Orang tua tamak

1257 Words
~Selamat membaca~ "Aku sangka pikiranmu sudah jauh lebih jernih setelah pertengkaran kita pagi tadi," komentar Hidayat melangkah menuju sofa dengan wajah lelah. "Semua ini aku lakukan agar keluarga Rahardian tak harus menanggung aib, dengan mempertahankan seorang perempuan mandul seperti Serena. Seharusnya kamu mendukungku pa, bukannya malah menentang segala niat baikku untuk keluarga kita." Tukas Corla sarkastik. "Kita tau Serena tak dapat memilih nasib mana yang harus dia pikul sebagai beban sebuah keluarga. Kita bahkan tak tau pasti, siapa yang mandul di antara mereka. Pernikahan mereka baru berjalan satu tahun, dan kamu begitu merisaukan perkara anak yang semuanya adalah rahasia ilahi. Apa menurutmu sikapmu ini mencerminkan sosok seorang ibu yang bijak? Bukannya memberikan dukungan, kamu malah sengaja menggulingkan harapan kedua anak kita ke tepi jurang." Balas Hidayat sembari menggeleng tak habis pikir. "Terserah papa saja menilainya! Bagiku semua yang aku lakukan sudah benar, dan Serena bahkan sudah setuju untuk membicarakan tentang calon istri bagi Garen. Jika papa keberatan, itu urusan papa. Mama hanya ingin agar keluarga ini tidak mendapatkan komentar miring mengenai Serena yang tak kunjung hamil. Bisa bisa orang akan berpikir bila Garen lah yang tidak perkasa sebagai seorang pria," pungkas Corla kemudian meninggalkan Hidayat yang masih merenung di sofa kamar sembari menatap punggung istrinya. "Keperkasaan mana yang kamu maksudkan Corla? Tentang kebenaran bila Garen adalah sosok yang harus di salahkan dalam masalah rumit ini? Andai kamu tau bila putra kesayanganmu kemungkinan tak akan pernah bisa memiliki keturunan, apa kamu juga akan membenci darah dagingmu sendiri ?" Hidayat berbicara sendiri sembari menatap foto keluarga di mana di sana Garen masih berusia 10 tahun. Anak itu tampak begitu menawan di usianya yang masih muda. Garen yang penurut dan patuh terhadap segala aturan keluarga yang selalu menuntutnya untuk sempurna dalam segala hal. *********** Serena tampak merenung di meja makan sembari menopang dagunya. Ia sudah memutuskan untuk membicarakan tentang hubungannya dengan Garen. Kini dirinya sudah benar benar siap untuk berpisah dari pria itu. Tak ada lagi alasan setelah satu tahun mencoba untuk bertahan sebagai istri yang patuh dan setia. Garen tetap tak pernah menoleh ke arahnya, apalagi menganggapnya sebagai seorang istri. Tak lama terdengar suara langkah kaki yang bisa di pastikan bila itu adalah Garen. Serena melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Meski sudah terlambat untuk makan malam, tetapi Serena tak ingin mengurungkan niatnya untuk menuntaskan apa yang seharusnya ia lakukan sejak lama. "Baru pulang? Sudah makan? Aku siapkan ya, kamu mau mandi dulu atau langsung makan malam?" Garen menghentikan langkahnya yang nyaris menapaki anak tangga pertama menuju lantai atas. Niat hati untuk mengabaikan keberadaan Serena, sayang sekali wanita itu mendadak sangat ramah dan banyak bicara malam ini. Garen berbalik dan menatap Serena kemudian melirik meja makan yang sedikit terhalangi tubuh mungil istrinya. Berbagai macam makanan tersedia di sana, padahal Garen tau bila sang ART siang tadi pamit pulang kampung mendadak. Artinya Serena memasak semuanya seorang sendiri. Karena Garen sangat tau bagaimana Serena, wanita tak suka memesan makanan dari luar. "Aku sudah makan malam, aku hanya ingin langsung beristirahat saja." Ujar Garen datar. Saat hendak berbalik, kalimat yang Serena ucapkan mampu membuat tubuh Garen membeku. "Aku sudah mendatangi pengacara siang tadi, dan semua berkas perceraian kita akan di urus oleh beliau. Aku hanya ingin melayani mu sebagai bakti terakhirku sebagai seorang istri. Tidak lebih, dan bukan upaya untuk merayumu tetap menatapku sebagai seorang istri. Aku sadar, selama ini telah merenggut kebebasan juga kebahagiaanmu. Aku hanya ingin menjadi sedikit lebih egois sesaat, sebelum akhirnya aku menyerah kalah dan mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Ayo, kita berpisah dengan cara tak biasa. Kita memulai pernikahan ini dengan keterpaksaan, maka mari kita mengakhirinya dengan senyum penuh kemerdekaan." Pungkas Serena dengan nada seringan kapas. Seolah tanpa beban, kalimat panjang itu meluncur lancar tanpa tersendat sedikitpun. Serena benar-benar totalitas menunjukkan kesiapannya untuk melepaskan Garen, dan menjemput status baru yang akan ia sandang tak lama lagi. Sepanjang Serena menyelesaikan kalimatnya, kedua telinga Garen terasa berdengung hebat. Laki laki itu tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Tanpa beban, Serena mengumandangkan kalimat perpisahan dengan intonasi setenang air mengalir. Garen mendadak ling lung. Bukankah itu yang ia harapkan? Sebuah perpisahan di ucapkan oleh Serena, agar dirinya tak harus kehilangan haknya sebagai seorang pewaris keluarga Rahardian. Tapi kenapa ketika mendengarnya secara langsung dari mulut Serena, semua terasa menyakitkan. Hatinya mendadak dilema. Melepaskan Serena adalah list paling atas dalam daftar rencana hidupnya. Menyingkirkan wanita itu sejauh mungkin hingga ujung jagat raya bila perlu. Tapi sekarang, Serena begitu lantang mengucapkan sebuah kalimat perpisahan. Namun hatinya malah terluka tanpa sebab dan alasan yang bisa Garen jabarkan. "Kita akan membicarakan ini lain waktu, aku sangat lelah saat ini." Tanpa menunggu tanggapan Serena, Garen menaiki anak tangga dengan langkah tergesa gesa. Serena tersenyum kecut melihat punggung lebar Garen yang mulai samar ia lihat. Telaga bening yang bersembunyi di balik pelupuk mata indahnya telah membuat pandangannya samar dan buram. "Apa satu tahun masih belum cukup untuk membuatku menderita, Garen? mau berapa lama lagi kamu harus bersandiwara seperti ini di hadapan kakek? apa yang sebenarnya kamu inginkan Garendra Rahardian?" Serena tertawa getir menahan sakitnya retakan hati yang nyaris sudah tak lagi utuh. Di tempat berbeda, seorang wanita sedang di berikan setumpuk ultimatum oleh kedua orang tuanya. "Kamu harus segera menikah dengan Garen, Laras. Perusahaan kecil papa tidak akan pernah berkembang bila kamu hanya mampu menjadi simpanan pria itu." Desak sang ayah membuat Laras jengah. "Mana Garen sangat perhitungan sekali," sambung Lani menimpali sang suami. "Masa menanam saham di perusahaan kita saja tidak mau," lanjut wanita paruh baya itu protes. Laras menghela nafas panjang. Kedua orang tuanya tak pernah mau mengerti tentang kondisi hubungannya dengan Garen saat ini. Garen bukannya pelit, tetapi kekasihnya itu harus menjaga batas pengeluarannya yang saat ini masih selalu di pantau oleh pria tua bernama Suryo Rahardian. Kakek dari sang kekasih yang memegang kendali penuh atas segala kekuasaan yang Garen emban saat ini. "Sudahlah ma pa, lagi pula aku selalu mengirimkan uang ke rekening kalian setiap bulannya. Papa pikir dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu jika bukan dari mas Garen? Berhentilah memojokkan kekasihku bila kalian ingin hubunganku dengan mas Garen langgeng." Sewot Laras mulai kesal. Kedua orang tuanya terlalu banyak menuntut, sedangkan mereka tidak mengetahui bila Garen memiliki mood yang sulit untuk di hadapi. "Benarkah? Mama minta maaf sayang, mama pikir uang yang kamu berikan hasil dari gajimu sebagai sekretaris Garen. Pantas saja jumlahnya begitu fantastis," oceh Lani menunjukkan rasa bersalahnya karena telah menyudutkan Garen. Begitu pula dengan Amir, pria penjilat itu pun tak tinggal diam memuji calon menantu idamannya. "Kalau begitu kamu minta uang bulanan kamu di tambah lagi sayang, papa yakin Garen tidak akan keberatan. Uang tak mungkin jadi masalah untuk Garen, jadi manfaatkan sebaik mungkin cinta Garen terhadapmu." Saran Amir menyeringai licik. Laras menggeleng melihat tingkah kedua orang tuanya yang sangat tamak. "Akan aku bicarakan nanti, tapi jangan berekspektasi terlalu tinggi. Aku harus menjaga image sebelum resmi menjadi istri mas Garen," pungkas Laras kemudian beranjak meninggalkan ayah dan ibunya di ruang tamu. Tanpa menghiraukan keduanya yang datang bertamu ke apartemennya, Laras memilih untuk menyegarkan diri di kamar mandi. Kepalanya berdenyut nyeri setiap kali mendapatkan kunjungan dari Amir juga Lani. Karena keduanya hanya akan membicarakan tentang uang dan uang yang tak ada cukupnya. Tanpa mengetahui bila selama ini Laras memberikan mereka jatah uang nafkah yang seharusnya di terima oleh Serena. Namun Corla yang licik malah mengalihkan semua uang itu untuk di berikan kepada Laras tanpa sisa. Dan pastinya tanpa sepengetahuan Garen selaku suami Serena, selaku orang yang menitipkan uang tersebut kepada Corla. TBC Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, terimakasih. Salam sayang author AQYa TRi
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD