TA - 25

3466 Words
Malam yang unik karena menghabiskan waktu bersama pria paling berpikiran pendek yang pernah Vania kenal. "Kau memberi pengaturan sepihak itu padaku?" Alis Fagan yang sinis terangkat. "Pengaturan satu sisi bagaimana? Kurasa tidak ada yang merasa sepihak di sini. Itu berdasarkan ketentuan. Kau bebas berkata aku milikmu, begitu pun sebaliknya. Ini berjalan dua arah." "Aku tidak berminat kepada dirimu." "Kau tidak apa?" Fagan membeo, bibirnya terkatup rapat. Mencoba menatap telisik pada perempuan keras kepala di depannya dengan kepala pusing tujuh keliling. "Kau tak suka mendengarnya?" "Aku tidak berkencan dan juga tidak berniat memiliki pendamping hidup di masa tua." "Kau aneh sekali." "Kita sama," tukas Vania tidak ramah. Fagan menolak gagasan tersebut dengan raut datar. "Aku tidak seperti itu. Sedang mencoba berpikir rasional bersamamu. Kupikir perempuan menyukai komitmen. Mengapa kau tidak?" Vania terhuyung mendengar pengakuan realita itu dari dirinya sendiri. Kalau pun dia bisa berbohong, itu tidak sepenuhnya menjadi kesalahan. Harapan untuk bahagia bersama suaminya kelak itu ada, tapi sudah terlalu lama tiada. Salah satu hubungan yang bisa dia toleransi hanya semalam bersama Fagan. Berlanjut ke berikutnya dan Vania harus memastikan dia tidak mengandung. "Ini benar. Kau tidak akan membicarakan rahasiamu padaku." "Lumrah karena manusia punya sudut pandang sendiri. Kau tidak ada bagian di sana. Sudah terlanjur meninggi dan sulit kembali ke awal mula." Fagan mencebik dengan pandangan muram. "Perasaanku bisa diraih. Kau tidak berusaha." "Lupakan saja tentang menikah," tegas Vania berupaya mengambil perhatian Fagan saat dia mendekat. "Kita bisa mencari pendekatan bagus lain. Kalau ini demi ayahmu, aku mungkin bisa merubah prinsip dan beberapa ide tentang kita yang berpacaran." Fagan hanya diam. Guratan letih itu membuat Vania meringis dalam hati. Fagan terlihat tampan dalam suasana apa pun. Pria itu menarik dan memikat dengan caranya sendiri. Parfumnya sangat wangi, Vania suka dengan barang yang mahal. "Aku tidak menaruh minat di sana." "Lantas, mengapa bersikeras ingin aku hamil?" "Kau berpeluang besar serta tidak menjauh dari anak-anak, kan? Aku tak akan mencurigai andai kau sengaja membiarkan anakmu berenang di kolam ikan sebagai uji coba." Vania tercengang. "Kau bergurau. Aku tidak akan berbuat sejauh itu." "Nah, aku percaya. Kenapa kau harus membuat segalanya semakin rumit?" "Semua hal tentang pernikahan tidak pernah berjalan mudah." Vania menunduk lirih. Sementara Fagan bergeming, ekspresinya yang dingin dan kuat berubah. Kalaupun dia jengkel karena Vania, seharusnya dia mendapat penghargaan bernilai tinggi. "Aku heran dengan diriku sendiri yang sangat tabah terhadapmu," kata Fagan pahit. "Pengendalian yang luar biasa. Aku patut bangga sekarang." Senyum Vania melebar manis. "Kau tidak bisa berbuat apa pun." "Kau perempuan paling tidak masuk akal." Spontanitas yang sama sekali tidak membuat Vania tersinggung. "Hah, mari kita bicarakan soal lain." "Aku tidak ingin kau minum tablet atau terbesit sedikit saja berpikir ke dokter untuk tindakan berbahaya." Beku menjalari dagu sampai pipi. Vania mendengus pelan, menyadari Fagan yang semaunya tidak dapat diubah oleh apa pun. "Aku berjanji dan setuju dengan kalimatmu." Percakapan ini tidak ada ujungnya. Fagan berusaha menepis gagasan ingin menarik Vania dalam pelukan dan membiarkannya berbuat sesuatu yang tak pernah padam. Dia sudah membuat Vania lupa arah dan berniat lagi. Serius, dia tidak pernah seperti ini sebelumnya. "Dua bulan setelah kita mendarat pulang, aku pasti membawamu berkencan." "Apa maksudmu?" Vania mengernyit. "Kita adalah sepasang kekasih. Jangan pedulikan cinta atau siapa saja yang sempat ada dalam hatimu. Kau harus bisa menahannya untuk aku." Vania hampir tertekan dengan pernyataan tersebut sampai jemarinya gemetaran. Kemudian mengulurkan tangan hendak memainkan kuku, tarikan napas Fagan lebih dekat. "Aku pergi. Sampai jumpa besok." Lebih baik menghindari patung selamat datang itu secepatnya. *** "Kau siap kembali ke rumah?" Vania memberikan senyum tulus pada Kenta yang tampak lebih sehat dari sebelumnya. Keberuntungan yang melingkupi atap rumah. Ivan masih ada di sini, berniat kembali dengan pesawat pribadi jika Fagan sudah sedia. Mereka akan pergi dengan jalur yang berbeda. "Tentu saja. Aku bisa menikmati hariku yang lain," kata Vania senang memainkan kakinya di dalam air. "Nantinya sering berkunjung. Jangan cemas dan percaya padaku." "Jika kau berkencan dengan putraku, aku berharap dirimu bahagia. Fagan terkesan tidak tahu bagaimana cara menyenangkan perasaan seorang perempuan." Vania menautkan alis. "Tidak perlu merasa khawatir. Kalaupun dia tidak bisa, aku mampu mencarinya sendiri." "Oh, tidak berjalan seperti itu. Kekasih termasuk dalam komitmen murni. Petaka terjadi jika di dalam satu hubungan terdapat dua raja. Fagan mungkin bisa bersikap bagaikan anak kecil padamu." Mata Vania menyipit. Memandang langit biru yang cerah dan berpura bosan. "Mungkin dia menyakitiku?" "Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Tetapi seandainya dia membuatmu merasa sedih walau hanya ringan, balasannya tak terbayangkan." Sudut bibir Vania melengkung manis karena sebuah senyuman. Sorot matanya memudar hangat yang memancar dari sepasang iris teduh saat bertatapan dengan manik ramah Kenta. "Kau pria baik. Terima kasih karena mau berteman denganku." "Jika aku boleh mengharapkan sedikit pengertianmu, aku mau dirimu menjadi bagian dari keluarga kami. Namun aku tidak mendesaknya. Kau berhak memilih jalan hidupmu sendiri." Senyumnya perlahan memudar. Vania melepas pandangannya pada permukaan kolam renang yang tenang. Sinar mentari membuat airnya terasa lebih hangat. "Aku rasa kau mulai menerima Nina. Dia ikut bersama kita pulang." "Dia manusia yang menyamar. Aku pernah mendapat masalah dengan salah satu kepala kepolisian dan mengoceh karena mencela perutku buncit. Saat itu hanya sedang diet demi ibumu." "Kapan itu terjadi?" tanya Fagan heran. "Ketika kau masih berusia tiga tahun. Ivan sangat pintar karena tidak menangis. Bocah itu terlihat bosan karena ayahnya sementara ibumu terus menggerutu dan kesal. Dia tidak mau bicara padaku seharian penuh." Fagan mendesah bingung. "Kenapa pula marah?" "Karena aku cepat mengambil tindakan. Ayahmu tidak memiliki kemampuan membaca pikiran wanita. Ibumu bilang mencintaiku apa adanya walau perutku maju sekalipun. Aku ingin tampil tampan demi dirinya." Vania mengulum senyum tanpa beralih. Lucu mendengar cerita muda Kenta semasa dulu. Saat dirinya sehat dan bugar serta mencintai keluarga. "Kau gendut dan bahagia atas itu." "Berhenti membicarakan massa padaku. Rasanya sudah lama berlalu. Kau tidak perlu merasa tinggi karena bentukmu bagus." Kenta tersenyum pada Vania yang menikmati kegiatan melamunnya. "Jika kau menemukan pria yang cocok denganmu, jangan pedulikan bagian ototnya." "Kusimpan saranmu. Aku melihatnya dari ketulusan." Fagan mendengus keras mendengar percakapan. "Pesawat akan berangkat besok pagi dini hari. Nina sudah mengemasi sisa barangmu di lemari sementara kita bisa merapikan koper sendiri. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" "Kau bisa bermain istana di pasir pantai. Cukup bagus untuk mengisi luang," imbuh Kenta dan Ivan membelalak. "Kau dulu selalu melakukannya dengan adikmu." "Lututku berbekas berkatnya," sahut Fagan masam. Ivan menggeleng apatis, menyesali kecurangannya karena membuat sang adik menangis keras. Itu karena dia gemas. "Aku penasaran. Vania, apa kau punya saudara kandung?" Bahunya menegang kaku. Sedangkan tiga pria di sana menunggunya bersuara. Ketika Vania naik, memberikan pandangan ramah. "Sebenarnya aku anak tunggal." Ivan hanya mengangguk. Sebelum Kenta bisa menyahut, Fagan menyela dengan intonasi dingin. "Dia tidak suka membahas privasinya. Mari biarkan prinsip itu berjalan." Vania hanya diam tanpa menjelaskan. *** "Sahabatku yang cantik, kau terlihat buruk." Bukan sapaan yang ingin Vania dengar dari Sarah. Ketika dia membawa koper, setengah menarik kedua kakinya untuk masuk ke sebuah apartemen kecil milik Sarah. Pada dasarnya, temannya satu ini bukan tipikal menetap. Dia termasuk gemar berpindah. "Halo, senang melihatmu." Vania menaruh tas dan jaket ke sembarang arah. Menyeberangi ruangan dan melemparkan diri ke kasur nyaman milik Sarah di dalam kamar. Berguling asal, memeluk boneka kesayangan. "Ini beraroma parfum pria. Siapa yang mampir?" Sarah memutar mata. "Kau tahu siapa. Jadi, kau kemari bersama Fagan?" "Aku naik taksi dari bandara." "Apa?" Sarah mendengus syok. "Mengapa naik kendaraan umum? Pria itu bisa memberimu tumpangan mobil mewah gratis." "Dia memintaku pulang dengan limusin. Mengantar seperti seorang ratu ke gubuk tua dan bicara agar menghubungi setelah tiba. Sebenarnya, aku selesai mengganti nomor ponsel dan mulai saat ini aku sudah bebas." Alis sinis Sarah terangkat naik. "Kau berkencan dengannya?" "Tidak. Dia yang asal bicara," tukas Vania sebal. "Aku bilang padanya kalau perjanjian sama sekali bukan diriku. Dia sama sekali tak mau mengerti." "Oh, pria dan gengsinya. Aku harus memasang wajah tercengang," timpal Sarah bosan dan ikut tertidur di sebelah Vania. "Kau membawakan sesuatu dari sana?" "Ada pasir pantai dalam sebotol bekas minuman dingin. Kau bisa menyimpannya untuk kenangan." "Aku bisa membelinya di toko souvenir dengan tempat yang lebih bagus dari pada milikmu," sindir Sarah dan Vania tertawa lepas. Lama mereka berbincang sampai Vania harus menyampaikan sesuatu yang serius. Dia menceritakan sebagian kisah tentang Fagan yang berniat menjalani pernikahan. Sarah terlihat gelisah, tetapi dia belum berkomentar. "Dia membutuhkan anak untuk ayahnya." "Dasar tidak tahu diri. Kau bukan serupa mesin pabrik," balas Sarah ketus dan bangkit duduk dari ranjang sembari mendengus pahit. "Kalau dia selicik itu, lebih baik tak perlu bertemu lagi. Kau ada di negaramu sendiri. Lupakan saja Fagan mulai saat ini." "Aku memang melakukannya," Vania tersenyum. Sarah bergumam lirih. "Aku hanya tidak mengerti. Berdasarkan desakan Kenta, dia berubah menjadi pria sentimental?" "Dia menyayangi keluarganya. Aku melihat sisinya adalah tekad untuk membahagiakan." "Fagan bisa mendapatkan wanita lain. Dia kaya raya dan pergi berkonsultasi dengan ahli. Semua teratasi sempurna." Vania setuju. Tetapi Fagan membuatnya lebih kompleks dari seharusnya. Pria itu meluaskan jalan yang semula