"Ini tumpangan yang sama saat kita datang kemari."
Ada seseorang yang memegang kemudi. Karena ombak cukup santai dan cuaca sangat bersahabat, Vania mulai rileks. Sebenarnya dia sangat takut dengan laut dan masih setia berpikir kalau megalodon itu masih ada dan hanya menunggu waktu untuk memunculkan diri.
Pikiran konyol itu mengganggunya. Ia tidak sanggup menatap laut lebih lama walau begitu indah. Pulau itu berhasil merubah pandangannya. Selagi dia sedang menyeberang, kegelisahan itu malah kembali.
Fagan menatapnya penuh selidik. Vania menunduk, berpura-pura sibuk dengan tas dan kukunya. Sebelum kesenangan muncul karena bisa menatapnya lebih lama, dia menemukan perempuan itu sedang mencoba menggigit kuku kiri.
"Aku sama sekali tidak bercanda ingin memberi tanda pada tanganmu semisal kau berani melakukannya."
Tangan itu bergerak turun dengan masam. Vania menatapnya selintas lalu membuang muka tidak mau mendebat.
Sepuluh menit perjalanan dan mereka sampai di dermaga. Vania merapikan rambutnya yang terjuntai manis. Ia hanya memakai penjepit poni dan tidak ingin mengikat rambutnya seperti biasa. Namun sekarang dia menyesali keputusan spontan itu. Mungkin rambut ini telah berubah menjadi singa betina. Mekar dan sulit diatur.
Fagan terus memerhatikan selagi mereka menunggu mobil tiba. Wanita itu mencoba merapikan sisa yang kusut dengan tangannya, lalu menarik napas karena beberapa kali tidak berhasil mengurai kesulitan.
"Kau perlu bantuan?"
"Apa kau punya sisir?" Vania bertanya tanpa malu. "Aku lupa membawanya di dalam tas."
Kepala itu menggeleng. "Kita bisa membelinya."
Mobil datang bersama seorang pria. Setelah berbicara singkat, Fagan menghelanya masuk ke dalam. Vania sempat cemas, menumpangi mobil mewah berharga tidak murah dan duduk di dalamnya seakan dia perempuan sosialita.
"Kota memang tidak seramai di negara kita tetapi ini cukup baik. Beberapa perkembangan mulai terlihat di sini secara tuntas."
Fagan menjelaskan dengan dirinya yang terus melihat jalan bersama pandangan kagum. Bangunan yang terbangun terbilang cukup unik memiliki gayanya sendiri. Serta dua jalur berbeda untuk pesepeda dan pejalan kaki sangat tertata. Efektif untuk mengurangi kepadatan serta pengemudi kendaraan beroda empat yang sembarangan menyetir.
"Ada suatu tempat yang ingin kau kunjungi?"
"Bagaimana dengan bangunan lama? Kau tahu, seperti peninggalan sejarah. Aku rasa itu tampak bagus."
"Museum, maksudnya?" Kening itu berkerut dalam.
"Ya, apa itu ada di sekitar sini?"
"Aku rasa ada. Hanya saja kita perlu masuk sedikit lebih jauh," katanya ragu.
Perjalanan memakan waktu hampir sepuluh menit. Saat orang lain berkumpul untuk melihat menara tua dan Vania yang antusias segera turun untuk bergabung.
"Kau menyukainya?"
"Bagaimana denganmu?"
"Tidak, ini membosankan. Apa bagusnya menara itu?" Fagan berbisik lebih rendah bermaksud hanya agar Vania yang mendengarnya.
"Bangunan lama menyimpan banyak sejarah. Kau tahu? Ini budaya yang harus dilindungi. Semua orang perlu mengingat tentang sejarah negara mereka sendiri."
Fagan mengambil napas. Membiarkan wanita itu melihat berkeliling saat dirinya tetap mengikuti. Sesekali melirik dan tercenung, kemudian membuang muka. Anak rambutnya masih sedikit kusut namun masih tampak indah.
Satu sentuhan mampir di rambut Vania yang terurai. Ia membeku bingung. Menyadari siapa yang mencoba meluruskan bekas kusut menyebalkan di rambutnya. "Ini cukup kering. Kau seharusnya lebih memerhatikan dirimu sendiri," komentar pria itu berhasil membuatnya tertegun.
Vania tidak nyaman. Namun dia sama sekali tidak bisa bergerak. Napasnya berhamburan gemetar. Saat pengunjung bergeser ke dalam, dia ikut bergerak dan Fagan melepas tangannya dari sana tanpa suara.
***
"Astaga, kepalaku terasa tidak normal. Kenapa kau di dalam?"
Vania tersentak ketika dia menemukan Fagan ada di ruangan, bersandar pada pintu kamarnya yang tertutup dengan kemeja hitam dan celana kain sama seperti pakaian yang pria itu pakai ketika mereka pergi siang tadi.
