8. Layu Sebelum Berkembang

1106 Words
Kini Helen dan Nathan telah tiba di halaman rumah Helen. Di stadion tadi, Helen bisa berteriak sepuasnya. Kali ini perasaannya lebih baik dari pagi tadi. Sikapnya pun mulai melunak pada calon tunangannya itu. "Terima kasih ...." Helen tersipu ketika mengucapkannya. Dia merasa ini sangat mengasyikkan. Tangannya berusaha membuka seatbelt. "Gue udah punya cewek." Gerakan tangan Helen terhenti, dia mendongak ketika mendengarnya. Tak lupa, kini mulutnya pun ikut melongo. "Gue sayang ama dia." Setelah sebelumnya dilambungkan setinggi langit, kini Helen dihempaskan di dasar bumi terendah. "Gu ... gue juga udah punya cowok." Helen menutupi rasa gugupnya. Di tidak mau Nathan mengetahui bahwa dirinya sempat terjatuh dalam pesonanya. "Makanya itu, gue mau kita kerjasama." Helen menaikkan sebelah alisnya, "Kerja ... sama ...?"  "Iya, buat batalin pertunangan ini."  "Tapi ... lo tau sendiri 'kan, kalau kita nggak jadi nikah, bokap gue ...." Suara Helen tercekat di tenggorokan. Dia ngeri sendiri membayangkan apa yang bakal dialami keluarganya. "Lo tenang aja. Nggak bakal terjadi apa-apa dengan bokap lo." "Baiklah ... gue setuju. Asal lo bisa pastiin keluarga gue nggak bakal jadi gelandangan." Nathan mengangguk mantap. "Lo bisa pegang omongan gue. Gue cowok, harus menepati janji." Begitulah Nathan. Meski usianya belum dewasa, namun dia sedari kecil sudah dididik ibunya untuk selalu bertanggung jawab dengan apa yang sudah dikatakannya. "Tapi ... kamu ada rencana, nggak?" Apalah arti sebuah kesepakatan tanpa rencana. "Nggak ...." Nathan hanya menggeleng.  Helen memutar kedua bola matanya malas. 'Kalau nggak ada rencana ngapain ngajak kerjasama,' ucapnya dalam hati. "Lo ada ide, nggak?" Kini giliran Nathan yang bertanya.  Helen menarik nafas panjang, "Gimana kalao lo yang batalin pertunangan ini?"  "Gue nggak bisa, nyokap antusias banget bisa besanan ama Om Doni dan Tante Sofia." Entah kenapa melihat Nathan kelihatan tertekan seperti itu membuat dadanya terasa nyeri. Gue kenapa? Gue nggak lagi ngerasa kecewa 'kan karena dia juga udah punya cewek? "Gimana kalao lo hamilin cewek lo?" "Gila lo, ya! Lo aja kali yang hamil." Tentu saja usul yang diajukan Helen sangat tidak masuk dalam list daftar rencananya. Bisa-bisa, ibunya kena serangan jantung mendadak. "Gue juga ogah kali tekdung duluan. Bisa-bisa digorok nyokap, leher gue." Hanya membayangkannya saja bisa membuat Helen bergidik ngeri. Bisa-bisa dia jadi hantu tanpa kepala. "Tok ... tok ...." Mereka berdua menoleh ke arah kaca mobil yang diketuk.  Helen membuka kaca mobil di sebelahnya, "Kenapa, Mah?" tanyanya pada Sofia yang sedang tersenyum ke arah mereka.  "Kalian nggak mau turun? Apa masih enggan buat berpisah?"  "Nggak, bukan gitu, Ma. Tadi kita hanya--." "Gitu juga nggak papa kok, Sayang. Malah Mama seneng kalian akur gini. Padahal tadi pagi Mama sempat khawatir kalau Nathan bakal pulang babak belur dihajar Helen." "Mama ...! Emang Helen tukang pukul apa? Sama anak sendiri kok segitunya." Tentu saja bibir gadis itu sudah maju beberapa senti. "Sudah ... sudah nggak usah hiraukan Helen yang sedang ngambek. Nathan mampir dulu, ya, Nak?" Sofia mengalihkan tatapannya pada Nathan. Helen tambah mendengus kesal merasa diabaikan. "Lain kali aja, Tante," jawab anak itu sopan. Tak lupa senyum manis yang lebih manis dari garam mengembang di bibir pemuda berusia 19 tahun itu. Nathan keluar dari mobil dan mencium punggung tangan Sofia dengan takzim. Disusul Helen yang langsung masuk ke dalam rumah.  Ada dua pasang mata yang menatap sosoknya yang semakin menjauh dari pandangan. "Udah biarkan saja anak itu ngambek. Dari dulu nggak pernah berubah. Masih aja manja." Pandangan Sofia kembali ke arah pemuda itu. "Bener, ya, Nak?" Dia memastikan kebenaran ucapan Nathan. "Iya, Tan." Nathan kelihatan sangat sopan. Dia memang selalu berusaha menghormati wanita yang lebih tua, karena anak itu selalu membayangkan ibunya. Sofia mengangguk-angguk, "Ya udah, Tante. Nathan pulang dulu," pamit anak itu sembari mencium takzim punggung tangan Sofia. Mobil Nathan mulai menghilang dari pandangan. Dari balik korden jendela, Helen mengintip pria yang dipanggilnya bocil itu. "Kenapa gue ngintipin dia, sih?" Setelah mobil Nathan tak nampak lagi, Helen segera berbalik menuju kasurnya. "Kalau udah punya cewek ngapain elus-elus rambut segala?" Entah apa yang dirasakan gadis itu, di satu sisi bahagia karena ternyata Nathan juga tidak menyetujui pertunangan ini, tapi di sisi lain, terselip juga rasa kecewa. "Sayang ...." Sofia masuk ke kamar putrinya. Dia sukses membuat Helen berjingkat kaget.  Lamunannya tentang Nathan buyar seketika. Tunggu! Gue, ngelamunin dia? NO WAY! teriaknya dalam hati. "Eh, ada apa, Ma?" Helen menyambut ibunya, dia lupa jika tadi masuk rumah dalam kondisi marah.  "Gimana kencannya tadi?" Sang ibu tentu saja penasaran. Mengingat keduanya hampir bertengkar saat dipertemukan untuk pertama kali. "O ... asyik, sih. Helen bisa teriak-teriak," jawab Helen polos. Dia terbiasa menceritakan segala sesuatu pada ibunya. Kecuali soal Gio. Itu sendiri karena Gio yang ingin hubungan mereka tidak diketahui siapa pun. Meski sebenarnya ada satu orang yang tahu, sih, Tasya. Dia tidak bisa tidak cerita pada sahabatnya itu. "Teriak? Helen teriak, ngapain?" Sofia nampak mengernyitkan dahinya, apa anaknya memang sebar- bar itu? "Lha ngajaknya nonton bola di stadion, ya Helen teriaklah. Meski nggak begitu suka ama bola juga, sih." Mendengar jawaban putrinya, tawa Sofia lepas. Dia nggak nyangka Nathan bakal ngajak putrinya ke stadion untuk kencan. "Kayaknya Nathan paling ngerti kamu deh, Sayang. Kamu 'kan hobinya emang suka teriak." "Ih ... kenapa Mama ngomongnya samaan sih ama tu bocil?" Helen mendengus mendengar kata-kata ibunya. Dia lalu menyedekapkan tangannya di depan d**a. Meski sudah bukan anak kecil lagi, tingkah Helen tak ubahnya seperti remaja yang masih labil. Maklum gelar sebagai anak bungsu melekat erat di kesehariannya. "Lha 'kan emang gitu. Volume suara kamu itu sudah layak bersanding dengan toa masjid. Bisa bikin seluruh kampung denger." Satu hal yang susah dilakukan seorang Helen, yaitu bicara pelan dan lemah lembut. "Mama kebiasaan deh, sama anak sendiri gitu. Lagian ya, Ma. Sini tu perumahan bukan kampung, ya nggak bakalan orang kampung bisa denger omongan Helen." Sofia hanya bisa membuang nafas kasar. Pekerjaan paling sulit baginya adalah membuat Helen tidak membantah ketika dicermahi. Ada saja ide buat ngebantahnya. "Ngomong ama kamu capek, Sayang. Nggak ada habisnya. Pokoknya Mama ikutan seneng kalau kamu seneng gitu. Berarti perjodohan ini bakalan terus berlangsung." "Eh!" Sofia beranjak meninggalkan putrinya yang malah bengong mendengar kalimat ibunya itu.  "Kok malah gue bilang asyik, sih? Kan jadinya mereka ngira gue seneng aja jalan ama tu bocil," rutuknya ketika bayangan ibunya sudah menghilang di balik pintu.  "Tapi 'kan gue emang seneng. Gimana, sih."  "Tau ah! Bodo!" Helen segera membenamkan wajahnya di balik bantal. Dia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Yang labil mirip remaja SMA. "Apa gegara jalan ama anak SMA gue jadi labil gini?"  Helen kembali bangkit, "Sebenarnya Nathan nggak buruk juga, sih. Auranya berbeda ketika nggak pakai seragam. Sebelas dua belaslah sama Gio. Tapi, sayangnya ... dia masih SMA." Kamar itu menjadi saksi, semua ocehan-ocehan yang Helen lontarkan untuk Nathan. "Entahlah! Gue tidur aja."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD