TA - 13

2178 Words
"Kau baik-baik saja?" Tampang Fagan mungkin terkesan datar tanpa hati. Tetapi dari jarak cukup dekat, Vania bisa merasakan nada suara pria itu sedikit berat dan cemas. Matanya kerap berubah dari gelisah kembali ke tenang. Sang ayah sempat pucat dan dokter menyarankan agar Kenta lebih banyak beristirahat alih-alih berjalan untuk melepas setres. "Aku tidak akan meninggal di tempat tidur," sungut Kenta sebal memandang sang dokter sinis. "Pantai ini luar biasa. Kalau bisa aku ingin pergi sambil memeluk air laut." "Jangan bergurau. Itu sama sekali tidak lucu," kata Fagan pahit mendengus keras dan Kenta hanya diam. Tidak bicara apa pun lagi. "Bagaimana dengan sesekali?" Vania mulai bertanya lirih, memindahkan pandangan sang dokter padanya. "Terkadang seseorang perlu udara bebas untuk melepas penat. Aku rasa itu cukup. Tidak terlalu sering tapi beberapa kali." "Kurun waktu satu minggu?" "Satu hari sekali. Aku merasa itu lumayan sebagai kesepakatan." Kenta berseru dengan senyum tipis. Sementara Fagan mendesis pelan. Sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikiran unik ayahnya yang tidak bisa diam di kamar. "Tiga hari sekali dan itu sudah menjadi batasku." Vania menghela napas kalah. Membiarkan Kenta mencibir sebal saat Fagan mengantar dokter pribadi pergi keluar ruangan. Ada Nina yang menemani serta membereskan beberapa sisa plastik di atas meja agar membuat si penghuni kamar merasa nyaman. "Vania, apa kau mau lebih lama tinggal?" Wanita itu mendadak diam. Bungkam saat iris pekat yang serupa dengan Fagan memandangnya penuh permohonan. Bagaikan kelinci kecil, Vania menduga Kenta di masa muda adalah perayu manis para perempuan cantik. Terlihat sama seperti Fagan dan itu mengingatkan pada beberapa obrolan mereka kalau Kenta remaja sempat banyak main. "Aku memang ingin menetap lebih lama. Sayangnya, aku memiliki urusan lain dan mungkin saja bertahan satu minggu lagi," suaranya tercekat sembari menatap mata Kenta yang berpendar kecewa. "Aku juga harus bekerja mencari uang." "Fagan bisa menanggung seluruh hidupmu." Kepala itu menggeleng singkat. "Astaga, kami berdua bukan pasangan kekasih. Hanya mencoba menjadi teman atau semacamnya. Ya, sebagai sahabat dekat. Bukan berarti Fagan bisa menghidupi apa pun karena itu bukan kewajibannya." Kenta menghela napas sesak. "Dasar perempuan," bibirnya mengulas senyum. "Kau pasti menjadi tanggung jawabnya semisal kalian menikah nanti." Sementara Vania membiarkan Kenta tidur dan mengatur suhu pendingin di dalam kamar, Fagan kembali masuk dengan wajah suntuk. Vania melihatnya dan merasa ada selipan iba dalam sepersekian detik. "Kau harus banyak istirahat mulai terhitung hari ini." Kenta memindahkan tatapannya pada sang anak. "Fagan, aku tidak akan pergi menyusul ibumu sebelum melihat anak pertama darimu lahir. Kau boleh pegang ucapan ayahmu ini." Yang kemudian mencoba tertidur dan Fagan membuang muka. Kejadian baru saja seolah mengguncang dirinya dari dasar secara tidak kasat mata. Dia ketakutan sampai sulit berpikir. "Sepertinya Tuan Kenta memang perlu banyak berbaring." Nina mengucap kalimat saran secara tersirat. Vania sudah bersiap pergi ketika Kenta dengan cepat terlelap tidur. Lalu pada Fagan yang mundur, menjauh dari kamar sang ayah dengan murung. Vania berniat untuk tidur tadinya. Namun Fagan mengekori dirinya seperti bocah kecil tersesat. Dia memilih untuk memeriksa Kenta selagi menghindari Fagan dan pikiran yang mudah terpancing. Kemudian menemukan kabar yang tidak terlalu bagus, situasi mendadak menjadi senyap dan melebar cemas. Nina muncul dari pintu kurang dari lima menit. Menatap Vania sebentar, lalu menuruni anak tangga dengan nampan kecil berisi gelas air putih dan wadah obat yang telah kosong. Suasana rumah terasa lebih sepi. Sebelum menjelang senja dan pemandangan bagus hanya bisa terlihat dari balkon atau ruang kerja Fagan. Kenta yang bercerita pada Vania tentang segala isi rumah ini. Fagan larut dalam ruangannya sendiri. Sedangkan Vania tengah berjuang untuk masuk ke dalam kamar atau berbalik untuk bertanya apa pria itu merasa lebih baik. Satu, dua sampai tiga ketukan mampir. Vania mengintip dari celah pintu saat tidak mendapat respons berarti. Kemudian menarik gagang pintu kayu itu terbuka, menemukan Fagan yang menunduk dengan tangan memegang rambut tebalnya cukup erat. "Hai, kau tak apa?" Fagan mendongak, memberikan tatapan gusar saat ekspresinya masih setenang air kolam. "Kau mau menemaniku sebentar?" "Jika untuk bicara, tentu saja tidak masalah. Kau butuh sesuatu?" Kepala itu menggeleng. "Tidak, kemarilah." Saat Fagan meneleng memberikan Vania pandangan getir. "Aku ingin berbicara dengan seseorang sekarang." Vania mendekat tanpa cemas. Ia terlena dengan sorot bingung serta ekspresi Fagan yang terlalu kalut. Mungkin dokter bicara kemungkinan buruk tentang ayahnya yang menunjukkan perubahan membaik padahal tidak. Itu semua adalah kamuflase penyakit yang berubah lebih parah. "Kau menghubungi kakakmu di luar sana?" "Tadinya aku berniat melakukannya. Mencoba melakukan panggilan sebanyak dua kali dan mampir ke kotak masuk asisten Ivan. Dia sedang berada di tengah rapat penting. Ivan menghubungi lebih dari delapan kali beberapa jam lalu. Lalu meminta Nina untuk tidak mengangkat telepon dari siapa pun." "Dia sangat khawatir. Kau meneleponnya dan itu berarti bukan pertanda bagus." Fagan mengembuskan napas berat. "Ya dan saat ini aku menyesalinya. Ivan mengandalkanku untuk menjaga ayah sementara dia sibuk. Aku harus melakukannya demi keluarga kami yang tersisa." Mendengar Fagan begitu menyayangi keluarganya membuat Vania terpukau. Para pria biasanya abai dan terkesan tidak mau peduli pada keluarga yang membesarkan mereka secara layak. Namun Fagan sendiri pengecualian. Sikap dewasanya merubah pandangan Vania sedikit tentang pria itu. "Semua pasti segera membaik," katanya lembut memasang senyum tulus saat sorot kelam itu memandangnya penuh arti. "Ayahmu punya keinginan untuk sembuh. Kau seharusnya tidak perlu gelisah tentang hal itu. Dia begitu dicintai dan tahu kasih sayang kalian nyata. Ayahmu ingin hidup lebih lama." "Sampai aku punya anak," balas Fagan masam dan mengalihkan tatapannya ke luar jendela. "Itu terdengar mustahil. Tetapi aku merasa tidak mampu lagi membuatnya kecewa." Vania ikut diam. Merasakan kegundahan pria itu yang turut menular pada dirinya. Sementara dia tidak bisa berbuat apa pun untuk sekadar menghibur. "Apa saja yang ayah bicarakan padamu tadi?" "Tidak terlalu banyak. Dia sering bercerita soal ibumu, kau dan kakakmu. Tipikal yang membanggakan keluarganya dengan tulus. Kau beruntung karena mendapatkan Kenta sebagai seorang orang tua." "Aku juga merasa begitu. Maka dari itu, aku berusaha menyelamatkannya sekuat mungkin. Aku sudah gagal membuat ibu bahagia. Kini yang tersisa hanya ayah sendiri." Vania menghela napas pelan. Memerhatikan meja kerja Fagan yang rapi dan semua perabotan terdiri dari harga yang tidak murah. "Lantas, apa rencanamu ke depan?" Fagan diam selama beberapa saat berlalu. Kegundahan mengaliri mereka seperti arus sungai. Vania ikut menunduk bungkam, mencari tempat untuk duduk sebelum akhirnya Fagan kembali memutar dan menatapnya. "Menikah. Aku harus melakukannya." *** "Sayang, kau tampak lesu. Apa yang terjadi?" Vania menggeleng, menyadari perhatian Sarah yang berlebih padanya. Perempuan itu sibuk namun menyempatkan diri dengan berbincang untuk mengisi hari luang. "Kau tahu kondisi Kenta memburuk." "Ya Tuhan, Vania aku sudah menduganya. Dia juga memiliki penyakit bawaan. Sebab itu mungkin yang membuatnya sedikit sulit bertahan di masa mendatang." Sarah terdengar sedih. Bagaimana pun sehat adalah sesuatu yang sangat mahal dan berharga. "Putranya panik dan resah sepanjang waktu. Aku tidak bisa melihat Fagan dari jarak dekat lalu memilih mundur." "Jangan cemas karena kau sudah melakukan hal yang tepat. Vania, dia pantas diberikan ruang untuk berpikir selagi masih ada sang ayah yang berjuang sekuat tenaga demi sembuh." Vania mendadak menyesal. Saat dia mendengar seseorang memanggil sahabatnya dari kejauhan, mau tak mau mereka menyudahi obrolan. Vania menutup ponsel dengan enggan, kemudian menunduk untuk memeluk kedua lututnya sendiri. Suara ketukan di pintu segera membuatnya tersadar. Vania turun dengan kening mengernyit sebelum memakai sandal santai dan merapikan tali baju tidur. "Apa ada sesuatu?" "Seseorang mencarimu untuk bertemu." Nina yang ternyata mengusiknya. Vania memiringkan kepala penuh tanya. "Siapa?" Nina seolah tidak ingin berkomentar lebih jauh. Gadis itu mengangkat bahu, mundur pergi dengan membiarkan Vania melihatnya sendiri. Saat dia menguncir rambutnya dengan asal, Vania melihat sosok yang berdiri di teras balkon dengan kedua tangan bersandar di tepian pembatas cukup erat. Vania termenung, memandang pria itu sedikit lebih lama. Angin berembus cukup sejuk di malam hari. Tidak ada tanda hujan deras seperti semalam hadir kali ini. "Kenapa kau mencariku?" Fagan menautkan alis, melihat wajahnya dan turun mengamati pakaian tidur. "Benar, apa kau terbangun karena Nina?" "Aku belum tidur dan sedang berbaring malas." "Ini semua terasa berbeda," ucap Fagan tiba-tiba dan Vania menengadah menatap pria itu yang berdiri ketika dia duduk di sofa. "Ayahku menyantap makan malam di kamar sendirian dan tidak di ruang makan." "Apa itu tindakan kurang wajar?" "Dia biasanya mencoba tetap makan bersama kami. Bergabung dalam obrolan sebentar lalu pergi ke kamar kalau merasa lelah." Vania menyadari sifat permanen satu itu. Kenta terbuka apa adanya di ruang makan. Saat alasan merasa lebih dekat bersama keluarga adalah saat makan. Fagan terlihat lebih rileks dari sebelumnya. Vania cukup lega selama beberapa menit melihat pria itu mampu berpikir jernih. "Bagaimana dengan minum sesuatu?" Fagan menolak singkat tanpa pikir panjang. "Lalu, apa yang ingin kau katakan?" Sosok itu berbalik ke arahnya. Vania menahan napas untuk detik yang mengejutkan. Mencoba menatap ke dalam mata gelap pria itu. Mencari topik percakapan apa yang mungkin terucap setelah hari berjalan panjang. "Aku belum bicara kepada siapa pun tentang ini selain denganmu." Sebuah reaksi mampir berupa kening mengernyit. "Mengapa terdengar rahasia sekali?" "Vania, kau benar tentang kita yang berpasangan. Sebelumnya kau pernah membahas ini ketika di pesawat," Fagan mengingatkan dengan wajah tertekuk kalut. "Aku sempat berpikir itu ide aneh. Tetapi sekarang situasinya berbeda. Seandainya kesempatan itu masih ada bagi kita berdua." "Tidak lagi ada dan sudah berakhir di sana." Vania lekas menyahut kalimat Fagan dengan sorot dingin. Kenapa pria itu berubah menjadi menyedihkan? "Aku ingin kau membantuku sekali saja." "Ayahmu tahu benar jika kita tidak sepadan satu sama lain. Aku pintar mengurusnya dan belum tentu bisa merawatmu." Sebuah keluhan mampir karena Vania mulai putus asa. "Ini bukan tentang kencan atau hubungan kita sebelumnya." "Jadi aku membutuhkan penjelasan darimu." Vania mengambil napas secara perlahan. Iris segelap malam itu menatap dirinya. Yang membuat Vania melamun, lalu tercengang dengan debaran nyaris gemetar. Seketika dirinya hanya perlu kembali mundur atau bersembunyi dari Fagan secepatnya. "Sebentar, berikan aku lima menit untuk menelaah." Tangannya terulur ke atas, meresapi arti tatapan pria itu padanya. Fagan seakan meminta pertolongan tanpa bersuara. "Aku menikah denganmu?" Fagan bergeming tanpa reaksi. Vania asumsikan itu kebenaran mutlak. Dia tidak sama sekali mampu membayangkan hidup dalam ikatan bersama suami tak memiliki pendirian tetap seperti seorang Fagan. "Kau menolaknya?" "Mengapa pilihannya ada di diriku?" tanya Vania bingung. "Apa aku mengajak Nina? Tidak, jawabannya karena kau lolos seleksi. Itu yang paling utama," balas Fagan tanpa menyesal. "Kedua, kita pernah bersama sebelum tiba di sini. Aku tidak tahu apa ini pantas dijadikan alasan namun aku membutuhkan bantuanmu." "Semacam dirimu sedang memohon?" Fagan menarik napas panjang, mengacak rambut belakangnya gemas. "Iya, aku tidak bisa melupakan ucapan ayah sore tadi saat berjanji untuk bertahan hingga aku punya anak." Vania memahami benar kekacauan pria itu. Kenta menyatakan dirinya sehat secara fisik tetapi dokter sebaliknya. Fagan tidak percaya candaan ayahnya lagi. Dia tampak lebih bebas dan itu membuat putranya sangat sedih. Di sisi lain, Ivan memberi dukungan dari jarak yang terbentang luas. Membuatnya harus mengatasi kesulitan itu seorang diri. Vania memahami bagaimana beban pria itu. "Apa kata dokter yang sebenarnya?" Alis Fagan tertaut kaku. "Komplikasi selalu menimbulkan masalah baru di masa depan. Ada jalan solusi dengan kebebasan selamanya. Ayahku terus mengalami mimpi buruk karena rasa sakit. Dia terlihat baik dan realitanya tidak. Rumah sakit sudah menjadi sahabat akrab sejak lima tahun yang lalu." "Apa selama ini hanya kamuflase semu?" Fagan tidak ingin menjelaskan walau dia harus agar Vania mengerti. Kondisi ayahnya bisa saja menurun secara instan. "Aku tidak tahu. Dia selalu bicara tidak lagi merasakan sakit yang sama. Begitulah ayahku setiap hari. Aku sadar kalau dia sering meringis, berupaya untuk tampil baik meski wajahnya pucat selayaknya memakai bedak tebal." Perasaan asing itu ikut membuat Vania gundah. Dia kembali mendudukkan diri, mematung sembari berpikir. "Aku punya ide," katanya cukup serius. Fagan bersandar pada pintu dengan tangan terlipat. Sorot matanya berubah penasaran. "Apa?" "Di dunia ini banyak larangan yang diabaikan demi sensasi atau tantangan. Karena kau ingin menikah dan punya anak secara legal, dirimu bisa mencari kandidat yang tepat di tempat lain. Aku ada kenalan sebagai saran." Ini menujuk pada Sarah dengan koneksi hebat segudang. Salah satunya mungkin membuat Fagan menaruh minat. Fagan merenung selama beberapa menit. Vania bisa melihat sepasang manik itu menyipit, kemudian pada ekspresi kesal yang membuat kulitnya merinding. "Kau bilang apa?" "Aku memiliki teman baik. Dia terbiasa melakukan ini dan banyak dari mereka yang berhasil," berusaha menjaga suaranya agar tetap tenang. "Kalau kau berminat, aku bisa bicara lagi nanti. Khusus dirimu boleh memberi pendapat sesuai kemauan." "Kau sedang bercanda?" Vania terkejut mendengar suara berat itu mampir dari Fagan yang seakan kehabisan kesabaran. Vania perlahan mengambil napas ringan, merapikan anak rambutnya dengan dengusan. "Aku serius saat ini dan mencari solusi membantumu." "Kau benar-benar konyol, Vania. Itu sama sekali tidak membuatku tertarik." "Kau sebut aku apa?" Pria itu memandangnya dengan lekat, memegang lengannya sendiri seraya menggerutu. "Aku tidak memerlukan jasa apa pun untuk membawa calon yang sesuai." "Maaf aku hanya menawarkan tadi. Jika kau menolak, bukan masalah penting." Vania kembali lebih santai. Hampir saja dia kehilangan kendali diri. "Aku membutuhkan dirimu dan tidak ada yang lain." Suasana berubah lebih cepat dan kelam. Perpindahannya yang singkat membuat debaran Vania semakin hebat. Napasnya gemetar pendek ketika mata mereka bertemu. Sebelum akal lainnya mengambil alih, Vania melangkah mundur dengan raut menyesal. "Aku tidak akan menikah denganmu. Ini semua hanya berlaku di dalam mimpi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD