34. Lost Contact

4006 Words
     Satu Minggu sudah Zia berada di Solo untuk melanjutkan aktivitas kuliah dan pekerjaan nya, hari-hari Zia terasa begitu melelahkan sebab disibukkan dengan tugas dan pekerjaan yang dikirim oleh om Ageng juga bli Nyoman, meskipun hanya mengecek laporan saja namun itu sangat menyita waktu Zia belum lagi dengan pekerjaan yang akan dilakukan akhir pekan ini, bang Troy meminta Zia untuk datang ke rukan (rumah kantor) nya agar bisa melihat dan membaca langsung naskah untuk project yang baru, project yang diberikan oleh bang Troy yaitu menjadikan Zia tokoh utama lagi dalam film terbarunya, tapi kali ini harus dengan mengikuti audisi dan Zia harus bersaing dengan artis yang sudah berpengalaman.      Disela kesibukannya Zia selalu menyempatkan diri untuk menelpon Luna atau bahkan sekedar mengirim pesan untuk menanyakan keadaan Luna di sana. Setelah pertemuan nya dengan Luna dan memberikan bucket, Zia semakin yakin bahwa Luna memiliki rasa yang sama. Kala rindu melanda Zia hanya bisa menatap wajah Luna di layar ponsel nya, di layar laptop Zia pun ada menyampan foto-foto Luna dan dirinya, bahkan Zia menyimpan foto-foto Luna yang sedang tertidur di mobil nya yang diambil nya secara diam-diam. Zia sering memandangi foto Luna sambil senyum-senyum sendiri. Ketika di kampus pun saat Zia sedang suntuk ia akan membuka galeri nya hanya untuk melihat foto-foto Luna.      Seperti sekarang ini Zia sedang menunggu Dodit yang tak kunjung tiba, padahal dia janji akan menemui Zia di kantin pada pukul 11 sedangkan saat ini sudah hampir jam 12 yang sebentar lagi akan Adzan Dzuhur. Zia tak merasa bosan karena ia sedang asyik memandangi foto Luna. Tanpa Zia sadari di belakang nya ada yang sedang ikut memandangi foto-foto di layar laptop Zia.        "Hah.. nggak salah liat gue.. kenapa Zia nyimpen foto-foto anak kampung itu.. mana banyak banget lagi.. sepertinya itu ada yang lagi tidur di dalam mobil." Batin Tasya panas melihat banyak sekali foto Luna.      Kemudian Zia mengambil benda pipih dari sakunya dan menekan nomor 7 untuk panggilan cepat, tak lama kemudian langsung tersambung ke sebuah nama yaitu Alunaku.      "Kurang ajar ternyata mereka udah bertukar nomer hape segala.. itu artinya selama Zia di Jakarta mereka ketemuan dong.. nggak bisa di diemin nih." Ancam Tasya dalam hati seraya mengepalkan tangannya dengan erat. Tasya semakin mendekatkan dirinya di belakang Zia, ia menguping pembicaraan Zia yang sepertinya sedang bercanda dengan Luna terlihat dari Zia yang sedang terkekeh seru sambil memegangi handphone di telingan nya.      Zia mengakhiri telepon nya setelah menanyakan kabar Luna tentang persiapan untuk pendaftaran ke Sekolah Menengah Atas, Zia mendoakan agar di berikan kemudahan dan kelancaran untuk Luna.      Dengan perasaan yang semakin terluka dan panas Tasya mendekati Zia.      "Hai Zi.. sendirian aja lo ?" Sapa Tasya lalu duduk di depan Zia yang sedang merapihkan laptop dan bukunya.      "Eh Sya lo liat Dodit nggak ?" Tanya Zia tanpa menengok ke arah Tasya.      "Dodit ! ada tuh lagi tebar pesona sama cewek-cewek di taman." Tunjuk Tasya      "Hadeuh gue mah nungguin dia dari tadi di sini." Ucap Zia melihat ke arah Dodit berada.     "Zi... sorry ya waktu lo sakit gue nggak nengokin lo.. habis penjagaan lo ketat banget sih dah kayak anak raja aja." Seloroh Tasya manja.      "Iya Sya nggak papa." Sahut Zia singkat lalu menyugar rambutnya ke belakang.      "Zi.. kenapa lo selama ini merahasiakan kepribadian lo sih." Gelendot Tasya manja di bahu Zia.     "Ya pengen aja gue rahasiain.. lagipula emang salah ya ? gue nggak pengen keluarga gue jadi lalapan public.. soalnya bonyok gue juga ngajarin seperti itu.. nggak perlu lah bilang ke semua orang siapa gue." Ucap Zia risih dengan menggeser duduk sedikit.      "Iya juga seeh.. tapi kan setidaknya lo nggak perlu rahasiain itu semua dari gue juga Dodit." Tasya semakin merapatkan tubuhnya di badan Zia.      "Nggak ada terkecuali Sya.. dulu aja temen sekolah sama temen kampus gue di Depok juga mantan gue nggak pernah tau siapa gue.. mungkin mereka baru tau setelah gue bikin pernyataan di depan wartawan kali." Zia menatap wajah Tasya yang ada di sampingnya seraya menggelengkan kepalanya.      "Hah.. orang kayak lo punya mantan Zi.. gue nggak percaya.. hahaha." Cibir Tasya.      "Ya udah kalo nggak percaya.. mantan yang gue nggak pernah cinta." Curhat Zia keceplosan.      "Oopss gue keceplosan." Batin Zia gusar.      "Maksud lo nggak pernah cinta gimana Zi ?."  Tanya Tasya penasaran.      "Udah ah nggak usah di bahas itu udah masa lalu gue.. gue ke tempat Dodit dulu ya Sya.. sorry." Ucap Zia dan bangkit meninggalkan Tasya.      "Eehh Ziii.. gue ikut." Tasya berlari kecil mengejar Zia.      Zia berjalan santai mendekati Dodit yang sedang di kerumunin para mahasiswi, terlihat sekali Dodit memang sedang tebar pesona di sana.      "Yaa mas Dodit ! please dong aku di ajak shooting" Rengek salah satu mahasiswi bergelayut manja di lengan Dodit.      "Aku juga lho mas Dodit.. mbok ya aku di ajak casting-casting dulu.. supaya keliatan kemampuan ku." Pinta mahasiswi yang lainnya dengan nada medok.      "Iiih mas Dodit aku yo iso kalo cuma akting nangis jadi cewek yang tertindas gitu." Kata mahasiswi yang di belakang Dodit.      "Hahhaha tenang ladies.. itu semua bisa diatur.. gampil.. asalkan kalian terus belajar dan mengasah akting kalian.. supaya kalo ada casting pencarian cewek berbakat.. aku kabarin kalian semua ya tho tho." Sahut Dodit dengan nada bicara ke Jawa-jawaan. Zia yang sedang melihat Dodit hanya tersenyum simpul.      "Iiih mas Dodit lucu banget deh kalo ngomong." Colek cewek seraya mencolek dagu Dodit dengan gemas, Dodit dengan tampang m***m dan aji mumpung merangkul semua cewek yang mengebuninya.      "Mas kita swafoto dulu yuk." Ajak cewek centil yang ada di samping Dodit.      "Hayo sopo seng takut." Dodit mengambil posisi merangkul dan memeluk pinggang ramping cewek yang ada di samping nya.      "Lho kok aku yang minta foto.. mas Dodit malah deketnya sama dia." Cemberut cewek yang minta foto tadi.      "Hehehe salah orang ya.. haduh maklum mas Dodit pikun." Alasan Dodit konyol. Zia yang melihat pemandangan itu hanya bisa menggelengkan kepada sambil terkekeh.      "Hhhmm bener-bener modus tuh si Bantet." Rutuk Zia dalam hati.      Tasya yang membututi Zia dari belakang juga terlihat sebal saat melihat Dodit seperti di atas angin saat ini.     "Dasar buaya buntung.. kesempatan dalam kesempitan." Umpat Tasya dengan keras sehingga Zia menengok ke arah Tasya lalu terkekeh.     "Kenapa Sya jealous ?" Ledek Zia.     "Idiiih najis gue cemburu sama buaya buntung macam Dodit." Tasya cemberut di ledeki Zia.     "Hai bro tampan dan sista cantik.. nih kenalin calon-calon artis terkenal yang bakal bersaing sama kalian hahhaha." Dodit terbahak seraya mengajak Zia ber tos.     Baik Zia maupun Tasya tidak ada yang menjawab sapaan Dodit, karena Zia langsung duduk di atas potongan pohon besar yang sengaja di buat untuk duduk-duduk di taman.     "Zia.. minta fotonya dong." Pinta salah satu mahasiswi seraya menyodorkan hapenya.     "Eiiimm boleh." Sahut Zia pelan dengan mengangguk.     "Gue nggak di ajak foto nih !"  Ucap Tasya menyibak bahu Zia dan mahasiswi yang minta foto tadi.     "Boleh mbak Tasya tapi aku mau foto berdua dulu sama mas Zia ya.. sorry." Tolak mahasiswi itu.     "Sama Zia nanti aja sekarang bareng gue dulu." Paksa Tasya dengan juteknya, akhirnya mereka foto bersama dengan beberapa jepretan dan berbagai gaya, setelah lumayan banyak hasil fotonya, akhirnya tinggallah Zia dan mahasiswi yang tadi minta foto berdua, Tasya merasa cemburu.      "Udah jangan lama-lama !" Tasya menjeda jepretan foto Zia dan mahasiswi itu.      "Byuuuh mbak Tasya kok koyo cemburu gitu.. emang mbak Tasya ini pacaran sama mas Zia ?" Pertanyaan mahasiswi itu sempat membuat Tasya bahagia.      "Kalo iya masalah buat lo ?" Tanya Tasya dengan judes.      "Yeeeei jangan judes-judes mbak.. nanti mas Zia nya kabur lo hahaha." Ejek mahasiswi itu sambil berlalu.       "Mas Zia yang baik dan tampan kok mau sama si Tasya yang judes itu yo." Ucap para mahasiswi itu sembari berlalu meninggalkan Zia, Tasya juga Dodit.      "Eeeh ngomong apa lo ? sini kalo berani ! beraninya ngomong di belakang !" Tantang Tasya kesal.      "Eiit udah Sya.. kok malah jadi ribut ente." Lerai Dodit memegangi tangan Tasya.      "Huuuh mentang-mentang dah terkenal sombong.!" Maki mahasiswi tadi sambil melengoskan muka.      "Kurang ajar lo ya masih aja ngoceh." Tasya memaki balik dengan sewotnya.      "Udah Sya nggak usah di ladenin." Rangkul Zia lalu mendudukkan Tasya di bangku taman.      Belum sempat Zia dan Dodit ngobrol, tiba-tiba ada seorang mahasiswa teriak-teriak sambil berlari menuju pintu gerbang kampus seraya memegang ponselnya, sepertinya dia hendak merekam kejadian kecelakaan.      "Kecelakaan !  ada kecelakaan di depan !." Tunjuk mahasiswa tadi seraya terus berlari.      "Hah ono tabrakan ?" Ucap  Dodit masih terbawa logat Jawanya.      "Iyo di depan itu."       "Yuk.. yuk kita liat sek."      Semua orang pada berhamburan dan berlari menuju ke depan gerbang di mana kejadian sedang berlangsung.      "Zi ada kecelakaan di depan kita liat yuk." Ajak Tasya dan Zia pun mengangguk.      "Yuk cepetan." Ajak Dodit kepada Zia.      Sesampainya di depan gerbang orang-orang sudah berkerumun, benar saja ada kecelakan lalu lintas, itu kecelakaan tunggal di mana pengendara sepeda motor sedang terkapar terluka di bagian kaki dan tangannya, sepeda motornya ringsek bagian depan, rupanya si pengendara melaju dengan kecepatan tinggi sehingga tidak mampu mengerem dan berhenti secara mendadak ketika ada mobil yang tiba-tiba berhenti karena ada orang yang sedang menyebrang, jadilah motor itu tidak dapat menghindari mobil tersebut dan terjadi benturan yang sangat keras, ambulan pun sudah di datangkan ke lokasi, nampak mobil polisi serta beberapa orang dari kepolisian sudah datang ke lokasi kejadian. Berhubung ini weekend jadi jalanan sedikit lengang, dan mahasiswa tidak terlalu banyak dan tidak semuanya ada jam makul.     