"Kau menyukai kegiatanmu selama berada di sana?"
"Sebagian benar, sisanya lagi aku menolak pendapat tersebut. Bagaimana kabar bisnis? Kau membiarkanku bernapas tanpa perlu mencemaskan apa pun."
Sarah terkekeh dari seberang telepon. Saat ini sahabatnya berada di kamar apartemen, memakai pakaian kasual dan lelah, siap tertidur.
"Menurutmu? Tidak ada masalah serius. Semua bekerja seperti seharusnya. Aku bicara kenyataan dan hanya sekitar dua hari lalu, ada pengacau."
Mereka bukan kali pertama. Sebelum bisnis berjalan sesukses sekarang, Vania sering mendapat keluhan sama setiap harinya. Sarah yang akan mengurus karena dia bisa dan dapat diandalkan. Vania menaruh kepercayaan luar biasa besar pada rekan sekaligus partner. Sarah bisa menjadi siapa pun. Legasi terbaik yang tercipta di luar relasi.
"Aku ingin mendengar tentang kemajuan hubungan kalian. Fagan seratus persen normal, dia tidak mungkin menolak santapan segar dan cantik sepertimu."
Vania meringis, menyadari mulut Sarah berbisa layaknya ular hijau. "Berhenti memanggilku dengan sebutan aneh. Aku tidak semenarik itu."
"Teman, itu datang dari kacamatamu sendiri. Menurutku kau tiada duanya. Kau kuat, mandiri dan sangat bisa berdiri sendiri. Kau mampu mengatasi masalah tanpa menciptakan keributan baru. Yang paling penting adalah membatasi diri. Kau sempurna dalam segala hal."
Sarah berlebihan. Namun tanpa sahabatnya, Vania hanya akan terus menjadi sampah yang menyalahkan diri sendiri. Ini semua berkat kepingan masa lalu yang tersimpan, belum menemukan cara untuk sembuh.
"Bagaimana kau tahu dia pria seutuhnya?"
"Dia rasional. Fagan memang tidak seterkenal reputasi ayahnya semasa dulu. Tapi dia tidak memiliki kabar miring apa pun. Aku berani menjamin atas dasar ini. Singkirkan asumsi tersebut kalau kau melihatnya berimajinasi di luar jalur."
Sarah membuatnya tertawa geli sendiri. "Berhenti bercanda. Jaga bicaramu di sana."
Sementara di seberang telepon hanya terkekeh, menutup separuh wajahnya dengan sebelah tangan. Jemarinya baru saja terpoles cantik dengan cat kuku biru langit.
Vania penasaran dengan orang asing. Seingatnya, insiden itu sudah terjadi terlalu lama. Ada beberapa tingkatan pengacau yang membuat bisnis berantakan. "Siapa dia yang kau maksud?"
"Danis bilang seorang perempuan. Berambut panjang cokelat gelombang, matanya sebesar bulan purnama. Dia datang untuk mencari seseorang, namun tidak pernah menemukan orang itu di sana."
"Dia salah tempat." Vania mengerutkan alis bingung.
"Tepat sekali. Tetapi aku rasa dia punya firasat bagus jika sosok yang dia cari bersembunyi di sana. Aku meminta keamanan untuk berjaga lebih besar lagi. Sungguh, aku tidak ingin tempat itu berantakan karena drama pasangan yang putus dan berakhir kurang nyaman."
Vania mengulum senyum. Kemudian menyadari seringai Sarah berubah lebih mencolok. Ada bayangan sang kekasih baru saja tiba, terpantul dari meja rias di samping lemari.
"Aku harus pergi. Hubungi sembilan satu kalau kau butuh bantuan. Sampai nanti."
Tepat setelah Sarah memutuskan sambungan tanpa Vania membalas, pintu kamar terayun terbuka. Fagan muncul dengan tampang datar. "Apa kau sibuk?"
"Tidak," sahutnya setelah mencoba bangun.
"Kau belum tidur," suaranya serak dan dalam. "Aku mengetuk pintu ini tiga kali dan tak ada jawaban. Berprasangka kalau kau baru saja berbincang dengan seseorang. Dugaanku ternyata benar."
Vania terburu-buru turun, menyadari kehadiran Fagan bisa saja menyalakan sinyal lain dalam dirinya. "Ada apa?"
"Aku lapar. Buatkan sesuatu di dapur."
Kening itu berkerut halus. "Tak bisa menahan perutmu lebih lama?"
"Iya. Aku baru saja kembali dari kamar ayah dan dia tidur pulas. Memastikan berulang kali kalau dia belum pergi."
Sikap nelangsa Fagan yang cemas setiap waktu membuat Vania iba. Didesak karena perasaan naif tersebut, dia melangkah pelan. Diikuti pria itu tanpa suara.
"Apa yang ingin kau makan?" tanyanya setelah mereka sampai di dapur.
"Apa pun."
Vania berdeham menatap kulkas. "Omelet?"
"Tidak buruk." Fagan setuju dengan menu masakan.
Vania mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan dia mengotori pakaian tidurnya karena cipratan minyak. Ia tidak perlu celemek dan hanya perlu wajan.
Fagan bersikap manis dengan duduk. Setengah mengantuk sembari terus mengamati Vania memasak. Lapar di tengah malam dan ia terbiasa memesan makanan cepat saji atau membuat ramen. Alternatif terbaik dari solusi masalah. Namun sekarang ada Vania.
"Secara tidak langsung kau sudah membuatku bergantung."
Kegiatan mencampur bahan itu berhenti saat sudut matanya melirik. Fagan menguap dengan dengusan lemah, mengusap wajahnya. Lalu tidak bicara apa pun sebagai penjelasan.
"Apa kau pernah menunjukkan betapa rapuhnya dirimu kepada orang lain?"
Vania menggeleng tanpa berpaling. Ia tidak bisa membagi cerita untuk saat ini dengan orang asing. Walau Fagan berupaya menjelaskan dirinya sebagai suami di masa depan. Vania belum sepenuhnya berdamai dan percaya pada garis takdir.
Tak butuh waktu lama sampai semua matang sempurna. Vania menambahkan isian dan sayur dengan tambahan daun bawang. Sepiring nasi hangat dan dia mencuci peralatan. Nina harus memasak nasi di pagi nanti untuk Kenta sarapan.
"Ini cukup mudah membuatnya. Apa yang membuat rasa malas itu berkembang?" ungkap Vania dingin.
Fagan menunduk pandang dengan bibir berkedut murung. "Terlalu lelah untuk memanaskan kompor."
"Jarimu bisa saja terkena kram?"
"Sarkasme yang bagus. Sekarang duduk," tukas pria itu tak mau berdebat.
"Kau senang berbuat semaunya." Vania menurut bosan.
"Aku lebih suka begitu," balasnya santai seraya mencicipi hidangan dengan sumpit setelah mendarat di piring menjadi bagian besar. "Ini terasa enak."
"Aku mendengar jika kau anak yang mandiri."
Sorot kelam itu menatapnya datar. "Tidak seperti dirimu," pungkasnya memberi Vania cibiran kecil.
"Aku bukan pendiri bank nasional," kata Vania kesal.
Fagan tidak peduli. Ia malah sibuk makan. Menyantap menu makan malamnya hingga sisa terakhir. Sedangkan Vania menonton, merasa tersanjung karena Kenta dan putranya menikmati semua hasil kerja keras tangannya dengan tulus.
***
Di pagi hari, dia mendengar suara berisik muncul dari lantai bawah. Saat matanya membuka lekas terkejut karena jam menunjukkan pukul delapan pagi dan dia bangun terlambat.
Vania berlari dengan kecepatan ekstra pergi dari kamar. Mencari handuk bersih dan mandi dengan pancuran air hangat. Membersihkan tubuhnya setelah tidur seharian dan bergegas mencari pakaian.
Rambutnya masih setengah kering ketika dia berlalu turun menuju tangga. Tercengang karena menemukan tamu baru mampir ke rumah mewah ini dengan paras rupawan. Senyumnya memikat dan Vania mendadak merasa canggung.
"Tuhan, inikah yang bernama Vania?"
"Tentu saja, anakku. Silakan berkenalan secara formal. Tolong pahami aturan karena batasan itu perlu atau ada yang meradang nanti."
Ivan mendengus pelan. Memberi senyum ramah ketika dia menghampiri Vania, mengulurkan tangan sopan. "Aku Ivan dan salam kenal. Jujur saja merasa penasaran dan terlalu ingin tahu akan sosokmu. Putra kembarku terus bicara tentang dirimu."
"Serius?" Vania terkejut karena mereka menggemaskan.
Kepala Ivan terangguk geli. "Ken dan Ren sepertinya menyukai bibi baru mereka. Dia terlalu antusias dan selalu bertanya pada ibunya. Aku bisa mengatur pertemuan kita di lain hari. Kau berkenan melakukannya?"
"Sejujurnya, aku tidak bisa memastikan tetapi pasti mengabari."
Ivan menaikkan satu alis. Tampak terkejut karena Vania tidak langsung mengiyakan ajakan secepat respons perempuan lain. Sedangkan Fagan menghela napas, tidak terkejut sama sekali dengan kalimat wanita itu. Mungkin dia yang kebingungan seandainya Vania tidak menolak tanpa berpikir.
"Aku tidak tahu apa yang membawamu kemari. Perjalanan sangat jauh dan melelahkan?"
"Aku tidak bisa bernapas benar sebelum melihat kondisi ayah. Fagan tidak membantu sama sekali," ujar Ivan sedih. Tidak bagus membiarkan kekhawatiran tanpa ujung. "Aku terbang sejak kemarin. Sempat mengalami kendala kecil tapi semua membaik."
Vania membalas dengan senyum samar. "Senang mendengarnya. Ayahmu sudah baik-baik saja."
"Fagan itu melebihkan yang ada. Aku beritahu dirimu," kata Kenta sinis tidak perlu menatap sang anak bungsu. "Dia hanya sengaja membuatmu tidak bisa tidur nyenyak di rumah dan segera pergi untuk mengunjungiku."
Cemoohan keras datang dari Fagan yang tidak terima disudutkan. Saat Ivan menghela napas, merindukan di saat mereka berselisih pendapat karena sikap kaku sang adik atau ayahnya yang memang gemar memancing perkara.
"Aku siapkan sesuatu untuk kalian berbincang santai. Tunggu sebentar."
Senyum Ivan melebar kagum. "Tidak perlu, Vania. Nina memberi yang terbaik setelah dibantu asisten rumah tangga cekatan yang sering menyapu debu di perabotan antik. Lanjutkan saja kegiatanmu di kamar. Kami hanya duduk berbincang ringan."
Vania merasa rentan karena Ivan sangat ramah dan santun. Pria itu berbeda jauh dari Fagan. Ivan seperti terbiasa mengendalikan diri. Berdamai dengan emosi karena dia seorang ayah sekaligus kepala keluarga. Itu menjadi dasar utama. Tidak etis rasanya membandingkan Fagan dengan sang kakak.
"Baiklah kalau begitu, aku permisi." Vania membungkuk singkat sebelum berlalu.
Tepat setelah pintu kamar tertutup, Ivan berbalik untuk menghadap adik dan ayahnya. "Aku menyukainya."
"Aku juga," timpal Kenta semangat. "Ada yang salah dengan adikmu karena tidak tertarik pada perempuan berbakat seperti Vania."
Ivan menggeleng miris. "Dasar pria tak waras."
"Siapa bilang?"
Kenta mencemooh kalah. "Eksistensimu masih membuatnya terguncang. Kau mungkin harus mencoba cara kuno atau pendekatan tradisional yang melibatkan perasaan agar Vania mau bersamamu."
Fagan menghela napas, menyerah dengan keduanya di depan sana.
"Kau sebenarnya memiliki calon lain yang tidak kami tahu?"
"Tidak," Fagan berujar sinis. "Tak ada siapa pun."
Vania tidak sepenuhnya bisa bersantai. Ia memandang ponsel dan mencari secara asal untuk menghapus waktu. Kemudian terpaku pada sebuah nomor asing. Terus menghubungi selagi dia ada di kota. Itu punya Fagan dan Vania tidak perlu berpura acuh untuk mengabaikan kehadiran pria itu. Sebatas nomor ponsel bukan hal sulit selayaknya mencari jarum di tumpukan jerami.
Pemandangan taman yang indah membuatnya terpukau. Separuh jalan pikirannya mengepak bebas saat mengikuti arah gerak angin melambai pada dedaunan kering.
Pintu kamarnya mendadak terbuka. Vania menduga itu Nina yang akan bertanya soal beberapa kepentingan. Tetapi yang mengejutkan itu Fagan, tampil dengan kaus hitam polos dan celana jins. Penampilan kasual yang membuatnya terlihat seperti pria biasa, bukan eksekutif berkelas.
"Kau sedang apa?" tanya pria itu lirih.
"Pemandangan dari kamar ini indah," aku Vania jujur yang sebenarnya tidak ingin menciptakan spekulasi bahwa tengah memikirkan pernikahan dan itu membuat pikirannya berantakan. "Tempat ini menarik dari segala sisi."
Fagan menutup dengan gerakan lamban. Vania tidak menangkap gelagat pria itu sampai Fagan berdiri tepat di belakang, menyebarkan wangi parfum mahal yang memicu detakan asing pada dirinya.
Seolah dengan Fagan yang mengulurkan tangan, dia bisa bebas menyentuh Vania di mana saja.
"Bagaimana dengan kakakmu?" Vania berbisik lamat.
"Dia masuk ruangan untuk menghubungi istrinya. Perjalanan jarak jauh membuat kepalanya sedikit pening. Itu karena dia masih mencemaskan ayah dan melihatnya baik, Ivan baru bisa menghela napas lega. Dia yang melihat ayah sebelum tidur."
Vania tersenyum. Ikut bahagia karena Kenta bersama keluarga yang mencintainya tanpa batas.
"Lantas, bagaimana denganmu?"
Pandangan Fagan jatuh pada bahu wanita itu. Karena pakaian santainya, dia tidak menyadari jika setiap sesi dari kecantikannya mengundang penasaran. Serupa seperti Fagan saat ini, kesulitan mengatur napasnya sendiri.
"Aku? Tidak ada masalah." Vania mendengus kecil.
"Sepertinya tidak begitu," balas Fagan masam setelah mengulurkan tangan untuk menelusuri sapuan jemari tangan ke sepanjang rambut lurus Vania. "Apa kau ingin bertanya sesuatu?"
"Tentu," tarikan napasnya berubah lebih cepat. "Bagaimana Ivan dan istrinya bertemu?"
"Pertemuan mereka tidak berjalan sama seperti kita. Tapi ada beberapa kejadian yang membuat Alena canggung nyaris enam bulan ketika bersama ayahku. Dia berbeda dan tidak seperti dirimu. Kakak ipar sosok yang menyenangkan sekaligus menjengkelkan."
Vania berbalik, menatap mata kelam pria itu lekat. "Benarkah? Apa pekerjaan sebelumnya?"
"Alena selalu gagal membangun bisnis pribadi. Terakhir kali dia disakiti sahabatnya sendiri. Ivan marah kepada mereka yang memanipulasi usaha istrinya dan berniat membalas. Alena pekerja keras dan saat bertemu kakakku, kondisinya tidak terlalu bagus."
Vania menautkan alis. "Bisnis apa?"
"Butik khusus yang merancang gaun pengantin. Alena juga memiliki satu organisasi yang mengurus keperluan souvenir unik. Keuntungannya berjalan lumayan dan semua dimulai dari sana."
Sebenarnya Vania tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dia berdiri di posisi Alena saat itu. Andai saja Sarah bersikap sebaliknya, dia akan sangat sedih. Dalam hati berharap petaka itu tidak pernah mampir di kehidupannya. Vania percaya pada sahabat baiknya.
Fagan menunduk untuk sekadar mengamati ekspresi yang berubah cepat itu dalam tatapan singkat. Vania seolah sedang berdebat dengan isi pikirannya sendiri, merasa gelisah.
"Kau tidak apa?" tanyanya perhatian.
"Aku hanya tak bisa membayangkan semisal aku ada di posisi sama seperti Alena."
Fagan mengangkat dua alisnya naik. "Kau tidak akan mengalaminya karena sahabatmu bisa dipercaya. Alena hanya kurang beruntung. Sebagai gantinya kini dia mendapat cinta dari rumah. Yang tidak akan pernah mengkhianati."
Kegugupan melanda bagai hujan badai di malam hari. Vania tanpa sadar mengangkat tangan hampir menggigit kuku, sampai menemukan sorot gelap Fagan memandangnya.
"Aku lupa."
Satu desahan ringan berembus. "Kau bisa menciumku sebagai gantinya."
Vania memberi senyum getir. "Kau sedang bercanda."
"Aku bicara serius."
Karena Fagan membuktikan ucapannya. Vania limbung karena pria itu. Tidak ada sentuhan yang mengarah pada sesuatu yang meragukan. Afeksi yang Fagan berikan sepenuhnya murni karena kepemilikan. Hubungan mereka dimulai dari satu malam tak terlupakan, berlanjut pada kejadian lain di tempat pribadi.
Vania sebatas amatir yang dengan mudahnya ikut terbawa arus. Berbeda halnya dengan Fagan yang berperan sebagai profesional sejati. Vania merasa dirinya pasif, tidak melihat kemungkinan berhasil hubungan mereka di masa depan.
Namun menetap selama beberapa minggu di pulau ini membuka mata Vania tentang sosok Fagan yang tidak diketahui dunia luar. Fagan yang buruk ternyata selalu memprioritaskan urusan keluarga di atas segalanya.
"Kita perlu tempat tidur," gumamnya pendek memuja di sepanjang kulit bahu dan tengkuk Vania yang lembut. "Aku tidak akan membuatmu berdiri kelelahan di sini."
Sebelum mereka berdua sampai, pintu terlanjur terbuka lebih lebar. Ivan membeku di ambang pintu dengan garis pipi mulai memerah.
"Ya Tuhan, aku lupa kalau ini adalah kamar tamu. Maafkan aku karena berlaku ceroboh."
Secepat itu pula kehadiran orang lain membuat berantakan segalanya tanpa menyisakan apa pun.