~Selamat membaca
Garen memutuskan untuk melewatkan sarapan pagi agar bisa menghindari Serena. Percakapan singkat mereka semalam membuat pria itu mulai di landa keresahan tak beralasan.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kamarnya membuat Garen mematung, namun Garen akhirnya memilih untuk mengabaikan suara ketukan hingga tak lagi mengusiknya.
Dia yakin Serena pasti ingin memastikan dirinya tak terlambat ke kantor. Wanita itu selalu memastikan segala persiapan juga kebutuhannya terpenuhi, meski melalui perantara seorang ART.
Namun kini sang ART sedang tak berada bersama mereka, Serena pasti khawatir dirinya terlambat karena harus menyiapkan segalanya seorang diri.
Padahal Garen hanya berusaha untuk mengulur waktu, demi menghindari Serena agar tak melanjutkan obrolan menyebalkan semalam.
"Mau sampai kapan kamu akan menghindariku, Garen?" lirih Serena tersenyum miris menatap daun pintu kamar utama yang di tempati Garen. Wanita itu akhirnya memilih untuk meninggalkan lantai dua karena dirinya harus segera menemui seseorang.
Namun sebelum pergi, Serena masih menyempatkan diri untuk membuat sarapan kesukaan Garen.
Garen kini seperti seorang penguntit. Pria itu mengintip kepergian istrinya melalui celah gorden kamarnya. Setelah mobil yang Serena kendarai meninggalkan pelataran rumah, barulah Garen bergegas keluar dari kamarnya.
Selain dirinya sudah sangat terlambat, perutnya pun meronta minta segera di isi. Sejak semalam Garen belum memakan apapun. Hanya karena tak menyukai pembahasan mengenai perpisahan mereka, Garen memilih mendustakan rasa lapar yang melilit perutnya.
Setiba di lantai bawah, Garen tertegun menatap meja makan yang tersaji sarapan untuknya. Ia pikir Serena tak akan melakukannya mengingat wanita itu pasti kesal akan sikapnya semalam.
Tetapi Garen melupakan satu hal, Serena bukanlah tipe wanita yang memiliki sifat kekanakan seperti Laras. Serena wanita yang selalu bersikap elegan meski sedang tersudut sekalipun.
Dengan langkah lebar Garen menghampiri meja makan. Aroma nasi goreng langsung menyeruak indera penciumannya. Perutnya langsung meronta ingin segera di kenyangkan. Garen menggeser kursi depan kasar, karena selain sudah sangat lapar, ia juga harus berburu dengan waktu.
"Aku pikir kamu tak akan memasak setelah semalam aku bersikap menyebalkan terhadapmu." Monolog Garen sembari membuka penutup sarapan yang Serena tinggalkan.
Dengan lahap pria itu menyantap sarapannya, sesekali ia melirik pergelangan tangannya untuk memastikan masih ada cukup waktu, sebelum ia melakukan pertemuan dengan klien.
****************
"Apakah harus berakhir dengan perpisahan, nak? papa masih berharap ada keajaiban dalam hubungan kalian agar tetap bertahan." Lirih Hidayat tak bersemangat. Sebuah berkas perceraian yang Serena ajukan kini terpampang di hadapannya.
Pria paruh baya itu harus mendengar berita tak mengenakan sebagai pembuka hari yang kian terasa panjang dan melelahkan.
Serena mengulas senyum tipis seraya meraih telapak tangan lebar yang selalu memperlakukannya bak putri kandung.
"Serena sudah menunggu keajaiban selama bertahun tahun pa, tetapi takdir masih belum berpihak kepada Serena. Garen telah melupakan janji janjinya, dan menemukan cinta sejati yang mampu mengubur semua kenangan masa kecil kami. Serena sudah berusaha untuk bertahan selama satu tahun ini, agar bisa lebih dekat dan membuat ingatan Garen kembali. Itupun tidak berhasil," Serena menjeda kalimatnya dengan helaan nafas panjang.
Hidayat tau bila menantunya telah mencoba begitu keras mengembalikan semua kenangan masa kecil mereka, sayang putranya yang tak pernah peka. Berkali-kali pula Garen menepis setiap kali bayangan Serena kecilnya muncul di ingatannya.
"Papa tau apa yang paling menyakitkan? ketika kita mencintai seseorang dengan harapan yang terlampau tinggi, tetapi sama sekali tak berarti apa-apa. Aku merasa menjadi sosok wanita paling serakah bila terus berupaya mempertahankan pernikahan kami. Garen dengan jelas mengatakan bahwa kehadiranku adalah sebuah kemalangan paling sial dalam hidupnya. Garen tak pernah berusaha memandangku sebagai seorang istri, tetapi sebagai orang yang telah merampas kebahagiaan dan kebebasan hidupnya. Itu artinya, sudah saatnya aku menyerah atas kekalahan telak yang tak dapat aku elak. Laras menang dalam mendapatkan cinta Garen, dan aku kalah dalam segala galanya." Pungkas Serena dengan nada tenang.
Namun jauh di dasar hatinya, Serena menahan nyerinya luka menganga yang Garen goreskan.
"Temuilah kakekmu di rumah peristirahatan tepi danau, sebelum kamu memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga Rahardian. Ingatlah, pintu manapun yang kelak akan kamu ketuk, papa akan membukanya dengan suka cita." Pungkas Hidayat akhirnya.
Ia tak memiliki kuasa untuk menahan Serena lebih lama dalam kubangan air mata yang Garen sebabkan.
Serena mengangguk sembari menahan diri agar tak menumpahkan air matanya. Setelah berpamitan, Serena meninggalkan Hidayat yang masih enggan beranjak meninggalkan restoran.
Terlalu berat bagi Hidayat untuk melepaskan Serena. Selain wanita malang itu telah menjadi yatim piatu, Serena adalah menantu kesayangannya. Namun apa daya, putranya tak pernah merasa bersyukur memiliki wanita sebaik Serena dalam hidupnya.
"Papa harap kelak kamu tak akan menyesali perbuatanmu ini terhadap Serena nak. Wanita baik itu adalah malaikat kecil yang selalu kamu puja puji bahkan saat Serena belum lahir ke dunia ini." Hidayat menatap mobil Serena yang mulai menghilang di antara kerumunan mobil yang sedang padat padatnya memenuhi jalanan ibukota.
*************
"Kakek sedang apa bik?"
"Tuan sedang duduk di tepi kolam ikan non,"
"Terimakasih bik, ah ya.. tolong hangatkan kembali masakan ini lalu hidangkan untuk makan siang. Aku memasaknya sendiri, jadi aman untuk kakek konsumsi." Titah Serena memberikan sebuah paper bag berisi beberapa kotak makanan.
"Baik non, kebetulan tuan beberapa hari ini mengalami penurunan selera makan." Ujar ART tersebut sumringah.
"Itu artinya aku datang di waktu yang tepat," seloroh Serena mengekeh yang di ikuti oleh sang ART.
Serena memelankan langkahnya ketika melihat seorang pria sepuh, sedang duduk melamun menatap kolam ikan dengan tatapan sendu. Dia yakin, Suryo tak bodoh sehingga tak mengetahui apa yang sedang terjadi dalam pernikahannya.
Setelah mengatur ekspresi terbaiknya, Serena melanjutkan langkah di iringi senyum lebar menghiasi bibirnya.
"Halo kek, apakah ikan ikan ini lebih cantik daripada aku sehingga kakek lebih betah memandangi makhluk kecil ini hmmm?" sapa Serena dengan suara riang. Suryo menoleh lalu menyunggingkan senyum hangat menyambut cucu menantu kesayangannya.
Tangan keriputnya terulur ke arah Serena.
"Kenapa baru datang sekarang? apa kamu tidak tau, kakek sangat merindukan masakanmu." Rajuk Suryo pura pura marah.
Serena terkekeh kecil mendengar rajukan sang kakek.
"Maafkan aku kek, aku terlalu sibuk sampai sampai melupakan kakek di sini. Tapi jangan khawatir, aku membawa beberapa makanan olahan tanganku untuk kakek." Ujar Serena merasa bersalah.
Wanita itu memberikan pelukan hangat penuh kerinduan kepada pria tua yang sangat menyayanginya itu.
"Lihatlah tubuhmu ini, kamu semakin kurus saja setelah lama tak mengunjungi kakek." Protes Suryo setelah mengurai pelukannya.
"Aku kurus? yang benar saja kek, timbanganku bahkan bergeser ke kanan terakhir kali aku menimbang berat badanku." Sanggah Serena sembari memperhatikan bobot tubuhnya melalui pantulan kaca jendela.
"Ck! anak muda jaman sekarang terlalu takut terlihat gemuk. Padahal jaman kakek dulu, wanita semungil dirimu ini akan di anggap tidak menikmati hidup dengan baik. Kata lainnya, tidak bahagia." Tukas Suryo lugas. Tanpa bermaksud untuk menyindir siapapun namun Serena merasa apa yang Suryo ucapkan ada benarnya.
Meski tersindir telak, Serena tak memperlihatkannya sama sekali. Wanita itu malah terbahak seolah Suryo baru saja mengatakan sebuah lelucon.
"Ya ampun kek, lihatlah aku sampai mengeluarkan air mata karena terlalu banyak tertawa." Ujar Serena menyeka sudut matanya yang basah.
Suryo menyadari, bila Serena benar-benar menangis namun berdalih dengan alasan yang sempurna.
"Bahkan jika kamu ingin menangis sekalipun, kakek masih memiliki lengan kokoh untuk di jadikan tempat bersandar. Jangan memendam segalanya seorang diri nak, adakalanya memperlihatkan kelemahan di hadapan seseorang bisa sedikit meringankan beban perasaan. Dan itu sama sekali bukan hal yang memalukan." Serena terpekur namun segera menggeleng pelan.
"Aku baik baik saja kek, " balas Serena tersenyum simpul. Ia mengajak Suryo untuk menikmati makan siang yang sudah ia bawa jauh jauh, khusus hanya untuk memastikan Suryo tetap merasakan kasih sayangnya.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, terimakasih.
Salam sayang author AQYa TRi