Dodit, Zia serta Tasya ikut berkerumun di lokasi kejadian, Tasya terus bergelayut di lengan Zia, meskipun Zia sudah berusaha melepaskan gandengan tangan Tasya tapi tetap saja Tasya terus bergelayut malah semakin erat manakala melihat si korban sedang meringis kesakitan.      Saat itulah melintas pikiran jahat Tasya untuk mengambil handphone Zia dari dalam tas ransel Zia yang di gendong di belakang, dengan sedikit dorong-mendorong para mahasiswa makin banyak yang berdatangan, karena Tasya serta Zia terus terdorong maka Zia berusaha melindungi Tasya, bagaiamana pun Tasya adalah perempuan dan terbilang teman dekat setelah Dodit.     "Aduh.. duh.. Zi.. ya ampun." Pekik Tasya semakin merapatkan tubuhnya pada badan Zia.      "Wwoi jangan dorong terus dong." Teriak  Zia dan Dodit bersamaan, mereka berdua berusaha melindungi Tasya.      Nah pada saat desak-desakkan itulah Tasya dengan mudah mengambil ponsel Zia, setelah berhasil ia ambil, lalu Tasya langsung memati totalkan daya hape, supaya hape tersebut mati dan tidak berdering. Setelah hape Zia di pastikan sudah mati lalu ia memasukkan ke dalam tas nta yang paling bawah, dengan senyum smirk nya Tasya merasa puas sudah berhasil mengambil hape milik Zia, dan Zia tidak menyadarinya.   *   *   *            Di waktu yang sama namun di lokasi yang berbeda seorang wanita cantik dan seksi sedang galau di dalam kamarnya, pasalnya mamanya juga papanya sedang berada di luar kota, Monik hanya tinggal ber tiga serta asisten rumah tangga juga pak sopir pribadi keluarganya. Monik mondar-mandir nggak jelas di kamarnya. Karena merasa bete dan kesepian akhirnya Monik mengambil ponsel lalu di bukanya grup K2, Monik mengirimkan sapaan di grup K2 nya. Monik : "Woooi bangun guyyyss dah siang molor aja lo pada." (Emot Teriak) Monik mengirim emot banyak sekali, sehingga menimbulkan suara pesan masuk berkali-kali dan berisik. Rey : "Ngapa sih Mon berisik banget pagi-pagi." (Emot marah) Nara : "Kenape Moon.. gue masih ngantuk neeeh." (Emot nguap) Monik : "Yaelah Rey.. Nar.. ini tuh dah siang kali." Susan sedang mengetik.. Susan : "Hai guyss ada apaan sih ! Rame banget !" Monik : "Kita ketemuan di cafe Dilan ya.. jam 2.. jangan sampe nggak dateng.. titik !" Monik : "San lo jemput gue.. nggak ada penolakan.. boil gue masih di begkel." Monik : "Bye guys.. see you ya." (Emot cium) Monik mengakhiri obrolan di grup K2.      Suasana cafe Dilan siang ini sangat ramai, mengingat ini adalah hari Sabtu. Parkiran mobil dan motor lumayan padat, Monik dan Susan memasuki kafe tersebut, terlihat semua kursi sudah di penuhi oleh pengunjung, pelayan mondar-mandir membawa nampan pesanan pengunjung, 3 layar televisi 40inc yang tergantung di tembok menyala semua, masing-masing menampilkan gambar yang berbeda, lagu-lagu dari boyband dalam negeri pun terdengar lumayan keras. Biasa nya jika weekend seperti sekaang ini cafe Dilan menampilkan live musik, namun karena ini masih siang mungkin jadi sementara hiburan melalui layar televisi terlebih dahulu.     Monik yang datang bersama Susan telah lebih dulu tiba di banding teman yang lainnya. Monik dengan setelan hot pant warna pastel serta snecker warna putih membingkai kakinya yang jenjang dan mulus, tak lupa tas kecil panjang menyampir di pundaknya, sedangkan Susan memakai jeans ketat warna hitam dengan boots kulit warna coklat yang membungkus kakinya, kaos serta kemeja lengan panjang bahan flanel kotak-kotak merah hitam sangat menampakkan bahwa dirinya sangat tomboy di banding Monik, apalagi topi hitam melekat di atas kepalanya Susan lengkaplah bahwa ia memnag tomboy.     "Mana nih yang lain.. udah jam 2 lewat belum pada dateng ?" Tanya Susan melirik jam Alexandre Christie yang melingkar di tangannya.     "Tauk nih pada ngaret.. gue sebel banget." Cemberut Monik sambil memutar matanya.     "San lo mending pesen makanan sama minuman dulu." Perintah Monik.     "Pesen paan aja nih." Tanya Susan melotot ke arah Monik, pasalnya Susan baru saja menghenyakkan bokongnya di kursi.     "Seperti biasa aja.. ngopi nya nyusul setelah udah pada dateng." Sahut monik menyeringai merasa tidak enak terhadap Susan.     "Okey." Susan berdiri menuju meja kasir, karena oara pelayan sangat sibuk sekali, jadi Susan pesan melalui meja kasir dan langsung membayarnya. Susan memesan makanan lumayan banyak ada spageti, boba ice, lemon juice, kentang goreng makanan favorit bersama, salad, rujak, serta air mineral.      Tak lama pesanan mereka datang bersamaan dengan datang nya Anna, Donny, Nara juga Dhea.      "Loh Rey mana ?" Tanya Monik heran.      "Katanya tadi sekalian nganterin nyokap nya arisan.. setelah itu baru kemari." Jelas Anna.      "Ada paan nih Mon kita suruh kumpul mana siang-siang gini." Ucap Donny lesu yang langsung menggelosorkan badannya di atas meja.      "Iya nih biasanya juga habis magrib.. ini kan malming." Seloroh Dhea.      "Iya Mon.. panas-panas gini enaknya molor di kamar." Timpal Anna.      "Woles guys santai dulu laah.. ngapain juga di rumah.. mending kita nongki biar puas.. sampe malem kita di mari." Monik menyodorkan minuman satu-satu ke arah teman-temannya.      "Sebenernya nggak ada apa-apa.. ya kita nongkrong aja.. gue suntuk guys.. makanya gue ngajakin ketemuan lebih awal.. nyokap gue lagi jengukin tante di rumah sakit.. bokap gue masih di Bandung." Curhat Monik.      "Sama nih gue juga jenuh.. di rumah berisik banget ponakan lagi pada nginep." Keluh Susan.      "Ooh gue kira ada paan." Donny membolak-balikkan buku menu.      "Nggak da kopi San ?" Tanya Donny.      "Ya lo tinggal pesen aja Don.. gue pikir nunggu Rey dulu.. ntar keburu adem kalo pesen sekarang." Sahut Monik sambil mengibas kan tangannya.      "Nggak papa lah gue pesen sekarang aja.. biar cenghar nih.. gue semalem nonton bola.. jagoan gue kalah yang menang Inggris.. dah gue belain begadang." Donny melambaikan tangannya kepada pelayan cafe.      Setelah pesanan kopinya datang Donny langsung menyesap kopi panasnya, lalu matanya terbelalak melihat tayangan yang ada di layar tipis tergantung di dinding cafe.      "Noh ! Mon ! Lo liat tuh sapa yang ada di tipi." Tunjuk Donny seraya meletakkan cangkir kopinya. Sontak semua mata langsung melihat apa yang di tunjuk Donny.      "Ziaa !" Gumam Monik lirih.      "Iklan baru lagi.. anjiir makin keren aja do'i" Puji Nara.      "Iya.. laris manis banget tuh bocah nggak di sangka.. setelah jumpa pers nya beberapa waktu lalu.. makin sering aja tuh muka wara-wiri di tipi." Susan menimpali. Monik tak menanggapi ocehan teman-temannya, ia memperhatikan wajah Zia dalam iklan.      "Mon ! Mon !" Colek Susan di tangan Monik.      "Eehh paan San ?" Tanya Monik gugup.      "Lo kayak nya terpesona nih sama tuh iklan." Goda Susan lalu terkekeh geli.      "iih B aja gue." Dusta Monik, karena sedari tadi Monik memandangi wajah Zia tak berkedip.      "Nah lo muka nya ngapa merah gitu." Tepok Dhea di pipi Monik.      "Lo ngga bisa bohongin kita Mon." Nara ikutan meledeki Monik yang sedang blushing.      "Dih.. sotoy banget." Cibir Monik dengan senyum smirk nya.      "Tuuh kan lo tuh frustasoy Mon.. hahaha." Goda Donny terbahak.      "Yaaa gue emang frustasi ! puas lo ?" Hardik Monik dengan mata mengembun.      "Sorry Mon just kidding lah kita Moon." Rayu Donny.      "Iya Mon kayak nggak tau aja bacot kita-kita ini." Susan menengahi.       Monik masih menatap layar televisi, matanya berkaca-kaca, dagunya di letakkan di atas kedua tangannya, ia terus menggigit bibir nya menahan sedih.      "Hmmm gue nggak papa kok San." Ucap Monik tanpa melihat ke mata Susan.      "Mon ! San ! Bukannya lo dulu rencana mau jengukin Zia di rumahnya ?" Tanya Nara sambil memutar spageti di garpu nya.      "Nggak Nar keburu Zia sembuh dan nggak lama dia balik ke Solo setelah jumpa pers nya." Jelas Susan meraih gelas jus.      "Terus lo dah tau siapa gadis penari yang Zia maksud ?" Tanya Nara lagi.      Monik menggeleng dan masih terus memandangi televisi walaupun tayangannya sudah berganti iklan yang lain.      "Sepertinya Zia udah Move On dari gue." Lirih Monik dengan tatapan kosong.      "Dan ruang gerak gue juga terbatas.. lo tau sendiri kan si dosen itu gimana." Lanjut Monik.      "Nah.. ngemeng-ngemeng dosen gemes lo itu kemana.. tumbenan nggak buntutin lo ?" Tanya Donny heran.      "Nyokap nya lagi sakit di Bogor." Sahut Monik dengan malas.      "Pantesin lo aman." Canda Donny.      "Pantesan keles." Tukas Nara serta jotosan mendarat di jidat Donny.      "Ooh jadi Zia itu kuliah di Solo." Ujar Anna sambil manggut-manggut.      "Gue juga baru tau kalo Zia nerusin kuliah di Solo." Kata Monik lagi.      "Jadi Mon rencana lo selanjutnya apa ? mau gimana kedepannya ?" Tanya Anna serius, Susan, Donny dan Dhea manggut-manggut membenarkan pertanyaan Anna.      "Yaaa gue belum tau An.. nggak mungkin kan gue ngejar Zia ke Solo cuma buat minta maaf doang.. lagipulaaa." Monik tidak menyelesaikan ucapannya.      "Lagipula apa Mon ?" Tanya Susan.      "Lagipula udah ada pengganti gue di hati Zia." Jawab Monik pelan.      "Yaaah dia nyerah.. eh Mon sebelum ada janur kuning melengkung masih bisa lo dapetin hati Zia lagi." Yakin Donny.      "Lagian nih ya.. gue tauk banget gimana Zia.. dia tuh dingin banget jadi cowok jadi nggak mungkin semudah itu dia jatuh cintrong.. sekarang gue tanya sama lo.. sejauh mana hubungan lo sama Zia.. yaaa maksudnya gue hubungan semacam w*****k gitu lah.. hahhaha." Selidik Donny dengan muka konyol.     "Astaga Don boro-boro mau berwik-wik.. dia nyium duluan aja nggak pernah tauk." Cibir Monik sambil merona di pipinya.     "Iyaa kan yang nyosor duluan lo kan Mon ?" Celetuk Susan tergelak.     "Hhahhahaha" Suara tawa Anna, Nara, Dhea juga Donny.      "Sialaan lo pada." Rengut Monik seraya mengigit sedotan.      "Masa gue harus ikutan pindah ke Solo gitu ? kalo dia mau deket lagi sama gue.. kalo ternyata dia jual mahal gimana ? secara dia kan dah jadi artis nek." Ucap Monik pesimis.      "Hey come on.. kok jadi pesimis gitu sih.. mana Monik yang pemberani.. Monik yang pemaksa.. Monik yang selalu harus mendapatkan semua apa yang di pengenin.. wake up Mon." Susan memberikan semangat buat Monik.      "Ini beda urusannya San.. disini tuh gue yang bersalah banget sama Zia.. lo inget kan apa kata nyokap nya Zia.. gue nggak boleh ganggu dia dulu.. kalo emang jodoh nggak akan kemana kan." Ujar Monik dengan tatapan kosong tatkala mengingat ucapan mamanya Zia.      "Tapi jaman sekarang jodoh harus lo kejar Mon.. siapa tau dia luluh lagi.. apa perlu kita temenin ke Solo ?" Tanya Dhea antusias.      "Setuju ! sekalian vakansi." Tambah Susan dengan menjentikkan 2 jarinya.      "Deal ! kita kan dah lama nggak liburan bareng.. kalo nongkrong bareng seeh tiap hari." Suara Nara.     "Ok siapa takut.. gue temenin kalian sekalian jadi bodyguard kalian yang tentu aja gretong yoi nggak !" Ujar Donny seraya menaikkan alis nya percaya diri.      "Huuuuuuu." Acak tangan Susan, Nara, Anna juga Dhea di kepala Donny.      "Lo sih emang maunya gretongan mele." Kata Monik melemparkan tisu ke muka Donny.      "Ya wajar lah kalo gue gretong secara nih tugas gue berat sayang.. gue harus ngawasin kalian ciwi-ciwi cantik dan keren.. tanggung jawab gue ke bonyok kalian.. kalo sampe nanti ada apa-apa." Papar Donny dengan muka serius.      "Yaelaaah Don.. kayak orang bener aja lo.. tumben lempeng otak lo." Toyor Nara di jidat mulus Donny.      "Lha iyalah secara kan gue cowok atu-atu nya yang paling ganteng di antara kalian.. hhmm." Donny mengangkat kerah nya sombong.      "Atu-atu nya ? emang lo nggak anggep si Rey." Tepok Anna di pipi Donny.      "Ho'oh si Rey mau di kemanain Don ?" Sela Susan.      "Gue kantongin hahhaha. " Donny terbahak.      Begitu lah keseruan Monik bersama genk K2 nya, mereka saling menjaga saling kompak walaupun kadang mereka saling ledek.       Suasana begitu ramai ketika suara lagu dari layar televisi di matikan, tak lama kemudian 4 orang muda-mudi memasuki cafe dan langsung menuju ke panggung rendah yang ada di sebrang kasir, ternyata mereka adalah yang akan mengisi acara di panggung musik live weekend ini di cafe Dilan. Setelah beberapa menit mereka mengutak-atik dan menyetem alat musik mereka akhirnya mereka telah siap membawakan sebuah lagu demi menghibur para pengunjung cafe. Salah seorang cewek dengan berpakaian serba hitam memegang mic dan siap untuk bernyanyi. Setiap ku melihatmu Ku terasa di hati Kau punya segalanya Yang aku impikan Dan anganku tak henti Bersajak tentang bayangmu Walau kutahu Kau tak pernah anggapku ada Ku tak bisa menggapaimu Takkan pernah bisa Walau sudah letih aku Tak mungkin lepas lagi Kau hanya mimpi bagiku Tak untuk jadi nyata Dan segala rasa buatmu Harus padam dan berakhir Ho-o Dan anganku tak henti Bersajak tentang bayangmu Walau kutahu Kau tak pernah anggapku ada Ku tak bisa menggapaimu Takkan pernah bisa Walau sudah letih aku Tak mungkin lepas lagi Kau hanya mimpi bagiku Tak untuk jadi nyata Dan segala rasa buatmu Harus padam dan berakhir 'Kan selalu Ku rasa hadirmu Antara ada dan tiada Ku tak bisa menggapaimu Takkan pernah bisa Walau sudah letih aku Tak mungkin lepas lagi Kau hanya mimpi bagiku Tak untuk jadi nyata Dan segala rasa buatmu Harus padam dan berakhir Ku tak bisa menggapaimu Takkan pernah bisa Walau sudah letih aku Tak mungkin lepas lagi Kau hanya mimpi bagiku Tak untuk jadi nyata Dan segala rasa buatmu Harus padam dan berakhir     Monik menyimak lagu itu dengan perasaan yang dalam, Monik hanyut dan turut larut dalam setiap nyanyian yang di bawakan oleh anak band yang ada di atas panggung, tak terasa Monik menitikkan air mata, lirik lagu Antara Ada dan Tiada milik Utopia itu mengingatkan hubungan antara dirinya dan Zia. Teman-teman Monik tidak ada yang mengetahui jika Monik menangis sebab mereka juga terhanyut dalam lagu tersebut serta turut menyanyikan lagu itu bersama-sama. Malam semakin larut suasana cafe Dilan pun semakin ramai oleh pengunjung yang rata-rata anak muda semua. * * *       Sudah satu Minggu berselang di dalam kamar Aluna senyum-senyum seraya memandangi semua benda pemberian Zia, walau hanya paper bag nya saja yang tersisa sedangkan isinya sudah habis di makan bersama teman-teman Luna, Luna bangkit dan mendekati bucket yang sudah nampak kayu namun masih tersisa sedikit keharuman di sana. Terlihat di wajah Luna sedikit galau, sebab sudah beberapa hari ini Zia tidak menghubungi atau memberi kabar atau sekedar menanyakan kegiatan Luna. Lalu Luna melihat benda pipih yang ada di meja belajar nya. Benda itu masih sama seperti dari kemarin-kemarin tidak menyala ataupun bergetar menandakan ada pesan masuk. Luna menarik nafas dalam dan menghembuskan nya perlahan lalu berjalan menuju meja rias.      "Kak Zia kenapa ya ? nggak ada kabar pesanku juga belum di baca masih ceklis satu terus.. udah beberapa hari ini." Gumam Luna seraya menyisir rambutnya yang panjang.     "Apa kak Zia sakit ?" Batin Luna dengan memandangi wajahnya di depan cermin.     "Ya Allah jika kak Zia sakit agar Engkau lekas angkat penyakit nya serta lindungi ia di sana ya Allah.. Aamiin." Luna mengusapkan kedua tangannya di muka nya. Luna merebahkan dirinya di tempat tidur.     Luna belum mengetahui bahwa ponsel milik Zia hilang di curi oleh Tasya, sehingga Zia pun tidak bisa menghubungi Luna, karena sudah malam akhirnya Luna sampai tertidur, mengingat besok pagi Luna sudah di sibukkan dengan mengurus semua berkas-berkas yang akan di gunakan untuk pendaftaran masuk sekolah.      Di waktu yang sama Zia juga sedang bingung sudah hampir semingggu dirinya tidak bisa menghubungi Luna di karenakan hapenya hilang entah di mana, seingat Zia setelah kejadian ada kecelakaan di depan kampusnya itu Zia masih memegang hapenya. Zia sudah membeli hape baru yang di pesan melalui pak Toto, namun baik Zia atau pak Toto belum sempat mengurus nomor Zia karena masing-masing di sibukkan dengan pekerjaannya. jadi sementara Zia menggunakan nomor baru yang di belikan oleh pak Toto. Keluarga Zia pun sudah mendapatkan kabar jika hape raib, Zizi pun sudah melacak nya namun belum mendapatkan kabar dari Zizi tentang keberadaan hapenya yang hilang itu.     
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD