Sejak pertama kali bertemu Rion, Gevan tak menyukai Rion sama sekali. Pria seperti Rion benar-benar pria kepala batu. Terlebih lagi ketika semua rahasia terkuak dan bagaimana caranya Rion menyakiti Araya, membuat Gevan mati-matian menjauhi Araya dan Ivy dari jangkauan pria b******k itu. Selama Gevan masih hidup, Gevan tak akan pernah membiarkan Rion mendekatinya Araya dan juga Ivy.
"Dia mengancam akan menculik Ivy." Suara Araya terdengar sedikit bergetar. Tak ada seorang pun ibu di dunia ini yang ingin anaknya kenapa-kenapa termasuk Araya. Terlebih lagi jika Ivy berada di tangan Rion, Araya tak sanggup menghadapi hari esok. Hidup tanpa Ivy sama saja membunuhnya secara perlahan.
"Tenang Ray, gak akan ada satu orang pun yang akan memisahkan kamu sama Ivy," sahut Gevan berusaha menenangkan Araya. "Rion tak punya hak asuh atas Ivy sedikit pun."
"Gev, sudah setahun sejak kejadian itu dan jika Rion benar-benar nekad bagaimana?!" Cecar Araya sedikit kalut. "Walaupun Rion tak punya hak asuh sama sekali, jangan lupakan Rion orangnya sangat nekad."
Gevan menghela nafas. "Ray, kamu pernah kepikiran untuk nikah lagi gak sih?" Pertanyaannya itu sering kali mampir di benak Gevan.
Jujur, baik Gevan ataupun papa Rama tak akan bisa menjaga Araya dan Ivy selamanya. Apalagi Rion masih bergentayangan walaupun keberadaannya tak pernah diketahui dimana.
"Maksud kamu apa?"
"Menikah, Ray," ulang Gevan sambil melirik ke arah Arlan yang tampaknya sangat asik bermain susun puzzle dengan Ivy.
"Jujur Ray, aku memang gak suka dengan Arlan dalam artian tertentu. Tapi dari semua pria yang mencoba mendekati kamu, hanya Arlan yang benar-benar tak pernah menunjukkan ketertarikannya sama sekali," lanjut Gevan pada Araya. Gevan tak ingin mengakui hal ini sebenarnya tapi hati kecilnya selalu mengatakan jika Arlan memang pria yang tepat.
"Ray, menurut ku Arlan lah pria yang paling tepat untuk menjaga kamu dan juga Ivy kedepannya." Suara Gevan terdengar sangat berat di pendengaran Araya saat ini. "Mungkin dengan kamu menikah dengan Arlan, pria b******k itu gak akan pernah mengganggu hidup mu lagi."
Araya hanya bisa terdiam mendengarkan isi hati Gevan setelah sekian lama. "Gev, kita sedang membahas Rion bukan dokter Arlan."
Gevan masih menatap lekat ke arah dua anak manusia yang ada didepannya. Dari pandangan Gevan, Arlan sangat tulus menyayangi Ivy bahkan pria itu tak pernah sama sekali membentak keponakannya.
"Pikirkan baik-baik, Ray," ucap Gevan. "Demi Ivy."
Araya mengernyitkan dahinya saat mendengar pernyataan Gevan yang sangat bertolak belakang dengan sikap Gevan pada dokter Arlan. Walaupun Rion mengganggunya saat ini, menikah bukanlah solusi yang tepat. Terlebih lagi pemikiran sepihak Gevan jelas membuat rasa tak nyaman menjalar dalam d**a Araya.
"Gev?" Panggil Araya pelan. "Kamu sarapan apa tadi pagi?"
"Aku sarapan roti, kenapa?" Tanya Gevan bingung. Pertanyaannya Araya sumpah random banget.
"Kamu beneran gak keracunan kan? Kamu udah cek tanggal kadaluarsa rotinya kan?" Tanya Araya bertubi-tubi pada Gevan.
Araya benar-benar bingung, sikap Gevan membuatnya semakin bingung. Araya sangat tahu jika Gevan tak menyukai Arlan dan Gevan tak mungkin mengatakan hal seperti itu dengan meminta Araya menikah dengan Arlan.
"Iya udah. Kamu kenapa sih Ray?" Gevan mengernyitkan keningnya. Jangan-jangan Araya berpikir jika dirinya tengah kesambet. "Aneh banget."
"Kamu tuh yang aneh," sambar Araya cepat. "Bukannya kamu gak suka dengan dokter Arlan dan malah kamu sendiri yang menyuruh aku menikah dengan dia." Nafas Araya memburu, dadanya terasa sesak entah karena apa.
"Gevan, aku belum sampai tahap sefrustasi itu sampai kamu menyodorkan aku ke dokter Arlan." d**a Araya bergemuruh, sesak dan menyakitkan. "Gev, aku sadar diri dengan posisi ku. Siapa dokter Arlan dan siapa diriku. Aku gak bisa meminta hal-hal di luar nalar ku. Aku bahagia memiliki Ivy." Araya berusaha mengatur ritme nafasnya yang terasa sesak. Setelah berhasil menetralkan ritme nafasnya, Araya mencoba tersenyum tipis. "Jika kamu merasa berat menjaga Ivy, aku akan ambil alih menjaga Ivy dengan kedua tangan ku mulai saat ini."
"Ray, bukan itu maksudku." Suara Gevan terdengar berat. Bukan itu maksud ku Ray, bukan itu.
"Setelah rapat selesai, aku akan menjemput Ivy. Terimakasih udah menjaga Ivy selama ini. Assalamualaikum." Araya pun mematikan sambungan telponnya.
Araya memandangi layar ponselnya lalu ia memasukkan ponselnya ke dalam tas. Araya mengabaikan panggilan telpon dari Gevan. Kenapa orang-orang di sekitarnya begitu sibuk dengan pasangan hidupnya. Terlepas hal itu demi kebaikannya, seharusnya mereka mencoba sedikit memahami perasaan Araya saat ini. Menikah bukan solusi yang Araya butuhkan karena prioritas utamanya adalah membesarkan Ivy hingga anaknya sanggup dan mampu mengahadapi dunia yang kejam.