"Kau mencari siapa?"
Fagan tertangkap basah berdiri di ujung perbatasan antara ruang makan dan ruang tengah. Saat Kenta membiarkan Nina mengurus segalanya, dia hanya menyeringai melihat putranya baru saja turun untuk makan malam.
"Tidak ada."
"Vania ada di kamarnya. Dia kembali sekitar pukul lima sore dan terlihat lelah sekali."
"Mengapa sore sekali?"
Ayahnya mengangkat bahu. "Aku tidak melihat barang belanjaan apa pun hari ini. Apa yang dia lakukan di kota itu?"
"Aku tidak tahu," sahut Fagan datar.
"Kau tidak penasaran?"
Fagan berdeham singkat. "Tidak."
Kenta lantas tidak mendebat putranya lagi. Ia membiarkan Nina menepi selagi menikmati semua hidangan dengan matanya yang antusias. Hanya berselang lima menit, Vania muncul dari anak tangga. Masuk ke ruang makan dengan senyum cerah.
"Oh, makan malam telah dihidangkan?"
"Kau terlambat, anak muda. Kemarilah segera bergabung." Kenta menawarkan sisi kursi yang kosong untuk wanita itu.
Sebuah ringisan muncul. "Aku berendam terlalu lama tadi."
Sebelah alis Fagan naik, menatap wanita itu lekat ketika dirinya menarik kursi. Mencari piring dan bersiap untuk makan. "Apa yang kau lakukan?"
"Kau terdengar ingin tahu," tukasnya.
Sungguh, sebenarnya bukan itu jawaban yang ingin dia dengar. Tapi ayahnya kini tersenyum lebar, memberi Vania pujian dari matanya.
"Itu bagus. Tidak apa kalau kau menikmati waktu di luar sana. Pulau ini menawarkan pantai secara gratis tapi tidak budaya seperti di kota."
Vania merespons dengan seulas senyum ringan.
Fagan belum melupakan perihal ayahnya yang suka membuka percakapan di meja makan. Sejak dulu, Kenta selalu membuka topik baru saat mereka sedang makan dan sang ibu sama sekali tidak keberatan. Fagan kecil pun sama karena dia akan dengan antusias menceritakan harinya. Sementara Ivan diam, memandang mereka semua penuh kasih.
"Kota di tempat ini tidak terlalu ramai. Tetapi turis yang mampir cukup banyak dari domestik mau pun internasional. Mata uang di sini tidak terlalu besar."
"Aku setuju," Vania mengiyakan. "Suasananya cukup ramah. Banyak sepeda bertebaran dan mereka menjaga tempat sejarah itu sangat baik. Aku tidak melihat adanya sampah di mana pun."
"Salah satu alasan aku menyukai tempat ini. Fagan tidak salah membeli pulau yang ditawarkan secara eksklusif," puji Kenta tulus.
"Seharusnya ibu merasakan tempat ini juga."
Sejenak suasana berubah lebih senyap. Vania menggeser tatapannya dari piring, mengamati ekspresi Kenta yang berubah dan pada Fagan yang tidak merasa bersalah. Mungkin pria itu sama sekali tidak ingin menyinggung tentang ini secara sengaja.
"Kau bicara dengan Ivan hari ini?" suara Kenta yang lirih berhasil mengubah topik secepat perubahan cuaca.
"Tentu. Dia sering di rumah sekarang. Pekerjaan di kantor tidak terlalu banyak."
"Apa dia meluangkan waktu untuk si kembar?" Kenta penasaran dengan putra sulungnya.
"Kesibukan sebagai seorang ayah dan suami tidak memungkinkannya berbuat demikian lagi," tukas Fagan muram dan Vania diam. "Dia selalu sibuk dengan urusannya."
Kenta menghela napas. "Jangan dengarkan Fagan. Putra pertamaku cukup tahu diri. Istrinya memahami batasan. Dia tidak pernah menjebak suaminya dengan aturan menggelikan."
Vania memberi senyum manis. "Sangat bagus. Istrinya seorang yang luar biasa. Siapa namanya?"
"Alena." Kenta membalas dengan satu senyum ramah.
Sementara Fagan hanya mengangkat bahu, seakan mengabaikan eksistensi keduanya dalam diam.
***
"Aku bisa bicara sebentar?"
Vania sedikit berteriak dari pintu kamar yang tertutup. Fagan tidak ada di mana pun dan tujuannya tiba pada kamar pria itu. Rumah telah berubah menjadi remang. Puluhan lampu utama berganti lampu tidur.
Pintu tertarik terbuka. Mata mereka bertemu satu sama lain. Fagan tampak segar sehabis mandi dengan piyama abu-abu yang melekat. "Apa?
"Aku harus masuk," ujarnya mendesak setelah menyelinap dari pintu dan sengaja mengenai bahu pria itu. Sebelum Fagan menghela napas, bergerak ke pintu agar tertutup.
"Kau butuh sesuatu?" Fagan bertanya.
"Tidak," sahut Vania cepat. Ia harus berjuang untuk bertahan selagi pengharum kamar Fagan serupa seperti wangi pria itu. Pikirannya mulai terasa tidak benar. "Aku hanya ingin bicara sedikit. Ini tampak aneh karena kau tidak ada di ruang kerja."
Fagan mendengus setelah memeriksa ponselnya, merebahkan diri di atas ranjang dengan santai. "Aku tidak akan menetap di sana jika urusanku sudah selesai."
Vania masih berdiri mematung di tengah ruangan. Merasa kerdil karena kamar Fagan sama besarnya dengan kamar Kenta atau mungkin lebih luas. Seolah semua ruang dibuat secara minimalis untuk menempati setiap sudut kamar ini.
"Kau menginginkan pelukanku malam ini?"
"Tidak mau," mencoba mengumpulkan semua kekuatannya serta tekad penuh percaya diri. Vania nyaris menggigit kuku saat sorot mata Fagan mendingin ke arahnya. "Aku hanya ingin mengobrol."
Fagan menghela napas berat. Berusaha untuk duduk di tepi dengan kepala meneleng, mengamati wajah wanita itu lekat. "Apa yang kau lakukan di kota sebelumnya?"
"Berjalan menikmati waktu senggang."
Cibiran lain terdengar. "Kau tidak terlihat begitu. Mengapa kau tidak belanja camilan?"
"Apa itu harus?" Vania mendapati dirinya terkejut. "Aku tidak begitu suka berbelanja."
"Poin kesekian kalinya, kau aneh."
Vania sama sekali tidak tersinggung dengan kalimat pria itu. "Memang."
"Oke, lalu apa?" Fagan berusaha sabar.
Langkahnya dengan pasti mendekat. Sementara Fagan menunggu dengan pertanyaan. Sedang berupaya menerka dengan geli kalau Vania membelikannya barang unik sesuai seleranya sebagai kenangan.
"Ini untukmu," ucapnya pelan.
Satu, dua sampai lima detik berlalu Fagan masih membeku tidak tahu harus bagaimana.
"Kau apa?" Kemudian satu gumaman keras hadir. Suara Fagan seakan memenuhi setiap celah di sudut ruangan.
"Kau harus mendengarku," pinta Vania pada pria itu. "Aku belum menjelaskan."
"Tidak. Kau yang perlu mendengarku," katanya siap berdebat. Fagan seakan tengah bersiap dengan semua pernyataan. Magma itu meluap sebentar lagi. "Kau memberikanku hal yang sama lagi?"
Vania mengambil napas gemetar. "Aku tidak ingin terlibat hubungan apa pun bersamamu walau semalam sangat hebat."
Oh, tentu saja itu kebenaran pahit. "Aku hanya mengingatkan diri bahwa aku tidak seperti dugaanmu."
"Apa?" ekspresi Fagan berubah karena ketidakpercayaan. Ia baru saja mendengar gurauan paling lucu sepanjang hidupnya.
"Ambil itu kembali, Vania. Berhenti membuatku merasa frustrasi. Kau pikir aku membuka donasi atau apa?" Fagan belum menyerah dengan pendapatnya.
Pikiran Vania bercabang antara dia harus menetap atau melarikan diri dari pria itu sebelum semuanya berubah kacau. "Bukan seperti ini caranya."
"Kau aneh. Benar-benar tidak tahu aturan."
Fagan bangun dari ranjang. Meremas kertas itu tanpa perasaan. Lalu dalam gerakan yang membuat Vania berdentam hebat, tangannya yang kokoh mencari pematik dari laci. Seolah siap membuat hangus gulungan kertas bersama isinya dalam hitungan menit.
"Aku bukan tempat sosial. Uang ini sama sekali tidak berguna," kata Fagan sinis.
"Aku memberikannya bukan tanpa alasan."
"Aku bukan seperti pria yang kau bayangkan!" Fagan membalas tak kalah dingin, jauh lebih kesal dari sebelumnya. "Kita pernah membahas ini. Kau bukan Isabelle yang menumpuk harta dan aku bukan siapa pun yang kau kira."
Vania mulai kehilangan kesabaran. "Kau tidak tahu."
"Baiklah," lalu pada satu gerakan yang membuat Vania bergeming pucat. "Uang ini tidak ada gunanya untukku. Kau ingin aku melakukannya?"
"Tidak, jangan lakukan itu." Vania menolak dengan sedih.
"Ambil kembali," Fagan menaruhnya sembarangan dengan tampang kusut. "Kau harus pergi ke kamarmu. Aku butuh tidur sekarang."
Vania hanya perlu waktu kurang dari lima menit untuk berlari menjauh.
***
"Kakek, selamat pagi."
"Sayangku yang tampan. Apa kalian baru bangun tidur?" Kenta tersenyum hangat mendapati kedua cucunya masih mengantuk.
"Aku bangun setelah kembaranku. Bagaimana dengan kakek?"
"Aku juga baru mencuci muka. Apa ibu kalian sudah membuat sarapan?" tanya Kenta manis.
"Mama membuat sup jagung wortel kesukaan kami. Ren sedang demam. Mama membuat bubur pinus untuknya dan sup untuk kami."
"Ren pasti meminta. Ken mau membaginya denganku," sahut salah satunya dengan cengiran.
Senyum Kenta melebar penuh cinta. Wajah si kembar lebih mendominasi pada putra pertamanya. Tetapi tidak mengelak fakta bahwa senyum mereka serupa dengan ibunya. Ken dan Ren seakan tidak terpisahkan. Ivan menyayangi mereka sama besarnya tanpa kecuali. Kebahagiaan lain yang hadir di tengah kehidupan pernikahan.
"Siapa di sana, kakek?"
Kenta menautkan alis. Mengikuti telunjuk mungil Ken mengarah pada Vania yang baru saja melintas dengan wadah obat dan air putih. Karena Nina sibuk mengurus hal lain di kamar.
"Namanya Vania," balas Kenta pelan.
Vania segera mendekat, terkejut mendengar dua bocah yang terpukau histeris. Berusaha mendekati layar dengan senyum khas anak-anak. "Halo, kalian berdua. Sedang apa?"
"Kami baru saja selesai menyikat gigi. Aku Ren dan ini kembaranku Ken."
Senyum Vania berpendar hangat. Melihat keduanya memakai piyama bergambar mobil yang sama, hanya sebatas pada warna yang berbeda. Ken memakai hijau sedangkan Ren biru laut.
"Siapa namamu?" tanya mereka penasaran.
"Kalian mau menebaknya?" sahut Vania terkekeh.
"Apa kau kekasih paman kami?" Ren menebak dengan cengiran malu.
"Siapa paman kalian? Aku tidak kenal," Vania malah tertawa sembari bercanda.
Kenta tidak bisa menahan senyum lebih lama melihat tingkah keduanya yang antusias. Sementara Vania tidak mau mengambil pusing atas penasaran mereka.
"Tidak benar karena aku datang untuk kakek kalian. Senang rasanya mengobrol, aku harus pergi. Sampai bertemu lagi."
Si kembar menunjukkan raut sedih. Sebelum Vania melambai diikuti Kenta yang harus menutup sambungan mereka, Alena baru muncul. Meraih tablet yang menjadi mainan kedua anaknya lalu terkejut saat melihat Vania.
"Ya Tuhan, pria menyebalkan itu tidak mau mengenalkanmu padaku. Hai Vania, aku Alena. Salam kenal."
"Senang melihatmu," balas Vania.
Alena tertawa singkat.
"Tidak, cantik. Kita tidak saling bertemu dan akan secepatnya itu terjadi. Kami hanya perlu mencari waktu yang tepat untuk mendarat. Suamiku tidak bisa bernapas benar mendengar kondisi ayahnya."
Sedangkan Kenta mendengus keras. "Aku merasa cukup baik. Penunggu di sini sangat kaku dan suka semaunya. Kalian tidak usah cemas."
"Fagan pada dasarnya memang tukang perintah. Tapi tidak bisa ayah. Aku tetap datang karena anak kembarku merindukan kakek mereka."
Vania bisa melihat wajah renta dan letih itu berubah lebih lembut. Kenta terlihat menyayangi keluarganya lebih dari apa pun. Dari gestur yang santai ketika cucunya menghubungi sudah cukup menjelaskan segalanya.
"Ayo, pergi untuk beristirahat." Vania membantu Kenta bangun setelah meminum obatnya. Melihat Nina yang segera mengambil alih, memapah Kenta untuk berjalan dan kali ini pria itu tidak menolak sama sekali. Membiarkan Nina menuntunnya seperti bebek tersesat.
Sedangkan Fagan yang baru saja tiba terlihat lebih rapi dan memesona. Vania menarik napas, mencoba membuang pikiran primitifnya dengan tidak mengagumi pria itu lebih lama. Ketika sorotnya penuh penasaran, membawa diri ketika Kenta sampai ke kamarnya.
"Ikut aku." Fagan berbalik bersiap pergi.
Vania nyaris terlonjak. "Ke mana?"
"Suatu tempat. Aku tidak akan bicara sekarang."
"Apa aku bisa menolak?" tanya Vania gelisah.
Air mukanya berubah dingin. "Tidak."
***
Satu jam perjalanan dan Vania tidak paham ke mana Fagan akan membawa mereka berhenti. Hari cukup cerah dan sejuk. Suasana kota yang senggang menjadi pemandangan memanjakan mata.
Mereka telah sampai pada salah satu tempat makan dengan bangunan klasik. Sebelah restoran yang berbatasan dengan satu bangunan kecil, dia melihat hotel dengan sepuluh lantai yang menakjubkan. Interior gedung yang mengesankan membuat Vania berdecak kagum.
Fagan seharusnya tidak perlu bersusah payah untuk menuntunnya masuk ke dalam karena dia masih sanggup berjalan. Namun pria itu dengan ringan menggandeng tangannya, membawa Vania masuk dengan disambut seorang staf tegap berdasi kupu-kupu yang ramah.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Vania berbisik setelah mereka berjalan lebih jauh ke dalam.
"Bertemu kolega. Kebetulan dia ada di sini."
Vania penasaran. "Untuk apa?"
"Membawa istrinya berlayar dengan kapal pesiar. Bulan ini adalah perayaan pernikahan mereka yang kelima belas."
"Oh, begitu." Vania kehabisan kalimat. Terkesima dengan pemandangan otentik di dalam restoran yang merangkap bersama hotel untuk para turis.
Fagan meneleng untuk menatap senyum tipis wanita itu. "Kau menyukainya?"
"Tempat ini? Kau sudah mendapatkan jawabannya."
"Bagus." Kemudian meminta mereka membawakan buku menu. Dia harus memesan minuman sebelum tamunya tiba.
Fagan memesan sebotol anggur dan sup salmon. Vania memesan salad sayur yang lezat. Lalu mencoba roti panggang dengan olahan khas lokal. Mereka telah selesai memesan dan Vania terperangkap oleh sepasang manik pekat yang terlalu lekat menatapnya. Seakan hanya melalui mata, Fagan sanggup membuat dirinya gemetar.
"Apa?" sahut Vania risih.
"Kau tampak luar biasa," pujinya tanpa ekspresi.
"Terima kasih."
"Hanya itu?" Fagan terlihat tidak terima.
"Apa yang kau harapkan?" Vania masih sibuk mencari objek bagus untuk dipandang.
Kedua bahunya terangkat acuh. "Jangan coba menggigit kukumu," katanya penuh penekanan. "Aku membawamu ke salon setelah ini."
"Aku siap bersembunyi. Kau ingin lihat? Aku telah melepas sepatu indah ini."
Fagan mengangkat alis, mengintip ke bawah meja dan hampir mendengus melihat perempuan satu itu benar-benar melepas heels yang dia berikan.
"Kau tidak bisa memakainya dengan benar?"
Vania menautkan alis, menatap datar mata itu dengan gerakan bibir seakan mencium jauh. "Bukan perkara sulit tapi ini terasa tidak nyaman. Aku ingin kedua kakiku bernapas."
Pintu utama terbuka lebar. Pasangan suami istri itu masuk dengan tampilan mahal yang elegan. Vania memasang senyum terbaik. Ia setidaknya harus bersikap santun karena Fagan seperti peliharaan patuh pagi ini. Sama sekali tidak membahas tentang masalah yang dia berikan semalam.
"Selamat datang."
"Senang melihatmu ada di sini." Si istri menyapa dengan ramah. Vania terkesan ketika perempuan cantik yang telah berumur memberikan tangannya untuk berjabat.
"Aku juga, silakan duduk."
Mereka tampak rileks satu sama lain. Tidak ada raut membosankan atau kesinisan yang Vania takutkan sebelumnya. Ia sempat gugup dan berhasil tidak mengacaukan diri selama perjalanan.
Salah seorang staf membawakan anggur tanpa fermentasi. Bersama empat gelas kaca yang memenuhi meja. Bersulang satu sama lain dan Vania merasa lebih baik berkat minuman ini.
"Fagan, siapa perempuan menawan ini? Kau tidak ingin mengenalkannya padaku?"
Fagan berdeham, menaruh gelas minumannya dengan senyum formal. "Dia kekasihku. Kami akan menikah setelah liburan singkat ini selesai."
Respons lain justru diberikan oleh perempuan bertubuh ramping dengan gaun tosca mahal. "Astaga, aku sudah menduga setelah melihatnya. Putramu sangat konyol bicara tentang perempuan ini kepadamu."
Raut Fagan tampak cemas sebentar. Sama halnya dengan Vania yang mendadak resah. Kepalanya belum selesai mencerna pernikahan kali ini datang masalah baru.
"Maaf?"
Si pria dengan setelan hitam memberi senyum maklum. Ketika sorot cokelatnya menyapa Fagan, Vania merasa kering seketika.
"Putraku sempat menyusul untuk memberi kami hadiah. Dia anak yang berbakti. Kami sempat makan siang di salah satu restoran pinggir laut. Aku tidak terlalu memerhatikan dan baru menyadari kalau kekasihmu mirip perempuan yang menyita perhatian putraku saat itu."
Alis Fagan menyatu lekat.
Sementara Vania merasa jiwanya telah melayang bebas ke udara karena syok.
"Apa betul itu dirimu?" sang istri bertanya ramah. Tak ada tatapan menghakimi yang biasa Vania dapatkan. "Kau yang mengantar makanan dari dapur ke meja. Wanita muda gesit yang ramah. Pantas saja putraku sangat kagum. Maafkan dia dan aku melupakanmu."
Vania merasakan dirinya mulai panik. Mendadak isi kepalanya kosong, menguap habis tanpa sisa.
Barangkali reaksi Fagan yang terlampau dingin lebih membuatnya sesak. Pria itu hanya tersenyum samar, meneguk kembali minuman dan mendadak sebelah tangannya yang bebas meluncur di sekitar bagian gaun bawahnya. Memberi sentuhan kuat di sana. Meminta jawaban jika semua ini sudah berakhir.