TA - 21

1332 Words
Ya Tuhan, tolong beri keselamatan teruntuk Kenta. Debaran Fagan berpacu kencang mendengar kalimat Nina seakan menghancurkan realitas. Ia nyaris mendapat serangan panik, kemudian berlari cepat ke lantai atas dan menemukan Kenta tergeletak di atas ranjang. Wajah ayahnya pucat pasi dan dia tidak bisa memikirkan apa pun selain kehilangan dan berapa lama lagi waktu yang tersisa. Vania tiba dengan raut gelisah. Sama halnya dengan Fagan yang bingung dan gemetar, dia mencoba mendekati pria paruh baya itu perlahan. Menunduk untuk menggenggam tangannya seraya berbisik lirih. "Dia tidak apa. Hanya mengalami syok yang tidak terlalu parah." Fagan berpaling, mendengus dari ponsel yang menempel di telinga. Sorot matanya terlampau dingin. "Kau bukan ahlinya. Aku tidak perlu asumsi apa pun untuk tetap tenang." "Aku tidak bicara kebohongan," kata Vania cepat mengelak bahwa dia memanipulasi kesehatan sang konglomerat senior. "Tidak ada benturan atau satu luka pun. Ayahmu tidak sadarkan diri karena terkejut. Biarkan dia tenang, tunggu sepuluh menit lagi dia akan bangun." Bibir itu terkatup semakin dalam. Alternatif yang bisa Fagan cari adalah menghubungi dokter mahal lainnya karena petugas medis cadangan tidak menjawab telepon. "Apa yang harus aku lakukan?" Vania menoleh, menemukan Nina yang ikut cemas dari belakang tubuhnya. Saat dia menghela napas, meminta agar Nina duduk. Syok tidak hanya terjadi pada Kenta tetapi pada perempuan satu itu juga. Nina yang melihatnya untuk pertama kali di dalam sana. "Tidak ada masalah. Duduklah dulu, kau perlu minum. Tunggu di sini biar kuambilkan." Nina mengangguk tipis. Rautnya masih menggambarkan kekalutan luar biasa. Ketika napasnya berubah pendek, menunduk sedih pada Kenta yang terbaring. "Aku tidak bisa diam saja. Helikopter secepatnya terbang menuju rumah sakit terdekat." "Untuk apa kendaraan itu? Biarkan helipad tidak berguna selamanya." Vania menukas setelah menaruh gelas air. "Oh, ya Tuhan." Nina bangun dari kursi. Melegakan karena mendengar Kenta perlahan sadar dengan senyum samar. Seolah kejadian yang baru saja terjadi beberapa menit lalu sebuah lelucon. Sementara Fagan membeku, batinnya sedang mencoba mengalahkan akal sehat. "Ayah?" panggilnya tercekat. "Fagan, aku baik-baik saja. Jangan memasang wajah begitu. Seperti yang sebelumnya aku bilang jika ayah tidak akan pergi sampai menggendong anak darimu." Kedua tangan Fagan bergerak mengusap wajah. Kilatan kecemasan itu berganti dengan kelegaan luar biasa. Vania masuk ke dalam kamar menemukan suasana berubah lebih kondusif dan tenang, dia bisa tersenyum lebar. "Kau sudah sadar?" "Vania, aku tahu kalian mencemaskanku. Tapi serius tidak ada masalah besar. Aku hanya merasa kaget. Telingaku berdenging hebat dan kepalaku sakit. Tergelincir ringan rasanya mendebarkan." Nina menawarkan diri untuk membantu selagi Kenta duduk, menerima minuman panas dan sebuah tablet mungil yang membuatnya lebih tenang. Dokter dalam perjalanan untuk memeriksa, Fagan tidak menerima uluran waktu untuk segera bersikap lanjut mengenai urusan kesehatan sang ayah. Vania menuangkan segelas air putih baru. Saat Kenta yang lebih tenang bernapas lancar, Fagan baru merasa bebas. Lalu menoleh menemukan wanita itu merapat, menyodorkan gelas minum padanya. "Kau tampak yang lebih siap pergi dibanding ayahmu sekarang. Ini, kau membutuhkannya agar tetap rileks." Tarikan napas Fagan berubah desisan kecil. Ketika dia tidak menolak, membiarkan segarnya minuman membasahi bagian dalam yang kering. "Kau tahu, aku sangat kacau. Jalan pikiranku buntu tentang kemungkinan ayah tidak akan selamat." "Semua pasti mengalaminya. Tapi yang diperlukan saat ini hanya kau harus tenang," ujar Vania lirih sambil menepuk lengan pria itu dan mengambil sisa yang kosong. Menaruhnya di nampan bersama benda kotor lain. Fagan menatapnya datar. Ke mana pun Vania bergerak, setiap langkah Vania berjalan. Dokter baru saja tiba dan dia selesai mendengarkan semua nasihat sampai Nina menemani Kenta dan memastikan semua tetap aman. "Kau sudah merasa lebih baik?" "Sudah," dia tidak berpura-pura gelisah lagi sekarang walau masih menyisakan ketakutan yang menyesakkan. "Aku butuh bantuanmu." Alis Vania tertaut. "Apa?" "Maukah kau memegang tanganku?" Vania tidak perlu lagi berpikir panjang karena dia tahu alasannya. *** "Aku sengaja tidak mengangkat panggilan Ivan. Fagan mungkin begitu berlebihan hingga membesarkan cerita yang tidak ada." Kenta melancarkan protes sesaat setelah mereka selesai sarapan. Kali ini Vania menunggunya di dalam kamar. Sedangkan Nina mengurus keperluan lain di dapur. Gadis itu berubah menjadi lebih gesit dan siaga. Vania cemas kalau Nina dengan sengaja menukar jam tidurnya demi menjaga Kenta. "Kedua putramu hanya khawatir. Fagan hampir pingsan melihat ayahnya begitu terbaring di ranjang," ujar Vania geli. Setelah keadaan membaik Kenta sedikit bisa bercanda. "Tapi semua sudah berjalan normal." "Oh, tentu saja kau benar. Fagan terbiasa menunjukkan sifatnya di depan kami sebagai keluarga utama. Apa dia mengomel?" Vania menggeleng. "Tidak." "Aku harap dia segera menemukan pasangan yang sepadan. Suasana hatinya kerap naik turun tidak stabil." "Aku tahu itu," kata Vania ramah. Pintu terdorong masuk dan Fagan baru saja terlihat. Wajahnya yang datar menjadi pembuka saat dia menyugar rambut, masuk ke dalam ruangan dengan sinar perhatian. "Apa ayah merasa kurang sehat?" "Tidak." Kenta menjawab singkat. "Kau selalu terbiasa menahan sakit," balas Fagan lirih mengetuk tepian nakas dengan celaan pendek. "Dokter meminta agar lebih terbuka perihal kondisimu. Ivan bisa saja terbang saat ini dan mengabaikan perusahaan hanya demi melihat kondisi ayahnya." "Apa aku terlihat menyedihkan?" Sekilas, sorot itu meredup. "Tidak, itu karena kami peduli. Kalau kau senggang, angkat telepon dari kakak. Ivan tidak suka bermain tebak menyebalkan ini." "Aku akan menghubuginya," Kenta sudah menyerah. Vania bangkit dari kursi. Menatap Nina yang baru saja memasuki kamar dengan kotak vitamin, ini saatnya Kenta kembali beristirahat. "Rumah masih terasa menyenangkan. Setidaknya kau tidak berteman dengan pengharum lantai rumah sakit yang khas." Kenta mendengus pelan. Sedangkan Vania mundur, membiarkan dirinya turun ke lantai dasar untuk melihat bahan masakan di kulkas. Tak ada yang spesifik karena semua kelengkapan ada dan seketika dia dilema. Vania berniat membuat sup kepiting dengan campuran telur dan jagung. Dia menyukai masakan itu ketika hujan turun atau membuat pancake dari daun bawang dengan isian bayi gurita dan udang. Ada daging kepiting yang telah diolah. Dilepas dari cangkang dan masih segar. Ia menyiapkan semua alat dan bumbu dapur lalu menyadari seseorang menatapnya serius. "Apa kau lapar?" tanya Vania tanpa perlu menoleh. "Aku melewatkan makan pagi," gumam Fagan pelan menopang dagu dengan pandangan datar. "Apa yang hendak kau masak?" "Ini rahasia," Vania memasukkan semua bahan hingga campuran air dan bumbu mendidih. "Sebagai seorang koki handal aku tidak akan memberitahunya." "Aku hanya duduk diam menunggu." Fagan bersikap sebagai anak baik. Namun yang membuat Vania gelisah adalah pria itu tidak pernah melepas pandang darinya. Seolah dirinya objek menarik yang patut dilihat dan tak boleh terlewat sedikit pun. Kepercayaan diri membuat perutnya sakit. "Kau senang berada di dapur. Ini alasan mengapa kau sangat suka makan." Dugaan itu benar dan saat ini bukan lagi berbentuk asumsi gurau. Vania mengangguk tanpa melepas sayuran di atas talenan. "Hobimu tak pernah kenyang, tetapi tetap tidak gemuk. Perempuan biasanya menghindari kalori atau karbohidrat yang mampu menambah bobot mereka satu kilo selama sehari." "Itu candaan," kilahnya tak terima lalu mendengus karena tidak hanya satu tapi banyak orang yang melakukannya. "Kalau diet demi kepentingan kesehatan aku setuju. Tapi mempercantik diri bukan dengan menciptakan penyakit itu sendiri." Vania bergeming merasakan sesuatu yang lain mengejutkannya dari belakang. Napasnya berembus kecil, memegang tepi meja dapur dengan ringisan. "Kau mau apa?" "Aku sama sekali tidak bercanda saat berniat membawamu ke pernikahan. Tidak ada potensial lain yang bisa kutemukan selain pada dirimu." Vania melirik dengan bias lirih. "Kita bisa berkencan atau melakukan hal lain dari pada pernikahan." "Tidak ada ide semacam itu karena aku butuh hubungan resmi." "Dengar, aku punya alasan yang bagus." Vania masih berusaha menyadarkan pria itu. "Mengapa kau senang sekali menolakku?" Fagan menunduk dengan menyandarkan dagunya di bahu mungil wanita itu dan mendengar denyut nadi Vania tengah gelisah. "Aku senang saat menghabiskan waktu bersamamu. Apa itu belum cukup?" Belum dan rasanya tidak akan pernah cukup. "Aku tak seburuk bayanganmu," ucapnya penuh penekanan ketika menyusuri di sepanjang rambut dan berhenti di bahu, menetap untuk menyerap habis aroma manis yang menguar bebas. "Kau terus berpendapat kalau aku pria yang mudah." "Kau belum mengenalku sebaik itu," sahut Vania pahit. Fagan menarik napas panjang. "Itu pasti terjadi sebentar lagi." Pikirannya mendadak kosong. Vania sama sekali tidak bisa berkonsetrasi memikirkan antara masakan dan Fagan yang terus memeluknya tanpa mau melepaskan. "Tuan Ivan menghubungi dari telepon utama." Tuhan rupanya masih bersikap baik padanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD