Bab 4 Hampir Ketahuan

1700 Words
Ekspresi polos Mu Heng masih tetap tak berubah. Dia berkata, “Kakak Ipar, aku hanya ingin melihat keponakanku. Tak lama lagi aku akan menjadi paman!”   Aku menghela napas lega.   Ternyata aku salah, Mu Heng memang masih anak-anak. Kenapa aku justru melihatnya dari sudut pandang orang m***m!   Saat ini, bel pintu berbunyi. Mu Heng melepaskanku dan berjalan ke arah pintu dengan senang hati.   “Kak, rupanya kau sudah pulang! Kakak Ipar sudah membantuku membereskan kamar!”   Kedatangan adik iparku yang mendadak membuatku lengah. Berikutnya, aku akan lebih berhati-hati untuk menghindari hal-hal seperti ini.   Di pagi hari, kami menikmati sarapan bersama. Setelah itu, berangkat ke tempat kerja atau sekolah kami masing-masing. Sekolah Mu Heng sangat dekat dari rumah, hanya perlu sepuluh menit jalan kaki. Kami berjalan bersama-sama, dia ke sekolah dan aku pergi bekerja.   Terkadang Mu Yuan mengajak kami makan malam bersama di luar, tapi aku lebih sering berada di rumah menunggu mereka pulang. Kami sudah tinggal bersama selama dua minggu tanpa insiden apa pun. Semuanya berjalan dengan lancar dan suasana di rumah pun menjadi hidup.   “Sayang, sudah saatnya kau kontrol ke dokter kandungan. Aku besok tidak ada urusan, jadi biar aku yang mengantarmu!”   Ucap suamiku tiba-tiba saja, saat dia mengambil brosur rumah sakit.   Aku langsung teringat dokter yang memeriksaku saat itu. Aku menjadi ragu. Tepat pada saat aku menemukan alasan untuk menolak, Mu Heng keluar dari kamarnya.   “Kak, apa Kakak besok menemani Kakak Ipar ke rumah sakit? Kalau begitu, aku tidak pulang. Kebetulan kalian tidak di rumah akhir pekan ini, jadi aku bisa belajar seharian.”   “Baiklah, setelah kontrol dari dokter kandungan, kami akan mengajakmu makan barbekyu.”   Hubungan kedua kakak beradik ini cukup baik. Mu Heng juga tipe orang yang gampang disukai.   Aku sama sekali tak bisa menemukan cara untuk menolak. Aku hanya bisa berdoa dalam hati, jangan sampai aku bertemu dokter yang memeriksaku sebelumnya!   Malam ini mimpiku buruk sekali!   Dalam mimpi pun, aku teringat wajah dokter itu. Kehangatan itu mulai kembali ke tanganku. Ingatan yang tidak mengenakkan dilihat itu kembali muncul dalam mimpiku.   Aku sedang berbaring terlentang di ranjang rumah sakit. Dokter itu memasukkan senjatanya ke tubuh bagian bawahku dengan ganas, hingga meninggalkan jejak berwarna putih, merah, hitam, dan hijau. Suamiku yang berada di sampingku dan melihatku tidur dengan pria lain hanya menonton dan tersenyum.   Aku mendadak terbangun dan akhirnya menyadari bahwa itu hanya mimpi.   “Tidurmu semakin bertambah lama saja. Sekarang sudah pukul sembilan. Aku tidak tega membangunkanmu,” Rupanya suamiku sudah keluar kamar, tapi segera kembali setelah mendengarku bangun.   “Apa? Sudah jam sembilan? Semalam aku pasti tidur kemalaman! Aku mau mandi dulu.”   Aku tak berani membiarkan suamiku melihat kejanggalan yang terjadi padaku, jadi aku buru-buru masuk ke kamar mandi. Namun, adegan dalam mimpi itu berulang kali muncul di benakku dan sama sekali tak bisa hilang.   Ini belum lewat tiga bulan.   Saat dokter melihat mataku yang berbinar-binar, dia melihat hasil tes kehamilan, lalu berkata kepada Mu Yuan, “Saat ibu hamil sedang diperiksa, lebih baik jangan mengganggu. Jika tidak, hasil tesnya tidak akan akurat. Mohon tunggu di luar!”   “Baik, saya akan menunggu di luar.”   Suamiku melemparkan senyum kepadaku dan menepuk bahuku. Dia membalikkan badannya dan tepat pada saat dia hendak meninggalkanku, aku meraih lengan bajunya, tapi aku tak tahu harus berkata apa agar dia tetap bersamaku.   “Siyu, dengarkan kata-kata dokter. Aku di depan pintu. Panggil saja aku kalau ada apa-apa.”   Pintu ruang pemeriksaan ditutup.   Suamiku membawa istrinya sendiri ke mulut seekor serigala yang lapar!   “Kenapa Anda begitu takut pada saya?” Dokter itu menatapku dengan mata berapi-api. Dia begitu terus terang, tidak seperti pertama kali kami bertemu.   Saat melihat dokter ini, seolah-olah episode sebelumnya diputar ulang dalam benakku dan sulit untuk melupakannya. Saat ini, aku merasa seluruh pikiranku terbang entah ke mana. Mimpi semalam membuatku kesulitan bernapas.   “Saya tidak … “   Dokter itu berjalan ke belakangku dan menempelkan bibirnya di telingaku.   “Terakhir kali saya melihat Anda, Anda buru-buru naik taksi. Apa saya sudah membuat Anda begitu takut?”   Seluruh wajahku memerah. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Yang membuatku sedikit demi sedikit kehilangan akal sehatku adalah gerakan kecil dokter ini, membuat tubuhku makin memanas, dan panas itu mengalir ke bagian tubuhku yang paling bawah.   “Apa yang Anda ingin lakukan? Suami saya masih di luar,” kataku sambil gemetar.   “Saya seorang dokter, tentu saja saya akan memeriksa Anda. Silakan berbaring di ranjang yang ada di sana.”   Aku berdiri dari tempat dudukku. Gelombang panas keluar dari tubuhku dan perasaan itu datang lagi. Harus kuakui bahwa aku sudah memikirkan hal itu.   Tanpa sadar tatapan mataku tertuju pada jas putih dokter itu. Aku sudah pernah menyentuh benda pribadinya itu.   Aku begitu takut seandainya suamiku melihat semuanya ini. Namun, aku tak bisa apa-apa. Jika aku menunjukkan sikap yang aneh, dia pasti akan mencurigaiku. Jadi, aku hanya bisa diam dan membiarkan dokter ini memeriksaku.   Kali ini, aroma tubuh dokter ini sangat kuat. Wanginya yang menggoda menyeruak masuk ke hidungku. Aku menggigit bibirku, berharap selanjutnya tak terjadi apa-apa.   Dokter melepaskan pakaianku dan meletakkan instrumen di badanku.   “Kulitmu begitu halus dan terawat dengan baik.”   Jari-jari pria di hadapanku ini meluncur ke atas perutku, membuatku seolah mati rasa karena sengatan listrik yang mengalir ke sekujur tubuhku. Bulu kudukku berdiri dan keinginanku untuk bercinta datang lagi.   Jari-jari dokter ini langsung meluncur di antara kedua kakiku. Meraba dengan ringan hingga membuatku mati rasa.   “Di sini sangat ketat. Setelah melahirkan, Anda bisa cepat pulih.”   Gerakan jari-jari pria itu terus membuat hasrat di hatiku bergejolak. Aku menggigit bibirku, berusaha keras untuk tidak bersuara.   Mendadak, aku merasa sebuah benda masuk ke bagian bawah tubuhku dan menempel di situ.   Aku membuka mata ketakutan.   “Hentikan! Jangan!”   Dokter itu tidak menarik tangannya. Dia menempelkan bibirnya di telingaku dan berkata dengan suara pelan, “Anda tidak takut didengar suami Anda? Anda sudah begitu basah, apa yang akan terjadi kalau suami Anda melihat ini?”   Aku mengatupkan bibirku. Perasaan hangat yang ditimbulkan oleh tindakan dokter itu beranjak naik ke kepalaku.   Tidak! Suamiku ada di luar, sedangkan dokter ini menggerayangi tubuhku di atas tempat tidur.   Aku ingin melawan dan memberontak, tapi tubuhku yang menginginkan kenikmatan dunia tak bisa bohong. Dia terus menggerayangi tubuhku dengan liar dan ganas, sedangkan aku hanya bisa mendesah.   Otakku perlahan-lahan berhenti berfungsi. Semuanya menjadi kabur dan gelombang panas tak henti-hentinya menyapu tubuhku.   Aku sudah tak peduli lagi siapa yang ada di luar. Tubuhku terus mengejang. Dia telah melepaskan seluruh kancing bajuku, menyingkap gunung kembarku di udara.   Dokter ini mendekatkan mulutnya ke p****g susuku, bersiap menerkam.   “Ah!”   Rasa sakit, mati rasa, dan kenikmatan yang memusnahkan akal sehatku melanda. Semakin lama napasku semakin memendek. Aku merasa sesak dan tanpa sadar mendesah.   “Benar-benar memuaskan. Air s**u Anda benar-benar enak rasanya!” Dokter itu mengangkat kepalanya. Sudut bibirnya masih menyisakan bekas air susuku yang dilahapnya.   “Jangan …” Aku memohon belas kasihannya dengan suara rendah.   Namun, saat dokter itu lanjut mengisap air susuku lagi, aku tak bisa berkata apa-apa. Perasaan puas yang dingin merayap naik ke punggungku.   Bel pintu berdenting. Detik berikutnya, pintu terbuka.   Di saat yang sama, dokter menarik tirai putih itu.   “Dokter Liu, saya masuk untuk mengambil sesuatu,” Terdengar suara seorang wanita.   Beruntung orang itu bukan suamiku, kalau tidak, aku akan sangat ketakutan. Hal ini membuatku terbangun.   Memanfaatkan jeda waktu ini, aku segera mendorong tubuh dokter itu menjauh dariku.   Lalu aku mendengar suamiku yang menunggu di luar bertanya kepada dokter wanita yang masuk tadi, “Apakah ibu hamil yang ada di dalam sudah diperiksa?”   Tanpa menunggu dokter m***m ini menjawab, aku buru-buru menyahut, “Aku sudah selesai diperiksa!”   Aku segera mengenakan sepatuku dan meninggalkan serigala lapar ini.   Suamiku menatapku dengan terkejut, lalu menatap dokter di depanku. Tatapan matanya penuh dengan keraguan.   Mungkinkah dia melihat sesuatu? Kilasan adegan saat dokter ini menyesap air susuku dengan nikmatnya kembali muncul, menggetarkan hatiku.   “Bagaimana bisa kau salah mengancingkan bajumu sendiri? Kau seperti anak kecil saja,” suamiku menepuk kepalaku sambil tersenyum.   Barulah aku menyadari bahwa aku panik dan membuat kesalahan! Aku hampir saja menangis saking takutnya!   Saat ini pula, dokter itu muncul dari balik tirai. Sikapnya seolah-olah menunjukkan bahwa semua yang tadi dia lakukan padaku tidak pernah terjadi! Aku tak berani menatapnya lagi dan berlindung di balik lengan suamiku.   “Janinnya normal. Ibu hamil harus memperhatikan istirahat dan makan makanan ringan. Saya sudah menjadwalkan waktu untuk kontrol berikutnya.”   Setelah mengakhiri kalimatnya, dia menyerahkan hasil tes kehamilan kepada Mu Yuan.   “Baik, terima kasih, Dokter.”   Tak disangka dokter ini tidak menunjukkan tanda-tanda apapun dan dapat bersikap normal. Namun aku tahu, di balik wajahnya yang tampak serius itu, tersembunyi hati seekor binatang buas yang tidak pilih-pilih. Dia bahkan menerkam ibu hamil tanpa ragu!   Aku memaki dalam hati sambil meninggalkan rumah sakit ini bersama suamiku.   “Dokter minta kau makan makanan ringan. Kalau begitu, malam ini, kita jangan makan barbekyu. Kita makan yang lain saja … “ kata suamiku sambil mengemudikan mobil.   “Beberapa hari lalu Mu Heng bilang kalau dia ingin makan barbekyu. Jangan membuatnya kecewa. Bagaimana kalau kalian saja yang pergi, biar aku makan sendiri di rumah?”   Suamiku terlihat ragu sejenak, lalu dia menganggukkan kepala.   Suamiku mengajak Mu Heng keluar makan. Aku sendirian di rumah.   Perasaan panas dan bergejolak itu kembali muncul dalam hatiku. Aku berbaring di atas sofa. Aku tak bisa mengendalikan rasa kesepianku. Jari-jariku berkeliaran dengan gelisah di sekujur tubuhku.   Ini sungguh membuatku tidak nyaman. Kobaran api menyembur di hatiku, membuat bibirku kering dan hatiku diliputi rasa gatal.   Harus kuakui, mencapai titik kepuasan itu benar-benar membuatku lega dan nyaman.   Aku menutup mataku. Kucelupkan jari-jariku ke bagian intimku yang ada di balik rokku sambil mendesah tak terkendali.   Mendadak suara bel pintu terdengar.   Aku menutup bagian bawah tubuhku dengan rokku. Siapa lagi yang datang kali ini?   Seorang kurir dengan topi yang diturunkan berdiri di luar pintu.   “Ini paket Anda, silakan ditanda tangani.”   Aku tidak membeli apa pun akhir-akhir ini … dengan penuh keraguan, aku mengambil paket itu, menutup pintu, dan membuka isi paket itu.   Ada sebuah celana dalam di dalam paket itu.   Dan bau celana dalam itu sangatlah kuat.   Ini milikku! Ini celana dalamku! Saat suasana hatiku buruk, rasa panik merajai benakku. Aku begitu panik hingga aku membuang celana dalamku yang kotor itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD