TA - 16

3337 Words
Semua tentang Vania bukan sekadar mimpi semata. Fagan kehabisan akal ketika bibir Vania memagutnya secara panas. Menutup semua protes yang akan meluncur karena sekarang dia merasa terpedaya, bersiap untuk apa yang akan wanita itu lakukan. Posisi mereka berbanding. Vania duduk di atasnya dengan senyum manis. Menekan bukti besar yang sejak tadi meronta untuk segera dibebaskan. Fagan masih bisa menahan diri dari rasa dahaga apa pun untuk segera menuntaskan permainan. Satu ciuman panjang yang menyerap habis napas mereka hingga selesai. "Aku pernah menyebutmu kurang pantas," ujar Vania tersipu mendengus kecil dan masih merasa menyesal atas itu. "Jika kau tidak menjadi pengusaha sehebat saat ini, apa kau ingin mencobanya?" "Tantangan menjadi seperti yang kau bilang?" "Akan ada orang yang memberimu banyak uang. Alih-alih kau mengeluarkannya untuk semalam singkat. Satu malam, kau berubah sangat kaya." Sudut bibir Fagan tertarik naik. "Hanya semalam aku bisa membeli mobil mahal keluaran terbaru. Tetapi manis, aku sama sekali tidak tertarik menjadi yang kau bayangkan." "Pekerjaan itu sempurna denganmu." Napas mereka bergabung. Vania merasakan debaran memacu lekat hanya karena sepasang manik gelap yang berpusat pada dirinya. Gemetar dan perasaan asing memeluknya tanpa ampun. "Aku bisa menjadi kekasihmu seutuhnya," ujar pria itu datar serta serak karena tak lagi mampu menampung kendali diri yang hampir meluap. Bibirnya menelusuri sepanjang bahu dengan tangan mendekap pinggang. "Untuk kasus ini aku tidak memerlukan bayaran darimu." "Pria mendapat hasil untuk hubungan cepat." "Bagiku cukup dengan dirimu apa adanya," sinar matanya berubah kelam dan dingin. Vania mendengus kecil, menyadari benar arti mata Fagan untuknya. "Apa kau ingin aku menjelaskannya secara terperinci?" "Tidak," sanggah Vania lelah. Fagan merasa hampa saat Vania berangsur mundur untuk melepasnya. Rasa sakitnya semakin menjadi dan perempuan menyebalkan itu malah mundur. Apa Vania benar-benar tega membiarkannya mandi air dingin sampai membeku? "Aku harus tidur," katanya lemah mengendik pada pintu kamar dengan dagunya. "Kamar ini tidak kedap suara. Ayahmu bisa dengar dari dalam." "Akan dengar apa? Dia sama sekali tidak peduli. Usiaku tiga puluh dua dan aku bukan bayi lagi." Vania mengangkat alis, mengejek. "Fagan, tidak ada yang menyebutmu bayi di sini. Aku hanya bilang ayahmu bisa mendengar kita berdua." "Kau kekanakkan." "Juga dirimu. Tidak ada pria yang akan mengajak teman satu malamnya menikah dalam waktu singkat." Sembur Vania masam, mendesis dengan raut sebal. "Kau masih ingin membahasnya?" "Tentu saja karena kau belum menyerah mengajakku menikah. Apa kita akan berkencan serius selama dalam masa kebohongan?" Vania meletakkan pertanyaan spontan di atas kepala Fagan cukup berat. "Lagi pula aku ini sangat sibuk. Tidak punya waktu untuk meladeni balita sepertimu." "Kau sebut aku apa?" Fagan mendesis tidak percaya. "Astaga," bola matanya memutar bosan. "Membahas ini hanya membuat kepalaku semakin sakit. Ayo kita harus beristirahat." Fagan mendengus menatapnya. Iris matanya berubah sinis saat Vania menarik selimut. Mencoba untuk berbaring setelah lintasan pembukaan mereka berhasil membuat Fagan tidak berdaya, tetapi tidak berlaku untuk perempuan aneh itu. "Aku tidur di sini." Vania melotot tidak suka. "Jangan bercanda." "Kenapa? Ini kamarku. Kamar depan sana juga kamarku. Semua ruangan di sini milikku." Fagan berkata dengan nada malas, sembarangan naik ke atas ranjang dan membawa dirinya berbaring santai. Berulang kali mencibir Vania dan pikiran kurang waras yang tak berjalan sesuai aturan. "Aku mau tidur di luar," ujarnya setelah mengambil napas kalah. "Tidak. Tetap di kamar ini, Vania." Vania bangun dari ranjang. Mengamati bagaimana balita besar itu mengambil guling kesayangan, dengan sembarangan memeluk bersama sepasang kaki yang saling mendukung. "Bagaimana dengan pergi ke kamar bersama ayahmu?" Kedua mata Fagan yang terpejam lantas membuka. Tercengang dengan kalimat sinis itu, Vania seolah membuat segalanya menjadi rumit saat berhasil menemukan selimut bersih di lemari. Kemudian sudah siap melarikan diri. "Berhenti di sana." Fagan berkata dari atas ranjang. Tampak kesal dan siap menggerutu. "Aku pergi sekarang. Selamat malam." "Nah, bagus kau mengerti. Selamat malam juga tampan." Senyumnya melebar menang. *** "Hai, selamat pagi semua." Vania muncul dengan senyum memikat dan dandanan sederhana yang menawan. Sosok tingginya berdiri di hadapan Fagan yang baru saja duduk, bergabung di sofa nyaman bersama sang ayah yang menikmati pagi di kebun. Sementara Fagan pagi ini masih mengenakan piyama tidur semalam, hanya bangun untuk mencuci muka dan menyikat gigi. Hendak memeriksa ayahnya di kamar dan mendengar suara tawa dari kebun depan. "Kau terlihat baik pagi ini," kata Vania ramah bersama senyum tanpa bersalah yang membuat Fagan kalut semalaman. Kenta mendengus geli. "Tidak begitu, Fagan nampak kusut sekarang. Coba lihat dirinya Vania. Apa kau mandi air dingin semalam? Ayah masih bisa melihat telapak tanganmu berkerut karena terlalu lama berendam." "Ayah." Fagan berdecak dan Vania hanya bisa menunduk, mengulum senyum tipis. Vania menata meja mungil. Aneka sarapan ada di sana setelah dihidangkan. Wanita itu cukup gesit menyediakan segalanya selagi para penghuni rumah sibuk dengan urusan mereka sendiri. "Kau ingin bubur lagi?" Fagan memindahkan tatapan ke arah Vania. "Kau pikir aku bocah berusia lima bulan?" "Aku makan bubur jagung untuk sarapan kali ini. Bubur buatan tangan Vania yang terbaik. Apa itu berarti aku seorang bayi tidak tahu diri?" Vania mengacuhkan pandangan sinis pria itu dan beralih pada Kenta yang ramah. "Bubur yang lembut sangat baik untuk kesehatan. Kita tidak perlu terlalu lama menyantapnya. Silakan, habiskan sarapan kalian." "Ambilkan bocah besar ini bubur di dapur, Vania. Kalau dia tidak mau menyentuhnya, biar aku yang makan semua." Fagan hanya membisu. Saat wanita itu berbalik, menghilang dari balik pintu dengan tatapan Fagan tidak pernah lepas darinya. "Dia perempuan serba bisa," puji Kenta tulus. "Apa kau punya rencana bersama Ivan secara virtual?" "Iya, mungkin aku sibuk dua sampai tiga jam ke depan di ruang kerja." Alis Kenta menaut satu sama lain. "Apa kau membutuhkan bantuan kakakmu sekarang?" Fagan menggeleng. Ekspresinya terlihat bosan. "Kami saling membantu satu sama lain. Itu yang aku lakukan saat ini bersama Ivan." "Aku tidak terlalu menyukai ide adanya pesaing putraku di luar sana. Mereka bisa saja berbuat apa pun kepada kalian. Aku kesal ketika keluarga dikaitkan ke masalah yang tidak seharusnya," ungkap Kenta resah sembari perlahan menyantap bubur jagung sarapan dengan tenang. Fagan memberinya senyum tipis. Mengulurkan tangan untuk meremas lengan rapuh bawah sang ayah yang rapuh. "Jangan gelisah. Aku bisa mengatasinya semuanya dengan baik." "Aku percaya padamu." "Mengapa kau sarapan di sini?" "Meja makan terlalu monoton. Aku butuh udara segar dan ini alasanku pindah kemari untuk sementara," aku Kenta jujur. "Nina yang membereskan kamar. Dia beberapa kali berkonsultasi dengan dokter untukku. Sebenarnya dia perempuan yang baik." "Nina lebih dari peka dan profesional. Dia sangat bisa diandalkan." Kenta mendengus kecil. "Juga sangat kaku. Sebelumnya dia tidak menyukai ideku yang ingin berkeliling selagi bisa membebaskan diri. Tetapi aku bersikap keras kepala dan kami sempat berdebat kecil khas anak-anak. Aku sempat bicara akan bermain lompat tali atau menumpangi ayunan dari lantai dua sampai bawah agar bisa melarikan diri." Fagan memucat mendengar kalimat sang ayah. "Tetapi tidak kulakukan. Aku masih kasihan padanya dan kau mungkin akan mengomel pada Nina karena tidak becus dan lalai atas diriku. Karena kau tidak akan bisa melepasku sebagai ayah," timpal Kenta senang memberi putranya seringai dan Fagan membuang muka jengkel. Vania muncul dengan nampan baru penuh makanan. Dia membawa teko minuman hangat. Lama di dapur karena menunggu rebusan air. "Ini sarapannya. Silakan dicicipi selagi masih terasa lezat." Fagan menghidu aroma masakan yang sarat rumahan dengan khas. Sesaat dia tercenung dan tanpa sadar Kenta menatapnya penuh sayang. Putranya terlihat merindukan rumah. Merindukan ibunya sesaat. "Apa kau jadi berangkat?" tanya Kenta dan Fagan mengangkat kepala penuh tanya. "Siapa yang akan pergi?" "Vania," imbuh sang ayah. "Dia berniat pergi ke kota." "Untuk urusan apa?" "Mau apa kau ke sana?" "Berbelanja. Apa lagi?" Kenta menyela bosan dan menggeleng ketika Fagan menyipit pada Vania yang menyerah, lalu memberi anggukan setuju. "Kau tidak mungkin bisa pergi ke kota tanpaku." "Aku bukan anak kecil yang perlu kau tuntun," sembur wanita itu sinis. "Tidak akan lama menghabiskan waktu di sana sendirian." "Biarkan saja. Vania pasti kembali sebelum senja. Kau pun sama sibuknya. Dia perlu bernapas sebentar dari pulau ini." Kenta dengan senang hati membelanya. Berhasil membuat Vania menghela lega saat Fagan tidak lagi mendebat dan hanya menatapnya penuh penasaran, seakan ingin mencari kebenaran di dalam kepalanya secara tersirat. *** "Apa kau tersesat?" "Tidak, " Vania memutar badan dan menemukan sesosok pria tampan dengan topi hitam yang unik bersama seulas senyum canggung. Saat dia mengulurkan tangan, membantu Vania untuk mundur dari barisan para remaja yang antusias melihat ukiran arti nama pada tembok arca. "Aku berdiri di tempat yang benar," memberi penekanan dan pria itu masih memberinya senyum. "Baiklah kalau begitu." Vania menarik tangannya lepas. Merasa kikuk selama beberapa menit. Mengusap bagian kotor di sekitar gaunnya kemudian menarik napas. "Terima kasih." Sudut bibir itu tertarik bingung. "Untuk apa?" "Aku hampir terjatuh berkat dua gadis di sana yang bersemangat. Nyaris tergelincir sepatuku sendiri. Kakiku bisa saja terkilir atau kram," akunya dengan ringisan. Untuk beberapa saat Vania merasa terpana karena pria itu masih memberinya keramahan. "Kau bisa menepi di dekat sini," aturnya dengan memberi Vania ruang untuk bergerak. Ketika mereka lepas dari barisan, Vania segera mengambil tempat untuk duduk seraya meluruskan kaki. "Biarkan aku belikan minum." "Iya, terima kasih banyak." Pria itu melesat untuk mencarikan sebotol air dingin. Sesuai ucapannya dan kurang dari tiga menit sudah kembali. Bersama dua air dingin segar di tangan. "Minumlah dulu." "Apa kau turis luar kota?" "Bisa dibilang. Aku bersantai dengan berkeliling tempat wisata. Cukup penasaran dengan pulau pribadi yang dimiliki salah satu pengusaha ternama," katanya dengan serius. "Kau sendiri?" "Aku pun sama," cicitnya pelan terburu-buru menegak air dingin. "Kota ini bagus dan tidak terlalu sesak dengan banyak anggota penduduk. Setiap bentuk bangunan memanjakan mata. Aku tidak salah pergi ke tempat bersejarah." Senyumnya terulas ramah. Vania mendapati dirinya terkagum akan sosoknya. Memandang tekstur bagian rahang dan matanya yang bersinar tertimpa cahaya matahari sore. "Kalau begitu kita punya selera yang sama." "Aku merasa demikian." Vania hanya mengangguk. Memberikan tempat teruntuk sepi menyelusup masuk. "Aku belum memperkenalkan diri. Namaku Adis dan kau?" "Panggilan yang tidak asing. Apa kita dari negara yang serupa?" Alis Adis tertaut penuh tanya. "Benarkah?" "Bahasa internasionalmu cukup fasih dan jelas. Aku terkesan dengan ucapannya. Dan aku Vania, senang bertemu denganmu." Bersamaan dengan senyum dan sorot yang melembut. "Melegakan karena aku tidak perlu lagi berpura-pura memakai bahasa yang terkadang membuat lidahku kesulitan. Kau datang sendiri?" "Aku sendirian," dia merasa dilema sebentar. "Sebenarnya tidak juga. Aku kemari bersama teman. Tapi karena saat ini aku sedang berjalan dan mengelilingi sekitar." "Tidak bersama mereka?" Kepalanya menggeleng lemah. "Aku paham. Setiap orang punya kesibukannya sendiri." Adis lantas tidak membahasnya. Obrolan mereka mengalir sampai pada pekerjaan Adis sebagai fotografer lepas yang menyukai sensasi unik. "Sebenarnya tidak hanya itu. Aku turut membuka kedai ukiran. Kau tahu, bagi mereka yang menginginkan karya seni di kulit. Di sela senggang terkadang melukis." Vania tercengang. "Kau menjalani semuanya seorang diri?" "Tidak, aku dibantu beberapa tangan kanan berbakat. Mereka orang yang kupercaya untuk memegang pekerjaan. Pada dasarnya aku hanya suka mencari peluang dan keberuntungan," balas Adis bangga dan Vania malah tersenyum mendengarkan. "Bagaimana kisahmu?" kini bergantian Adis menatapnya penasaran. Semangat mendengar suara Vania sekali lagi. "Aku berasumsi pekerjaanmu menyenangkan." "Kau salah menduga karena aslinya tidak seperti itu," katanya dengan tawa hambar. "Aku bekerja sebagai staf biasa. Tidak menetap dan bukan pekerja paruh waktu." "Hanya sebagai pegawai kontrak?" "Semacam itu disebutnya," balas Vania lirih. Adis tertarik sampai kedua matanya menyipit. "Aku melihat kau cukup hebat. Menjadi seorang staf bukan salah besar. Itu pekerjaan potensial demi membantu banyak orang. Selama kau menikmatinya, pekerjaan akan terasa lebih lepas." "Kau benar." Ringisan lain muncul dan Vania kembali mengenang saat terakhir dia pergi dari restoran Lucy minggu lalu. "Apa kau di sini untuk memotret?" "Sebagai salah satu ide lukisan nanti." Adis dengan senang hati memberikan kamera mahalnya pada Vania. Memberitahu contoh gambar menakjubkan yang tertangkap lensa