segaris, menjadi lebih besar dan tak terarah. Vania yang menjadi tersesat. "Aku merasa bukan diriku lagi selama di sana. Saat ini aku mampu bersantai karena ada kau." Sarah memberi senyum menawan. "Vania, aku di sini. Kita bisa menyisihkan waktu untuk bicara dekat berdua." Jemarinya menyentuh belakang kepala dengan tarikan pelan. "Fagan berubah seratus delapan puluh derajat. Dia sangat menyebalkan. Sikapnya seperti bocah kurang perhatian. Dia dan ayahnya sering meledek tapi tidak sekali aku melihatnya nampak rapuh." "Ya Tuhan malang sekali. Dia trauma dengan kehilangan ibunya." Sarah berujar getir. "Dia mengupayakan segala cara agar ayahnya segera pulih." Vania diam. Memilih untuk merenung sejenak. Dia tidak akan kembali ke apartemen lama karena Fagan tahu tempat tinggalnya. Atau setidaknya, dengan uangnya bisa menyewa sebuah apartemen mahal yang hanya Sarah dan dirinya tahu. Vania berusaha meminta temannya mencari lokasi baru dan dia setuju. "Aku harus merubah hidup tradisionalku mulai saat ini," katanya serius. Sarah mengernyit. "Apa maksudnya?" "Aku mengeluarkan seluruh tabunganku untuk mengambil alih sebuah restoran yang hampir bangkrut." "Ide bagus!" Sarah berbinar senang. Matanya yang bersinar cerah membias dari kacamata. "Brilian. Kau tidak lagi diremehkan oleh manusia macam Lucy." "Aku tidak mau ikut dalam geng sosialita karena anti sosial," ujar Vania pasti dan Sarah memberi dukungan dengan tepukan pelan di bahu. "Aku mengasih kesempatan untuk beberapa lulusan yang berbakat demi mengawali karier mereka dari bawah." Sarah beranjak pergi dari ranjang. Bersiap membersihkan diri saat Vania berbaring, memasang kartu baru dan registrasi seperti pada umumnya. Menghela napas panjang, menyembunyikan wajahnya yang letih. Sekujur tubuhnya memberat butuh istirahat. Vania tidak bisa memberikan kesan baik pada Fagan, tapi meninggalkan perasaan tulus untuk Kenta dan Ivan. Mereka sangat baik dan menghormati sebagai seorang manusia. Fagan jelas mengabaikannya. Untuk beberapa alasan kuno karena Vania menolak untuk membahas kelanjutan hubungan mereka. Pria itu terlalu melangkah masuk dan Vania risih karena keberadaannya. Dia sebenarnya takut. Bimbang berlandaskan masa depan. Sarah muncul dengan jubah mandi dan rambut yang menjuntai basah ke punggung. Ketika meneliti tubuh ramping sahabatnya dan menarik napas. "Kau melupakan satu rahasia padaku." "Apa?" Vania mendadak panik. "Bagaimana bisa kau dan Fagan saling mengenal sebelum ini?" Vania kehilangan suara sesaat. Berpaling menatap sahabatnya tanpa ekspresi berarti. "Kami sempat menghabiskan malam bersama satu bulan sebelum pesta." "Ya ampun aku tidak tahu harus bicara apa." Vania tetap meneruskan walau sahabatnya berubah canggung. "Aku memberi uang kepadanya," Sarah tampak tak percaya sekarang. "Aku berpikir dia seorang pekerja. Kau tahu, aku tidak tahu sama sekali dan bersumpah." "Aku merinding." Sarah hanya tidak mampu bereaksi. "Kemudian takdir bersikap lucu padaku. Kami bertemu di suatu acara dan Kenta sangat menyenangkan. Dia menyelamatkanku dari masa lalu. Aku merasa bersyukur lalu mengetahui bahwa Fagan putranya dan seorang pebisnis handal, aku mematung." Sarah meraih kursi untuk membawa dirinya duduk. Tidak peduli dia masih memakai jubah sekalipun, Vania tahu benar jika dirinya suka terlewat batas. "Kau sudah tidak waras, Vania." "Itulah aku. Namun sebenarnya tidak berharap ke jenjang yang lebih serius. Hanya bualan omong kosong. Fagan mencari jalur pintas agar rencananya berjalan tepat arah. Kami tidak sedekat itu." Selagi Sarah berpikir serius, Vania memilih melamun. Kenta tampak lebih hidup sekaligus sedih saat dia berpamitan. Berkata bahwa Vania adalah keluarganya walau berbesar hati, dirinya hanya ingin menjadi sosok sekilas yang sempat singgah. Dia merasa kecil dan tidak pantas berada di sana. Keluarga Fagan menempati kasta teratas dan Vania tak bisa menggapai mereka. "Kau ada benarnya. Fagan pria paling tak masuk akal. Kau dan dia sama saja. Untuk apa menjadikan teman satu malam menikah? Perkara anak menjadi sesuatu yang rumit. Dasar manusia," sungut Sarah setelah bangun demi mencari gaunnya di lemari. "Kau sependapat denganku, kan?" "Vania, aku selalu membelamu apa pun itu. Jangan gelisah. Kalaupun Fagan bertingkah kurang pantas, aku punya benda yang pasti membuatnya menyesal ada di tas. Dia berhenti mengusikmu lagi." Seringai Vania timbul, ia lekas bangkit dan menghambur ke pelukan sahabatnya. "Kau yang terbaik." "Spesial untuk orang tersayang. Aku berjanji tidak mau melihatmu terluka lagi." Air mata Vania kini turun deras. *** "Bagaimana dengan pengacau yang kau sebut?" "Sudah berakhir. Dia ke sini mencari seseorang. Aku bermaksud baik memberinya bantuan dengan bermaksud menelusuri, tetapi dia menolak. Aku tidak suka dengan perempuan macam itu." Vania tertawa. Memarkirkan mobil di kedai kopi setempat. Mentraktir minuman setelah mereka sepakat membayar rumah sewa baru untuk Vania, Sarah baru bernapas lega. Letak perumahan tidak terlalu jauh dari pusat kota, cukup untuk berlindung dari ragam jalan raya yang padat. "Lantai dua yang terbaik. Ayo, kita ke atas." Vania mengikuti dalam diam. Membawa separuh kue manis dan mengambil tempat di sebelah jendela yang santai. Balkon terlihat penuh oleh sekumpulan anak muda tanggung. "Kita tidak ada di usia yang sama lagi seperti mereka. Hidup berjalan begitu cepat. Mereka tertawa untuk melenyapkan mimpi buruk," gumam Vania lirih memainkan gelas kopinya dan memejamkan mata. "Aku pernah lakukan hal yang sepadan." "Kau yang tak kenal waktu dan aku sempat membencimu." Udara yang berembus sepenuhnya berasal dari pendingin ruangan. Vania menopang dagu dengan sebelah tangan, memerhatikan Sarah geli. "Kau tidak sepenuhnya kesal kepadaku. Meski begitu aku masih menyayangimu." "Kau terkadang bersikap manis." "Kau membawa salinan pemasukan bulan lalu? Aku harus memindahkannya sebagai kuartal keempat sekaligus data dua bulan ke depan." Vania terusik karena urusan pekerjaan. "Tentu saja, bos. Aku membawanya di dalam ransel." Vania memeriksanya sebentar. Membaca setiap dana yang masuk dan pengeluaran bisnis secara seksama. Secara rinci memberi tanda dengan pena yang selalu dia bawa di dalam tas kecil lalu menulis catatan di ujung kertas. "Semua grafik bagus. Kita tidak memiliki masalah finansial dan boleh menambah lima sampai enam pekerja baru kemudian mengalokasikan dana untuk menambah gedung lain." "Kau sudah mendengar beritanya?" tanya Sarah perlahan. "Aku tahu itu. Lahan berpeluang lumayan. Menurutmu?" "Aku sepakat," senyum Sarah terulas terharu. "Kita bisa mendapatkannya dengan harga di atas. Pelebaran lokasi termasuk rencana kita sebelumnya dan ini kesempatan bagus. Aku perlu menemui pihak bank secepatnya untuk membahas harga pasti." "Kabari aku." Vania menukas hangat. Sarah mengangguk. "Kau mencari pekerjaan setelah ini?" "Aku bermaksud mengepakkan bisnisku sebagai seorang pengusaha telaten di bidang masakan. Sejujurnya aku belum siap." "Kau optimis, aku mendukungmu seutuhnya." Sarah memberi semangat dan Vania mendengus. "Aku harus mulai mencari sebentar lagi. Kita bisa melihat hasilnya satu minggu ke depan." "Kurasa liburan ke pulau pribadi malah membuka wawasanmu," timpal Sarah dengan kekehan. Vania tertawa hambar. "Sebenarnya aku belajar banyak dari Kenta. Ayah Fagan banyak mengajarkan beberapa kiat menjadi pengusaha berhasil. Sedikit berliku tapi aku rasa itu pantas. Dia tidak mengambil keuntungan kurun waktu singkat dan secara bertahap." "Terdengar sama seperti tempat malam ini," balas Sarah setuju. Raut Vania berubah saat dia memerhatikan deretan angka dan menyadari Sarah terus mengamatinya. "Jika kau menjadi seorang bos yang sebenarnya, pandangan kurang menyenangkan serta menghakimi tidak ada lagi. Kau bisa bergerak semaunya atas tanahmu sendiri." "Aku mencintai pekerjaan di masa laluku." "Aku tahu itu dengan benar," tukas Sarah lamat. "Kau tidak membiarkannya begitu saja dan fokus pada pekerjaanmu. Aku iba sekaligus ingin menyadarimu." Senyum Vania terulas ramah. "Sosok Ivan sungguh luar biasa. Aku tidak tahu dia menyimpan kharisma di usia dewasa. Anak kembarnya sangat menggemaskan dan pintar." "Apa kau bertemu dengan mereka?" "Panggilan video dan istrinya sangat cantik. Dia sopan dan senang bercanda." Sarah mengangkat satu alisnya. "Mendengar ceritamu, keluarga Fagan lengkap dan bahagia. Kasihan sekali dia begitu menderita karena kepergian ibunya dan sang ayah bisa menurun kapan pun tak terduga. Kebahagiaan tidak akan berlangsung lama." Vania mendadak sakit kepala, tidak ingin membahas tentang Fagan lagi saat ini. *** Vania tidur di hotel berbintang dua yang tidak jauh dari rumah Sarah. Ia tidak akan mengusik kehidupan lain sahabatnya yang kelam bersama beberapa pria kenalan. Sarah tidak pernah menegaskan diri untuk keluar dari hubungan singkat berupa tempat tidur dan Vania tidak bisa menegurnya. Kopi dan kue tidak lantas membuatnya kenyang. Sekarang dia sedang membuat sereal, meluruskan kaki sembari menonton tayangan kartun. Acara khusus anak-anak yang segar dan lucu. Ponselnya berubah senyap. Setelah memutuskan mengganti kartu lama, Vania hanya memberi nomor baru pada Sarah. Kemudian menyimpan sisa untuk dirinya sendiri. Dia akan memberitahu beberapa klien penting untuk menghubungi secara personal. Kulitnya meremang membayangkan saat Fagan berhasil mengetahui nomor ponselnya tanpa menjelaskan. Vania merasa bahunya berat, resah seandainya pria itu berhasil mendapatkan dirinya. Upaya menghindar dan melarikan diri rupanya gagal. Mangkuk yang tadi penuh telah kosong. Kaki rampingnya membawa dirinya masuk ke dapur, mencuci alat makan dan menyapa satu ikan kecil yang ketus. "Halo, Fagan." Nama itu terlintas begitu saja ketika Vania mampir untuk mencari ikan mungil dan akuarium bundar. Dia berniat membangun kolam raksasa untuk ikan yang imut dan berwajah sinis. Pedagang tersebut berkata bahwa hewan kecil ini kurang bersahabat dan penyendiri. Vania berpikir untuk membawakan teman bermain sesama agar Fagan tidak kesepian. Vania memberikan makan dan Fagan mungil menyantap lahap seolah baru saja mendapatkan seloyang pizza keju. Sarah pasti kaget seandainya dia mendengar Vania memutuskan merawat satu hewan kecil yang anti sosial. Dengan nama Fagan yang terpampang jelas, sahabatnya berpikir kalau Vania tidak bisa melupakan pria itu. Bel pintu kamarnya berdenting. Vania menautkan alis, memeriksa jam dinding dan meluruskan punggung untuk memeriksa siapa yang datang malam ini. Apakah Sarah mampir sebentar? Perasaan tidak sabar membuatnya penasaran. Melupakan kalau dia tengah memakai sandal hotel sebelumnya, Vania membuka kunci dan membeku menemukan siapa sosok berwajah datar dan angkuh di depan sana. "Jika begini caramu menghindariku, kau tidak cerdik sama sekali." "Aku bukan badut yang bisa membuatmu tertawa." Vania mendesis kesal. "Tapi aku ingin tertawa," sahut Fagan setelah berjalan masuk ke dalam. "Kau ingin kita saling memelotot di tempat umum?" Fagan menarik napas. Gestur tubuhnya kaku seakan siap membantah. Vania hampir menutup pintu dan menghubungi pihak hotel, tetapi Fagan membaca gelagat paniknya dan menahan agar tetap terbuka. "Tidak ada lagi yang harus kita bahas berdua," ucap Vania lirih. "Kenapa tidak? Kau kekasihku." "Kau bilang apa?" desis Vania tak terima, tidak kuat berada di balik pintu yang membuatnya kelelahan karena Fagan akhirnya berhasil masuk. "Kenapa kau senang sekali berbuat sesuatu di tempat orang lain?" "Aku tidak melakukan apa pun," balasnya dingin. Matanya menatap setiap inci ruangan dengan dengusan. "Hotel murah yang menyedihkan. Uangmu banyak, kenapa tidak mencoba yang lebih mahal?" "Tidak sekaya kau," sahut Vania lalu membiarkan pintu dan berjalan ke dekat jendela kamar. Vania sedikit terhibur berkat ikan baru miliknya yang memandang keributan dengan tampang tak bersalah. "Aku tidak tahu ada orang asing masuk." "Kau bicara dengan siapa?" Fagan bertanya curiga. "Si tampan yang ramah. Ingin berkenalan?" Fagan menautkan alis, sebenarnya hendak menjelaskan mengapa dia bisa menemukan wanita itu dengan mudah. Koneksi yang membuatnya lancar melacak keberadaan Vania. Yang masih berusaha bersembunyi, tidak tidur di apartemen tua dan sengaja mengganti nomor. "Ada pria lain di dalam hotel ini?" "Iya, di sebelah sini." Fagan menunjukkan wajah pucat saat melangkah ke sebuah ruangan dan membeku melihat aquarium kaca untuk seekor ikan. "Dia?" "Kemarilah. Biar kukenalkan kalian berdua supaya lebih cepat akrab." "Kau bicara dengan hewan itu?" Fagan meringis geli. "Dia punya nama," timpalnya. "Siapa?" "Fagan." Vania tersenyum senang. "Aku tidak salah dengar?" Fagan tidak mampu merespons semua ucapan itu dengan baik. Vania menamai hewan serupa dirinya. "Kau memanggil ikanmu dengan namaku? Demi Tuhan." "Katanya dia selalu memandang sinis kolam dan ikan lain. Sama sepertimu yang suka memandang tak ramah sekitarmu." Fagan seakan ingin bicara sesuatu dan Vania merasa bingung berada di satu ruangan yang sama. Setelah di pulau itu mereka berdua berbeda. "Kau mau ke mana?" "Pergi untuk tidur," cicit Vania pelan. "Kau harus pulang ke rumah." "Tidak." Fagan menolak sebelum bisa melihat Vania lebih lama. "Ada yang ingin kau sampaikan padaku?" "Aku tidak suka dengan pola main yang licik," tukas Fagan pahit dan kesinisan mengudara bebas dari suara dan raut dinginnya. "Kau bertingkah berlebihan." "Itu sikap alami yang mendadak muncul saat berada di dekatmu." Sementara Fagan mengendurkan sikapnya, dia memandang penampilan Vania yang serba tertutup untuk tidur. Setidaknya kancing piyama itu terpasang dengan rapi. Dia tidak melihatnya berantakan atau tangan terasa gatal mencoba untuk memperbaiki dalam sekali percobaan. "Aku harus bicara denganmu." "Baiklah," Vania mengalah setelah mengangguk. "Aku membawa cincin untuk melamar." Seluruh tubuhnya mematung, melamun ke arah Fagan yang serius terhadapnya. "Vania, menikahlah denganku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD