7. Sebuah Pertandingan

1784 Words
Suasana kantin dan lapangan basket terlihat ramai saat jam istirahat tiba. Suara riuh siswa sekolah menengah atas tengah meneriaki anak laki-laki yang tampan dan sedang bermain basket. Dia begitu terlihat mahir memasukan bola kedalam ring. Jarak antara ring dan dirinya yang begitu jauh karena begitu banyak lawan yang menghalanginya tidak membuat dia kesusahan untuk melemparkan bola. Satu kaki melangkah dan kemudian meloncat ke udara. Gerakan tangan mendorong bola agar terlempar oleh energi penuh ke dalam ring. Semua orang yang menonton membuka mulutnya lebar-lebar kala menanti bola memasuki lubang ring. Bola terbang ke udara dan mengitari lubang ring sebanyak tiga kali lalu masuk dan melewati jaring-jaring. “Yeayyyy ….” teriak anak itu sambil mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke udara. Pandangannya tertuju pada sebuah sudut kantin. Seorang gadis yang akan mewakili olimpiade matematika bersamanya tengah di tatap oleh seorang pria yang terlihat asing. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dan gadis itu merasa terancam. Anak laki-laki yang memiliki tubuh proporsional dan mahir bermain basket ini menghiraukan teman-temannya yang memberikan selamat. Dia meraih bola basket dan melemparkannya agar mengenai pria asing yang sedang terlihat mengancam gadis itu. Plakkk …. Bola berhasil di tahan tangan kekar pria yang terlihat sangat waspada dan bergerak cepat itu. Kalau saja telat satu detik, pasti bola basket akan mengenai kepalanya. Perlahan anak yang tadi melempar bola mendekat dan hendak mengambil bolanya. Menatap tajam mata orang yang sedang memegang bola basket. Pandangan mereka saling beradu, pandangan layaknya pedang yang siap untuk bertarung. ‘Anak nakal ini!’ batinnya dalam hati lalu menyerahkan bola. Penyamarannya berhasil sampai-sampai tidak di kenali oleh orang terdekat. “Jangan menggoda gadis di sekolah ini, anak baru!” ujarnya sambil meraih bola dengan kasar. Dia berbalik dan kembali ke lapangan. “Hei …!” teriak Biyan membuat anak yang memegang bola menoleh. Dia mendapatkan tatapan tajam lagi. “Kenapa? Kau mau bertanding denganku?” ujarnya menantang Biyan. Sudut hidungnya bergerak naik, seolah meremehkan anak pindahan yang baru saja resmi menjadi siswa di sekolah ini. “Ayo, siapa takut!” Biyan berjalan menuju lapangan. Alex yang tengah sibuk mengobrol dengan Gina, sugar babynya. Menoleh ke arah Biyan yang tengah menatap Jesica. Hampir saja sahabatnya terkena bola basket. Bisa geger otak aset Biyan paling berharga itu, dengan otak dia bisa menghasilkan banyak uang. Alex tercengang melihat siapa orang yang tengah menatap Biyan sangat tajam. Akankah Biyan di kenali dan akan ketahuan? Dia memperhatikan dari kejauhan dan melihat bagaimana Biyan berhasil menipu orang terdekatnya tanpa di ketahui dengan wajah hasil pulasan makeover tadi pagi. “Cayang! Itu Reginald bukan?” tanya Alex mencolek-colek pundak Gina yang tengah meminum jus alpukat. “Iya Abang, itu Reginald. Ko Abang kenal?” Gina mengerutkan dahi. Kenapa Daddynya ini bisa mengenal seorang anak yang populer dan menjadi idaman para gadis seluruh isi sekolah. Ketampanan Reginald bak seorang Dewa. Sayang sikapnya terkenal dingin dan tidak pernah sama sekali menggubris para gadis yang menyapanya. “Iya abang kenal! Cayang. Abang kesana dulu, ya!” Alex panik ketika melihat Biyan malah berjalan ke lapangan basket. Mungkinkah jika sahabatnya itu akan berduel. Alex berlari menyusul Biyan, nafasnya memburu dan tangannya memegang pundak sahabatnya. “Lo mau ngapain, Gibran?” tanyanya sambil mengatur nafas. “Gue mau bertanding main basket bareng anak nakal ini!” Gibran alias Biyan menyilangkan tangan dan menatap ke arah lawan mainnya. “Hah ….” Alex tidak percaya sahabatnya akan bertanding sekarang. Dulu memang mereka jago bermain basket. Kejayaan itu sudah berlalu dan mereka sudah lama tidak bermain basket lagi. Pasti tubuh mereka akan kaku dan akan mendapatkan kekalahan. Mereka saling menatap. Uluran tangan dari lawan Biyan mengajaknya untuk bersalaman. “Gue Reginald!” Senyuman yang lebih terlihat seperti meremehkan orang yang ada di hadapannya ini terukir di wajahnya. “Kenalkan, gue Gibran!” Banyak pasang mata memperhatikan idola mereka Reginald sang penguasa lapangan bola basket tengah ingin melakukan pertandingan bersama dua orang anak pindahan. Anak pindahan yang kini berada di tengah lapangan basket terlihat tampan dan menawan. Dalam sekejap menghipnotis dan mendapat sorakan dari fans para gadis yang menyukai mereka pada pandangan pertama. Reginald menoleh ke belakang dan memanggil satu orang rekannya. “Rey, sini temenin gue tanding!” Teman bernama Reyhan datang dan berdiri di samping Reyhan. “Kita mulai dua lawan dua!” Bola basket sudah di pegang di tangan kanan. Rahma mendekat ke arah Jesica yang heran karena baru saja dia di bela oleh seorang Reginald. Anak itu apa benar-benar melindunginya tadi dari gangguan anak baru? Ah … mana mungkin, Reginald dari dulu bersikap dingin pada Jesica meski mereka selalu mengikuti lomba bersama-sama. “Jes, lihat ke sana!” Rahma menunjuk ke arah lapangan basket. “Kayanya Reginald bakal duel cuy, bareng si anak baru yang Lo timpuk botol itu!” Rahma bersemangat karena akan menonton pertandingan yang mendebarkan d**a. Dia meninggalkan Jesica dan duduk di tepi lapangan. “Tunggu gue, Ma!” Jesica juga penasaran. Akankah seorang Reginald akan di kalahkan oleh dua anak baru itu. Jesica ikut duduk di sebelah Rahma. Dia menyandarkan kepalanya di pundak sang sahabat. “Jes, jes.” Rahma menggoyang-goyangkan kaki Jesica. “Taruhan, yu!” ajak Rahma dia ingin bertaruh, siapa yang akan menang. “Taruhan siapa yang bakal menang gitu?” Jesica sudah bisa menebak isi kepala Rahma. “Iya. menurut Lo, siapa yang bakal menang? Menurut gue, Gibran yang bakal menang dan Reginald yang kalah!” Rahma berusaha memprediksi. “Gue, sih, pilih Reginald, lah. Dia, kan, penguasa lapangan ini!” Jesica penuh keyakinan. Pasti reginald yang akan menang dalam pertandingan ini. “Ho ho … Kalau Gibran yang menang, Lo harus minta maaf ke dia karena udah nimpuk palanya pake botol. Kalau Reginald yang menang, gue yang bakal pura-pura nimpuk palanya tu si Gibran!” Rahma berkeyakinan dia akan memenangkan taruhan. “Deal?” tanya Rahma. “Deal!” ujar Jesica. Bola di ambil alih oleh wasit. Di lempar ke udara dan peluit tanda pertandingan di mulai sudah di tiup wasit yang merupakan anak tim basket sekolah. Banyak sekali anak yang melihat sang idola penguasa lapangan tengah bertanding bersama anak pindahan. Tinggi mereka berdua sama. Dua tangan yang berlawanan arah berusaha meraih bola. Dengan gaya cool Reginald, dia berhasil meraih bola dan menggiringnya memutari tubuh Gibran. Mengedipkan sebelah mata pada para gadis dan berlari untuk menuju ring. Alex yang berjaga di belakang bergerak kesana kemari mengikuti langkah Reginald. Dia sudah tidak selincah dulu lagi. Tubuhnya terlalu lincah di ranjang bersama anak gadis, bukan lincah untuk bergerak di lapangan basket. Gerakan Reginald sangat lincah hingga Alex kesulitan mengimbanginya. Sementara Gibran berusaha terbebas dari Reyhan yang juga lincah. Reginald berhasil mendekati ring dan meloncat untuk melempar bola dari jarak dekat. Bola mengenai badan kayu lalu terjatuh melewati ring dan jaring. Skor pertama di raih oleh tim Reginald dan Reyhan. Mereka berdua saling menepukan tangan dan saling tersenyum. “Kerja bagus. Lanjut!” Gunawan alias Alex sudah berdiri di bawah ring. Dia melemparkan bola pada Gibran yang berdiri melambaikan dua tangan. Reginald sudah bersiap merebut bola jika benar mengarah pada Gibran. Alex lebih memilih menggiringnya maju dan melempar saat dua pemain dari lawan mengejarnya. Gibran sendiri dan berhasil menangkap bola. Berlari mendekat dan hampir melemparkan bola. Gerakan Reginald sangat cepat sehingga bisa menahan bola yang di lemparkan Gibran. Sorak sorai dari para gadis terdengar menyemangati Reginald. Jesica merasa bahagia Reginald berhasil menguasai lapangan. Dia menjulurkan lidah pada Rahma yang terlihat murung karena Gibran belum saja memasukan bola. “Idola Lu ciut!” Jesica mengarahkan tangannya dari atas ke bawah. “Awas, Lu. Masih ada beberapa menit lagi.” Rahma geram dan menyilangkan tangan di depan d**a. ‘Ayo … ayo … Lo harus menang, Gib. Biar gue juga menang taruhan!’ Batin Rahma sambil menggigit ujung jari. Pori-pori Rahma mengeluarkan keringat dingin. Bagaimana jika Gibran benar-benar kalah. Dia harus meminta maaf dan berpura-pura sebagai pelaku pelempar botol. Dua skor untuk tim duo R. Gibran mendekat pada Gunawan. “Lu ko ciud gitu, sih? Dulu kita tim yang cuco meong lho, semua lawan terhempas!” ujar Gibran menyemangati Gunawan yang tengah mengatur nafas. “Gile … kita bukan kaya dulu lagi, udah umur berapa ini? Kepala tiga, Bro!” Gunawan berjongkok. Dia hampir menyerah mengimbangi gerakan anak muda. “Alah … Lu jago di atas ranjang aja! Lihat kesana!” Gibran menunjuk Gina yang tengah menonton. “Malu Lu ama sugar baby Lu. Masa abang gantengnya lemah, sih. Kaga bisa menang. Ntar di kira lemah syahwat juga!” Gibran mengejek Gunawan yang dulu adalah partner terbaiknya. Mereka harus memenangkan pertandingan ini. “Eh … bukannya Lo yang lemah syahwat. Burung Lo udah lama bulukan kaga di pake-pake!” Gunawan balik mengejek Gibran. “Terserah apa kata Lu. Yang jelas, kita harus menang. Malu udah dandan maksimal bak anak ABG. Masa segini doang kalah. Kita atlet basket lho!” Gibran terus menyemangati diri dan rekannya. “Wokeh. Semangat!” Gunawan bangun dan menghadap Gina, dia membuat gerakan kiss dari jauh. “Abang semangat di lihat adek emeesshh!” Gunawan berlari dan kembali bersemangat. Peluit kembali di tiup. Pertandingan kembali di mulai. Alex kali ini seperti merasakan sebuah setruman di tubuhnya karena Gina memberikan tanda cium dari jauh. Dia bergerak cepat dan saling mengoper bola bersama Gibran melewati serangan duo R. Gunawan berhasil membuat satu skor. Dia berhasil memasukkan bola jarak dekat. “Kerja bagus, Bro!” Skor menjadi dua satu. Rahma merasa lega, tim yang ia sponsori berhasil menyusul skor. Gibran mengedipkan sebelah matanya pada Reyhan. Kali ini dia menguasai bola setelah berhasil merebut bola dari anak itu. Melempar bola ke arah Gunawan yang sudah menunggu. Pergerakan Gunawan di halangi Reyhan. Daripada mengoper bola basket. Lebih baik dia melempar langsung ke arah ring. Sorak sorai kembali terdengar. Gina sampai berdiri karena Daddynya itu berhasil membuat skor lagi. Kini skor menjadi dua sama. Jesica dan Rahma merasakan panas dingin. Ini adalah skor penentuan pertandingan. Siapa yang akan menang karena kelas akan segera di mulai. Reyhan melempar bola pada Reginald yang sudah lama menunggu. d**a Gibran mendorong tubuh Reginald agar kehilangan keseimbangan dan tidak bisa meraih bola. Gibran berhasil meraih bola basket dan Gunawan sudah bersiap untuk mendapatkan operan bola. Kali ini, dia ingin yang memasukan bola bukan lagi Gunawan. Sahabatnya itu sudah terlihat cool karena berhasil membuat skor. Ini saatnya dia yang membuat skor. Mengambil ancang-ancang untuk meloncat dan melempar bola. Reginald sudah siap menepis bola yang akan di lemparkan Gibran. Keduanya seakan kehabisan nafas karena ini adalah skor penentu kemenangan. Gibran meloncat sebelum Reginald ikut meloncat. Dia melempar bola dari kejauhan. Tangan Reginald hendak meraih bola tapi tidak bisa ia capai. Bola melayang jauh dan mengenai badan kayu. Mengitari ring yang berbentuk bulat itu. Reyhan terjatuh dan lututnya sedikit lecet. Jesica dan Rahma berdiri lalu membuka lebar-lebar matanya agar bisa melihat bola masuk ke ring atau tidak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD