Dalam kegelapan, suamiku tidak menanggapiku. “Tidak bisa, ‘adik’ku tidak bisa bangun. Mungkin aku yang terlalu lelah.” Mo Yuan mengusap-usap ‘adik’nya dengan tangannya, tapi ‘adik’nya tak ada tanda-tanda ereksi sama sekali. Kekecewaan tampak begitu jelas di mataku, tapi aku tak bisa menyakiti ego dan harga diri seorang pria, aku hanya bisa menghiburnya. “Tidak apa-apa. Mungkin kamu terlalu lelah. Kamu akan jauh lebih baik setelah dua hari beristirahat.” Hanya saja, kepekaan dan kerinduan tubuhku akan sentuhan pria menelanku sedikit demi sedikit dalam kegelapan ini. Malam yang sepi dan sunyi ini berakhir dengan kegagalan. Begitu hampanya perasaanku hingga aku bahkan merindukan kejantanan seorang pria di balik pakaian si dokter dan napas berat Yi Cheng. “Baik, ayo tidur. Besok aku juga

