Bab 108: Petir di Siang Bolong

1834 Words

Udara di luar benar-benar dingin dan angin kencang menerpa punggung tanganku dengan kasar, jadi aku segera menyetujui saran yang diberikan oleh Zhang Jingjing. Setibanya aku di rumah nanti, aku akan menangis meraung-raung. “Ya, aku sekarang harus pulang …” kataku sambil menghapus air mata di wajahku dan berusaha keras untuk berdiri. Sekarang perutku sudah semakin besar, gerakan sekecil apa pun dari bayiku bisa membuat tubuhku terasa berat dan kesulitan untuk berdiri. Napasku juga semakin sering terengah-engah. Mendengar suara tangisanku yang tersedu-sedu, Zhang Jingjing menjadi sangat khawatir sehingga dia langsung bertanya, “Siyu, kamu baik-baik saja, kan? Kamu tidak apa-apa?” “Aku tidak apa-apa. Saat ini aku sedang berjalan menuju rumahku …” “Baik, baik, jangan tutup teleponnya. Jik

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD