Sang Penyelamat

1382 Words
Aku hanyalah sesosok manusia yang menjadikan napas sebagai sebuah keharusan bergerak tanpa keinginan bertindak tanpa perasaan *** Setelah kenyang bersantap siang, Lady memutuskan untuk tidur sembari menunggu kedatangan Broto. [Pandu, pastikan Embun tertarik dengan tawaran kita.] Sebelum rehat, dia menyempatkan diri untuk mengirim pesan singkat kepada Pandu. Dia sudah terlanjur masuk sampai sedalam ini. Jangan sampai semua sia-sia hanya karena Pandu gagal meyakinkan Embun. [Baik, Bu.] Pandu membalas singkat karena memang dia segan berurusan dengan bos wanita satu ini. Kala lebih mampu memberikan ketenangan kepada bawahan dan masih bisa sedikit berbasa-basi. Lebih baik, dia memberikan laporan pada Kala saja. Tidak pada wanita satu ini. Lady merebahkan diri di kasur yang ternyata cukup nyaman. Apartemen kelas menengah dengan harga yang tidak terlalu mahal, ternyata masih mampu memanjakan penghuninya. Tadinya, dia sedikit tidak yakin ketika menjatuhkan pilihan pada kompleks apartemen seperti ini. Dia terbiasa hidup di kelas atas. Tiba-tiba harus turun kelas secara drastis, tentu saja membuat dia ragu. Namun, kalau dia memilih hunian dengan kelas mewah, tentu akan sangat beresiko. Besar kemungkinan, dia akan bertemu dengan rekan ataupun kenalan. Lebih celaka lagi kalau sampai bertemu dengan kerabat. Itu sangat berbahaya. Demi keamanan kerja sama dengan Broto, apalagi itu untuk jangka panjang, bahkan mungkin selamanya, dia harus rela menurunkan selera pribadi. Tak berapa lama, Lady pun terlelap. Sementara di tempat lain, Broto masih terus sibuk menangani pasien sambil berulang kali melihat ke arah jam tangan di pergelangan tangan kanannya. Lama banget, sih. Dari tadi masih jam dua aja, gerutu Broto dalam hati. Dia sudah tidak sabar untuk mencoba apartemen baru. Pasti lebih nyaman dan tenang untuk b******a di sana dibandingkan tadi di ruang praktik. “Nir, pasien sampai jam empat nanti nggak ada yang ngebatalin janji?” Broto menyempatkan diri keluar dari ruangan dan menghampiri asistennya. “Nggak ada, Dok. Kenapa? Ada urusan mendadak ... lagi?” Nira memandang khawatir. Jangan sampai jadwal yang sudah dia buat diacak-acak lagi seperti tadi siang. “Mmmhhh, nggak juga, sih.” Broto ragu. Dia bingung mencari alasan untuk bisa segera pergi dan meninggalkan tempat praktik. “Please, deh, Dok. Puber dan kasmaran boleh-boleh aja, tapi jangan sampai mengganggu pekerjaan. Saya sudah diomelin banyak orang gara-gara kedatangan Queen Ladyane yang mendadak tadi siang. Jangan lagi, ya. Masa baru ketemu udah kangen lagi, sih,” ucap Nira dengan berani, membuat wajah Broto seketika memerah. Gadis itu memang merasa kesal. Dia harus menghadapi omelan beberapa pasien karena jadwal yang dimundurkan dengan tiba-tiba. Sebagian pasien sudah terlanjur dalam perjalanan. Sementara sisanya lagi bahkan sudah tiba di rumah sakit. Pubertas Broto membuat Nira kerepotan. “Sembarangan kalau ngomong. Saya nanya soalnya lapar. Tadi saya nggak sempat makan siang,” elak Broto. Dia segera kembali ke ruangan karena pasien sudah datang. Alasan. Nggak sempet makan siang, soalnya sibuk nenen aja, sih, rutuk Nira dalam hati. Dia kembali sibuk dengan pekerjaannya. Satu per satu pasien bergiliran datang dan pergi. Hingga pukul 15.43, Nira mengetuk pintu ruang praktik Broto. “Masuk,” seru suara berat di dalam ruangan. Nira membuka pintu dan menyindir, “Dok, pasien sudah habis. Jadi, nggak perlu cari alasan lagi. Silakan, kalau mau pulang dan sayang-sayangan.” “Kok, jadi sinis gitu? Kamu itu asisten saya, lho. Kamu jangan lupa,” ucap Broto mengingatkan. “Maaf, Dok. Habisnya, saya kesel kalau jadwal diubah tanpa alasan yang jelas. Saya harus berbohong pada pasien lain, yang bisa jadi kondisi mereka itu sebetulnya lebih darurat dari Sang Ratu. Sebagai asisten, saya sekadar mengingatkan saja, Dok. Maaf, kalau tadi saya kelepasan dan sudah bersikap tidak sopan.” Gadis itu menatap mata Broto dengan pandangan datar. Wajahnya juga tanpa ekspresi. Dia memang gadis yang berani, selagi merasa dirinya benar. “Saya juga minta maaf. Tapi tadi keadaan Bu Ladyane juga mendesak dan darurat, kok. Saya lebih tahu mana yang harus didahulukan dan mana yang tidak. Yang jadi dokter di sini masih saya, kan? Atau sudah ganti kamu?” Broto tetap mencoba berkilah. Darurat cinta, batin Nira. “Ya, Dok. Ada lagi yang harus saya kerjakan?” Gadis itu memilih untuk mengalah daripada harus terus berdebat tanpa ada pemenang dan hadiah bagi yang menang. “Nggak ada. Saya mau siap-siap pulang.” Broto segera melepas jas kerja dan membereskan barang-barang. Dia bersiap untuk pulang. Nira terus memandangi Broto sampai pria itu selesai. “Saya pulang dulu, ya. Sudah kangen banget ... sama anak,” elak Broto yang keceplosan mengungkapkan rasa rindunya pada Lady. “Iya, Dok. Hati-hati di jalan. Kecup sayang untuk ... anaknya.” Nira sengaja menggoda sang dokter. Tentu saja dia bukan gadis bodoh yang tak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. Sikap Broto terhadap Lady jelas berbeda. Itu bukan sikap seorang dokter pada pasien. Walau belum pernah pacaran, tetapi dia bisa membaca gelagat orang yang sedang kasmaran atau tidak. Jelas-jelas, pria di hadapannya ini sedang dilanda asmara yang menggelora. Broto bergegas meninggalkan ruangan dan melaju menuju apartemen sesuai peta yang tadi dikirimkan wanita tercinta. Mobil membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan tinggi, seolah dia sudah bertahun-tahun menunggu untuk berjumpa dengan kekasih hati. Alam seperti memberi kemudahan pada mereka berdua untuk mereguk madu perselingkuhan yang manis legit dan menggigit. Diskon kepulangan sebanyak tujuh belas menit, jalanan yang ramai lancar, dan cuaca mendung mesra, menambah syahdu suasana. Broto akhirnya tiba di halaman parkir apartemen dan segera menuju ke lantai tujuh, sesuai petunjuk dari Lady tadi. Tidak sulit untuk menemukan unit yang dimaksud. Ya, karena Lady memang sengaja memilih unit yang paling ujung. Ting ... tong! Broto membunyikan bel. Beberapa puluh detik menunggu, tetapi tak ada tanda-tanda pergerakan. Ting ... tong! Lelaki itu menekan tombol bel sekali lagi. Masih tidak ada suara apa pun. Dia menempelkan telinga di daun pintu. Memang tidak ada suara apa pun di dalam. Akhirnya, dia putuskan untuk menelepon wanita itu. Brrr ... Brrr .... Beberapa kali telepon genggam di samping Lady bergetar. Dengan gerakan malas, dia meraih telepon genggam di samping kepalanya. Dia membuka sedikit kedua mata dan membaca nama Broto tertera di layarnya. “Oh. Halo, Broto. Sori, gue ketiduran. Ada apa?” Suara Lady masih terdengar sedikit parau. “Gue di depan pintu, Sayang. Bukain, dong.” Broto tersenyum, padahal di depannya hanya pintu yang bergeming. Pasti kalau orang lihat, dikira orang gila karena senyum-senyum sama pintu. “Oh, sori. Oke, gue ke situ.” Lady bergegas bangun dan menuju pintu utama. Broto tersenyum melihat wajah wanita yang dia cintai masih lesu, tetapi tetap saja cantik dan menarik. Dia usap rambut Lady, lalu mencium keningnya dengan lembut. “Masih ngantuk, ya? Masa baru satu ronde sudah capek, sih. Masih ada pertandingan susulan lho ini,” ucap Broto sambil menakupkan kedua telapak tangan di pipi Lady. “Daripada bosen nunggu, jadi gue istirahat dulu. Biar lebih bertenaga untuk ronde-rond berikutnya,” jawab Lady nakal sembari menutup pintu. “Mandi dulu, yuk.” Mereka berdua menuju ke kamar mandi, melepas semua kain yang menghalangi sentuhan, dan mulai menyalakan shower. “Makasih, ya. Lo sudah mau bantuin masalah gue,” ucap lady di bawah guyuran shower. “Bukan gue yang membantu masalah lo, tapi sebaliknya. Lo yang sebenarnya membantu masalah gue, Lad. Gue memang menikah dengan Ningrum, tapi gue kehilangan arti kata pulang. Cuma di sini, tempat gue pulang,” ucap Broto sambil menekan d**a Lady dengan jari telunjuknya. “Bertemu dengan lo kayak gini, gue ngerasa pulang ke tempat hati gue yang seharusnya. Hati memang nggak bisa dipaksa, Lad.” Broto mencium sekilas bibir wanita itu. Lady tersenyum mendengar ucapan pria itu. Apakah hati memang sudah terbagi? Atau semua ini hanya kepalsuan sensasi? “Apa pun itu, gue tetap berterima kasih sama lo karena sudah bantu menyelamatkan hidup gue, pernikahan gue,” kata Lady balas mengecup bibir Broto. “Lo yang menyelamatkan hidup gue. Sekarang gue punya arah, punya gairah. Gue bahagia dan bisa menikmati hidup gue, Lad.” Bagi Broto, wanita itu adalah sosok yang telah menyelamatkan hidupnya. Lady mencegah dia menjadi makhluk kosong tanpa rasa. Tanpa kehadiran wanita itu, dia hanyalah sosok mayat hidup yang menjalani keseharian hampa dan rutinitas senyap. Hidup tanpa keinginan, tanpa kenikmatan. Jasad mati, tetapi bernyawa. Jiwa mati, tetapi bernapas. Broto bernapas hanya sebatas menunaikan kewajiban sebagai sesosok manusia. Tak ada rasa lega dalam setiap tarikan dan embusannya. Semua terasa sempit dan pengap, tanpa kehadiran orang yang dicintai dalam kanvas kehidupannya. Sekarang, lo milik gue. Broto tersenyum menatap wajah Lady di bawah guyuran shower.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD