"Jadi? Ah, kau seorang pekerja lepas. Apa sebutannya seorang fotografer?" Sarah mengernyit dengan tampang masam. "Kalau ditelisik lagi, kau tidak terlihat seperti orang susah." Vania menghela napas. Memandang sahabatnya yang terlalu spontan dengan tatapan bosan. Sejujurnya, tidak ada salahnya Sarah ikut bersama. Kadang dia bisa saja bersikap seperti badai yang menantang atau selayaknya patung tenang. Bertindak sekadar untuk mengawasi, bukan mengacaukan suasana. Tapi sekarang Vania memandang itu lain karena suasana hati Sarah rupanya sedang tidak baik. Adis mencampur saus pastanya tanpa minat. Matanya yang teduh terarah pada Vania sepenuhnya. "Kau tidak memakan habis makan malammu?" "Aku sempat bilang sebelumnya, kan? Kurang terlalu berselera menyantap apa pun." "Yang lapar aku," sahut

