35. Mimpi Buruk

2442 Words
     Udara malam terasa dingin menusuk hingga ke rusuk, Monik termenung menatap langit malam yang semakin larut. Rintik hujan masih belum lelah menjatuhkan dirinya membasahi bumi, tak ada satupun bintang dengan kerlingannya yang genit, tak ada bulan dengan senyumannya yang cantik, warna hitam mendominasi langit malam ini, hitam pekat dingin dan sunyi. Monik masih setia  melamunan dengan wajah sedang menahan amarah, yang tadinya ia semangat packing untuk berangkat ke Solo bersama teman-temannya kini lemah tak bersemangat, pasalnya Monik menerima pesan dari mamanya agar jangan kemana-mana, karena mamanya akan tiba di rumah tepat dimana hari pemberangkatan Monik ke Solo.      "Sayang.. kamu sedang apa? kamu jangan kemana-mana ya.. soalnya mama hari Jumat pulang.. ada hal penting yang akan mama dan papa bicarakan sama kamu."  Begitulah pesan mamanya yang di kirimkan ke Monik, hanya 1 pesan  namun singkat dan padat, dan itu membuat tanda tanya besar bagi Monik.       "Lantas alasan apa yang akan gue bilang ke temen-temen kalo gue nggak jadi berangkat." Monik menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan gusar.       "Malam guys.. sorry kayaknya gue nggak bisa berangkat deh.." Monik mengetik di layar hapenya, namun lalu kemudian di hapus lagi oleh Monik, ia ragu karena merasa tidak enak, bagaimana tidak? keberangkatan ke Solo adalah guna mendukung dirinya untuk mengejar cinta Zia, tapi malah dirinya tidak berangkat apa kata teman-temannya nanti.      "Arrgghh." Monik menghentakkan kakinya dengan kesal lalu menutup jendelanya dan membanting tubuhnya di atas kasur. Pikiran Monik tidak tenang ia berusaha memejamkan matanya agar istirahat dan besok bangun biar terlihat lebih segar, namun matanya tidak bisa di ajak kompromi, mata Monik memindai seluruh kamarnya lalu terhenti di sebuah foto yang tertempel di dinding, di sana terpampang wajah dirinya dan Zia sedang menikmati matahari terbenam, saat itu mereka sedang berada di pantai, kala itu mereka tidak hanya berdua melainkan bersama geng K2 nya.      Pandangan mata Monik buram, matanya mengkristal, tiap kali melihat dan mengingat Zia, Monik selalu merasa bersalah dan menyesal, apalagi setelah mengetahui siapa sebenarnya diri Zia. Tapi saat itu juga berubah menjadi kesal tatkala mengingat bahwa Zia yang tidak pernah mengungkapkan rasa cintanya kepada Monik. Zia yang tidak romantis, Zia yang tidak mau terlihat mesra di depan umum atau bahkan di depan teman-temannya sendiri pun Zia tetap dingin dan canggung, tidak seperti dosennya yang kebalikannya dari Zia. Pak Thom begitu romantis, dia sangat menyayangi Monik, tak jarang pak Thom mengungkapkan rasa cintanya kepada Monik, pak Thom pun tak segan-segan memperlihatkan kemesraanya di depan mahasiswa nya terutama di depan geng K2.      Tapi saat ini Monik bimbang apakah akan mengejar cinta Zia atau kah bertahan bersama sang dosen yang selalu memperlakukan dirinya bak ratu.      "Inget Mon.. si dosen itu juga bisa berbuat kasar sewaktu-waktu." Tiba-tiba seperti ada yang berteriak di belakang Monik.      "Tapi si dosen itu sangat perhatian dan sudah pasti dia mencintaimu." Suara yang berbeda terdengar lembut di telinga Monik.      "Dia posesif Monik." Teriak suara di belakang Monik.      "Dia akan baik jika kamu tidak mengkhianatinya seperti kamu mengkhianati Zia." Bisik suara itu lirih.       "Aku mencintai kamu Monik.. apalagi yang kamu risaukan.. kamu akan bahagia bersamaku.. kamu tidak akan bisa jauh dariku.. kamu saat ini dalam genggamanku.. jadilah istriku jadilah.. hahaha.. jadilah milikku.. kau akan menjadi budakku..selamanya.. selamanya.." Tiba-tiba pak Thom muncul dengan pakaian berjubah panjang dan bermahkota seperti seorang pangeran yang posesif dan kejam dengan cemeti di tangannya kirinya lalu di tangan kanannya memegang sebuat tongkat bermata elang yang tajam siap menghunus dan memancarkan sinarnya yang membuat silau mata Monik,  Monik mau berteriak dan berlari tapi tidak bisa, peluh mengucur deras di dahi serta wajah dan lehernya, nafasnya terengah-engah karena ketakutan.      Monik melihat sekilas wajah Zia yang pergi meninggalkan dirinya dalam ketakutan serta kungkungan pak Thom, Zia berjalan bersama seorang putri yang sangat cantik, keduanya menoleh kearah Monik seraya tersenyum bahagia melihat penderitaan Monik      "Jangaaaan..!!" Monik berteriak dan membuka matanya tatkala silau menerpa wajah Monik.      "Haaah.. haaah.. huuft.. huft.. astaga untung hanya mimpi." ucap Monik sambil ngos-ngosan, lalu ia menyeka peluhnya dengan selimut yang menutupi sebagian badannya. Monik bangun dan meraih gelas di nakas dn langsung menenggaknya hingga tandas.      "Hosh.. hosh.." Nafas Monik masih menderu, ia melirik jam weker di nakas, saat ini sudah pukul 7.30 ia harus segera bangun dan mandi mengingat hari ini adalah ada makul terakhir serta pengumpulan proposal PKM yang selanjutnya libur selama hampir satu bulan, dengan malas ia berusaha berjalan menuju kamar mandi.       Monik sudah berpakaian rapih, ia melihat kearah meja makan disana sudah tersedia hidangan untuk sarapan pagi untuknya.      "Pagi non.." Sapa asisten rumah tangganya.      "Pagi." Sapa Monik singkat.      "Tadi bibik udah bangunin non.. tapi sepertinya non masih pules.. bibik pikir non kuliah siang." Ucap art nya.      "Iya bik nggak papa.. Monik kuliah agak siangan kok.. ohya bik.. mama katanya jumat balik ya?" Sahut dan tanya Monik sambil mencaplok telur rebus namun hanya putihnya.      "Iya non.. katanya mau ada tamu juga..jadi bibi suruh masak yang banyak.. besok di kirim daftar belanjaannya sama nyonya." kata art nya seraya menuangkan coklat panas ke gelas.       "Ohh.. hmm.. tamu siapa bik?" Monik meraih gelas yang baru saja di tuangi coklat panas.       "Katanya sih temen bisnis tuan non." Jawab art nya.       Tin.. Tinnn.. suara klakson nyaring terdengar dari luar, itu pertanda mobil Susan sudah datang untuk menjemput Monik.       "Dah bik.. beresin.. aku berangkat dulu." Monik melempar sapu tangan ke meja setelah membersihkan mulutnya lalu berlari menuju pintu      "Eh non kok rotinya nggak di sentuh sama sekali." Teriak art nya.      "Ohya bik aku bawa aja buat Susan." Monik balik lagi dan menyambar roti bakar.      "Hai Mon.. San.. buruan kita ke kelas soalnya dosennya tadi dah dateng gue ketemu di parkiran." Sapa Nara ketika sudah sampai di kampus.      "Iya sorry tadi sedikit macet." Sahut Susan seraya berlari kecil menuju kelas.      Setelah selesai menyerahkan tugas yang di berikan oleh dosen, Susan, Monik, Nara, Anna, Dhea berkumpul di kantin kampus.      "Gimana persiapan lo Mon?" Tanya Nara seraya membetul ikat pinggangnya.      "Eiuum gue udah packing." Monik masih belum berterus terang jika dirinya tidak jadi berangkat.      "Good.. gue juga dah beres.. gue nggak mau bawa banyak-banyak.. karena kita kan di sana mau shoping-shoping.. iya kan San?" Girang Dhea.      "Yoi gue setuju sama lo Dhe." Bukannya Susan yang menjawab malah Anna yang antusias.      "Lha gue malah cuma bawa daleman sama jaket doang.. wkwkwkwk." Ucap Anna terkekeh.      "Haa lo sih emang dayak!" Ejek Dhea dan Anna malah terbahak.      "Eh Mon.. kok lo dari tadi kayak mikirin sesuatu gitu sih?" Colek Nara di lengan Monik.      "Eh nggak papa kok Nar.. gue.." Monik terdiam lagi.      "Ada masalah apa lagi Mon?" Tanya Susan khawatir.      "Nyokap San." Jawab Monik pelan.      "Nyokap lo kenapa Mon?" Susan mendekati Monik.      "Nyokap gue mau pulang hari Jumat.. sedangkan kita kan mau berangkat hari itu juga." Monik berkata dengan lemas dan menghela nafas.       "Yaaah lalu gimana dong? masa kita nggak jadi pergi alias batal sih." Ujar Anna kecewa.       "Kenapa harus batal sih?" Susan menatap Anna kesal.       "Kita dengerin dulu dia emang kenapa kalo nyokap lo balik Mon?" Tanya dan tunjuk Susan kearah Monik.       "Gue juga bingung San.. tumben-tumbennya nyokap bilang gue nggak boleh kemana-mana hari Jumat itu karena katanya mau ada tamu.. pas gue tanya tamu siapa.. hape nyokap juga bokap nggak aktif.. aneh banget deh.. lalu si bibik juga bilang nyokap nyuruh bibik masak banyak buat hari Jumat.. menurut si bibik itu temen bisnis papa." Cerita Monik tak bersemangat.       Semua mendengarkan cerita Monik dengan serius, jelas terlihat rasa kecewa di wajah-wajah teman Monik, namun itu tak bisa merubah keputusan Monik untuk berangkat di hari Jumat.      "Gue tau selama ini omongan nyokap tuh nggak bisa di bantah.. kalo gue ngebantah titah nyokap.. bisa-bisa gue bakalan nggak dapet uang saku selama sebulan.. kalian dah tau kan?" Seloroh Monik lalu menarik nafas.      "Ya udah kalo gitu kita tunggu aja si Donny sama Rey.. kan mereka yang pesen travel.. bisa di batalin atau nggak." Kata Dhea akhirnya setelah mendengar cerita Monik.      "Nah itu Rey sama Donny." Tunjuk Nara girang.      "Ada paan nih kok muka-muka kalian pada serius gitu kayak emak-emak di tanggal tua." Ledek Rey begitu sampai di tempat mereka biasa nongkrong.      "Suek lo.. dateng-dateng ngatain kita-kita lo." Damprat Dhea melempar sedotan kearah Rey.      Rey dan Donny terbahak melihat teman ciwinya pada cemberut karena di ledekin Rey.      "Duduk Don.. Rey.." Ajak Monik seraya menepuk tempat duduk di sebelahnya agar dekat dengan dirinya.     "Okey cantik sebenernya ada paan sih?" Donny duduk di sebelah Monik dan merangkul pundak Monik.     Setelah di ceritakan semuanya oleh Monik akhirnya Rey menghubungi temannya yang orang travel, pemberangkatan tidak bisa di batalkan hanya di undur harinya saja, dan itu menunggu hasil keputusan dari Monik setelah kepulangan orang tua Monik.      Hari Jumat yang di tunggu sudah tiba, 4 orang asisten rumah tangga di rumah Monik nampak sibuk menyiapkan beberapa jamuan, hari ini Monik segan untuk keluar dari kamar, Monik pikir kan yang kedatangan tamu adalah orang tuanya, jadi Monik dengannya masih di dalam kamar, ia santai tidak mandi, tidak sarapan, ia malah mendengar lagu-lagu Korea dengan headset menempel di telinganya.      Kruyuuk.. krukk.. perut Monik berteriak minta di isi, sebab sekarang sudah menunjukkan pukul 10, dengan malas Monik turun dari tempat tidurnya dan menuju meja makan, mata Monik terperanjat saat melihat di atas meja makan sudah penuh terisi dengan pinggan-pinggan yang masih kosong namun sudah tertata apik dan rapih di sana, yang nantinya akan di isi dengan berbagai macam masakan, terlihat juga 2 buah vase kristal berisi bunga sedap malam dan satu lagi berisi bunga mawar putih dan pink, harumnya semerbak mendominasi seluruh ruangan.       "Emang siapa sih yang mau dateng.. kok banyak banget kayaknya.. sampe bibik ngeluarin mangkok besar gitu." Batin Monik.      Monik berjalan mendekati meja makan, Monik membuka tutup pinggan beling yang ternyata di sana masih ada nasi goreng hangat yang belum tersentuh sama sekali.      "Hmmm yummy." Monik menghirup aroma nasi goreng tersebut, lalu Monik membuka piring tengkurap yang ada di samping pinggan tersebut, Monik menyedokkan nasi goreng dan mengisi piringnya dengan ayam goreng, udang goreng tepung, tomat serta timun tak lupa jug akerupuk udang, ia menyantap nasi goreng itu dengan tenang dan lahap, dan memang sarapan itu di sediakan untuk Monik. Setelah perutnya terisi penuh dan menenggak segelas air putih Monik masuk lagi ke dalam kamarnya, benda pipih di samping bantal berbunyi, disana tertera tulisan papa.      "Iya pa." Sahut Monik.      "Sayang kamu sedang apa?"      "Monik di kamar pa.. nggak ngapa-ngapain.. papa kapan pulang?"      "Ini sudah di jalan sayang.. 2 jam lagi mama dan papa sampai rumah."      "Ohhh ok pa.. hati-hati ya."      "Ok sayang.. makasih."      Monik mengakhiri pembicaraan dengan papanya, ia melempar benda pipih itu kembali di samping bantal. Benda pipih itu tak berhenti berbunyi, ada banyak sekali pesan yang masuk namun Monik mengabaikannya. Monik melanjutkan aktivitasnya mendengarkan lagu-lagu Korea sampai ia ketiduran.      "Aduuuh anak mama ini bener-bener males yaa.. perawan tuh nggak boleh males tau." Tiba-tiba mamanya masuk kamar Monik dan membuka semua tirai yang sedari pagi belum di buka, di tariknya headset di telinga Monik, Monik menggeliat dengan mata masih setengah merem.     "Eeh mama udah dateng." Sapa Monik cengar-cengir sembari mengucek matanya.     "Udah dari tadi tau.. nih liat mama udah ganti baju.. ayo cepat kamu mandi sana lalu dandan yang cantik.. itu ada baju di dalam paper bag.. jangan lupa perhiasannya juga di pake ya." Tunjuk mamanya ke arah paper bag warna ungu muda di atas meja rias.      "Haah emang siapa sih ma yang dateng.. kok Monik segala di suruh dandan yang cantik." Tanya Monik dengan suara bangun tidur.      "Udah jangan banyak nanya.. nanti juga kamu tau sendiri.. cepat sana mandi.. keburu tamunya dateng." Titah mamanya.      Dengan setengah hati Monik bangkit mendekati paper bag ungu itu, ia raih dan di ambilah isi paper bag tersebut.      "Waaaah gila keren banget dress nya." Puji Monik takjub setelah melihat isinya.       Dress ungu muda sesuai dengan warna paper bag nya, drees itu di beli dari boutique terkenal di Jakarta, dress dengan aksen ruffle asimetris lined silver dengan pinggang ramping  dan besar di bagian d**a serta rendah, sesuai dengan body Monik yang seksi dengan d**a besar.      Monik mencoba menempelkan dress itu pada badannya, lalu ia memutar-mutar tubuhnya di depan cermin layaknya anak kecil saja yang baru saja di belikan baju baru. Setelah puas menari-nari di depan cermin Monik meraih sebuah kotak perhiasan dan bukanya kotak itu, ternyata isinya satu set perhiasan emas putih Swarovski sepasang anting, gelang, serta kalung dengan liontin huruf M.     "Loh kok cincinnya nggak ada.. aneh!" Pikir Monik.     Ceklek..      "Eeeeh ini anak belum mandi juga.. buruan mandi di tunggu papa di ruang kerjanya." Mama Monik melongokkan wajahnya di balik pintu.      "Hehehe ok ma.. eh maa tunggu.. ini dress nya siapa yang beli ma? kok pas banget di badan Monik?" Celoteh Monik yang membayangkan jika ia memakai dress itu akan terlihat sangat cantik.      "Udah jangan banyak tanya.. buruan.. keburu tamunya datang lho.. katanya habis Ashar mereka tiba." Jawab mama nya dan langsung menutup pintu kamar Monik.      Monik segera masuk kamar mandi setelah meletakkan dress nya di atas tempat tidur,  setengah jam berlalu Monik keluar dari kamar dengan wajah yang segar dan harum, tak sabar ia akan segera memakai dress yang baru saja di beri oleh mamanya.      Tanpa berpikir panjang Monik langsung memakai dress nya lalu berdandan flawless, dengan rambut di biarkan tergerai lalu ia menyematkan jepitan putih kecil bermata, tak lupa Monik menyematkan perhiasan pada tubuhnya. Monik segera keluar dari kamarnya dan akan menemui papanya di ruang kerja, saat membuka pintu kamar ada sebuah kotak besar di bawah pintu, rupanya itu sepatu heel 5cm berwarna putih buat Monik, sangat pas di kakinya yang jenjang dan mulus.       Monik terlihat sangat cantik dengan dress tersebut di mana dengan belahan d**a yang rendah sehingga menampilkan leher Monik yang jenjang serta d**a Monik yang besar dan seksi, di tambah dengan kalung yang melilit di lehernya.      Monik menghampiri papanya di ruang kerja, ia lalu masuk dan menyapa papanya kemudian mencium pipi papanya dan bergelendot manja di pundak papanya yang sedang duduk di kursi kerjanya.      "Loh kok anak papa yang cantik ini belum wangi sih?" Tanya papanya setelah mencium pipi Monik dan di rasa ada yang kurang.      "Oh iya.. Monik lupa belum pake parfum pa.. Monik ke kamar dulu ya." Monik segera keluar dari ruang kerja papanya dan kembali ke kamaranya untuk memakai parfum.      Ketika melintasi ruang makan yang terbuka pintunya dan itu mengarah ke sebuah taman di halaman samping rumah Monik, di halaman tersebut sangat luas, biasanya jika ada acara atau saat berkumpul keluarag besar Monik pintu itu akan di buka dan beberapa mobil akan parkir di taman tersebut, mengingat halaman di depan hanya memuat 4 mobil saja.      Saat itulah Monik melihat 3 buah mobil masuk ke halaman samping, namun sepertinya Monik melihat mobil itu sudah tidak asing lagi di mata Monik.      "Apa itu tamunya? kok gue kayak pernah liat mobil itu ya? tapi mobil di mana dan mobil siapa itu?" Namun Monik tidak mau membuang waktu hanya untuk memikirkan pemilik mobil itu, ia segera melangkah menuju kamarnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD