“Kakak, kamu kenapa?” tanya Yi Cheng sambil menatap wajahku yang memerah. “Apa kamu demam?” Aku belum sempat menepisnya, tetapi Yi Cheng sudah menempelkan tangannya yang satu lagi di dahiku. Ya Tuhan! Dadaku mendadak membengkak dan membuat pakaianku semakin mengetat, seolah-olah hendak terbuka. Apa yang salah denganku? Mengapa aku bisa menjadi seperti ini? Aku dilanda kepanikan. Tidak! Jangan sampai ada pria yang menyentuhku! Sebelumnya, aku tak pernah begitu sensitif dan menakutkan seperti ini! Sekarang benakku menjadi sangat mudah melemah, mudah terangsang, dan tubuhku sama sekali tak bisa dikendalikan oleh otakku. Dan hasrat itu menembus ke kedalaman jiwaku! Aku tak berdaya melawan hasrat yang liar ini! “Yi Cheng! Jangan!” Aku segera mundur. “Ka …

