“Han Siyu, meskipun kamu bodoh, tapi ternyata ingatanmu cukup baik,” sahut You Likun dengan penuh rasa bangga. Dia mengibaskan rambut panjangnya dan mengedipkan mata kepadaku. “Bukannya kamu suka membantu orang lain? Kenapa kamu masih saja menangis? Lakukan saja hal yang baik sampai akhir. Bukankah lebih bagus jika suamimu memberiku fasilitas agar aku bisa bertahan hidup? Setelah itu, relakan dia supaya kami bisa bahagia bersama dan aku tidak hanya menjadi selingkuhannya seperti ini. Itu semua adalah perbuatan baik yang bisa kamu lakukan.” Dasar wanita jalang tidak tahu malu. Hatinya benar-benar busuk. Puluhan ribu kali aku memaki mereka berdua dalam hati, tapi bibirku tak bisa melontarkan sepatah kata pun. Kuangkat kepalaku dengan lemah dan bersandar di dinding karena aku sudah tidak ku

