Ia Hadir

1351 Words
Berjumpa itu mudah, tak seperti berpisah. Mengenal itu indah, tak seperti melupakan. **** “Gue rasa ini bukan saat yang tepat untuk bicara itu, Broto. Gue butuh Kala bukan hanya sebagai suami, tapi juga partner. Dia partner bisnis, juga partner of life gue. Dari dulu gue nggak peduli sama yang namanya cinta-cintaan. Non sense dengan itu semua.” Lady memandang tajam pada pria di hadapannya. “Jadi itu alasan lo nolak cinta gue?” Dokter muda itu menundukkan kepala menghindari tatapan Lady yang seperti elang sedang mengincar buruan. Tak sanggup dia melawan tatapan mata seorang wanita yang sudah menyerap habis semua cinta di hatinya, hingga tak bersisa sedikit pun untuk yang lain, termasuk Ningrum istrinya. “Gue pilih Kala as a husband karena kami bisa kelola dan kembangkan bisnis bersama. Dia sangat capable untuk itu dan the most important thing is kami punya visi misi, pandangan, serta konsep yang sama tentang menikah. Lebih sempurna lagi karena kami sama-sama anak tunggal. So, how perfect we are, right?” Wanita cantik itu berucap sambil memajukan tubuh dan menopangkan satu tangan di atas meja kerja Broto. Dia benar-benar sosok yang tegas dan menantang. Lady masih menatap tajam ke arah laki-laki itu. Broto mulai merasa terintimidasi dengan ketegasan Lady. Rupanya, dia ini sangat mengedepankan logika, bukan perasaan seperti pada umumnya seorang wanita. “So, it means kalian menikah hanya berdasarkan kepentingan bisnis?” Broto mencoba meyakinkan bahwa kesimpulan yang dia ambil tidaklah salah. “Bagi semua orang, menikah itu memang kesepakatan, Broto. Terlepas dari ada atau tidak adanya cinta di antara mereka. Walaupun cinta, kalau nggak sepakat, ya nggak bisa menikah. Begitu pun sebaliknya, walau nggak cinta tapi kalau sepakat, ya bisa menikah. Lo menikah juga diawali dengan sebuah kesepakatan, kan? Nembak dulu, ngelamar dulu. Bukankah akad nikah itu juga sebuah kesepakatan?” balas Lady dengan cepat dan tangkas seperti pemain bulutangkis di olimpiade. Broto menelan ludah yang tiba-tiba terasa pahit walau tak sepahit kenyataan bahwa dia menikahi istrinya tanpa cinta. Saat itu, dia sudah sangat putus asa mengejar Lady, sampai kemudian dia menerima pernyataan cinta Ningrum, yang dirasa cukup layak untuk menjadi pendamping hidup. Bukan dia yang menyatakan cinta, tapi wanita itu. “Gue beda kasus, Lad. Gue nikah sama dia karena udah putus asa banget soal lo. Gue udah benar-benar di titik paling mentok saat itu. Pas banget, Ningrum bilang suka sama gue ... dan terjadilah.” Broto menatap lekat wajah Lady. “Apa pun alasannya, bahkan hubungan yang diawali dengan cinta pun, tetap mereka harus SE-PA-KAT untuk menikah. Banyak yang saling cinta tapi nggak sepakat sampai menikah, akhirnya bubar. Itu bukti bahwa cinta dan kesepakatan menikah adalah dua variabel yang berbeda. Nggak bisa disatukan.” Pandangan wanita itu tetap lekat pada mata Broto. “Dan unsur kesepakatan merupakan faktor utama dalam menikah, bukan cinta,” lanjutnya. Mau tidak mau, Broto mulai bisa menerima argumen Lady. Tidak salah memang apa yang dia katakan. Meski penuh cinta, kalau tidak ada kesepakatan, ya tidak bisa menikah. Sudah menikah pun, kalau tidak bisa lagi jalankan kesepakatan, ya bubar. Ah, ternyata pernikahan hanya seputar kesepakatan. Broto baru menyadari itu. “Bahkan banyak yang kemudian sepakat menikah, lalu bubar tengah jalan karena tak mampu lagi menjaga atau memenuhi kesepakatan itu. Bisa dari salah satu pihak atau bahkan keduanya. Terlepas dari dasar cinta ataupun tidak,” ucap Broto menyadari sebuah fakta yang selama ini tak terpikirkan olehnya. “You’ve got the point. Itu yang gue maksud, Broto.” Lady menjentikkan jari di depan wajah Broto. Mereka kemudian berdiskusi beberapa hal seputar pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Broto menemukan banyak sekali hal-hal di luar pemikirannya dari Lady. “Hei, gue ke sini bukan untuk jadi konselor perkawinan, ya. Gimana, lo bisa bantu gue soal surrogate mother?” Lady mencoba kembali ke topik utama kedatangannya hari ini. “Gue nggak bisa, Lad. Sorry.” Broto menjawab sembari merapatkan kedua telapak tangan dan meletakkan di depan d**a. “Gila lo, kaya lebaran aja gaya lo. Please, imbalan apa yang bisa gue kasih supaya lo mau?” Lady tidak mau menyerah, masih mencoba membujuk dokter itu. Dia satu-satunya harapan. Merayu dokter lain, jelas lebih sulit lagi. Belum lagi, Lady tidak bisa percaya begitu saja pada orang lain untuk menjaga rahasianya. Dia tidak mau terjadi masalah yang lebih pelik ke depannya. Dia tahu, Broto tidak butuh apa-apa. Secara finansial, pria ini sudah sangat mapan. Istrinya juga seprofesi, anak baru satu, dan masih bayi. Belum membutuhkan banyak biaya. Broto termenung. Karena memang sudah tak ada lagi yang dia inginkan atau butuhkan dalam hidup ini kecuali ... Lady. Lady adalah seorang wanita yang diberi karunia berupa feeling yang sangat kuat. Dia bisa melihat ekspresi Broto. Dia tahu bahwa pria ini punya sebuah keinginan, tapi tak berani mengungkapkan. “Apa pun, Broto. Selagi itu bisa bikin lo bantu selametin pernikahan gue, gue turuti.” Lady mencoba meyakinkan pria itu untuk berani mengatakan keinginannya. “Masalahnya, nggak ada lagi yang gue inginkan di dunia ini, selain lo, Lad.” Broto memberanikan diri. Jantungnya seperti mau melompat bersama ucapan yang keluar dari mulut. Namun, memang itu adalah jawaban jujur dia. Tidak ada lagi yang lain, selain Lady. “Jadi yang lo mau adalah gue sebagai syarat lo bantu masalah kami? Seperti apa mau lo? Tidur ma gue?” Lady tersinggung dengan kalimat Broto. Senyuman sinis dan alis sedikit naik, menandakan ketidaksukaan wanita itu pada ucapan Broto. Broto menunduk dengan muka merah padam. Wanita di hadapannya ini benar-benar mampu mengucapkan apa pun tanpa merasa risih. Dia saja yang laki-laki risih dengan kata tidur. “B-bukan gitu, Lad. Gue juga nggak tahu kaya gimana. Tapi cuma lo yang gue inginkan di dunia ini.” Broto dengan gagap menjawab sambil kembali menunduk. Mendengar itu, emosi Lady menyurut. Dia tahu, Broto bukan tipikal pria m***m. Track recordnya sudah jelas. Pria baik-baik. Bukan playboy. Bertahun-tahun dia menolak cintanya, tapi belum pernah sekali pun lelaki itu marah, berbuat kasar, apalagi melecehkan. “Jadi, intinya, cuma gue yang lo mau?” Lady mengamati lebih dalam pria di hadapannya itu yang masih juga tertunduk. Broto terlihat sangat cemas. Dia menggosok-gosok jam tangan yang dikenakannya sambil mengangguk. “Gue butuh waktu untuk berpikir, nanti gue kabarin lagi.” Lady beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Broto. Dokter itu hanya bergeming, tak mampu berucap atau bergerak melihat kepergian Lady. Jangankan untuk berdiri atau mengucapkan sesuatu, bernapas saja sudah sangat sulit baginya. Gila, apa yang gue lakukan tadi? Broto berteriak dalam hati. Lady sedang berjalan menuju mobil ketika telepon genggam miliknya bergetar. My Bee, nama yang muncul di layar telepon. “Yes, Bee. Ada apa?” Dia menjawab panggilan telepon dari suaminya. “Jadi ketemu dokter?” Suara berat di seberang sana bertanya. “Udah, ini baru aja keluar ruangan. Lo udah suruh Pandu lakukan semuanya?” Lady balik bertanya tentang part of job suaminya. “Udah, dong. Dia akan kerjakan hari ini. Sekarang, dia lagi ke tim legal agar mereka segera merumuskan pasal-pasal perjanjian. Dokternya mau bantu kita?” Kala tahu bahwa Lady dulu berteman dekat dengan Broto. Dia juga tahu bahwa pria itu pernah jatuh hati pada istrinya. “Pasti mau. Kan, emang udah kerjaan dia.” Lady mencoba menutupi yang terjadi. Bagaimanapun, Broto pasti dan harus membantu, apa pun cara yang harus ditempuh. “Syukurlah. Ya udah, aku kerja dulu. Kamu langsung balik ke rumah?” tanya Kala. “Gue mau nonton bioskop dulu. Gue tutup, ya, mo nyetir.” Lady sudah sampai di samping mobilnya. “Ok, Honey. Enjoy your time.” Kala menutup panggilan telepon. Kala lega mendengar semua sudah beres. Tinggal kandidat sewa rahim harus segera dia tuntaskan. Sepanjang perjalanan menuju mal, yang ada di kepala Lady hanya bagaimana cara memenuhi keinginan Broto. Tak mungkin menemukan dokter lain yang bisa membantunya selain pria tersebut. Gimana pun caranya, Broto harus bisa bantu gue, tekad dia dalam hati. Setiap kali menghadapi masalah penting, Lady memang memiliki ritual khusus. Dia akan mengawali dengan menonton bioskop, bahkan bisa dua sampai tiga film berurutan. Setelah itu berbelanja beberapa pakaian, sepatu, tas, atau yang lain, baru mulai berpikir. Otak yang segar tentu akan mampu menghasilkan pemikiran yang cemerlang. Hal itu selalu diyakini oleh Lady sedari dulu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD