“Benar! Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kalau kita mencari tempat duduk?” “Boleh.” Mendadak aku merasa bukan siapa-siapa dan hanya butiran debu di hadapan You Likun. Kami memilih sebuah kafe yang ada di lantai bawah. “Siyu, kenapa kamu sendirian? Kenapa suamimu tidak menemanimu?” You Likun mendadak bertanya kepadaku sambil menyeruput kopinya. Entah mengapa, bagiku pribadi, kalimat yang diucapkan You Likun ini terdengar kasar. “Dia sibuk sekali. Aku tidak ada acara sore ini, jadi aku jalan-jalan. Akhir-akhir ini pekerjaanmu lancar, kan? Gelangmu bagus sekali.” Gelang yang dikenakan You Likun di pergelangan tangannya terlihat berkilau. Gelang itu merupakan edisi terbatas dari suatu merek perhiasan mewah. Selain itu, gelang tersebut juga dihiasi oleh berlian yang melingkar di

