpat Gevan.