Mata pria itu memicing. "Kenapa kau berenang di tengah malam?"
"Kenapa kau peduli? Airnya hangat." Vania membalas dengan dengusan, beralih ke lemari pakaian yang menyimpan satu koper miliknya. Ia menyusunnya dengan rapi. Tidak membiarkan isinya berantakan sama sekali.
Fagan tidak bersuara yang malah membuat Vania curiga sekaligus jengkel. Ketika dia berbalik, menyipit pada sosok itu sebal. "Kau bisa keluar? Aku harus berganti pakaian." Sembari berpegangan dengan tali jubah mandinya erat.
"Aku pernah melihatmu lebih dari itu."
Kalau Vania diberi tiga permintaan dari sosok biru transparan yang muncul dari cawan, dia akan meminta kesabaran tiada habis jika menemukan kembali manusia seperti Fagan di masa depan.
"Oke, semua terserah padamu." Lalu masuk ke dalam kamar mandi, terlalu tergesa memakai baju tidurnya.
Kali ini pria itu duduk di tepi ranjang. Jika sebelumnya punggung itu bersandar pada daun pintu, kini menyentuh seprai ranjang yang nyaman. Fagan mematung, memandang lampu kamar di atas nakas dalam diam.
"Ada masalah?"
"Tidak ada yang serius."
"Nina bilang padaku, ayahmu baik-baik saja." Vania berujar lirih. Karena sepertinya suasana hati pria itu buruk. "Apa sesuatu terjadi?"
"Tidak ada secara khusus. Apa kau menikmati kegiatan tadi siang?"
"Iya, tentu saja. Karena kapal itu selalu sedia dua puluh empat jam aku mengira pulau ini tidak punya taksi air. Apa itu milikmu?"
Fagan mengangguk pelan.
Vania mengambil napas. Membiarkan sisa rambutnya yang setengah kering jatuh di punggungnya. Ketika dia ikut duduk di atas ranjang, bersandar pada bantal besar yang nyaman.
"Apa ayahmu bicara sesuatu?"
Sorot mata itu dingin. "Ya, kau ingat apa yang sebelumnya kalian bicarakan?"
Keningnya mengernyit sedang berusaha mengingat. "Hampir semuanya." Lalu mendengus pelan. "Apa ini tentang aku yang ingin pulang dan bekerja?"
"Kau tidak suka jika aku menanggung hidupmu?"
Cebikan keras mampir. Vania mengusap pelipisnya dengan tampang pahit. "Kau pikir siapa? Aku bisa menanggung diriku sendiri. Dimulai dari makan, kehidupan sampai sandang."
"Kau terlalu mandiri."
"Memang. Aku merasa mandiri sejak remaja dan itu keharusan. Sebuah tuntutan hidup," timpalnya datar. "Kau mungkin tidak pernah menemukan perempuan seperti aku."
"Tidak, mungkin saja banyak. Tapi aku tidak mengenal mereka."
Vania tersenyum miris. "Lantas, apa kita saling mengenal?"
Sorot mata itu merenung. Fagan bungkam selama kurang lebih lima menit yang berjalan percuma.
"Aku selalu membatasi sesuatu hal yang bersifat pribadi. Kuanggap kau pun sama." Akhirnya dia memutuskan dan Vania bisa bernapas lega.
"Kau mungkin tidak percaya ini. Tetapi aku sepenuhnya tidak mendapat keuntungan dari bisnis itu untuk diriku sendiri."
Alis itu tertaut syok. "Apa maksudnya? Mereka tidak memberimu pembagian hasil dengan benar?"
"Bukan," napasnya terdengar lebih pendek. "Aku merasa tidak membutuhkannya. Hanya sedikit bagian yang aku terima dan itu cukup."
Sebuah desisan muncul. Fagan memandangnya seakan dia baru saja bergurau. "Dasar aneh. Kau membangun bisnis itu dengan penuh perjuangan dan tidak menerima sepeser pun hasilnya. Apa gunanya semua itu?"
Vania tidak akan menjelaskan. Sekarang, dia memilih diam. "Sejujurnya, aku lebih senang bekerja."
"Ibuku seorang staf biasa dan sama sekali aku tidak pernah mendengarnya mengeluh akan masa lalunya," Fagan bergumam lirih, rautnya berubah saat sedang mengenang sang ibu. "Dia bangga karena pekerjaannya. Berkah yang membuatnya lebih hidup."
"Bisa aku tanya sesuatu?"
Seketika mimiknya berubah datar. Vania hanya memberi senyum tipis yang sarat penuh rahasia. "Kau mirip ibu atau ayah?"
"Ibu."
Realita memeluknya seperti gulungan ombak. Vania tidak mau membiarkan ekspresi sedih sedikit pun muncul dan Fagan melihatnya untuk sekadar menaruh kasihan.
"Aku berasumsi, Ivan mirip ayahmu. Itu semacam menandakan kalian anak mereka."
Fagan mengangkat alis. "Kau sendiri?"
"Aku tidak tahu dan hanya besar bersama ibuku. Ayah tidak ada. Rasanya sudah lama sekali," ucapnya lirih menguatkan hati untuk tetap menghimpun rasa percaya diri. "Tak ada apa pun untuk mencari keberadaannya."
Kening Fagan berkerut penasaran. Namun dia hanya diam.
"Kau tidak boleh pergi," ujarnya setelah mereka terlalu nyaman bersama sepi. "Aku belum menerima jawaban atas apa pun."
Kedua matanya melebar. "Kau tidak bisa melihatnya sekarang? Ya Tuhan, aku tidak menerima lamaranmu."
"Alasanmu tidak bisa kuterima." Fagan menepis dengan desisan. "Aku tidak akan memperlakukanmu dengan buruk semisal kita menikah."
"Oh, siapa tahu?" Tidak bisa menahan diri dari raut murung. "Para pria biasanya suka bermain dengan janji pernikahan."
"Apa itu mengarah pada reputasiku?"
"Reputasimu cukup populer. Tapi tidak terima kasih. Kau bisa mencari perempuan lain."
Fagan hanya bergeming. Jika menelisik dari ekspresinya, Vania bisa melihat pria itu mencoba menahan diri. Tidak marah atau kesal seperti biasanya.
Karena setelahnya Fagan mendekat, meraup dirinya seperti kertas kosongan dan mendekapnya erat. Tidak memberikan ruang untuk pergi atau melepaskan diri. Yang bisa Vania lakukan jika ingin bebas adalah meminta.
"Kau yang tidak mendengarku. Aku tidak ingin perempuan lain," bisiknya penuh perhatian menyebar dari kulit telinga Vania sampai ke seluruh bagian lainnya. "Aku hanya mau kau."
"Aku tidak bisa menerimanya."
"Aku hanya ingin anak yang sah," balasnya dengan lirihan mulai terusik dengan harum alami wanita itu menyebar ke seluruh sinyal kepalanya. "Kalau kau ingin bebas, aku bisa membebaskanmu. Kau bisa pergi ke mana saja."
"Kau keterlaluan. Bagaimana bisa aku melepaskan diri seandainya aku punya anak? Aku juga ibunya," semburnya pahit berpaling dengan wajah menjauh. "Aku tidak akan bisa melakukannya karena dia anakku."
"Nah, maka dari itu kita akan membuat pengaturan. Yang terpenting adalah ayah mendapatkan apa yang dia mau."
"Kau bisa mencari anak atau berdiskusi ide lainnya."
"Tidak ada adopsi sampai nanti. Aku masih bisa membuatnya. Karena aku sehat dan tidak punya masalah." Tangannya tidak berhenti untuk menyentuh, berhenti di daerah punggung yang terbuka. Baju tidurnya terlalu mudah dan Fagan sedang berkabut memikirkan keajaiban yang bersembunyi di dalam diri seorang Vania.
"Kau tidak bisa mendesakku," ujarnya lirih seraya mendongak agar pria itu mau menatapnya dan bukan terus mencium pipinya. "Aku bisa menolakmu."
"Aku tak mau menerima alasannya."
Vania mendengus keras. "Apa kau berpikir hubungan semalam kita hebat? Kau bisa berbuat seenaknya, begitu?"
Fagan memundurkan kepala. Matanya bertemu dengan mata Vania yang bersinar redup di bawah sinar temaram lampu kamar.
"Apa kau merasakannya juga?"
"Aku tak merasakan apa pun selama malam berjalan."
Sebuah seringai miring terpatri tipis. Fagan membiarkan Vania menang bersama pendapatnya. Jadi dia hanya diam kemudian membungkam segalanya dengan satu ciuman panjang.
Dia sengaja membuat Vania tahu bahwa dirinya mendamba. Malam itu adalah hari yang panjang dan Fagan tidak pernah sama sekali bersama seorang seperti Vania. Memori itu tidak terlupakan untuk waktu yang lama.
Jadi ketika bibir mereka kembali bertemu untuk yang kesekian kalinya, sensasi itu masih tetap sama. Seolah dia bisa menempatkan kemanisan itu untuk dirinya sendiri.
Kebutuhannya mulai merambat naik. Saat Fagan membiarkan tubuh yang dia peluk berbaring beralaskan seprai putih yang menyebar memenuhi ranjang, pikirannya mulai meroket cepat.
Selanjutnya tak Fagan sangka adalah wanita itu menarik bahunya untuk terlentang, lalu merangkak naik dan duduk di sana. Kembali menciumnya lebih dari yang tidak bisa dia bayangkan.