“Yi Cheng, cobalah. Menu ini enak sekali.” Lu Mochuan menunjukkan ekspresi tidak senang. Dia mendekatiku dan menempelkan bibirnya ke telingaku, lalu berkata, “Tak kuduga pesonamu begitu kuat hingga mampu membuat pemuda itu mengkhawatirkanmu. Rupanya selera wanita yang kusukai bagus juga.” Aku memelototinya. Lu Mochuan terlihat marah, tapi dia diam saja. Kedepannya, aku tidak akan mau datang ke tempat ini apapun alasannya. Jika aku sampai bertemu dia lagi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku diam sejenak lalu kuambil kepiting yang ada di mangkuk dan memakannya, tak peduli enak atau tidak. Andai saja aku bisa memakai sepatu hak tinggi, aku pasti sudah menginjak kakinya keras-keras dari tadi. “Ah!” Tepat saat aku mengulurkan tangan, Lu Mochuan dengan sengaja meletakkan gelas a

