TA - 24

1191 Words
Ivan mengintip dari luar, menggeleng kecil dan melambai pada Vania yang tengah kebingungan. Kakak Fagan sama sekali tidak membantu dan melepas kekacauan ini bersamanya. "Jariku tergelincir. Botol ini jatuh dan tidak sengaja melukai tanganku," desis Fagan muram setelah mendongak menatap mata Vania yang bersinar indah. "Kau berlebihan. Mau apa kau masuk?" "Aku mendengar suara kaca jatuh dan sangat panik," tukasnya dingin dan tatapannya menuduh Fagan sebagai biang rusuh. "Kau ceroboh." "Memang atau terkadang," timpalnya. "Sesekali." Vania bangkit, tidak bisa diam saja melihat serpihan kecil saat tangan Fagan terluka dan bekasnya masih setia mengalir. "Di mana kotak obatnya?" "Ada di laci paling bawah." Dia menemukan kotak mungil berisi kapas, cairan anti infeksi dan obat merah. Semua itu berguna untuk pertolongan pertama. Vania menerka ini bukan kejadian pertama. "Kau kekanakkan," ujarnya malas sembari menggerakkan kapas sepanjang goresan di telapak tangan Fagan. "Aku tidak mengerti." "Aku tidak lakukan apa pun. Ini tiba-tiba saja terjadi." Vania tidak memintanya duduk dan wanita itu malah bertumpu dengan kedua kaki bersama satu ekspresi serius. Bermodalkan lampu redup, Vania bisa sempurna membalur plester pada tangannya. "Kau cekatan," bisik Fagan serak meringis melihat benda yang membungkus bekas luka. "Tapi aku bisa melakukannya sendiri." Vania hanya diam. Membereskan sisanya dengan menyapu serpihan kaca di atas meja agar lebih mudah dibersihkan. "Kenapa kau tidak katakan sesuatu?" "Apa kau tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih?" Fagan mengernyit, alis indahnya terangkat satu dengan dengusan. "Kau mengharapkan aku bicara begitu?" "Tidak. Lupakan saja." Vania menghela napas lelah. Fagan terburu menahan Vania pergi. Memindahkan kotak itu di atas meja dan menarik napas panjang. "Terima kasih banyak atas bantuannya." "Apa kau sedang tertekan sekarang?" "Sedikit," akunya datar. "Kau merindukan ibumu?" Pria itu mengembuskan napas berat. "Itu terjadi hampir setiap hari. Kadang aku melihat bayangan diriku kecil bermain di sekitar rumah dan tertawa lepas." Vania menatapnya getir. Gundah karena mengamati ekspresi dingin itu tampak sedih dan redup. Fagan dicintai keluarganya dan memikirkannya membuat Vania merasa kasihan. Dia tampak tidak berdaya. Fagan tanpa cela dari depan dan belakang. Sementara Vania memiliki celah, plester yang menua dan garis kemerahan yang tidak kunjung padam. "Temanmu baru saja menghubungi?" "Iya," tarikan napasnya pelan. "Kami lama tidak mengobrol. Sebenarnya kami sempat dekat lalu sempat menjauh dan sekarang berbicara lagi rasanya menyenangkan." Senyum tulusnya melebar manis. Fagan melihat itu. "Apakah dia seorang pria?" "Mengapa kau bertanya?" Vania menyuarakan kebingungannya. "Hanya ingin," pungkas Fagan cepat menunduk menatap hasil tangan Vania. "Kau tidak terlihat canggung ketika bersama pria lain." "Tergantung. Aku hanya perlu melindungi diriku sendiri. Untuk ayah dan kakakmu, itu pengecualian karena mereka menyenangkan." Fagan tidak akan bertanya tentang dirinya. Tentunya Vania pasti memberi jawaban sebaliknya. "Aku akan membereskan sisa ini. Apa kau punya kantung plastik tidak terpakai?" "Tidak ada. Tetapi ada tempat sampah di sana," tunjuk Fagan dengan dagunya. "Jangan menyentuh apa pun. Biar aku yang merapikan semua itu sendiri." Vania berdesir memandangi bentuk bahu serta punggung yang terlapisi pakaian tidur tebal. Fagan terlihat tampan hanya dengan piyama mahal itu. Semua penampilannya sangat memesona. Vania merasa kecil karena dia kesulitan mencari yang sesuai walau merasa keren suatu waktu. "Kau perlu sesuatu lagi?" Fagan berpaling, sorotnya berubah saat mata mereka bertemu. "Kau mau membantuku?" "Bukan begitu maksudnya," dasar pria ini, batin Vania kesal. "Kau mungkin butuh minum atau apa. Tidak ada gelas dan teko air di sini." "Oh," Fagan mencemooh. "Hanya air putih. Kau bisa membawakannya ke kamar." "Kamarmu?" tanya Vania spontan. "Siapa lagi memangnya?" "Oke." Vania tidak membalasnya dengan suara yang ditinggikan. Tahu bahwa temperamen pria satu itu seperti bayi, dia malas berselisih. Fagan menunggu di kamar. Ketika Vania masuk, dia terpesona dengan besar kamarnya. Masih interior menakjubkan yang hanya bisa dia lihat sekali dalam seumur hidup. Vania hampir kehabisan napas. Pemilik maupun ruangannya terasa hebat. "Kau memberiku apa?" "Bukan, itu hanya pereda sakit kepala biasa. Tapi ada sedikit kandungannya agar membuatmu rileks." Pria itu mengabaikan tablet putih kecil yang tergeletak di sisi gelas. Sementara Vania mengamati, Fagan lebih senang memandangnya dalam diam. "Kita bisa kembali pulang lusa." "Secepatnya?" suaranya terkesiap karena terkejut. "Bagaimana dengan kesehatan ayahmu?" "Aku dan Ivan sedang membujuknya untuk tinggal di rumah sakit kalau itu diperlukan. Jika kau ingin bernegoisasi, aku sangat berterima kasih." Vania bergeming. "Aku rasa sanggup melakukannya. Namun untuk pria seperti ayahmu, menghabiskan waktu di rumah adalah jawaban. Mungkin dia bisa menemui cucunya di negara lain?" Fagan menggeleng singkat. "Ivan melarang hal tersebut. Dokter sudah setuju. Ayah tidak bisa berpergian jauh ke mana pun." Gelas telah tandas. Vania melirik tanpa suara, mencoba untuk membawa gelas kosong itu pergi saat Fagan memintanya duduk dengan isyarat mata. "Aku mendengar tempat kosong di sebelah bisnismu akan dilelang. Sertifikatnya tertahan di salah satu bank. Kau berminat?" "Aku tidak tahu tentang itu," balasnya jujur. "Seseorang baru saja memberi kabar padaku," timpal Fagan santai. "Aku terbiasa mencari lahan potensial untuk proyek masa depan. Tapi melihat lokasi itu di sebelah milikmu, aku menundanya. Harganya tidak terlalu mahal. Kalau kau mengajukan banding, kau bisa melunasinya dalam jangka waktu lima bulan." Alis Vania tertaut naik. "Kau bilang apa? Lima bulan terlalu singkat dan aku tidak sekaya dirimu. Lagi pula, aku tidak berutang untuk sebuah bangunan jelek." "Itu bagus. Jika kau meminta Sarah ke sana untuk melihatnya, sahabatmu pasti sependapat denganku." Vania termenung sejenak. Memikirkan kemungkinan soal perluasan lahan yang sempat dia rundingkan bersama Sarah tempo bulan lalu. Sarah setuju dan Vania belum menemukan lokasi yang sempurna untuk melebarkan bisnis mereka. "Terima kasih untuk informasinya. Aku akan menghubungi temanku besok pagi." Sebelum Vania berjalan pergi, Fagan menghentikannya dengan gumaman rendah. "Aku belum selesai bicara." "Apa lagi sekarang?" "Aku membuat beberapa pengaturan baru seandainya kita menikah nanti," ujar Fagan serius yang menimbulkan guratan tegang di wajah Vania. "Dengarkan aku dulu." "Aku tidak ingin membahas apa pun," kata Vania agak dingin. "Kau tahu hubungan kita tidak akan berhasil." "Apa karena kau takut jatuh cinta padaku?" Vania menggeleng lamat. "Ada beberapa hal yang tidak bisa aku bicarakan padamu. Tetapi pernikahan terasa jauh. Kita bukan sepasang kekasih dan kau tidak bisa memintanya hanya karena ingin anak dariku." "Ayah ingin memeluk cucu lain." Suara Fagan teredam rasa frustrasinya sendiri. Sedangkan Vania masih duduk, mencoba mengendalikan diri dan jengkel atas sikap Fagan yang seenaknya. "Kau bisa mencari perempuan bagus lain." "Berapa kali aku katakan padamu? Aku tidak mau siapa pun di luar sana. Itu hakku untuk memilih. Kau tidak punya andil mengurus pasanganku." Mereka akan bersilang pendapat. "Keputusanku juga untuk menolakmu." "Tidak benar. Konteksnya di sini berbeda," ungkapnya. "Hanya dirimu yang bisa menolongku. Kita bisa bersama melewati semua ini." "Aku tidak ingin kau bersuara karena ayahmu." Fagan mengernyit cemas. "Aku tak punya alasan lain. Sama halnya denganmu, aku tidak pernah memiliki pemikiran seperti menikah dan ini harus. Aku memikirkan keluargaku, orangtua yang tersisa di rumah." "Bagaimana jika aku punya kekasih?" Sosok di depannya membeku. "Kau bercanda." "Kalau begitu semisal memiliki seseorang yang aku cintai?" Vania memiringkan kepala penuh penasaran. "Kau harus melupakannya." Vania memicing sinis. "Kau suka seenaknya." "Memang." Fagan dengan santai berujar. Sebelum Vania bangun dan nyaris ingin meluapkan kekesalan kepada pria itu, Fagan dengan dingin bersuara. Menimbulkan sensasi aneh yang menjalari punggung sampai belakang tengkuk Vania. "Aku tidak suka melihatmu bersama siapa pun. Pengaturan yang paling penting adalah tidak akan ada yang berselingkuh di antara kita. Kau istriku dan aku suamimu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD