Tentangmu

1835 Words
Cinta dan cita adalah dua hal berbeda Mereka bisa jalan bersama Tanpa harus saling berpisah Ataupun terpisah *** “Siang, Pak. Embun minta ketemu dokter besok pagi. Jam berapa dan saya antar ke mana?” Pandu menghadap Kala memberitahukan perkembangan, setelah dia menelepon Embun. “Bagus. Istri saya yang akan atur. Nanti, biar dia kabari kamu, ya. Pertanda baik, ya, Pandu.” Kala menatap anak buahnya itu dengan gembira. “Betul, Pak. Sepertinya, semua akan berjalan dengan lancar. Pak, saya izin tidak ke kantor besok. Saya akan menjemput dan mengawal Embun dari pagi,” kata Pandu. “Nggak papa. Lebih baik, kamu fokus pada urusan ini saja. Urusan ini lebih penting daripada pekerjaan kamu di kantor. Toh, saya sudah ambil beberapa orang untuk bantu kamu. Kamu tinggal cek dan awasi dari jauh saja kerja mereka,” jawab Kala, kemudian sibuk berkutat dengan beberapa berkas. Lumayan. Bisa bolos kerja, malah disuruh pacaran. Nikmat mana lagi hendak kau dustakan. Pandu membatin. Dia lalu mengangguk dan meninggalkan ruangan pimpinan. [Embun minta ketemu Broto besok pagi. Atur jadwalnya dan kabari Pandu segera.] Kala menyempatkan untuk mengirim pesan singkat pada istrinya. [OK, Bee. Gue urus sekarang.] Lady tersenyum. Feeling dia memang tidak pernah meleset. Dia segera menelepon Broto. “Sebentar ya, Bu.” Broto meminta izin pada pasien di hadapannya. “Ya, Lad. Ada apa?” “Calon sewa rahim minta bicara sama lo besok pagi. Jam berapa lo bisanya? Mungkin, dia mau nanya-nanya soal proses bayi tabung.” Lady berdiri menjauh dari teman-temannya. Dia sedang berkumpul seperti biasa di sebuah restoran. “Nanti aku kabari lagi. Aku masih ada pasien. Biar kucek dulu ke asistenku, ya. Bye.” Broto mematikan panggilan secara sepihak. Dia kembali fokus kepada pasiennya. Lady bernapas lega. Akhirnya, semua rencana berjalan dengan sempurna. Hari ini, dia berencana untuk mengatur beberapa hal tentang apartemen yang baru dia beli sebagai markas perselingkuhan bersama Broto, mulai dari jadwal kebersihan dan lain-lain. Dia suka memikirkan semua hal dengan detail untuk meudian dijalankan orang-orang bayaran. DIa ahli membuat sistem. Kalau sistem sudah jalan, dia bisa jalan-jalan tanpa beban. Itu pemikiran wanita cerdas itu. Selang beberapa puluh menit, sebuah pesan masuk dari Broto. Dia rupanya sudah mengatur jadwal dengan asistennya. [Jam sepuluh bisa, kok. Atas nama siapa, Lad?] Lady menarikan jemari di atas layar gawai. [Embun. Tolong, bantu yakinkan dia untuk melakukan semua rencana. Katakan saja bahwa tidak ada risiko dan bahaya sama sekali dalam proses bayi tabung maupun melahirkan. Nasib kita semua, ada di tangan dia.] Tak puas berdiskusi lewat telepon, dia menelepon Broto saat itu juga. “Ya, Lad. Kenapa?” Broto menjawab panggilan telepon. “Gue teringat satu hal. Bisa jadi, Embun itu takut kalau sampai operasi cesar. Tolong, yakinkan dia bahwa itu bisa dihindari. Gue tahu, gadis seperti dia pasti berpikir jauh ke depan. Akan jadi pertanyaan besar kalau ada bekas operasi cesar di tubuh dia, ketika dia menikah nanti. Lo pasti bisa jawab pertanyaan dia dengan baik,” tegas Lady. “Tenang saja. Lagian, kalaupun terpaksa harus dilakukan operasi cesar, kita bisa bayarin dia ke dokter ahli operasi plastik untuk menutup bekas luka itu. Simpel, kan?” Broto berujar dengan tenang. “Ah, right! Betul banget. Oke, fine. Gue percaya, lo pasti bisa yakinkan dia. Thank a lot, ya, Broto. Gue lanjut ngobrol sama teman-teman gue, ya. Bye.” Gantian, Lady menutup panggilan secara sepihak. “Bye, Sayang.” Broto menjawab lirih sambil tersenyum dan menatap telepon genggamnya, meski panggilan sudah ditutup.    [Ingat, hubungan kita berdua juga tergantung pada urusan Embun.] Lady mengingatkan Broto bahwa semua yang dia terima kemarin tidaklah gratis. Ada harga yang harus dia bayar, yaitu membantu urusan ini sampai berhasil. [Oke. Jangan khawatir, Sayang. Semua pasti beres.] Balasan dari pria itu, cukup bagi Lady untuk merasa semakin yakin bahwa semua rencana akan berjalan sempurna. Lady lalu mengirimkan alamat praktik Broto dan keterangan jadwal yang sudah ditentukan pada Pandu dan Kala. [Baik, Bu. Terima kasih.] Pandu membalas pesan Lady. Dia pun segera menelepon Embun untuk memberitahukan itu. “Siang, Mas Pandu,” ucap Embun. “Siang, Embun. Maaf, aku ganggu lagi,” kata Pandu tetap dengan nada yang sangat tenang seperti biasa. “Nggak papa, Mas. Ada yang bisa saya bantu?” Embun menjawab sembari menjemur pakaian. “Cuma mau mengabarkan saja, besok dokter bisa kita temui sekitar jam sepuluh. Jadi, tetap seperti semula rencananya, ya. Saya jemput kamu jam tujuh, lalu kita sarapan bareng sambil berdiskusi tentang beberapa hal. Setelah itu baru kita ke dokter. Sekalian saya temani ke sana.” Pandu memaparkan dengan gamblang. Sudah jadi kebiasaan dia untuk menjelaskan sesuatu dengan detail dan terperinci. “Iya, Mas. Sampai ketemu besok ya,” jawab gadis itu sambil menunduk malu. “Oke kalau gitu. Bye.” Pandu mengakhiri panggilan. Dia berpikir untuk membawakan sesuatu besok pagi. Namun, dia masih bingung, apa yang sebaiknya dibeli. Dia belum tahu banyak soal selera Embun, juga barang apa yang dibutuhkan oleh gadis itu. Bunga? Norak, ah. Cokelat? Basi. Permen? Kekanak-kanakan! Akhirnya, Pandu memutuskan untuk membeli kaktus dalam pot kecil. Dicarinya tanaman itu di toko online agar bisa segera dikirim hari ini juga ke kantor. Besok pagi, bisa dia berikan ke Embun. Setelah beberapa kali memilih dan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya pilihan Pandu jatuh pada dua buah kaktus mini yang ditanam dalam satu pot kecil berwarna putih. Pot putih membuat warna kaktus dan duri-durinya terlihat cemerlang. Tanaman bulat yang tumbuh berhimpitan, nampak seperti kedua telinga tokoh Mickey Mouse. Unik, lucu, dan memiliki arti tersendiri. Segera dia memesan kaktus itu dan menyelesaikan pembayaran. Dia juga memastikan pada penjualnya untuk dikirim hari ini juga ke kantor. [Bisa hari ini dikirim?] Pandu mengirimkan pesan pada toko tersebut. Tak perlu menunggu lama, pesan balasan sudah langsung masuk. [Bisa pak. Maksimal dua jam lagi sudah sampai di kantor Bapak. Terima kasih sudah membeli di toko kami. Kami tunggu orderan selanjutnya. Selamat siang.] Lelaki itu tersenyum ceria membaca pesan tersebut. Pandu belum pernah berpacaran, bahkan belum pernah juga jatuh hati pada gadis mana pun. Waktu dan perhatian dia, semua tercurah hanya untuk pendidikan serta mengejar karir, hingga dia bisa sampai di posisi seperti sekarang ini. Bertemu dengan Embun, membuat dia mengenal rasa yang tak pernah dia kenal sebelumnya. Kini, dia sudah berjabat erat dan memeluk hangat perasaan itu. Dia sadar, itu namanya cinta.   Kalau harus menjabarkan alasan kenapa dia bisa jatuh cinta pada Embun, dia sendiri juga tidak tahu. Selain kecantikan gadis itu sangat menarik perhatiannya, muncul satu keinginan kuat dari dalam diri Pandu yang mendorong laki-laki itu untuk terus melindungi Embun. Entah dorongan dari mana. Dia tidak ingin Embun terluka, oleh siapa pun dan apa pun. Hasrat itu muncul tiba-tiba, tanpa terencana, dan tanpa bisa dikendalikan. Pandu melihat Embun seperti bunga rapuh yang sedang berusaha melindungi dirinya sendiri, sendirian, tanpa siapa-siapa. Mawar layu penuh duri yang terus berjuang keras untuk tetap tegak berdiri diterpa angin serta hujan lebat di sekelilingnya. Naluri sebagai seorang pria bangkit membuncah dalam diri untuk selalu menjaga, melindungi, mendekap, dan membahagiakan gadis itu. Dia berjanji, tak akan melepas genggaman tangannya apa pun yang terjadi, jika Embun menjadi istrinya. Pandu sadar bahwa tentu butuh waktu tidak sebentar untuk bisa menaklukkan Embun. Dia juga butuh tambahan waktu lagi untuk meyakinkan Kala dan Lady, jika dia memang berniat untuk menikahi gadis itu. Mereka berdua pasti takut rahasianya terbongkar. Kedua bos itu tidak menginginkan bayi mereka terlibat kontak sedikit pun dengan sang ibu pemilik rahim. Pandu juga tahu ada risiko cinta pertama dia gagal. Dari apa yang dia amati selama ini, hanya sedikit sekali orang yang berhasil dengan cinta pertama mereka. Kebanyakan, mereka mengenal cinta pertama hanya untuk sesaat, untuk kemudian jadi kenangan dan pengalaman yang tak terlupakan. Sangat jarang yang berhasil menikah dengan cinta pertama mereka. Ya, anggap saja cinta pertama itu lebih seperti percobaan, pembelajaran, atau sekadar ajang mencari pengalaman. Dia berharap, cinta pertama dia ini termasuk yang sedikit orang alami tadi. Dia ingin mendapatkan Embun sampai jenjang pernikahan, bahkan sampai tutup usia. Pasti tidak mudah, tetapi dia bertekad untuk meraih itu semua. Semua rintangan itu tidak menyurutkan niat Pandu. Terbiasa hidup dengan penuh tantangan, membuat pria itu tenang menghadapi apa pun. Sudah siang, Embun bergegas mandi dan berangkat kerja. Shift dua seperti ini, memang banyak hal bisa dikerjakan di kontrakan, tetapi rasa lelah jelas tidak bisa dihindari. Jam kerja juga jadi berasa lama karena ingin segera pulang dan mengistirahatkan diri. Berbeda dengan bekerja di shift pagi. Baru beraktivitas sebentar, tahu-tahu sudah waktunya pulang. Ya, semua ada kelebihan masing-masing. “Kapan berangkat ke luar negerinya?” Alaska menyalakan rokok. Mereka berbincang di kantin karyawan, sebelum jam masuk. “Masih mau atur jadwal dulu. Kamu beneran nggak papa aku tinggalin?” Gadis itu menatap sedih ke arah Al. Tidak bisa dipungkiri, ada rasa bersalah karena harus membohongi dia. “Kalau kamu nanya kayak gitu, jelas aku sebetulnya berat, Mbun. Mana kita juga baru jadian, kan. Namun, cita dan cinta itu dua hal berbeda yang bisa saling mendukung, kok. Kita tidak harus memilih salah satu. Cinta yang tulus, pasti akan mendukung pasangannya meraih cita-cita dan siap menunggu. Jangan takut ditinggal oleh cinta ketika dia sedang sibuk mengejar cita-cita.” Al memandang lekat pada gadis di sampingnya. “Cinta juga akan lebih tenang dan matang, setelah sama-sama meraih cita. Toh, aku juga mau konsen kuliah selama kamu pergi.” “Makasih ya, Al. Kamu sudah berubah drastis banget. Kamu sekarang sangat dewasa menyikapi segala hal.” Embun tersenyum, balas memandang lelaki itu. Memang ada rasa sayang, tetapi berbeda dengan apa yang dia rasakan ke Pandu. Ah, Pandu lagi. Embun menggeleng-gelengkan kepala tanpa sadar. “Kamu kenapa? Pusing?” Al menatap khawatir. “Eh, enggak, kok. Leher doang agak kaku. Salah tidur kayaknya tadi,” elak Embun. “Nggak enak ya tidur sendirian. Hehehe. Makanya, dulu aku selalu cari teman buat nemenin tidur.” Al terkekeh. “Itu mah m***m namanya, Al.” Embun memukul lengan Al. “Bukan m***m, Mbun Sayang. Aku tuh penakut orangnya. Nggak berani tidur sendirian. Jadi, maunya ditemenin kalau tidur. Aku kan imut, kalau diculik kuntilanak, gimana coba?” “Dih, kuntilanak juga pilih-pilih kali kalau mau nyulik. Dia nggak mau culik kamu. Nanti, kamu rayu tetangga-tetangga dia. Bisa malu dia sama emak-emak kunti yang lain.” Embun mengibaskan tangan menghalau asap rokok yang keluar dari mulut Al. Paham isyarat itu, Al menjatuhkan rokok lalu menginjak dengan sepatunya. “Tapi ... misal kamu dalam setahun itu nggak sabar nungguin dan nemu cewek lain yang lebih sreg, bilang aja nggak papa, Al. Kita masih tetap bisa berteman, kok.” Embun tak yakin, ucapan ini untuk Al atau diri dia sendiri. “Aku udah cinta mati dan mentok sama kamu, Mbun. Lagian, kamu pergi hanya satu tahun, kan. Sekalian untuk menguji cinta kita, bisa bertahan atau tidak ketika kita saling berjauhan. Rindu itu hidup dari jarak yang memisahkan. Raga yang tak bertemu akan jadi penguji akhir tentang bertautnya dua hati. Kita lihat saja nanti. Nggak usah mikir macam-macam dulu.” Al berucap santai. Dia benar-benar telah berubah. Sekali lagi Embun menatap lekat pada Alaska. Pemuda ini sungguh telah berubah, membuat dia semakin tak tega jika harus menyakiti dan meninggalkannya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD