Vania sama sekali tidak bisa menaruh fokus atau berkonsentrasi pada percakapan di antara mereka berdua. Sementara dirinya tercenung, berpura-pura paham dengan raut polos.
Sang istri menatap sup salmonnya dengan senyum ramah. "Berapa usiamu?"
"Tiga puluh," Vania meringis menyebut umurnya sendiri. "Aku merasa terlalu tua untuk pekerjaan itu sebenarnya."
Bibir berlapiskan lipstik merah itu cemberut. "Tidak sama sekali, Sayang. Kau terlihat sangat berpengalaman dan aku terkejut karena kau berkencan dengan Fagan. Kau tahu, dia bukan orang sembarangan."
Mereka berbincang seolah terdampar di dunia lain. Barangkali Fagan membicarakan perihal bisnis di masa mendatang, Vania tidak tahu harus apa sekarang. Pekerjaannya hanya cukup mendasari kebutuhan sekarang dan besok, bukan menyanggupi masa depan.
"Yah, aku juga terkejut." Tentu saja pria menyebalkan itu mengklaim diri seenaknya. "Tapi aku mencintai pekerjaan itu. Aku hanya tidak menyangka jika bertemu Anda saat sedang bekerja."
Senyum sang istri mengukir hangat. Pendar matanya penuh kasih dan ramah.
"Tidak apa, jangan merasa sungkan. Aku sama sekali hanya tidak menduga. Tamu yang datang di restoran itu terus berganti setiap menitnya. Ini tentang putraku yang tidak bisa mengalihkan matanya darimu. Sayang sekali dia tidak ada di sini."
Vania hanya memberi senyum seadanya. Sementara Fagan selesai bercakap-cakap, sama sekali tidak ada pembicaraan resmi atau sekadar basa-basi yang seharusnya tercipta untuk tidak memadamkan suasana. Namun Fagan lebih menyukai ketenangan dan kolega senior itu rupanya sama.
"Aku mengenal Kenta cukup lama. Saat itu dia sudah menikah. Sewaktu berita dia kembali melangsungkan pernikahan muncul, aku sangat terkejut."
Fagan masih diam. Tidak terpengaruh atas apa pun. Mungkin pria paruh baya itu tak bermaksud menyinggung karena pernikahan Kenta dengan perempuan muda justru menimbulkan kegaduhan. Terutama karena yang sebelumnya tidak memiliki masalah serius. Kecuali ibu Fagan yang pergi karena sakit parah.
"Kehidupan rumah tangga ayahku bermasalah. Aku tidak menyukai mereka sama sekali," gumam Fagan datar. "Sama halnya dengan membahas tentang itu."
"Ya Tuhan, aku tidak bermaksud begitu. Sekarang Kenta sudah lebih baik. Bagaimana kabarnya?"
"Hanya perlu melewati beberapa pengobatan rutin." Fagan berucap pelan.
"Usia yang renta akan selalu menjadi masalah serius," timpal istrinya dan Vania setuju.
"Begitu juga dengan aku yang tidak lagi melihat kakakmu. Aku tahu dia semakin sukses di negara lain," timpal pria itu ramah.
Ekspresi dingin Fagan luruh ketika pembahasan berubah menuju sang kakak. Dengan cerita singkat dia memberikan gambaran hidup baik seorang Ivan. Sama dengan pekerjaan yang semakin maju.
"Kapan kau segera menyusul?"
Vania hampir tersedak air minumnya saat lirikan Fagan bertemu dengan matanya. Vania memasang senyum, tidak mau menjawab. Ia akan membiarkan Fagan menjelaskan semuanya.
"Aku merencanakan pernikahan setelah semua ini berakhir. Secepatnya kalau bisa diadakan."
Itu jawaban yang aman. Tetapi Vania tidak menyukainya. Karena jika liburan singkat ini selesai, dia menjadi kekasih seseorang dan itu Fagan.
Pasangan suami istri itu ikut senang. Mereka sangat baik. Walau tahu Vania seorang staf biasa dan bekerja di kota ini sembari menambah penghasilan, tidak ada tatapan mencela sama sekali.
"Aku harus mencari kamar kecil."
"Silakan, nak. Buat dirimu sendiri nyaman."
Fagan mengangkat alis, melempar pandangan selidik sebelum sosok ramping Vania melesat masuk dan menghilang dari balik lorong besar.
Petugas kebersihan dengan baik mengantarnya sampai ke pintu kamar mandi wanita. Vania hanya perlu bernapas sebentar, mengamati riasan di wajah dan beranjak pergi.
"Vania?"
"Oh, astaga." Vania hampir tergelincir, bingung menemukan Adis di tempat ini dengan pakaian kasual yang memesona. "Ya ampun, kau di sini?"
Pria itu memberi senyum manis. "Kenapa? Aku menginap di sini. Secara kebetulan karena aku baru saja ingin mampir restoran. Kau datang dengan siapa?"
"Bersamaku."
Sebuah suara muncul dari balik lorong dengan tatapan menuduh. Fagan bersandar pada tembok, melangkah maju dan tanpa belas iba membawa tangan Vania untuk segera pergi.
"Sampai jumpa lagi!" Vania melempar kedipan kecil dan menyusul langkah Fagan.
Adis bereaksi dengan ringisan lalu melambai kecil dan menjauh.
***
"Aku tidak menyangka pekerjaanmu ternyata sangat mulia."
Sindiran itu berulang kali terucap ketika mobil menjauhi pelataran restoran dan berbelok ke suatu tempat yang tidak Vania tahu. Fagan mungkin mengetahui benar setiap celah kota ini. Negara kecil di dunia mungkin bukan pertama kali dia kunjungi.
Vania mengambil napas panjang. Memandang lurus pada deretan bangunan tua yang tampak indah dari sebelah ladang kosong. "Aku hanya bekerja."
"Demi Tuhan, benar-benar aneh. Apa kau merasa kurang? Itu tidak menjadi keharusanmu untuk memberi uang. Aku tersinggung berkatmu."
Sesekali dia mencoba melirik, menemukan raut itu nampak kusut dan masam. Vania kehilangan suara. Ia merasa bersalah walau tidak melakukan pekerjaan memalukan. "Aku hanya bekerja, bukan sedang mengemis."
Fagan menautkan alis, menyandarkan sikunya pada kemudi dengan dengus sinis. "Apa aku bilang begitu? Jadi izin yang selama ini kau katakan sebenarnya bekerja?"
Vania mengangguk pelan. "Iya."
Cibiran lain mampir. "Setelah bekerja kau berbincang dengan pria yang kau temui di depan pintu kamar mandi perempuan? Apa kau tidak menaruh curiga padanya?"
Bola matanya berotasi malas. "Untuk apa merasa begitu? Restoran di sana menyatu dengan hotel tempat para turis menginap. Dia sedang berlibur di tempat ini. Bukankah wajar?"
"Dasar perempuan. Selalu berpikiran positif," kata Fagan sinis. "Aku tidak berpikir seperti dirimu. Kau seharusnya berhati-hati dengan pria asing."
Ingin rasanya Vania tertawa sekarang. Fagan tidak lucu sama sekali. Semua kalimatnya yang meluncur adalah lelucon. "Kau yang kekanakkan. Apa yang membedakan antara kau dan dia? Kau juga orang asing."
"Benarkah? Aku tidak merasa demikian. Tingkatan kedekatan kita naik lima kali setelah aku berhasil menghabiskan malam bersamamu."
"Jangan bicara sembarangan di tempat umum," desisnya jengkel. Barangkali Fagan marah, pria itu malah memberikan senyum tipis yang memikat. "Kau tidak tahu sopan santun."
"Tempat umum? Kita berdua saja di dalam mobil dan tidak ada siapa pun. Lihat?" cemooh Fagan.
Vania dengan berani memandangnya. Sinar mata hijaunya memancar datar. Cuaca di siang hari cukup sejuk karena sedikit mendung dan awan tampak lebih tebal.
"Aku butuh udara segar."
"Kenapa? Kau tidak tahan berada tetap di sini?"
Reaksi yang Vania berikan hanya berupa dengusan kecil. Kemudian membuka sabuk pengaman dan tangan lain Fagan menahan lengannya.
"Aku belum selesai bicara."
Satu tarikan napas menguatkan diri Vania. Mengingatkannya untuk tetap mencapai kesabaran saat bersama pria penuh tipu daya ini. "Apa?"
"Aku serius dengan ucapan akan membawamu ke pernikahan. Sesampainya kita di rumah, aku langsung melamar."
"Rumah?" Vania tercekat.
"Pulang." Fagan mengoreksi dengan raut datar.
Vania kehabisan suara selama beberapa saat. Lidahnya kelu dan seakan semua kalimat itu tertahan di ujung benak. Sementara matanya sedang mencari, mengamati dari jarak yang cukup dekat dengan pria itu.
"Jika aku tidak mau?"
"Kau ingin kita membuat pengaturan? Aku tidak keberatan melakukannya. Kita bisa mencari jalan aman terbaik," ungkap Fagan.
Pernikahan paling konyol yang pernah Vania dengar adalah peraturan. Pengaturan dalam kehidupan rumah tangga itu perlu dan Vania tidak pernah membayangkan akan mengalaminya bersama Fagan. Pria tampan dalam khayalan yang mengambil setengah kewarasannya pergi.
"Bisakah kita membahas ini nanti? Apa kau ingin menetap atau kembali ke pulau?"
Arti tetap tinggal mungkin bermakna lain di dalam kepala Fagan. Vania dilanda penyesalan karena mengucapkan kata penuh makna itu. Selanjutnya sepasang manik gelap itu memekat penuh tahu, hampir membuatnya gemetar di tempat.
"Aku memilih tetap di sini."
Kepalanya menunduk, bibirnya memenuhi setiap bibir Vania dengan desakan tidak sabar.
***
"Kau serius membawaku kemari?"
Ide ini tidak buruk. Fagan telah menguatkan asumsi tersebut pada dirinya sendiri. Vania bukan perempuan seperti umumnya yang menyukai romantisasi atau berbelanja sebagai ajang mencari penghiburan diri.
Jadi ketika mereka berhenti tepat di depan bangunan tua yang baru saja beres renovasi sekitar tahun lalu, Fagan tidak salah menentukan pilihan. Menonton opera mungkin jawaban terbaik untuk membiarkan Vania menikmati hari dan melupakan soal pekerjaan yang membuat Fagan kesal sendiri.
"Pada dasarnya aku menyukai konsep tentang membawamu ke bioskop setempat. Tapi itu terdengar sangat romantis dan menggelikan," ujar Fagan hampa mengamati ekspresi perempuan itu dan tidak menemukan apa pun.
Vania tampak bagus dengan sebuah mantel mahal yang baru saja dia belikan. Udara semakin terasa tidak bersahabat sementara gaunnya bisa mengundang persepsi buruk. Fagan hanya mencoba melindungi, bukan bermaksud lain.
Mereka sempat berdebat kecil. Vania dengan sikap mandiri luar biasa berniat membayar dengan kartu kredit dan Fagan membayar dengan debit tunai. Dia kalah dan selalu cemberut sepanjang perjalanan.
"Memang tidak. Apa ini perlu? Bagaimana ayahmu?"
Ya Tuhan, Vania mencemaskan ayahnya? Fagan nyaris ingin membuat wanita itu berubah pikiran agar mau menikah dengannya.
"Dia baik. Ini kemauan ayahku," sebenarnya ini dusta.
Sementara Vania mengamati pintu loket di depan dengan pasangan kekasih yang saling merangkul satu sama lain, sebuah reaksi atas tindakan itu secara impulsif membuatnya merinding. Dia tidak pernah dekat dengan pria mana pun sebatas kencan. Hidupnya disibukkan untuk membangun bisnis serta bekerja demi memenuhi kebutuhan yang seakan tidak punya tepi.
"Aku yang membeli tiket," katanya cepat tidak membiarkan otak Fagan meresapi atau yang paling parah Fagan dan gengsinya menolak semua itu. Wanita pada dasarnya tidak perlu mengeluarkan uang dan hanya perlu meminta. Begitulah para pria, pikir Vania murung.
Satu dengusan mampir. Lalu Vania berjalan pergi, mencari dompet dan mengucapkan terima kasih saat dia mendapatkan tiket untuk menonton opera kecil. Harganya tidak terlalu mahal, tapi ini bagus demi menunjang perekonomian warga setempat.
Fagan mengikuti tanpa membantah. Dikarenakan arus globalisasi yang cepat memasuki setiap sendi kehidupan, bioskop dengan nuansa mahal dan modern lebih mendominasi kaum anak muda saat ini. Namun tempat ini tidak buruk. Vania mengambil nomor kursi yang sempurna. Panggung terlihat lebar dan luas. Latar belakang yang berasal dari kain hitam polos menjuntai dari langit hingga menyentuh alas kayu.
"Apa temanya kali ini?"
Vania menunduk untuk memeriksa tiketnya. "Apa menurutmu ini akan bagus?"
Fagan memberi komentar dengan bahu terangkat. "Aku tidak tahu. Tapi sepertinya karakter pria di sana akan menghadapi para naga atau monster berwajah seram demi cintanya."
"Bukannya memang semua jalan percintaan seperti itu?" tanya Vania sembari berbisik.
Sebelah alis Fagan terangkat naik. Kemudian memberi tatapan datar pada si wanita sangat kental. "Kalau kau sepertinya ingin dibelikan naga lalu menantangnya sendiri."
Vania tertawa, terhibur mendengar lelucon sarkasme pria itu. "Aku pecinta hewan. Jika kau membelikan naga, aku pasti merawatnya."
Lampu di dalam ruangan mulai dimatikan. Latar musik mulai berdengung lembut. Semua orang mulai fokus menonton saat satu-persatu karakter utama muncul. Memperkenalkan diri dengan selingan canda. Cukup menghibur sampai di pertengahan adegan berubah lebih kompleks.
Fagan tidak bisa berkonsentrasi. Matanya melirik dalam pekat dengan bantuan cahaya dari panggung. Beberapa pasangan malah sibuk bermesraan, saling bercanda satu sama lain dan tidak terkesan menikmati tontonan.
Lain halnya dengan Vania. Perempuan itu seolah mengabaikan eksistensinya yang terlampau lekat. Fagan tidak pernah sedekat ini dengan wanita selama perjalanan hidupnya mencari kebebasan dan membangun benteng untuk sekadar melindungi diri. Hubungan yang terjalin selama ini hanya berlandaskan fisik semata. Untuk apa dia bersikeras kuat melakukannya.
Namun Vania mengaburkan segalanya. Seandainya dia tidak datang ke pesta, Fagan tidak yakin jalan takdirnya berubah seratus delapan puluh derajat. Mereka akan selamanya menjadi pasangan satu malam yang singkat.
Sekarang, setelah kesulitan dan keputusasaan yang dia miliki selama merawat seorang orang tua tunggal sedang berjuang untuk bertahan hidup, Fagan merasa dia harus bergerak secepatnya sebelum terlambat. Ia terpukul atas kepergian sang ibu dan sebisa mungkin membahagiakan ayahnya dengan cara apa pun.
Tapi konsep pernikahan? Itu bukan hal bagus.
Satu jam berlalu saat riuh tepuk tangan menggema di sepanjang ruangan, Fagan terkesiap karena menyadari selama enam puluh menit berlangsung, dia menetap untuk memandangi ekspresi lembut Vania yang serius.
"Kau tahu lagu ini?"
Vania berpaling, mengalungkan tas selempangnya dengan cengiran geli. Sepertinya lakon di panggung berhasil membuatnya terhibur. "Aku memiliki lagunya di ponselku karena ekomendasi dari Sarah. Bagus, kan?"
"Apa ini lagu penutup?"
"Ya, mereka pintar mencari lagu yang sesuai," katanya dengan binar kagum. Fagan sama sekali tidak menyesali tentang dia yang merelakan waktunya untuk menemani Vania di kota.
"Siapa yang menyanyikannya?" tanya Fagan setelah bangun dari kursi.
"Roots and Recognition with Emmi."
"Aku akan mengingat itu dengan jelas."
Vania tersentak dengan kalimat Fagan barusan. "Oh, yang benar saja. Apa kau mulai menyukainya?"
"Lagu ini bagus untuk relaksasi."
Satu sentuhan kecil muncul secara spontan dan Vania baru saja melakukannya. Cukup rileks dan senang. "Kau benar. Ini bagus untuk merasa santai seperti musik lirih sekaligus pengantar tidur."
"Kita perlu makan sebelum kembali."
Vania mundur dan mendapati fokus Fagan menuju ke arahnya. "Boleh saja. Bagaimana dengan aku yang membayar?"
"Tidak." Fagan menggeleng sebagai penolakan.
"Kalau begitu, tidak ada makan malam."
"Apa ide tentang kemandirianmu bisa mundur sebentar? Aku yang membayar makan malam kita berdua," sahut Fagan sebal menggandeng tangan Vania untuk mengikutinya pergi menuju kedai aneka makanan laut yang menarik minatnya. "Tidak ada bantahan."
"Oke, bukan masalah. Kau bisa memakai uang yang kuberikan sebelumnya."
Tidak ada suara setelahnya. Vania merasa Fagan sudah matang dengan keputusan mentraktir makan malam. Ketika mereka sampai, perempuan berbadan mungil dan pendek langsung menyapa ramah. Mengantar mereka sampai ke meja dan Vania menyukai tempat dengan jendela sebagai sandaran.
Karena saat mereka duduk, Fagan tidak berlama mendengarkan pegawai memberi rekomendasi menu andalan mereka. "Aku ingin menu terbaik di sini dan berikan kami dua porsi."
Vania hanya mendengus, malas untuk sekadar meladeni.