Rasanya luar biasa dan tak mampu dipaparkan secara jelas.
Tidak ada yang bisa Fagan pikirkan selain kejadian baru saja yang nyaris membuat dunianya lenyap dalam hitungan jam. Semua waktu sibuk, membaur bersama Vania yang meringkuk seperti janin di atas ranjang. Sesuatu yang tepat baru saja menetap dalam dirinya.
Tubuhnya terasa sangat bugar. Untuk beberapa alasan karena ayahnya mengejek dirinya tidak tahu norma, Fagan baru menemukan kebenarannya. Dan sekarang dia terjaga bersama seseorang yang tanpa sengaja jatuh dalam dekapannya dan tertidur lelap.
Vania dan setiap senti dari dirinya berhasil merebut semua kewarasannya. Seolah tidak cukup dengan sekali. Fagan mungkin mencoba mengabaikan sensasi hubungan singkat bulan lalu yang membuat Vania kehilangan sesuatu berharga karena tekanan sosial.
Bukan, wanita itu bukan perempuan polos yang memasang topeng palsu. Ucapannya pedas dan suka menggigit kuku. Yang paling parah adalah Vania suka seenaknya. Sulit diatur dan gemar membantah.
Ingatannya masih segar akan dia yang menyusul Vania tanpa banyak berpikir ke kota. Tanpa pamit pada ayahnya yang sedang senam sore hari di depan kolam renang bersama Nina si serba bisa yang menjadi guru dadakan.
Kemudian kenangan itu tersusun secara sempurna. Vania sedang duduk bersama pria lain yaitu turis yang menyamar menjadi fotografer aneh. Bercengkerama dengan akrab dan saling menatap senyum satu sama lain.
Dia merasa aneh karena tidak senang melihatnya. Toh, Fagan sadar diri di mana posisinya. Tapi ini tentu saja tak bisa dibiarkan. Demi Tuhan dari perempuan mana pun di dunia ini, Vania punya potensial untuk menjadi ibu dari anaknya semisal dia tidak mau mengikat diri pada pernikahan.
Ayahnya menyukainya. Sering membahas Vania pada putra sulung dan menantunya. Fagan tidak tahu harus menjelaskan kekacauan ini pada Ivan dari mana. Karena Vania datang begitu tiba-tiba, tanpa diduga dan berhasil membuat dunianya kacau balau.
Sekarang setelah sesi malam yang melelahkan, dia merasa sangat bebas.
Kamar tamu ini penuh beraromakan Vania yang alami terutama di bantal dan seprai. Ruangan besar yang terbiasa sepi kini meninggalkan ingatan tak mudah pudar.
Ketika matanya turun, dirinya menangkap bayangan siluet punggung wanita itu. Gejolak diri bocahnya bangkit tanpa permisi tidak diduga. Fagan benar-benar seperti remaja yang baru mengenal dunia luar pertama kali.
Usapan tangannya sama sekali tidak membantu. Malah menambah sakit pada satu tempat yang terasa memalukan. Vania masih tertidur dan tidak pernah ada dalam kamusnya menghabiskan sisa waktu dengan perempuan yang sedang pulas. Apa dia harus mandi air dingin lagi?
"Kenapa kau tidak kembali ke kamarmu?"
Sebuah suara lirih mampir penuh tanya. Saat Fagan menunduk, menemukan kedua mata yang sempat terpejam itu mencoba menyesuaikan cahaya dengan berulang kali mengerjap.
"Mendadak kakiku mati rasa."
"Hah?" Vania terlonjak dengan perasaan panik. "Kenapa lemah sekali?"
"Bercanda," dengusnya kasar.
Ketika Vania sepenuhnya sadar, dia merasa malu dan terlalu apa adanya karena sepasang mata gelap itu terarah pada dirinya. Selimut baru saja bergerak turun dan Vania tergesa meraupnya untuk kembali melindungi diri. Berguling dari pelukan Fagan sampai ke tepi ranjang.
"Aku butuh tidur lebih lama."
"Apa aku mengganggumu?"
Vania mendengus pelan. "Tentu saja. Bagaimana bisa kau terjaga di pagi buta?"
"Aku selalu terjaga untuk urusan krusial. Biasanya karena urusan kantor. Sekarang lain lagi," balasnya dengan senyum tipis. Nyaris membuat Vania membeku. "Aku perlu kamar mandi untuk membersihkan diri."
"Kembalilah ke tempatmu sendiri, Fagan."
Fagan belum sepenuhnya bangun ketika dia bergeser, mengulurkan tangan guna menahan belakang kepala wanita itu. "Hampir. Jika kau berkenan menemaniku sekali lagi, aku tidak lekas pergi ke sana."
Adegan selanjutnya terjadi adalah Fagan dikejutkan dengan suara ringisan cukup keras. Disusul desisan kecil yang membuatnya menahan geli sekaligus tawa.
Vania yang terpeleset lalu terguling ke bawah ranjang.
***
"Kau sendirian dan sekarang merasa kesepian adalah sesuatu yang terdengar aneh. Ada apa denganmu, Fagan?"
Suara ejekan itu meluncur penuh makna dari bibir sang kakak yang duduk dengan bertumpu dagu. Senyumnya terurai manis, seolah mencelanya adalah kegiatan yang lucu.
Fagan mendesah lelah. Mengulurkan tangan untuk mencari berkas yang baru lima menit lalu selesai dia cetak. "Kembali ke topik, aku rasa kita membutuhkan ide kampanye baru untuk kemajuan bisnis."
"Kita berdua tidak butuh apa pun. Aku hanya ingin mendengar progress dari hubunganmu jangka panjang bersama perempuan itu. Ayah memberi kode kalau kau ditolak. Serius, dirimu mendapatkannya?"
Ekspresinya berubah masam. Ketika dia menaruh asal dokumen itu ke meja, bersandar dengan bibir tertekuk ke bawah. "Apa yang ingin kau dengar?"
Senyum Ivan merekah seperti bunga di pagi hari.
"Segalanya. Bagaimana bisa kau dan wanita itu saling mengenal?"
"Cukup rumit." Fagan menahan kesal.
"Secara tidak sengaja? Atau kau melihatnya menangis histeris setelah putus cinta?"
Fagan meringis keras. Ivan terlalu berlebihan dalam bercerita.
"Oke, maafkan aku. Itu koleksi cerita yang sering dibaca istriku. Dia selalu menangisi kisah yang sama berulang kali. Tidak berakhir baik namun terkemas manis. Dasar wanita mudah sekali."
Fagan tidak tahu bagaimana harus memulai. "Ayah tidak tahu tentang hal ini. Tetapi aku pernah bertemu Vania di sebuah tempat khusus. Saat itu aku pergi untuk melepas penat sebentar karena itu lokasi terdekat dari titik proyek."
Ivan memberi gambaran ekspresi wajah memaklumi. Dia kakak yang cukup pengertian.
"Kami bertemu lagi di acara dan itu pestaku. Vania datang atas nama Isabelle. Asli tiketnya tergeletak begitu saja di meja. Dia datang ke sana dan sebelumnya aku menganggap dia sebagai Isabelle."
"Apa kau menyebar undangan tanpa tahu siapa yang kau undang?" tanya Ivan terperangah.
Fagan membenarkan. Ia hanya meminta tolong sekretarisnya untuk mengundang yang sekiranya orang penting. Termasuk Isabelle yang ternyata tertulis di dalam catatan.
"Aku menduga kau sempat salah paham. Apa pekerjaannya?"
"Pelayan atau staf. Tetapi sebenarnya dia pemilik sebuah bisnis ternama. Tempat yang aku kunjungi itu miliknya."
Sepasang mata Ivan melebar tak percaya. "Sungguh? Lantas, untuk apa dia bekerja sebagai staf di rumah orang lain?"
Kasus ini, Fagan sendiri belum menemukan jawaban yang pasti. "Aku tidak tahu. Dia bekerja keras untuk hidupnya sendiri."
"Oh, wanita malang. Aku rasa ada sesuatu yang tidak kau tahu tentangnya. Penghasilan bisnis biasanya fantastis. Terlepas sulitnya izin dan bagaimana pembagian hasil yang menyebalkan."
Ayahnya pun setuju. Misteri ini belum terpecahkan dan mungkin tidak pernah mendapat jawaban. Vania tidak mau bicara soal dirinya.
"Kau mengajaknya menikah?"
"Ya," sahut Fagan lunglai.
"Apa karena dia dekat dengan ayah?"
"Dia paling potensial di antara perempuan yang pernah bersamaku." Fagan menukas muram.
"Kemungkinan artinya di antara kalian tidak akan ada yang saling jatuh cinta?" Ivan penasaran dengan kisah unik adiknya.
"Begitulah," Fagan bergumam pendek memainkan pena hitam miliknya di atas meja. "Aku hanya ingin memiliki keturunan yang legal. Sah di mata hukum dan bukan dari adopsi atau perselisihan panjang yang harus diselesaikan di meja hijau. Mempertahankan hak asuh, semisal?"
"Kau takut dengan hal itu?"
Napasnya berubah lebih cepat. "Aku hanya tidak mau semua dipersulit. Setiap masalah punya solusi dan dia tidak mau mendengarku."
"Kalau dia tidak mau, kau yang bermasalah."
"Kami berdua memang tidak pernah ingin menikah." Fagan tersenyum datar.
Ivan berdecak pelan. Menggeleng sembari menatap sang adik sinis.
Sesuatu mengusik pendengarannya. Fagan terkejut saat Alena muncul dengan seurai senyum hangat. Mengantar secangkir kopi ke meja suaminya dengan penuh cinta.
"Ada Fagan di sana. Apa kabar?"
"Berhenti bercanda. Aku baru bicara denganmu kemarin siang." Fagan berkata setelah memutar mata bosan ke arah sang kakak ipar.
Alena mendengus geli, terkekeh singkat.
"Kau terlihat sama sekali tidak bersahabat. Apa yang menjadi masalah? Merasa gelisah karena belahan jiwa entah tersasar ada di mana?" tanya Alena bersemangat melihat raut kusutnya.
"Aku akan bicara denganmu lagi. Beri salamku pada si kembar. Sampai nanti."
Meradang jengkel karena mendengar pasangan suami istri itu tengah tertawa geli.