dan diambil dari sudut yang tempat. Potret itu seolah hidup dari sebuah benda. "Kau terbiasa membiarkan karya ini dipajang di depan umum?" Adis tersenyum pahit. "Tidak, sebetulnya menyukai itu sebagai koleksi pribadi. Oh, aku juga tidak menggelar pameran seni dalam bentuk apa pun. Ini bersifat rahasia dan sekarang kau tahu." Vania meremas lengannya sendiri. Ada rasa tidak nyaman menyisip masuk membuatnya sedikit canggung. "Kau seharusnya lebih berani tampil." "Aku cukup melakukannya. Namun tidak sampai ke tahap memperlihatkan karya cantik ini di hadapan mereka semua. Tidak manusia sebaik itu. Aku hanya ingin melindungi apa yang kumiliki." Kepalanya terangguk mengerti, mengiyakan dalam hati. Saat Vania mengalihkan pandang menyadari hari mendekati senja. "Di mana kau menginap?" "Suatu tempat yang berjarak dari sini," cukup ambigu dan Adis mengangkat tangan tidak kembali bertanya. "Kau sangat seru. Sayangnya tidak akan ada hari esok untuk bertemu. Ini sudah hampir gelap, kota akan sedikit menakutkan jika malam." Adis bangun dari kursi menunggu Vania yang ikut berdiri untuk bersiap. Vania memberi sebuah senyum samar. Memandang pria itu lekat sekali lagi dan sebisa mungkin mengingatnya. Setidaknya mereka pernah bertemu dan dirinya tidak merasa sendiri di kota kecil ini. "Perlu kuantar sampai terminal?" "Tidak, terima kasih kau baik sekali. Aku harus pergi untuk belanja kebutuhan dan pulang setelahnya." Adis tidak bersuara. Menunjuk sebuah supermarket agak besar dan bertuliskan buka selama dua puluh empat jam. "Di sana lumayan lengkap. Kalau hanya mengisi kulkas kau mendapat lebih banyak." "Aku ke sana sekarang." Dengan senyum hangat, pria itu lekas membungkuk. Melambai ringan pada Vania sebelum memutar badan membiarkannya sendiri lalu mereka berjalan melawan arah. Acara belanja hanya memakan waktu sepuluh menit. Vania mendapatkan jajanan yang dia mau serta bahan yang sekiranya habis di kulkas. Satu troli penuh dan dia membayar dengan kartu. "Ini sudah terlalu banyak, terima kasih bantuannya." "Sama-sama." Tangannya sedikit kesulitan mengangkat plastik belanjaan. Sementara dirinya harus berjalan pergi melewati jembatan untuk sampai di kapal cepat setelah menumpangi taksi. Dering ponsel membuyarkan atensinya pada mobil yang terparkir di tepi jalan. Vania menaruh barang bawaan di atas trotoar, terburu mencari ponsel. Tidak ada nama tertera. "Halo?" "Berputarlah." Vania menautkan alis, masih bersama ponsel yang menempel di telinga kiri dan menuruti dalam diam. Kemudian melongo menemukan siapa sosok yang muncul dengan mobil serupa kemarin. *** "Kau hanya belanja makanan biasa?" Nina menghela napas lelah. Melepaskan mangkuk sereal miliknya dan segera mencuci tangan. Tahu bahwa sebentar lagi akan ada perselisihan baru, dia harus segera melarikan diri. "Kau terdengar tidak suka," tuduh Vania muram memindahkan belanjaan ke kulkas dengan perlahan. "Aku suka makan dan membeli jajan itu penting." Fagan mendengus datar. "Lucu sekali. Kulkas pasti terisi sendiri kalau itu kosong. Kenapa kau harus membiarkan semua itu dengan uang sendiri?" "Karena aku mau melakukannya." Ekspresinya berubah agak pekat. Vania membuang sampah ke tempatnya, membersihkan tangan dan masih melihat Fagan menunggu dengan kesabaran yang berlebihan. "Aku perlu bicara sebentar denganmu." "Aku mau tidur." Vania mengangkat tangan tidak sama sekali panik pada sorot dingin itu. "Menghabiskan banyak tenaga setelah berjalan." "Kau bisa membersihkan diri karena aku tidak akan terlalu lama." "Kau bercanda. Sebentar bagimu adalah tiga puluh menit. Waktuku terbuang percuma," kata Vania ketus seakan meledek di depan pria itu. "Kita bisa bicara besok lagi." Yang selanjutnya adalah Vania berjalan melewatinya. Menaiki anak tangga dengan tergesa dan berhenti di kamar. Mengambil napas panjang lalu bersiap membasuh diri di kamar mandi. Pancuran air hangat berhasil membuatnya rileks. Lima belas menit dia mandi, Vania muncul dengan jubah tebal yang membungkus sebatas kaki. Bergumam karena menemukan Fagan duduk di sofa, berlatar jendela yang mengarah ke kebun dengan santai. "Kau selalu muncul seperti hantu. Ada apa kau kemari?" "Aku suka ketika kau mencela," ujar pria itu datar. "Karena kau tidak mau bicara dan datang di kantorku, aku yang berkenan untuk menghampirimu di sini." Bibirnya terkatup, tangannya membatu di sisi tubuhnya. "Kau benar-benar aneh." "Tidak sama sekali. Kau yang membuatku kehabisan kesabaran." Suaranya terdengar keras. "Dalam hal apa?" "Banyak. Kau selalu menguji diriku," Fagan berkata santai menyesap gelas terakhir minuman dan bangun dari sofa. Vania merasakan firasat buruk setelahnya. "Apa kau pergi untuk belanja atau sekadar berbincang mesra dengan pria?" Senyum Vania terbit penuh ironi. "Fagan, itu sama sekali bukan urusanmu. Aku jelas menyukai acaraku tadi." "Aku juga berpikir begitu. Tapi realita yang kulihat sama sekali tidak. Apa kau baru saja bertemu turis tampan?" Vania mendesis, merasa kesal bukan main. "Kau tidak bisa mendesakku seperti ini. Dari sisi mana pun dirimu terlihat tidak suka." "Memang." "Apa urusanku?" tanya Vania malas. "Kita akan menikah. Pengaturan untuk dekat dengan pria lain tidak ada dalam aturan." Vania membelalak, nyaris jatuh karena tawa geli. "Kau tidak masuk akal. Mana ada begitu? Aku tidak mau menikah denganmu." Fagan hanya diam. Sepenuhnya hanya tidak mendengar. Saat langkahnya semakin maju, secara pasti memangkas jarak di antara mereka. Kemudian terkesan karena Vania tidak mau mundur atau bersembunyi seperti tikus kecil. "Kau setuju. Hanya belum mengakui secara gamblang." Sentuhan tangannya mengaburkan bayangan Vania akan realitas. Jemari Fagan yang besar dan lembut menyapu pipinya lalu mengusap rambutnya yang sedikit mengering. Sorot matanya berubah penuh arti, hangat dan tidak terbaca. Wangi pria itu melingkupinya secara mendadak seolah memberinya dekapan tanpa mau melepaskan. "Jika kita bicara di ruanganku, aku tidak mungkin berbuat aneh. Tetapi sekarang kita di ada di kamar, bicara itu tidak perlu. Ada sesuatu yang tak bisa diabaikan." Vania membeku, hampir kehilangan napas normal. "Berikan aku waktu untuk berganti pakaian." "Sudah terlambat." Ia harus memegang ujung jubahnya erat saat dirinya terhampar lembut ke atas ranjang. Fagan dengan cepat melingkupinya. Tidak sama sekali memberinya ruang untuk bergerak. Napas pria itu berubah cepat, parfum pada bajunya membuat Vania berdesir. "Aku tidak akan menikah denganmu." Suaranya terlalu pelan dan hampir berbisik. Tapi Fagan terlanjur mendengarnya. Selagi mereka bertatapan dan senyum pria itu merekah bagai penuh kemenangan. "Aku punya ide yang lebih bagus." "Kau tidak bisa membuatku mengandung calon anakmu." Fagan menautkan alis, terkejut dengan kalimat wanita itu sebelum dia akhirnya menunduk untuk membungkam semua protes dan penolakan. Rasa Vania terlalu manis, candu untuk dilewatkan. Harum tubuhnya yang segar sehabis mandi berhasil mengosongkan semua isi kepala dalam fantasi yang menyenangkan. Vania melemah dalam pelukan tangannya. Saat salah satu tangan yang bebas bergerak untuk membuka, melihat perempuan itu dalam satu tarikan lepas. Vania terpejam di bawahnya, begitu tak berkuasa dan siap. Jika malam itu Fagan bersikap hati-hati dan santai, kali ini dia tidak lagi menahan diri. Vania mampu membuatnya kesal tanpa sebab. Setimpal itu penting. Minuman tadi berhasil membuat segalanya lebih mudah. Tangan terampilnya turun ke bawah bagian yang merekat satu sama lain untuk menatap keindahan. Sementara Fagan kesulitan fokus, tidak sanggup menelan bayangannya sendiri ketika tergesa membebaskan pakaian yang sesak. Suara gerutuan mengalun lemah. Vania memegang kedua bahunya dengan erat, seakan menyalurkan rasa antusias dan kebingungannya sendiri ketika Fagan menunduk memberi sentuhan lembut pada pipi dan lengan itu dengan lembut. Semua yang ada di diri wanita itu seolah telah siap untuknya. Napasnya berhamburan dengan cara tak biasa. Terkesiap karena menemukan dirinya terlalu bersemangat sampai tak bisa menahan akalnya lagi. "Aku harus menjadi satu denganmu." Vania bergumam dengan ujaran lemah. Tercekat ketika matanya membuka, menemukan dirinya kembali terbang karena sensasi malam itu baru saja kembali. Sesuatu yang mendesak mulai menghampiri. Seakan bersiap untuk membuat kacau dirinya dalam satu jam ke depan. Fagan kembali memeluk. Merasakan Vania dengan sentuhan lirih. Lalu semuanya membaur dalam satu ritme yang membebaskan. Dahi mereka saling melekat. Vania tidak kuasa membuka mata saat Fagan mampu membuat pikirannya mengabur. Sebisa mungkin tidak mengeluarkan bukti apa pun agar Fagan tidak merasa menang atas dirinya. Namun itu terasa sangat sulit. Kedua matanya berhasil menatap, terkejut karena mendengar pria itu bergumam dan mendekap dirinya tanpa mau melepaskan. Dunianya perlahan memutih, bergerak kosong untuk menguras habis semua tampungan tenaganya. Suara yang bersahutan, bibir yang kembali bergetar dan desakan menuju satu titik yang membuat segalanya abu-abu, memutih menuju angkasa. Satu hingga hitungan ke empat berhasil membuat Vania membisu, menghentikan dirinya sendiri untuk tidak menjerit karena merasakan Fagan pada dirinya. Seakan pria itu mau berlama-lama di sana, tidak membiarkan malam mereka berakhir sampai di sini. Dengan tersengal, kesadaran perlahan muncul dengan gerakan mengetuk pelan. Vania mengambil oksigen, memandang pria itu yang kelelahan. Rambut legamnya basah. Semuanya terasa pas dan seketika dia mulai tak nyaman. "Kau tidak memakai apa pun saat kita melakukannya." Suaranya tercekat, pucat mendadak menjalar bagaikan akar tumbuhan rambat. "Aku sengaja," balasnya tanpa mau melepaskan diri. Vania bersiap mengambil kalimat kembali saat gerakan itu muncul secara tiba-tiba untuk mengejutkannya. Spontan, dia kembali hendak memprotes. Menemukan Fagan yang menyeringai, mencium lama pipinya dengan usapan lembut. "Berbalik." "Apa?" otaknya seketika lamban mencerna. "Kita masih jauh dari kata usai."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD