TA - 26

1188 Words
Pernikahan. Sebuah pesta megah yang dihadiri banyak orang dan membuat dirinya cepat lelah dengan bibir kaku karena terus tersenyum. Pikirannya mendadak membatu seketika. Vania mengernyit, memandang pria itu sinis saat alisnya berkedut menahan muak yang sensitif. "Apakah diplomasi seakan mengendalikan dirimu sekarang?" tanya Vania jengkel. "Aku tidak sedang melakukan negoisasi padamu," balas Fagan datar, dingin dan terguncang karena kelakuan Vania yang mendadak hilang di penghujung bumi setelah dia mengantarnya pulang sampai ke apartemen tua. Fagan berniat memindahkan ke rumah yang lebih layak dihuni. Kemudian membahas beberapa syarat agar mereka berdua sepakati. Mudah, kan? Perempuan ini yang membuat segalanya semakin sulit. "Kau tidak sedang melakukan sebuah percakapan denganku," ucap Vania lamat tercekat ketika pandangan mereka bertemu. "Aku menawarkan kencan romantis. Mengapa kau langsung membawaku ke pernikahan?" "Jika saja kau tidak kabur dan kita bicara, mungkin aku mengiyakan. Apa alasanmu mendadak lari?" "Aku rindu sahabatku," tukasnya tanpa pikir panjang. "Pembohong." Vania merasa payah sekarang. Kepalanya berdenyut seakan baru saja kehujanan semalaman suntuk dan mengalami pagi yang berat karena demam. "Aku benar. Sarah meminta bertemu dan kami terus bersama." "Apa kau memiliki teman dekat pria?" Fagan serius kali ini. Iris hijaunya melebar. "Kenapa kau ingin tahu?" "Aku perlu membahasnya." Vania bersedekap, memunculkan sikap defensif yang lekat. "Oh itu bukan urusanmu." Selanjutnya yang terjadi adalah keheningan yang membentang luas. Senyap menyelimuti bagaikan kabut malam di atap kamar hotel tempatnya menginap. Vania merasa frustrasi. Pria ini selalu memunculkan sinyal peringatan baru dalam kepalanya. Hari itu adalah terakhir, tapi mendapati mereka melakukan hubungan antar dua manusia di pulau, Vania seolah lupa diri. Vania berpaling, memilih untuk mengamati ikan kecilnya yang nampak bosan. Tidak ada yang terjadi selain perdebatan jika mereka membahas gengsi satu sama lain. Vania kewalahan sekaligus sebal dan Fagan seharusnya pergi dari sini. "Ini akhir batasanku, kau sebaiknya pergi." "Sebelum aku mendapatkan jawaban, itu hanya ada dalam mimpimu." Kepalanya menengadah, memunculkan binar yang memancar di kedua matanya. "Kau tidak tahu seandainya aku hilang kendali, aku mungkin akan bersikap sangat buruk." Fagan melesat menghampirinya secepat angin. Saat Vania menahan napas, merasakan pelukan bersama sentuhan bibir yang mendamba, tubuhnya bergeming seperti robot tanpa kendali. Vania selalu menjaga jarak dengan para pria di hidupnya. Sarah yang ikut menjaganya setuju dengan hal tersebut. Memberi banyak ruang hanya agar dia tidak terluka, supaya kepingan bernama masa lalu tak lagi muncul sekadar memberinya hantu berbayang dalam bunga tidur. Mereka biasanya tidak menyukai perempuan berkasta bawah. Ada banyak alasan mengapa Vania menyukai kehidupan sederhana dari pada duduk layaknya bos di kantor. Dia punya sisi lain dan menjalaninya dengan tabah selama ini. Tiga puluh tahun berlalu, pengalaman pahit memberinya hadiah yang pantas. "Kau tidak bisa pergi dariku," Fagan berbisik di hadapan wajahnya yang tersipu dan penuh. Vania merasakan sensasi perut mulas dengan kilasan kecil membuatnya merona. "Kali ini Sarah menolak untuk membantu. Aku harus mencarimu seorang diri." Vania menatap manik kelam di depannya serius. Ketika dia mengulurkan tangan, melepas kedua tangan Fagan yang menangkup wajahnya dan mundur. Sebelum dia berubah pikiran dan memeluk pria itu dengan penuh antusias, dia perlu bicara. "Aku harus mengatakannya kepadamu," ungkapnya jujur. Fagan tampak bisa menyesuaikan diri. "Silakan." "Satu bulan," kata Vania lamat mempertahankan diri untuk terus memandang pria tampan di depannya. "Kita adalah sepasang kekasih hanya sebulan. Selama itu pula aku terus mengunjungi ayahmu, sesuai janjiku tempo hari." "Lalu?" Fagan menautkan alis menunggu. Mengambil napas banyak, Vania kembali bersuara. "Di jangka tersebut kau bisa mencari siapa yang setara untukmu, yang sanggup menjadi istri dan ibu dari calon anakmu. Apakah kita sepakat?" Vania mencoba menelisik arti tatapan pria itu padanya. Namun sama sekali tidak berhasil. Fagan hanya mengangkat satu alis sinisnya, mendesak bagaikan tikus kecil di sudut ruangan. "Baiklah, aku setuju." *** "Terima kasih banyak." Vania memamerkan senyum ramah saat petugas itu mengulurkan tangan setelah mereka mengurus segala keperluan demi membeli bangunan lelang di samping bangunan bisnisnya. Urusan perjanjian yang cepat membuatnya tidak banyak mengulur waktu. Vania meminjam mobil Sarah ketika dia membawa kendaraan tuanya ke bengkel kemudian memolesnya menjadi cantik dan unik. Siap dipamerkan dengan harga lumayan dan mencari yang baru. Hari ini dia pindah ke rumah sewa baru. Truk bermuatan sedang membawa sebagian barangnya yang masih baik untuk pindah. Ada sekitar enam sampai tujuh orang yang membantu membereskan barang berat dan Vania memberi mereka tip dengan senang hati. Hanya kurang dari dua jam, rumah minimalis ini pantas dihuni. Vania semestinya merasa bangga. Tempatnya sesuai dengan minat. Sarah yang membantu melihat harga terbaik. "Konyol sekali! Sejak kapan kau pelihara ikan itu?" Sarah muncul dengan wajah tidak puas. Sesaat memandang ikan kurus yang hendak Vania pindahkan ke aquarium penuh lampu dan tumbuhan plastik. "Dimulai dari kemarin karena aku senang melihatnya. Kau mau berkenalan?" Sarah memutar mata. "Terima kasih. Siapa namanya?" "Fagan, ini pemuda yang tegas dan yang ramah itu bernama Milen." "Milen ini perempuan atau lelaki?" "Pedagang itu bilang masih belum tertebak. Aku asumsikan dia lelaki tulen tapi berwajah manis," kata Vania ceria dan Sarah menggeleng. Melepas tas kecilnya dengan merebahkan diri ke sofa. "Kau mulai tidak waras." "Tidak benar begitu. Sebenarnya aku ingin belajar hobi baru merawat ikan hias. Kau tahu, aku pecinta binatang." "Ya. Tapi terlalu sibuk untuk mengurus mereka semua," balas Sarah pahit. "Dan kau menamai ikanmu Fagan. Apa kau jatuh cinta?" "Aku tak bisa memikirkan nama lain karena dia bilang hewan mungil itu dingin dan bersifat kurang baik. Serupa seperti Fagan." Sarah kembali menghela napas lelah. Tidak habis pikir dengan kelakuan Vania yang lain. "Dia itu terlalu kecil untuk terlihat menyeramkan atau gemas. Mereka bukan kucing." Vania memberi makan kedua peliharaan barunya. Fagan dan Milen terlihat akrab satu sama lain. Belum ada kemunculan teritorial kekuasaan sebagai pemimpin di wilayah baru. "Kau membawa ayam goreng?" gumamnya setelah bersantai. "Sebotol soda, teman. Kita harus menyantap ini." Vania mencari ikat rambutnya dan memasang secepat mungkin. Bergabung bersama Sarah di sofa dan samar memperdengarkan suara televisi yang menyala dari ruang tengah. "Apa kau serius akan berubah?" "Iya, aku bertekad kepada diri sendiri." Vania tersenyum. Sarah menoleh untuk sekadar menangkap kecemasan dalam matanya. "Kau berhasil menyeberangi ketakutanmu sekarang. Apa ini berkat Fagan?" Vania menurunkan sisa ayam di atas piring. "Aku mengajukan permintaan kencan dalam waktu sebulan. Jika dia bisa menemukan wanita lain yang pantas dan sempurna, aku mundur dengan leluasa. Sesuai kemauanku sebelumnya." Ekspresi Sarah terlihat penuh misteri. "Ya Tuhan, Vania yang malang. Kau tidak bisa melakukan itu sesungguhnya. Sama saja melukai perasaan sendiri." "Bukan itu, Sarah. Kita berdua tidak memakai rasa di sini." "Semua ini hanya kamuflase?" Sarah bersimpati karena sahabatnya. "Kalau aku memutuskan, aku tidak ingin membuatnya malu. Mungkin aku bisa berubah sedikit ketus mulai saat ini," kata Vania hangat memperlihatkan senyum samarnya. "Dia kaya dan keluarganya terpandang. Aku hanya membuatnya risih dengan bekerja sebagai staf biasa. Ayahnya tahu aku pemilik sebuah bisnis. Tetapi aku tidak menjelaskan segalanya secara terperinci karena rahasia tetap menjadi privasi individu." Sarah memejamkan mata. "Kau sudah memilih jalanmu sendiri. Aku menyesal karena memberikan nomor barumu pada Fagan. Dia bilang karena kau terlalu pelit untuk memberikannya." Vania mendengus keras. "Dia tidak bertanya." "Usahamu cukup bagus. Aku memintamu tetap terus bertahan walau kau dan Fagan sudah mengakhiri berhubungan. Kau sempurna dengan pekerjaan ini. Berhentilah melamar pekerjaan lain. Apa kau mengerti?" Vania mengangguk lemah, tak lagi mau menyela ucapan benar sang sahabat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD