Matamu Melemahkanku

1441 Words
Yang kejam itu cinta Dia sering hinggap di tempat yang salah Dia mencintai yang tak pernah peduli Tetapi abai pada yang tulus menyayangi *** “Selamat pagi, pacar tersayangku.” Pagi-pagi, Al sudah mengabsen Embun lewat panggilan video. “Kayak anak ABG jatuh cinta aja kamu ini, Al.” Embun tak bisa menutupi rasa geli. Sifat tukang gombal ternyata masih melekat di diri lelaki itu. Al terlihat segar dengan kaos berwarna merah ceria bertuliskan ‘Dream Theater’, grup band idolanya. “Emang, cuman ABG aja yang boleh jatuh cinta? Nenek-nenek aja banyak yang nikah lagi sama brondong. Eh, Mbun. Hari ini, aku mau umumkan ke semua orang kalau kita udah jadian. Gimana? Boleh, ya?” Semangat sekali Al mengatakan hal itu. “Haduh, Al. Kita ini bukan artis, lho. Nggak perlu pakai pengumuman segala. Sekalian aja tuh, pakai toa masjid biar semua orang denger. Aneh-aneh aja kamu ini. Nggak usah kayak gitu-gitu, ah. Orang nanya ya jawab aja. Kalau mereka nggak nanya, ya udah biarin aja. Nggak penting juga untuk kita kasih tahu mereka. Yang pacaran itu kan kita. Nggak ada sangkut paut dengan siapa pun, Al. Kalau mau kasih tahu keluarga, bolehlah, Itu masih bisa dimaklumi. Tapi kalau ke orang-orang di sekitar kita, nggak penting banget deh kayaknya,” jawab Embun panjang. Tentu saja dia merasa jengah jika harus membuat pengumuman seperti itu. Mereka, terutama Embun, bukan orang penting. Bahkan, gadis itu juga tidak punya teman lain di tempat kerja selain Al. Lalu, untuk apa? Yang ada malah nanti orang-orang menertawakan mereka. Pasti dikatakan norak karena menyebarkan berita yang tidak penting seperti itu. Siapa elo? Pasti akan ada komentar miring semacam itu. “Biar nggak ada yang deketin kamu lagi. Biar semua orang tahu kalau kamu itu milik aku, just for me,” balas Alaska seperti anak kecil yang baru dapat mainan kesayangan baru. “Jus melon, kali. Nggak penting itu, Al. Siapa juga yang deketin aku? Mana ada yang mau,” elak Embun. Ya seingat Embun, belum pernah ada pria yang mendekati apalagi menyatakan cinta kepada dia. Kekhawatiran Al jelas tidak masuk akal. “Kamu aja yang nggak nyadar, Mbun. Banyak sebetulnya yang coba tebar pesona, cuma mereka semua mundur karena kamu kelewat cuek.” Sudah lama Al memperhatikan rekan kerja pria di tempat mereka yang berusaha mendekati dan menarik perhatian Embun. Namun, seperti yang dia katakan tadi, gadis itu terlalu cuek dan tidak peduli sehingga membuat semua penggemarnya mundur teratur. Ditambah lagi, kehadiran Al yang selalu di samping Embun, membuat mereka tahu diri. Mereka sudah menebak bahwa pasti akan ada hubungan spesial di antara mereka. “Udah pada mundur, kan? Jadi, nggak perlu lagi pengumuman,” tegas Embun. “Lagian, kamu nggak malu apa punya cewek seperti aku? Cuek, dingin, penyendiri, miskin.” “Aku menyukaimu bukan karena siapa kamu, tapi karena siapa aku ketika bersama kamu.” Alaska memandang gadis itu melalui layar telepon. Rambut sedikit acak-acakan, tetapi justru membuat dia terlihat semakin menarik di mata Al. “Kamu mengubahku. Kamu membuatku jadi lebih baik,” lanjutnya, “dan itu berharga buatku, Mbun.” Embun tersipu mendengar pujian tulus dari Alaska. “Cie cie, yang tersipu. Hahaha. Awas, nanti jatuh cinta, cinta kepada diriku. Jangan-jangan kamu jodohku.” Al menyanyikan sepenggal lagu. “Dasar kadal kupret. Sok romantis. Hahaha.” Embun tergelak. Entah kenapa, keromantisan Al selalu membuat dia tertawa. Memang ada rasa bahagia, tetapi juga bercampur geli. Sangat berbeda dengan Pandu. Lelaki itu mampu menghadirkan suasana romantis, bahkan tanpa perlu buaian kata-kata. Ah, kenapa jadi ngebandingin gini, sih, pikir Embun mengingatkan diri sendiri. “Ngelamunin apa kamu? Terseponah ya dengan cintaku?” Kalimat Al mengembalikan kesadaran Embun. “Biasa aja tuh.” Embun menjulurkan lidah. “Eh, Mbun. Dari kemarin aku jadi males makan kerupuk. Mau tahu kenapa?” “Nggak. Nggak mau tahu, tuh.” Embun sengaja menggoda Al. Dia tahu pasti pria ini mau meluncurkan gombalan lagi. “Yah, kok gitu, sih. Tanya dong, emangnya kenapa? Gitu,” perintah Al. “Hahaha. Dih, maksa banget, sih. Mau ngegombal kok maksa biar berhasil. Hahaha.” Puas sekali Embun bisa menggoda Al. “Gak asik. Gak seru. Huh!” Alaska cemberut. “Ya, udah. Kenapa Sayang, kok, jadi males makan kerupuk?” Gadis itu sengaja berucap mesra. “Hihihi. Ah, kamu. Jadi pengen lompat dari puncak monas karena dipanggil sayang.” Al menendang-nendang di udara saking gembiranya. “Hahaha. Lebay. Ya, udah, aku udah nanya itu. Jawab, dong.” Embun masih tertawa geli. “Kerupuk itu sekadar pelengkap makanan, sedangkan kamu adalah pelengkap hidupku. Eaaaaa,” teriak Al kegirangan. “Ah, nggak nyambung. Lain kali, cari yang lebih bagus, ya. Anda gagal hari.” Al pura-pura cemberut. Dia hanya ingin membahagiakan Embun dengan celotehannya. Namun, sepertinya tidak berhasil kali ini. “Mbun, kalau kita nikah, berarti kamu manggil aku mas, ya? Atau abang?” “Eh, masih tua aku beberapa bulan. Kamu yang manggil aku mbak. Enak aja,” jawab Embun menggoda lagi. “Itu juga kalau kita nikah. Pede amat, sih. Siapa tahu, bulan depan kamu ketemu cewek seksi, cantik, kaya, populer, yang lebih layak jadi istri kamu, Al.” “Tapi aku maunya kamu, Mbun. Bukan yang lain. Tadi pagi, aku udah cerita ke Papa sama Mama. Mereka juga mendukung aku pilih kamu, kok.” Alaska menatap dengan penuh keyakinan. “Mereka belum pernah tahu aku. Bagaimana bisa mendukung?” Embun balas menatap heran. “Sudah banyak kuceritakan soal kamu. Bahkan, dari awal kita kenal dulu.” “Ya, itu kan berdasarkan penilaian kamu, Al. Mereka harus bertemu dulu denganku. Itu baru adil dan fair,” jawab gadis itu kalem. Dia masih tidak percaya diri. Bagaimana kalau ternyata keluarga Al tidak menyukai dia? “Oh, jadi sudah pengen ketemu sama camer neh ceritanya. Hihihi. Gimana kalau pas kita masuk pagi, kamu kuajak ke rumah, ya? Biar kenal sama Mama Papa.” “Iya, nanti kalau jadwal kita sama-sama pagi, ya.” Embun tersenyum Bisa diatur, tinggal ubah jadwal, batin Alaska. “Ya, udah. Aku mau bersih-bersih dan cuci baju dulu,” kata Embun. “Aku juga mau fitnes dulu. Da ... kesayangan. Muach.” Al melambaikan tangan lalu mengecup dari jauh. Embun mematikan panggilan video. Dia jengah kalau Alaska mulai bersikap seperti itu. Gadis itu segera meraih sapu dan mulai beres-beres kontrakan sambil mendengarkan lagu yang dia putar di telepon genggam. Ponsel tersimpan di kantong celana, earphone bluetooth dia pasang di kedua telinga. Aman sudah, bisa sembari beraktivitas tanpa mengganggu tetangga kontrakan dengan suara bising dari musiknya. Matanya melemahkanku, saat pertama kali kulihatmu. Dan jujur, ku tak pernah merasa, ku tak pernah merasa begini. Lirik lagu yang keluar dari earphone di kedua telinga malah mengingatkan dia pada sosok Pandu, bukan Al.   Mata itu, melemahkanku. Embun berusaha menepis pikiran sendiri yang kini mulai terasa mengganggu. Bayangan Pandu membuat dia merasa gelisah, meski hanya hadir sekelebat, sepintas lalu di dalam angan. Setelah membereskan kontrakan, dia bergegas merendam dan mulai mencuci baju. Kegiatan pagi hari kalau dia masuk siang seperti ini memang. Mumpung bisa ketemu sama matahari. Tiba-tiba, suara musik berhenti. Ada panggilan masuk rupanya. “Siang, Mas Pandu. Ada apa?” Embun yang sedang asyik berkutat dengan cucian, tergopoh mengangkat telepon dari Pandu. Dia biasanya cuek dan santai menghadapi siapa pun, tetapi kenapa dia jadi grogi pada pria satu itu? “Saya sudah bicara dengan parapenyewa. Mereka setuju soal upah lima milyar. Villa juga bebas. Untuk itu, saya pengen ketemu kamu supaya bisa lebih jelas villa seperti apa yang Embun mau dan nyaman. Tentang dokter, juga tidak ada masalah, kok. Jadi, semua syarat yang Embun ajukan, mereka sanggupi. Bisa kita ketemu nanti malam?” “Maaf, hari ini saya shift dua, Mas. Pulang jam sepuluh malam. Besok juga.” Ada nada penyesalan dalam kalimat itu. Bukan soal bisnis mereka, tetapi Embun terpaksa melewatkan kesempatan untuk bertemu Pandu. “Besok pagi gimana? Aku jemput kamu.” Pandu tidak mau menyerah. “Gimana kalau besok pagi sekalian ke dokternya? Tapi, aku hanya ingin bicara berdua dengan dokter. Mas anterin aku, tapi jangan ikut masuk, ya. Sekalian, kita bicara setelah itu.” Embun menggigit bibir bawah, menahan debar di jantung. “Aku jemput jam tujuh, sekalian sarapan bareng, ya. Dokter akan kubuatkan jadwal dulu. Nanti aku kabari lagi.” Hampir saja telepon di tangannya dia lempar karena gembira. Pandu senang bisa bertemu dengan Embun lagi dan sarapan bersama. “Ya, udah. Sampai ketemu besok pagi, Mas.” Untung saja, Pandu tidak melihat semburat merah di pipi Embun. “Oke, Mbun. See you.” Pandu mengakhiri percakapan. Kata ‘Mas’ sudah biasa dia dengar sebelumnya, tetapi kenapa terdengar begitu mesra kalau Embun yang mengucapkan? Ada nada yang tak biasa dan rasa yang luar biasa di dalamnya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD