Bab 5 Malu

1666 Words
Di saat yang sama, ponselku berdering.   Si penelepon menggunakan sederet nomor virtual yang panjang. Dengan gemetar, aku mengangkat panggilan telepon itu.   “Kau sudah menerima hadiah kejutan dariku?”   Otakku masih mengira-ngira pemilik suara ini. Namun, aku tidak tahu siapa orang ini!   “Siapa kau? Kenapa kau bisa punya barang pribadiku!” Aku buru-buru bertanya.   “Kau sangat menginginkan seks, bukan? Kau ingin tidur dengan pria, bukan?” Lawan bicaraku mengabaikan pertanyaanku dan terus bicara.   “Aku tahu rahasiamu. Jika kau tak ingin suamimu tahu, turuti apa yang kukatakan. Mengerti?”   Hatiku benar-benar kacau. Siapa ini?   Dokter? Tapi, bagaimana dokter itu bisa punya celana dalamku?   Mu Heng? Namun, bagaimana dia bisa tahu apa yang terjadi padaku di rumah sakit?   Otakku seolah-olah langsung meledak dan hatiku kacau berantakan!   “Kau tidak perlu panik. Saat waktunya tepat nanti, aku akan meneleponmu lagi!” Setelah berkata demikian, sambungan telepon pun putus.   Ruangan yang kutempati terasa sangat sunyi dan menakutkan, seperti ada banyak pasang mata yang tidak terhitung jumlahnya sedang menatapku. Rambut di tengkuk-ku berdiri ketakutan.   Mungkinkah itu Mu Heng?   Aku berjalan mengendap-endap masuk ke kamarnya.   Kamar siswa SMA itu sangat bersih. Beberapa buku pelajaran terlihat berserakan di atas meja.   Aku membuka lemari Mu Heng dan pelan-pelan membaliknya.   Mendadak aku melihat sebuah benda hitam yang berkibar. Aku memberanikan diri menariknya.   Ternyata benda itu adalah stokingku!   Mengapa stokingku bisa ada di sini? Mungkinkah kurir dan panggilan telepon tadi dari Mu Heng? Aku berpikir keras, aku berusaha memikirkan semua hal yang terjadi dalam kehidupan kami.   Wajahku spontan merona kemerahan dan jantungku berdebar kencang.   Bagaimanapun juga, Mu Heng masih merupakan anak kecil. Usianya masih belasan tahun. Hanya saja… apakah anak laki-laki berusia belasan tahun benar sebegitu cepatnya dewasa? Ini tidak masuk akal.   Aku memegang stoking itu di tanganku dengan tubuh yang gemetar. Mendadak, tatapan mataku tertuju pada tempat tidur Mu Heng. Aku seolah-olah menemukan suatu hal yang baru!   Aku menemukan beberapa helai rambut di tepi dan di sudut tempat tidur. Ada yang panjang dan ada yang pendek. Jelas-jelas helai rambut ini tak hanya ditinggalkan oleh satu orang. Ada juga sehelai rambut pirang yang tertinggal. Aku membuka mataku lebar-lebar dan menatapnya lekat-lekat.   Apa Mu Heng punya hobi semacam itu?   Aku tidak menemukan hal lain yang mencurigakan lagi di kamar Mu Heng. Aku kembali ke kamarku dan membolak-balik ke bajuku. Aku menemukan lebih dari itu.   Banyak celana dalam, rok, dan stoking milikku yang hilang.   Aku duduk dengan tatapan mata kosong di atas tumpukan pakaian. Aku berpikir cukup lama tanpa tahu harus berbuat apa. Jika aku memberi tahu Mu Yuan, apa yang akan dikatakannya? Apa yang akan dia pikirkan tentang aku?   Mu Heng masih anak-anak. Aku tak bisa menuduhnya begitu saja.   Ciiit!   Aku mendengar suara dari luar pintu. Mereka berdua pasti sudah kembali. Aku segera membereskan pakaian di tanganku.   Ketika berjalan keluar dari kamar, Mu Heng sedang menonton televisi dengan tenang.   “Mu Heng, aku sudah membereskan pakaianmu ke dalam lemari sore tadi.”   “Ah … “ Mu Heng menoleh. Dia mengedipkan matanya padaku dan berkata, “Kakak Ipar, Kakak bilang dia ada urusan mendadak dan sedang sibuk sekarang, jadi dia tidak pulang.”   Perusahaan perdagangan luar negeri tempat Mu Yuan bekerja sangat sibuk akhir-akhir ini. Ada sejumlah barang yang perlu diproses. Dia sebelumnya pernah mengatakan kepadaku bahwa keadaan ini akan terus berlanjut untuk sementara waktu.   “Apa kamu merasa tegang di sekolah akhir-akhir ini? Bagaimana hubunganmu dengan teman-teman sekelasmu?”   Aku duduk di samping Mu Heng. Aku ingin mengatakan sesuatu padanya. Aku ingin bertanya langsung padanya, mengapa dia mengambil stokingku! Namun, hal semacam itu sulit dikatakan.   “Sama sekali tidak tegang! Teman-temanku juga baik padaku!”   Mu Heng tidak menatapku saat dia bicara. Tatapan matanya tertuju ke arah televisi, padahal di televisi saat ini jelas-jelas sedang menyiarkan iklan.   Apa yang sebenarnya dia sembunyikan dariku?   “Teman-teman cewekmu banyak yang cantik? Apa ada yang kamu suka?” tanyaku ragu-ragu.   Mu Heng mendadak menoleh dan menatapku.   “Kakak Ipar, aku masih sekolah, belum boleh pacaran.”   Aku jadi merasa bersalah saat dia mengatakannya.   Mu Heng mengerjapkan kedua matanya dan bertanya, “Kakak Ipar, Kakak kepanasan?”   “Tidak juga, tapi bukankah AC-nya menyala!”   Suhu di ruangan tidak terlalu panas dan AC selalu menyala. Seulas senyuman aneh muncul di wajah Mu Heng yang tampan.   Mu Heng mendadak melepaskan kaosnya.   Dada yang bidang, kulit halus, dan aroma unik seorang remaja merasuk ke benakku.   Jantungku mendadak berdetak setengah ketukan lebih lambat dari biasanya.   “Di luar sangat panas. Aku berkeringat sepanjang waktu, tapi masih nyaman begini!” Mu Heng bersandar malas di atas sofa. Tangannya bertumpu di bahuku.   Rasa dingin yang terasa mati rasa mendadak datang dari tubuhku. Suhu udara di ruangan ini mendadak melonjak. Sepertinya ada aliran api yang mengalir di bawah perutku dan merajalela ke sekujur tubuhku!   Tidak bisa!   Aku tiba-tiba berdiri.   Mungkin karena pergerakanku yang terlalu mendadak, Mu Heng menatapku heran.   “Kakak Ipar, Kakak kenapa?”   Wajahku memanas. Tatapan mataku beralih ke samping. Dengan panik, aku mengambil pakaian yang baru saja dilepas Mu Heng.   “Aku … aku akan memasukkan pakaianmu ke dalam mesin cuci … kebetulan aku juga harus mencuci pakaian … “   Apakah semua anak laki-laki zaman sekarang begitu antusias?   Aku buru-buru menutup pintu kamar mandi dan berdiam di dalam ruangan kecil itu untuk menenangkan diri.   Namun, sekujur tubuhku ternyata bercucuran keringat! Tak hanya pakaianku saja yang basah karena keringat, tapi juga celana dalamku.   Aku menepuk-nepuk wajahku. Aku tak mengerti mengapa reaksiku begitu kuat. Mu Heng tadi hanya menyentuhku, dan kemungkinan besar itu juga tidak disengaja. Apa yang sebenarnya kupikirkan?   Ada rasa panas yang datang dari tubuhku. Aku menundukkan kepalaku dan melihat bahwa pakaianku basah karena keringat!   Sudahlah! Mandi dulu saja!   Pelan-pelan kutanggalkan pakaianku. Kututup tirai kamar mandi dan kubiarkan air hangat membasahi seluruh bagian tubuhku.   Pintu berderit dan mendadak terbuka.   Aku buru-buru menutupi tubuhku dan berseru kaget, “Jangan masuk!”   Mu Heng tidak masuk, tapi berkata dari pintu, “Kakak Ipar, bajuku harus dicuci dengan tangan!” Setelah itu, dia membuat gerakan aneh dengan jari-jarinya.   “Jangan lupa pasang keset anti slipnya. Panggil aku kalau ada sesuatu!”   Pintu kamar mandi akhirnya tertutup dan aku merasa lega. Lain kali sepertinya aku harus mengunci pintu kamar mandi saat aku mandi!   Suara Mu Heng barusan terdengar begitu perhatian.   Suamiku sendiri tidak seperhatian itu terhadapku. Jangankan mengingatkanku agar tidak lupa menaruh keset anti slip, aku lebih sering ditinggal sendirian di rumah.   Saat memikirkan hal ini, hatiku merasa kesepian. Perasaan kesepian menyapu tubuh bagian atasku.   Setelah mandi dan mengeringkan rambutku, Mu Heng sudah tidak ada lagi di ruang tamu.   Tidak bisa! Aku tak bisa membiarkannya terus menyimpang seperti ini!   Aku berpikir dalam hati. Bagaimanapun juga, Mu Heng adalah adik laki-laki kesayangan suamiku. Aku tak bisa hanya berdiri diam melihatnya berjalan di jalan yang salah!   Setelah menata isi pikiranku, aku menemukan titik awal yang cocok untuk bicara dengan Mu Heng.   “Mu Heng, minumlah s**u. s**u sangat baik untuk tubuhmu!” Aku masuk ke kamar Mu Heng dan meletakkan segelas s**u di atas meja.   Mu Heng sedang menulis sesuatu. Saat melihatku masuk, dia buru-buru membereskan barang-barangnya dan membuangnya ke tempat sampah. Dia sengaja menutupinya agar aku tak melihatnya.   “Terima kasih, Kakak Ipar,” sahut Mu Heng sambil tersenyum malu-malu. “Kakak Ipar, jangan terlalu banyak bergerak. Jangan khawatirkan aku. Jika ada sesuatu yang kuperlukan, aku akan memberi tahu Kakak!”   “Aku hanya ingin mengobrol denganmu. Apakah aku mengganggumu?” Aku menggelengkan kepala dan duduk di samping tempat tidur.   Kamar Mu Heng dipenuhi dengan aroma khas pria, menyeruak seperti ombak yang bergulung-gulung.   Sorot mata Mu Heng terus tertuju pada perutku. Wajahnya memanas saat menatapku.   “Tidak mengganggu,” jawab Mu Heng sambil memutar kursinya dan menghadap ke arahku.   Tatapan matanya yang serius membuatku gugup.   “Mu Heng, kamu sekarang sudah dewasa. Kamu harus lebih memperhatikan perihal privasi … maksudku … “ semakin aku bicara, semakin rendah suaraku. Akhirnya, aku hanya bisa menyilangkan tanganku dan napasku sedikit kacau.   “Kakak Ipar, apa yang Kakak bicarakan? Aku tidak mengerti.” Mu Heng menatapku bingung, lalu bagaikan tiba-tiba teringat sesuatu dia berkata, “Apa Kakak Ipar keberatan saat aku meminta Kakak mencucikan pakaianku?”   Saat membicarakan tentang pakaian, jantungku seolah-olah melompat hingga tenggorokanku!   Benar! Masalah pakaian!   “Mencuci pakaianmu bukanlah hal yang merepotkan, tapi pakaian orang tidak boleh diambil seenaknya begitu saja, terutama pakaianku. Jangan disentuh ….” Saat teringat pada celana dalam yang basah yang dikirimkan melalui kurir itu, wajahku memerah.   Mungkin Mu Heng mencium bau yang tertinggal di celana dalamku. Bau itu terlalu memalukan! Semakin aku terus bicara, semakin napasku terasa berat. Aku hanya bisa menatapnya dengan wajah yang memerah.   Ekspresi wajah Mu Heng terlihat datar. Dia sama sekali tak mengambil hati atas masalah ini sama sekali. Mendadak dia menarik kursinya maju ke depan dan jarak di antara kami hanya beberapa sentimeter.   Aku bisa melihat jakunnya yang bergerak naik turun dan bibirnya yang berkumis.   Napasku menjadi lebih cepat. Sekujur tubuhku menjadi kaku!   Lengannya yang kuat menghantam di kedua sisiku.   Ya Tuhan! Apa yang akan dia lakukan!   Aku menatap Mu Heng dengan ngeri. Aku tak berani bernapas!   “Mu …“   Dia menyela kata-kataku.   “Kakak Ipar, lihatlah dirimu. Mana mungkin aku memakai pakaianmu!” Dengan wajah polosnya, Mu Heng menahan senyumnya. “Jangan bercanda!”   Aku tercengang. Jantungku hampir saja melompat keluar. Aku langsung meninggalkan kamar Mu Heng, seolah-olah pergi melarikan diri.   Aku mengatur napasku yang terengah-engah sendirian di kamar yang gelap ini.   Mu Yuan masih belum pulang. Aku sudah meneleponnya beberapa kali. Hanya saja dia berkata bahwa dia masih sibuk dan memintaku untuk menunggunya di rumah sebelum kami dapat berbicara.    Dia selalu pulang larut malam dengan wajah kelelahan.   Begitu Mu Yuan masuk, aku cepat-cepat meraih lengannya.   “Sayang, sudah selarut ini. Apa kau lelah?”   Mu Yuan melepas dasi di lehernya dengan kasar dan melemparkannya begitu saja ke atas tempat tidur.   “Ya! Aku sangat lelah hari ini. Kenapa kau masih belum tidur?”   Aku menariknya ke sisi tempat tidur pelan-pelan dan kami pun duduk.   “Sayang, biar kuberi tahu sesuatu ….“   Mu Yuan menatapku lebar-lebar. Suaranya terdengar sangat pelan.   “Apa!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD