TA - 20

1120 Words
"Apa ini terlalu mendesak?" Ia mendapati suaranya sendiri berubah gusar. Kemudian tidak bisa menahan diri untuk sekadar mencela, menggerutu dan kembali mendengus keras. Sepanjang siangnya yang berubah suntuk penuh melelahkan, kabar ini sama sekali tidak menyenangkan. Fagan gelisah di dalam ruang kerjanya dengan tampang muram. Ayahnya sedang duduk bersama Vania yang bercerita. Perempuan itu bagus menjadi pendongeng sejati karena tampaknya Kenta sama sekali tidak keberatan dengan semua pembahasan. Kali ini Vania tidak kembali bekerja. Setelah malam mereka diwarnai perselisihan dan Fagan yang meminta kapal itu agar tidak bersandar di ujung dermaga dan akan datang apabila dia menghubungi, perdebatan di antara mereka usai. Dia terbiasa memberi perintah dan selalu dituruti. Kemudian Vania datang, Fagan merasakan petaka baru. Menyadari benar bahwa dalam satu hubungan tidak boleh ada dua pemimpin. Satu-satunya tempat yang bisa Fagan pikirkan selepas mereka silang pendapat adalah kamar. Namun Vania tidak menangkap atau lebih tepatnya sengaja tidak mengambil isyarat tersebut. Dia menjauhkan diri setelah mencemooh dalam bisikan dan mengunci pintu. Yang berujung pada sarapan dengan suasana canggung. Ayahnya tahu tapi berpura-pura tidak peduli. Fagan tidak terbiasa memulai topik apa pun. Tetapi dia harus melakukannya. Tujuannya hanya Vania seorang. Potensial di masa depan yang tidak bisa dia abaikan atau memikirkan perempuan lain pantas mengambil posisi itu untuk menjadi istrinya. Vania nampak lepas dan berbeda ketika bersama Kenta. Ini serupa dengan wanita lain pengincar harta pria tua konglomerat demi menarik perhatian mereka atas cinta semu dan khayalan selamanya. Sayangnya Vania tidak begitu. Dia murni menghibur Kenta dan menceritakan dunia dari sudut pandangnya sendiri. Bukan bermaksud ingin diperistri atau memenangkan uang banyak di pengadilan seperti mendapat keuntungan berkali lipat. Percakapan mereka harus berakhir saat Nina datang, memberi nasihat dengan nada penuh hati-hati. Fagan berkata pada gadis itu untuk tidak merubah suasana hati ayahnya yang tak menentu seperti seorang balita. Karena Kenta yang jarang bercanda malah membuat Fagan semakin tertekan menghadapinya. Memikirkan nasib ayahnya yang tidak lama lagi. Vania sendiri duduk dalam sepi di samping kolam renang yang tenang. Berteman dengan segelas jus jeruk dan es batu yang mencair, wanita itu melamun memandang permukaan air yang lembut. Fagan menarik napas panjang. Memegang ponselnya dan menyalakan mode pesawat untuk mengacuhkan semua kekacauan yang terjadi selama beberapa waktu ke depan. Dia berada di pulau pribadi untuk bersantai sembari mengawasi perkembangan sang ayah. "Ya Tuhan, kau membuatku terus terkejut." Vania tergesa menurunkan tepi pakaiannya ketika Fagan datang, menggantikan posisi Kenta yang kosong selama beberapa menit. Menelisik dari raut pria itu yang masam, Fagan tidak bisa menahan diri. "Ada masalah?" "Menurutmu?" tanya Fagan agak dingin. "Mengapa harus aku?" Sebelum Fagan menjawab, dia tahu Vania nyaris membuka dirinya dengan sembarangan dan mungkin sebentar lagi berenang di kolam air dingin. "Kau mau apa?" "Apa?" berpura-pura tidak paham, pikir Fagan geli. "Kau hampir membuka seluruhnya. Kau ingin berenang sekarang?" "Tidak," ekspresinya berubah datar. "Hanya mendadak merasa sangat panas." Sebuah cibiran meluncur sebagai reaksi. Vania memilih untuk berpaling, mencoba mengusir asing pada dirinya yang diakibatkan eksistensi Fagan untuk pergi. Ia tidak bisa terus merasakan hal ini dengan perasaan tak menentu hanya karena pria itu ada di sekitarnya. "Aku tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Ayah harus kembali pulang secepat mungkin. Rumah sakit memiliki alternatif bagus untuk merawatnya." Vania mencerna dengan raut cemas. Mengamati pria itu lekat dan membuang napas lemah. "Apa kondisinya sangat mencemaskan?" "Bukan dia, tapi aku." Fagan menunduk dalam. "Apa yang terjadi padamu?" "Kasus pemalsuan baru mengatasnamakan bagian komisaris. Aku tidak bisa tinggal diam karena posisinya cukup rentan. Sekaligus memeriksa, aku ingin semua transparan. Tangan kananku kesulitan melacak karena kedudukan tinggi itu diisi mereka yang berkualitas." Kening Vania berkerut dalam. "Ini berpengaruh pada reputasi perusahaan serta namamu. Lagi pula, bagian penting tersebut bukan perkara remeh seperti divisi lain. Itu bagian utama yang menjadi pilar perusahaan." Fagan terkagum dengan kecerdasan Vania dalam diam. "Kau benar. Ini harus segera ditangani. Sebelum media memuat berita dan spekulasi buruk tersebar, aku hanya tidak mau namaku tercatut dalam lingkaran ini. Majalah akan melebihkan isi tulisan mereka demi menarik perhatian." Reaksi peduli Vania berasal dari tangannya yang saling terjalin satu sama lain. "Aku ikut bersedih. Ini adalah salah satu masalah yang tidak bisa kita hindari sebagai pemilik utama." Fagan menatap serius. "Kau pernah mengalaminya?" "Aku sempat merasakannya tetapi tidak seburuk dirimu. Aku dan Sarah membentuk tim kuat. Kami saling percaya dan aku tidak menaruh kepentingan itu sembarangan kecuali padanya, hanya sahabatku." "Karena dia orang terdekat?" sela Fagan lirih. "Kami saling mengenal satu sama lain dengan sangat baik." Raut wajah Fagan berubah. Mungkin ada efek kecemburuan yang tak kasat mata karena dia terbiasa membangun relasi bisnis daripada pertemanan. Selama ini rekan terbaik dalam menghadapi semua pesaing dan membangun perusahaan hanya Ivan, saudara sekandung. "Aku tidak menyalahkanmu karena tak memiliki tempat untuk sekadar membagi perasaan satu sama lain," ujar Vania hangat. "Kenapa?" Fagan membeku mendengar kalimat itu darinya. "Kau memiliki seorang kakak yang selalu membelamu apa pun itu. Meski dia telah berkeluarga, prioritas akan tetap ada. Dalam kasus ini kita berdua sudah berbeda. Aku tidak punya saudara. Sama halnya dengan Sarah." Fagan bereaksi atas kalimat penghiburan itu. "Kau ada benarnya," satu napasnya berbentuk lirihan pendek. "Aku beruntung." "Namun tetap sikap mandiri itu diperlukan. Aku hanya tidak mau membebani Sarah selamanya. Serupa denganmu yang tidak ingin membuat ayah dan Ivan kesulitan." Vania seolah mengisi relung kosong di setiap sudut dirinya dengan cara penuh kasih. Dulu ada sang ibu yang menyayanginya tanpa batas selama Fagan kecil dan pernah dilanda sakit parah selama rentang tiga tahun. Kemudian Tuhan memberikan cobaan baru, ibunya menderita penyakit lebih berbahaya dan Fagan tidak pernah berhenti menyalahkan dirinya sendiri sampai harus melarikan diri hanya untuk menangisi betapa rentan dirinya. Meninggalkan sang ibu yang berjuang dan membutuhkan putranya lalu kembali dengan berita duka. Kehilangan itu yang mengajarinya banyak hal. Fagan tahu dia tidak berdiri sendirian karena setelah berpulangnya sang ibu, semua perhatian tercurah untuknya dan mendapati dirinya tidak nyaman karena sikap itu. "Kau tidak apa?" Vania berbisik pelan, mengubah atensi pria itu ke arahnya. Fagan menarik napas panjang. "Tidak dan hanya sedang teringat ibuku. Saat aku kesulitan, dia pasti memegang tanganku." "Seperti ini?" Lamunannya mengabur. Jalan pikirannya seakan membeku ketika Vania mengulurkan tangan, menggenggam dengan sentuhan penuh kasih. Yang membuat napas Fagan berantakan dan terhibur dengan perhatian kecil wanita itu. "Jika kau Isabelle, aku sudah melepas tangan ini dan berharap tidak pernah ada kesempatan kedua," gumamnya serak sesaat setelah mengalami perasaan aneh dan perlahan membalas dengan senyum samar. Vania merespons dengan kekehan. Perasaan Fagan yang terluka baru saja dilingkupi kehangatan luar biasa. Ingatan soal ibunya tidak pernah berujung baik. Ia akan terus menyesali kepergian sang ibu seumur hidup. Kemudian pada satu kejadian yang baru saja terjadi kembali membuatnya terkejut. Nina mendadak muncul memberi kabar bahwa Kenta terpeleset di kamar mandi dan tidak sadarkan diri. Hanya mendengar sebaris kalimat panik tersebut berhasil membuat seluruh wajah Fagan memutih sempurna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD