Sang Penggoda

1290 Words
Tak bisakah aku layaknya senja? Memeluk siang dan malam bersama Tanpa harus kehilangan keduanya Tak perlu memilih satu di antaranya *** “Nggak usah, saya sendiri saja. Terima kasih.” Lady menerima kunci dan segera masuk ke apartemen.  Sebelum menutup, dia memandang sekilas pada gadis di depan pintu. “Silakan pergi. Nanti saya hubungi kalau memang ada perlu.” Erlin mematung memandang pintu di depan wajahnya yang ditutup dengan tegas. Tidak dibanting, tetapi cukup keras. Wanita menyeramkan, batin dia. Erlin meninggalkan lokasi apartemen dan memilih kembali ke kantor daripada harus panjang kali lebar berurusan dengan Lady, wanita yang dia kenal dengan nama Amara. Sementara di dalam apartemen, Lady memindai sekeliling. Lumayan nyaman, untuk sekedar memadu kasih dalam waktu yang singkat, bukan masalah. Dia tinggal menambahkan beberapa barang lagi agar lebih nyaman. Nanti, biar Broto saja yang mengurusnya. Dia merebahkan tubuh di sofa ruang tengah. Tangan Lady meraih telepon genggam dalam tas, lalu melemparkan tas begitu saja ke atas meja. Haruskah hari ini aku menemani Broto lagi? Come on Lady, ini bukan perselingkuhan. Ini adalah kerja sama yang saling mengikat, selamanya. Kesepakatan bisnis yang harus dijalankan tanpa batasan waktu. Tapi bagaimana dengan janji pernikahan? Bagaimana kalau ini sampai terbongkar? Adakah cara untuk mengakhiri perjanjian ini? Lady berusaha menepis rasa bersalah dan berbagai pikiran yang muncul dalam dirinya. Dia harus bisa meyakinkan diri sendiri bahwa ini adalah pekerjaan alias bisnis atau proyek rahasia yang harus dia manage dengan baik. Selama beberapa puluh menit, Lady sibuk dengan pikiran dia sendiri. Masih tetap tidur tertelentang di atas sofa sambil sesekali memijit dahi dan pelipis, wanita itu tetap terlihat cantik, bahkan dalam keadaan suntuk seperti itu sekalipun. Lady memang bukan wanita yang agamis, tetapi dia tetap percaya pada Tuhan dan karma itu ada.   Kalau jahat, sekalian jahat. Jangan nanggung. Bullshit dengan semuanya. Sekarang, yang penting semua berjalan sesuai rencana. Gue harus punya anak! Masalah lain, dipikirin nanti sambil jalan. Akhirnya, Lady sudah memantapkan diri, seratus persen tanpa keraguan sama sekali. Dia segera mengirimkan alamat apartemen yang baru dia beli pada Broto. [I am waiting!] Lady tersenyum setelah mengirimkan pesan tersebut. Dia harus bisa menikmati hubungannya dengan sang dokter. Walau tidak setampan dan segagah Kala, Broto tidaklah mengecewakan. Permainan pria itu juga tidak kalah hebat. Ada gaya yang berbeda dari Broto dibandingkan dengan Kala, suaminya. Pria itu melakukan dengan penuh keinginan, mendapatkan, meraih, menginginkan, sementara Kala hanya menuntaskan sebatas gairah sebagai seorang lelaki. Tidak lebih. Karena itulah, ada kepuasan tersendiri yang dirasakan oleh Lady. Rasa diinginkan, dicintai, dikejar dan diraih, memberikan sensasi tersendiri baginya. Begitupun saat dia harus menggoda Broto. Ternyata, itu hal yang sangat mengasyikkan. Belum pernah perasaan itu muncul selama dia bersama Kala. Memiliki dua pria sekaligus, yang keduanya saling melengkapi dan memberikan sensasi berbeda, ternyata menyenangkan. Bukan ide buruk untuk dilakukan. Kenapa tidak dari dulu gue lakukan ini, ya, rutuk Lady pada diri sendiri. [Yes. Tunggu gue. Perlu dibelikan baju? Siapa tahu, lo nggak sempet pulang.] Broto membalas setelah beberapa menit. [Nggak usah. Toh, nanti juga nggak pake baju, kan?] Astaga, kenapa aku membalas senakal ini, ucap Lady dalam hati sambil tersenyum. Brrr .... Brrr .... Telepon genggam kembali bergetar. [Hahaha. Betul juga, ya. Jam empat gue baru bisa meluncur ke sana, ya. Mungkin jam enam paling lambat baru nyampe.] Daerah menuju apartemen memang akan sangat macet kalau sore hari. Tidak bisa dipastikan, berapa jam perjalanan harus ditempuh kalau sudah macet total. Lady tersenyum membaca balasan pesan dari Broto. Ah, ternyata menjadi nakal itu menggairahkan, kata dia dalam hati. [It’s OK. Lo mandi di sini aja sekalian. Kita mandi bareng ....] Lady masih terus saja menggoda Broto. [Jangan menggodaku, Lady. Please. Kalau gue nggak kuat nahan, bisa-bisa kabur sekarang juga ke situ.] Broto harus menggigit bibir kuat-kuat, menahan adik kecil yang mulai menggeliat meminta dilepaskan. “Jadi, saya gimana ini, Dok?” Suara di hadapan Broto membuyarkan keasyikannya. “Eh, maaf. Ini tadi balas pasien darurat.” Broto segera melanjutkan perbincangan dengan pasien di hadapannya. [Hohoho, tergoda rupanya. Kalau nggak kuat, batalkan saja jadwalmu dan segera kemari ...] Tentu saja balasan dari Lady sudah tidak sempat terbaca oleh Broto karena dokter itu sibuk dengan pasiennya. Menunggu hingga sepuluh menit tak ada balasan, Lady memutuskan untuk memesan makan siang melalui kurir online. Sambil menunggu makanan datang, dia masih penasaran dengan Broto yang tak lagi membalas pesannya. Dia menurunkan resleting di bajunya hingga ke ulu hati, lalu melakukan swafoto. Dia mengirimkan foto itu pada Broto disertai kalimat menggoda. [Yakin, nggak mau segera ke sini?]  Sepertinya, wanita cantik itu mulai menikmati sisi dirinya yang lain, yang mungkin selama ini tidak dia sadari. Menjadi wanita yang diinginkan, diburu, menggoda, dan dikejar itu menyenangkan. Brrrr .... Brrr .... Kenapa Kala selalu menelepon di saat seperti ini? rutuk Lady dalam hati. Tadi sewaktu dia b******a dengan Broto, Kala juga menelepon. Sekarang, ketika dia menggoda Broto, laki-laki itu menelepon lagi. Insting seorang suami? “Ya, Bee. Ada apa?” “Sudah makan siang? Lagi di mana?” Suara Kala terdengar tergesa-gesa. “Lagi di apartemen teman. Dia baru mau beli makanan. Kenapa, Bee?” Lady berbicara sesantai mungkin. Suaminya memang cenderung emosional ketika menanggapi sesuatu, tak seperti dirinya yang selalu tenang. “Nggak ada apa-apa, sih. Aku cuma agak nervous aja. Pandu nanti berhasil nggak ya ngebujuk Embun, Honey.” “Udahlah, Bee. Fokus aja sama kerjaan lo. Masalah kayak gini juga nggak akan selesai dengan satu atau dua menit saja. Biar Pandu selesaikan semua dengan baik. Nggak mungkin juga Embun kasih jawaban langsung hari ini. Dia pasti butuh waktu untuk berpikir, merenung, mempertimbangkan. Come on, take it easy.” Lady mencoba menenangkan Kala. “Ya, udah. Aku lagi sibuk, banyak kerjaan. Udah dulu, ya. Jangan lupa makan.” Kala menutup panggilan tanpa menunggu jawaban dari sang istri. Lady sudah sangat paham perilaku suaminya. Memang sering seperti itu kalau dia sangat sibuk, tetapi memaksakan diri untuk menelepon. Selalu saja memutus panggilan secara sepihak. Wanita itu sering heran. Kalau memang sedang sibuk, kenapa Kala harus memaksakan diri menelepon hanya untuk mengingatkan makan siang? Dia toh bukan anak kecil lagi. Tidak mungkin juga dia mati kelaparan karena lupa makan siang. Oh, come on. Seperti itulah Kala di mata Lady. Tiap siang, dia selalu menyisihkan waktu untuk menelepon sang istri, memastikan istrinya tidak lupa makan siang. Hal yang bagi wanita itu sangat aneh. Ting tong! Bel unit berbunyi. Lady bergegas menuju pintu. Pasti pengantar makanan, pikir dia. “Siang, dari ....” Lelaki itu tak mampu menyelesaikan kalimat. Dia terpaku menatap ke arah Lady yang lupa belum menaikkan resleting bajunya. Menyadari arah tatapan lelaki itu, Lady segera menaikkan resleting bajunya. “G*food ya,” ujar Lady menutupi malu. Dia raih makanan di tangan lelaki itu dan langsung menutup kembali pintu apartemennya. Sial, lupa narik resleting, gerutu Lady. Lelaki itu masih berdiri di depan pintu. “Alamak, mimpi apa daku semalam. Dapat rezeki nomplok.” Dia terkekeh, lalu pergi meninggalkan apartemen. Lady segera menyantap makanan yang dia pesan. Teramat lapar setelah melakukan satu ronde panas dengan Broto, meski tidak terlalu lama. Dia juga harus menyiapkan energi baru untuk pergulatan berikutnya, yang dia yakin akan lebih seru daripada tadi. Pastinya, lebih lama juga. Sengaja memesan nasi sebagai menu utama, ditambah daging sapi lada hitam, perkedel kentang, salad wortel, dan jus buah naga tanpa gula, sepertinya cukup untuk stamina malam ini. Sedang asyik makan, tiba-tiba dia teringat kebiasaan Broto. Sengaja dipotretnya makanan yang sudah diacak-acak itu, lalu dikirimkan pada pria itu. [Biar kuat hadapi kamu.] Tak lupa Lady membubuhkan sebuah stiker bergambar wajah kuning dengan mata berbentuk hati. Hal aneh. Lady bukan tipe wanita romantis, apalagi berbasa-basi seperti ini. Namun, kenapa hari ini dia begitu ingin menggoda Broto? Jatuh cinta yang selama ini tertunda atau hanya sekadar sebuah sensasi berbeda yang baru sekarang dia rasa? Atau ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD