Untung jalanan pagi ini tidak terlalu macet, kalau macet mungkin salah satu dari kedua makhluk di dalam mobil itu bakalan mencak-mencak nggak ada habisnya.
Mobil Nathan masuk di halaman sebuah perpustakaan. Helen heran kenapa malah datang ke tempat ini? Tempat yang paling dia benci.
Nathan keluar dengan tenang, tampak tak menghiraukan keberadaan Helen. Dia masuk ke dalam perpustakaan itu. Helen yang tadinya sedikit bingung dengan perilaku Nathan, menyusul anak itu dengan setengah berlari.
"Ngapain lo ajak gue ke sini?" Dengan setengah berbisik gadis itu bertanya pada cowok yang mengajaknya keluar tadi. Masak kencan di perpustakaan, kan nggak asyik.
"Lo nggak mau 'kan kencan ama gue?" Helen menggeleng. Helen baru sadar, ternyata dari tadi Nathan udah sok akrab dengan nyebut lo gue aja.
"Yaudah. Gue juga ogah kencan ama lo. Mending ke sini buat belajar. Sebentar lagi ujian semester." Nathan segera meninggalkan Helen yang masih melongo seorang diri di tangga perpustakaan. Dia merasa pendengarannya tidak bermasalah.
"Apa? Belajar? Tu anak belajar? Gue nggak percaya," kata gadis itu setengah berbisik. Merasa sudah tertinggal jauh, dengan langkah besar Helen segera menyusul Nathan.
Di ujung tangga, Helen berhenti. Netranya menyapu sekeliling. "Cepet banget tu anak jalannya. Nggak heran, sih, kakinya aja panjang-panjang gitu." Tinggi Nathan sekitar 180 cm, dan Helen yang tinggi badannya hanya sekitar 160 cm, terlihat mungil jika berjejer dengannya.
Matanya memicing ketika melihat bayangan yang sangat dia kenal. "Nah! Itu dia di sana." Helen segera berjalan mengikuti arah pandangnya.
Gadis itu duduk di hadapan Nathan yang tengah sibuk menatap buku di hadapannya. Sampai-sampai tak menyadari jika Helen sudah ada di hadapannya.
Sekejap Helen memandang wajah serius itu. Kenapa auranya jadi beda, ya, kalau lagi serius gitu? Tak terasa seutas senyum tersungging di bibirnya.
Nathan mendongakkan kepalanya, sedetik pandangan mereka bertemu, dua detik, tiga detik. Helen buru-buru membuang wajahnya saat menyadarinya.
Gawat! Bisa kegeeran kalau dia tahu gue perhatiin. Helen meremas ujung tasnya. Aneh! Kenapa gue berdebar-debar gini?
Tanpa Helen tahu, Nathan tersenyum tipis. Gadis itu tidak akan melihatnya, karena Nathan sudah kembali tertunduk menatap bukunya.
Helen mengetuk meja di depan Nathan dengan ujung jarinya.
"Apa?" lirih pria itu. Mau tak mau Nathan harus mendongak lagi. Dia terlihat kesal karena aktivitasnya terganggu.
"Kenapa lo ajak gue ke sini? Gue alergi buku." Helen pun setengah berbisik mengatakannya, takut mengganggu pengunjung lainnya.
"Trus, lo mau gue ngajak lo ke mana? Ke hotel?" Helen melotot mendengar kata-kata anak SMA itu. Dia menengok kiri kanan, takut ada yang mendengarnya. 'Kan malu-maluin.
"Sembarangan! Emang lo pikir gue cewek apaan? Lo juga, kecil-kecil kenapa udah tahu tempat gituan?" Helen penasaran, apa mungkin cowok di depannya itu, sudah sering keluar masuk tempat seperti itu. Tak sadar kini gadis itu bergidik membayangkannya.
"Bukan urusan lo!" Mereka masih setengah berbisik. Kali ini Helen tampak memajukan tubuhnya, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu yang tak ingin didengar orang lain.
"Ngaku, deh lo. Lo sering ke sana 'kan?" Helen sengaja merendahkan suaranya, Nathan melirik tajam ke arah gadis itu. Tak menampik ataupun mengiyakan.
Dia kembali fokus kepada bukunya. Tak mendapat tanggapan, Helen merasa diabaikan. Ia mendengus kesal.
"Hei! Lo denger nggak sih gue ngomong?!" Helen setengah berteriak, hingga saat ini mereka jadi pusat perhatian. Orang-orang menatap mereka tajam.
Gadis itu segera menutup mulutnya, merasa terlalu keras mengeluarkan suara. Ditatapnya satu persatu orang-orang yang menatapnya. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya sembari tersenyum kepada mereka, sebagai permintaan maaf.
Nathan membuang napas kasar. Dia menutup bukunya kemudian beranjak dari duduknya. Netra Helen mengikuti sosok yang sedang berjalan itu.
"Eh ...!" Dia terkaget ketika tangannya ditarik kasar oleh Nathan.
"Lepasin!" teriaknya meski tercekat di tenggorokan, dia takut kembali jadi pusat perhatian.
Tangannya meronta berusaha melepaskan diri, tapi tenaga Nathan lebih kuat darinya.
Setibanya di parkiran, Nathan segera menghempas kasar tangan Helen. "Kenapa sih, lo?" Helen mengusap-usap pergelangan tangannya yang masih terasa perih karena perbuatan Nathan.
"Lo brisik, tau!" sentak Nathan kasar. Helen segera beringsut mundur. Dia sadar dia yang salah, ngomong terlalu kencang.
"Sorry ...," ucapnya lirih. Helen hanya bisa menunduk.
"Apa? Gue nggak denger." Nathan memutar telinganya agar mendekat ke wajah gadis itu.
Helen berdecak. "Sorry ... sorry, gue minta maaf," katanya penuh sesal. Helen hanya bisa cemberut. Terpaksa deh dia mengeluarkan kata-kata sakralnya. Dia sudah bertekad untuk tidak minta maaf pada Nathan apa pun kejadiannya.
Tapi, entah kenapa kali ini dia mendapat dorongan untuk meminta maaf. Dia merasa bersalah telah mengganggu belajar Nathan.
"Oke! Gue maafin." Helen membelalak menatap ke arah pria di depannya. Kenapa si bocil kelihatan melunak, ya?
Helen mengedip-ngedipkan matanya, yang mana hal itu terlihat begitu menggemaskan di mata Nathan.
Shit! umpatnya dalam hati. Bagaimana bisa dia menganggap Helen begitu menggemaskan.
"Masuk!" titahnya agar Helen mengikutinya masuk ke dalam mobil. Entah kerasukan setan dari mana, Helen dengan patuhnya menuruti perintah Nathan.
Tak butuh waktu lama, kini keduanya telah duduk berdampingan di kursi depan. Nathan segera melajukan mobilnya menjauh dari area perpustakaan.
"Ini kita mau ke mana?" Bukan Helen jika tak ada omongan dalam situasi apa pun.
"Udah, nggak usah berisik. Lo ngikut aja!"
"Perasaan ... lo nggak sopan, ya. Nyebut orang yang lebih tua dengan sebutan 'lo'."
"Baru sekarang ngerasa lebih tua?" ejek Nathan.
"Ya enggak gitu, sih. Hanya saja memang umur gue sedikit lebih tua dari lo. Sedikit lho, ya. Nggak banyak."
Kata-kata Helen sukses membuat Nathan tertawa. Tanpa sadar Helen pun tersenyum ketika melihat tawa di wajah Nathan.
"Lucu, ya. Sampe lo ketawa?" protes Helen sembari memajukan bibirnya.
"Dasar ...!" Nathan mengacak rambut Helen. Gadis itu melongo tak percaya dengan apa yang dilakukan pria di sebelahnya.
Helen memalingkan wajahnya, menikmati pemandangan yang ada di bahu jalan.
Kenapa ama jantung gue? Kok bisa jadi nggak sopan gini. Mau maen lompat aja. Hatinya bergemuruh mengikuti irama jantungnya yang semakin berdegub kencang.
Please ... jangan kayak gini. Gue nggak mungkin 'kan tersentuh ama sikap tu bocil? Helen nelangsa menatap pantulan dirinya yang terlihat lewat kaca jendela mobil.
"Ini di mana?" Mata Helen menyapu ke sekeliling tempat itu. Sangat asing baginya.
"Lo 'kan suka teriak. Nah! Gue rasa di sini paling cocok buat lo." Helen mengernyitkan keningnya. Ini tempat apa? Ada tembok yang sangat tinggi.
Nathan segera menarik gadis itu agar mengikutinya. "Lo nggak lagi ngajak gue ke tempat aneh-aneh, 'kan?" tanya Helen penuh selidik.
"Ogah gue ngajak lo aneh-aneh," jawab Nathan datar. Helen mendengus kesal, masih aja tu bocah menjengkelkan.
"Stadion!" teriaknya ketika mereka berada di depan pintu masuk.
Nathan mengangguk. "Hari ini ada pertandingan bola, tapi bukan dari club favorit, jadi tidak banyak penonton. Tapi, kalau lo mau teriak, gue rasa nggak bakal malu-maluin."
"Gue 'kan nggak suka bola," gerutu Helen.
"Nggak penting. Yang penting 'kan lo bisa teriak. Buat nyalurin hobi lo yang suka teriak-teriak," kekeh Nathan.
Helen berdecih, tapi masih bisa tersenyum, Aneh juga tu bocil. Mana ada ngajak kencan di stadion.
Tanpa sadar keduanya mulai merasa nyaman. Perasaan Helen mulai melunak pada pria yang kini menggandengnya.