Sesaat

1292 Words
Aku tidak sedang menggenggam dan digenggam oleh siapa pun Aku tidak sedang menjaga juga dijaga oleh hati mana pun ***** “Dasar gila kamu, Al. Cewek itu bukan jam tangan, yang puas kamu pelototin terus seenaknya dibuang gitu aja.” Embun memukul kepala Alaska, sahabatnya di tempat kerja. Sudah ke sekian kalinya, dia harus mendengar cerita putus nyambung Al dengan para gadis. “Idih, gue mah bukan melototin doang. Rugi amat.” Al tersenyum nakal. “Dasar m***m, buaya cabul.” Embun tertawa ngakak melihat kelakuan jejaka tampan yang usianya hanya selisih satu tahun dengan dirinya. “Rugi dong perut gue kotak-kotak, kalo masih mainan sabun sendiri,” jawabnya sambil mengusap-usap perut. Pria ini memang tampan. Tubuh padat atletis, meski tidak terlalu kekar. Sudah hampir dua tahun ini mereka bersahabat sejak Embun mulai bekerja di hotel ini. Embun mungkin satu-satunya wanita di tempat dia bekerja yang belum pernah menjadi pacarnya. Yang lain sudah mendapatkan giliran walau mungkin hanya beberapa hari atau minggu saja. “Lo lesbi ya, Mbun?” Al bertanya sambil memasang mimik serius. “Haha, gila aja kamu. Ngapain nanya gitu, sih?” Gadis itu sudah terbiasa dengan mulut Al yang suka bicara asal. “Habisnya, lo doang yang kagak bergetar ama gue.” Al mendekatkan wajah. Hidungnya sudah hampir menyentuh puncak hidung Embun. Gadis itu menatap dengan pandangan datar dan menyunggingkan senyum di sudut bibir. “You are not sexy enough for me.” Telunjuknya mendorong dahi Alaska mundur. “Aku belum butuh seorang lelaki, apalagi hanya untuk sekadar main-main belaka. Kamu tahu kan hidupku itu sudah susah, jadi nggak mau nambahin masalah,” lanjutnya. “Maksudnya, gue ini masalah gitu buat lo?” Lelaki itu mengernyitkan dahi. “Enggak. Kamu itu bukan masalah, tapi sumber dari segala sumber masalah. Hahaha ....” Embun tergelak. “Bahkan kalau semua pria di dunia ini sudah habis dan cuma tersisa kamu aja, tetap aku nggak mau, Al,” lanjut gadis itu. “Segitunya ya lo ma gue, Mbun. Jahat banget. Untung aja lo itu temen gue, coba kalo kagak.” Alaska memandang gemas. “Emang kenapa kalau bukan teman kamu?” Gadis itu berkacak pinggang dan menaikkan dagu. “Kalo bukan temen gue, ya gue kagak kenal. Hahaha ....” Alaska tertawa. Dia memandang gadis itu lekat-lekat. Dalam hati, memang dia sangat mengagumi. Bukan hanya paras yang cantik, tapi juga kegigihan serta semangat Embun dalam menjalani hidup. Itu patut diacungi jempol. Ibu Embun sudah meninggal sejak dia masih balita. Dia hidup bersama seorang ayah yang hobi berjudi dan mabuk-mabukan. Tentu bukan hal yang mudah. Semua pekerjaan rumah sudah otomatis dia sendiri yang mengerjakan sejak masih kecil. Hidup sangat sederhana dan seadanya, membuat gadis itu tidak pernah berpikir muluk-muluk. Bisa makan, bisa sekolah, dia sudah sangat bersyukur. Apalagi ayahnya lebih banyak menghabiskan uang di meja judi daripada untuk kebutuhan rumah. Cita-cita Embun untuk bisa sekolah tinggi dan sukses dalam karir, tidak pernah layu. Dia ingin memiliki kehidupan yang layak seperti orang lain di sekitarnya. Bukan ingin menjadi kaya raya atau berlimpah harta, tapi minimal bisa makan, jajan, dan jalan-jalan dengan bebas. Setelah lulus SMA, Embun bekerja di Crown Hotel agar bisa menabung dan membiayai kuliah sendiri. Dia menunda masuk perguruan tinggi selama satu tahun, fokus menabung. Semua rencana berjalan dengan lancar. Dia masuk kuliah di tahun kedua bekerja dan memilih jurusan perhotelan, sesuai pekerjaan yang sedang dia tekuni saat ini. Menginjak semester dua perkuliahan, ayahnya terlibat masalah keuangan karena hobi berjudi yang dia geluti. Rumah terpaksa dijual dan mereka menyewa rumah petak di daerah pinggiran. Semua tabungan Embun juga terkuras habis untuk menutup utang ayahnya. Tak lama setelah kepindahan mereka, sang ayah mengalami depresi berat dan dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu. Hal ini menambah berat beban gadis itu. Dia terpaksa harus meminjam uang ke teman-teman, bahkan ke tempat kerja. Naas, setelah perawatan beberapa minggu yang menguras tenaga dan biaya, ayahnya ditemukan bunuh diri di dalam kamar dengan memotong nadi pergelangan tangan. Sepertinya, pria itu sudah tak punya semangat hidup lagi setelah kehilangan rumah dan tak tersisa apa pun selain utang yang masih menumpuk. Ada rasa sedih yang sempat hinggap di diri Embun. Bagaimanapun, lelaki itu adalah satu-satunya anggota keluarga yang tersisa. Namun di sisi lain, dia lega karena tak akan lagi direpotkan dengan banyak masalah. Sudah bertahun-tahun ia hidup susah karena perilaku pria itu. Hampir setiap hari ada saja orang yang datang ke rumah untuk menagih utang. Tidak hanya itu. Ada juga yang datang meminta ganti rugi karena dipukuli ayahnya saat mabuk. Masih banyak lagi orang yang datang silih berganti dengan berbagai kasus. Dia sendiri sudah sangat sering mendapat perlakuan kasar maupun kalimat-kalimat yang menyakitkan dari sang ayah. Tamparan, tendangan, pukulan, cacian, dan makian, sudah biasa bagi gadis itu. Belum lagi barang-barang yang hancur karena dibanting dan dilempar, sudah tidak terhitung. Pria b******k yang dengan sangat terpaksa harus dia panggil ayah. Seorang lelaki pengecut yang lebih memilih pergi dengan caranya sendiri, meninggalkan bertumpuk masalah pada gadis belianya. “Kapan pun lo butuh bantuan, lo bisa andelin gue.” Alaska berucap, kali ini terdengar cukup tulus. “Terus, imbalannya apa?” goda Embun. “Goyang-goyang dikit lah.” Pria itu menggerak-gerakkan alisnya. “Naik odong-odong, tuh. Goyang, Mang ....” Mereka tertawa. Keduanya memang sudah biasa bercanda bahkan dengan candaan tujuh belas tahun ke atas. Selalu kompak. Banyak orang mengira mereka ini TTM, Teman Tapi Mesra. Namun bagi Embun, Alaska hanyalah seorang sahabat yang baik. Memang, lelaki ini nakal dan genit. Sering kali, dia dijadikan alasan untuk memutuskan hubungan dengan para wanita. “Ini Embun, cewek baru gue.” Drama itu sering terulang. Setelah kalimat itu diucapkan, biasanya si cewek akan menangis lalu pergi. Beberapa harus memaki-maki dulu penuh emosi baru meninggalkan mereka berdua. Karena cemburu, tidak sedikit pula gadis yang mencaci dan menghina Embun di hari PHK, Putus Hubungan Kekasih. Dia pasti diam saja sambil menyembunyikan senyum. Tidak perlu membalas juga. Toh, ini hanya sandiwara. Setelah itu, Al pasti akan mengajak Embun makan sebagai permintaan maaf dan ucapan terima kasih. Ritual PHK yang sudah mereka jalani dua tahun ini. “Malam nanti PHK buat Claudia. Gue jemput jam 6, ya?” Al mengedipkan mata kanannya. “Anjir. Baru dua hari, Al.” Embun terkejut, sahabatnya ini ingin melepas gadis yang baru dua hari dia kencani. “Emang dia kenapa? Kok, sampai kamu putusin secepat ini?” “Jepitannya kurang. Longgar banget, njir. Poh!” jawab Al santai. “Ancur .... Punya kamu kali kekecilan. Segede pentol korek aja belagu.” Embun benar-benar tak habis pikir dengan kelakukan lelaki ini. “Enak aja pentol korek. Lo mau tau? Bilang aja sih kalo lo mo nyobain,” goda Al. “a***y, no way! Punyamu dah kaya peuyeum basi, kebanyakan dicelup sembarangan. Aku nggak mau kena penyakit.” Embun mencibir. “Sialan lo. Belum nyobain dah ngehina. Sekali coba, pasti bakal ketagihan. Baru, tau rasa lo. Gue jemput jam enam, ya?” tanya Alaska lagi, memastikan. “Ya, udah. Habis itu kita makan kwe tiaw di Gatsu. Oke?” Embun memberi kode anak jaman now, dengan menempelkan telunjuk dan ibu jari membentuk hati. “Oke deh, My Baby.” Alaska membalas dengan kode yang sama. “My Baby, emangnya bedak bayi?” Jam istirahat mereka berakhir. Keduanya harus segera kembali bekerja. Tiga bulan lagi ujian akhir semester di kampus Embun. Bukan soal ujian akhir yang membuat Embun merasa berat, tetapi membayar uang kuliah semester tiga nanti. Tabungan sudah habis, bahkan masih belum cukup untuk melunasi utang-utang sang ayah. Lalu, bagaimana dia bisa membayar uang kuliah? Tak mungkin tega dia meminjam uang pada Alaska. Lelaki itu baru saja membeli motor yang terbilang cukup mahal untuk karyawan biasa, demi memikat wanita. Pinjaman di kantor juga belum sepenuhnya lunas. Semoga saja ada jalan keluar. Kalau tidak, terpaksa berhenti kuliah dulu, keluh Embun dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD