"Luna.. boleh nanya sesuatu nggak ?" Zia sedikit ragu.
"Nanya apa kak ?" Tanya Luna sambil menatap Zia, netra mereka saling bertemu.
"Saya yakin gadis seperti kamu pasti belum punya pacar kan ? Kalo emang belum punya.. kamu mau nggak jadi pacar saya ?" Tembak Zia sambil menetralkan dadanya yang berdetak kencang serta tangan kiri Zia mengetuk-ngetuk pahanya dengan panik.
Deg.. Jantung Luna mendadak seperti berhenti berdetak saat mendengar pertanyaan dari Zia. Luna menelan salivanya, dadanya naik turun entah ia merasa harus bagaimana, harus senang atau sedih.
"Emang nya Luna gadis seperti apa kak ?" Luna mencoba menetralisir detak di dadanya sambil menghela nafas.
"Eiiium gima--na yaa." Zia menjeda ucapannya lalu memijit pelipisnya seraya tersenyum.
Luna tertunduk dengan memainkan tali tas nya persis seperti anak kecil yang gugup dan takut.
"Hadduuh seperti apa yaa.. hehehe.. sudah lah lupakan saja." Zia mengibaskan tangannya dan tergelak, ia tak mampu menjawab pertanyaan Luna, ia tak bisa mendeskripsikan apa yang ada di benaknya.
"Iya udah." Luna mengangguk dan masih tertunduk.
"Aaahh mokal banget gue.. kenapa sih gue jadi cowok nggak gentleman di depan Luna.. otak gue bebel.. lidah gue kelu sampe-sampe nggak bisa ngomong." Batin Zia kesal.
"Saya suka sama kamu Luna.. Aluna." Teriak Zia tentu saja dalam hati.
Zia melihat toko bunga di pinggir jalan, lalu ia menghentikan mobilnya.
"Kak." Panggil Luna heran karena rumah Luna masih jauh namun Zia berhenti di tepi jalan.
"Ssttt.. kamu tunggu di mobil sebentar ya." Potong Zia lalu bergegas turun dari mobilnya. Mata Luna mengikuti kemana Zia pergi, ternyata Zia menghampiri tukang bunga, setelah berbicara sama tukang bunga tak sampai 10 menit Zia menerima satu ikat besar karangan bunga mawar putih. Dengan di iringi senyum yang mengembang di bibir nya Zia berjalan mantab menuju mobilnya, lalu pintu mobil di buka.
"Ini buat kamu." Ucap Zia seraya menyerahkan bucket bunga mawar putih kepada Luna, harum semerbak dari segarnya bunga mawar putih memenuhi mobil Zia.
"Makasih kak.. tapi dalam rangka apa ?" Mata Luna berbinar saat menerima bucket bunga itu seraya menghirup nya dalam-dalam.
"Wangi nya seger." Desis Luna.
"Nggak dalam rangka apa-apa sih.. pas tadi liat toko bunga tiba-tiba saya pengen aja kasih kamu bunga." Sahut Zia terkekeh bahagia.
"Oooh makasih kak." Lirih Luna.
"Sama-sama." Zia puas melihat Luna tersenyum lebar seperti itu.
"Okeey sekarang saya antar kamu pulang.. ini udan hampir ashar.. pasti mama kamu khawatir." Kata Zia sambil menjalankan mobilnya.
"Iya kak pasti bunda khawatir." Ucap Luna menoleh ke arah Zia.
"Luna.. saya nggak nyangka lo bisa ketemu kamu saat di Solo.. kok kamu nggak bilang ke saya kalo kamu mau pentas di sana." Zia sudah mulai santai untuk bercakap panjang lebar dengan Luna dan tidak setegang waktu di awal tadi, suasana sudah mulai menghangat meskipun kadang Luna masih malu-malu.
"Luna juga kak.. nggak nyangka ada kak Zia.. dan kak Zia juga kan nggak bilang kalo kuliah dia sana.. bilangnya hanya di Solo.. Solo kan luas.. tapi kok saat kejadian itu kak Zia ada di deket Luna ?" Tanya Luna.
"Ooh saya kamu pikir tau." Jawab Zia terkekeh.
"Saat kamu pentas itu kan jam 4 ya.. saya di ajak Dodit yang lagi jadi panitia.. pas lewat depan panggung kok tariannya jaipongan.. saya sama Dodit penasaran lalu mendekati panggung.. ternyata di sana gadis cantik yang saya kenal." Gombal Zia seraya tergelak.
"Lalu saya ikutin kamu setelah saya beli kaos buat hadiah kamu.. tadi nya saya mau kasih kejutan buat kamu.. tapi ternyata ada kejadian itu.. tapi kamu jangan sedih lagi ya." Cerita sambil mengusak pucuk kepala Luna yang di tutupi krudung. Entah kenapa Luna merasa nyaman saat Zia mengusak kepalanya.
"Iya kak.. makasih hadiah kaosnya sampai sekarang Luna belum buka.. Luna takut nggak bisa ketemu kak Zia lagi.. hiks hiks." Luna menangis tuk yang kedua kalinya hari ini.
"Maafin saya kak.. kak Zia udah terlalu baik sama Luna.. Luna nggak tau harus balas apa kebaikan kak Zia.. Hiks." Lanjut Luna terbata.
"Hush us us.. nggak boleh ngomong kayak gitu lagi ya.. saya nggak suka kalo liat kamu nangis." Ujar Zia serba salah.
"Lunaaa kamu kok nangis lagi sih.. saya kan jadi serba salah mau ngusap mau meluk takut kamu marah." Batin Zia galau.
Banyak sudah yang di perbincangkan keduanya dari mulai selendang yang sudah di tanda tangani Zia dan tertinggal di Solo hingga bahasan kenapa Zia sering memberikan hadiah ke Luna juga kejanggalan-kejanggalan yang terjadi selama shooting di hari -hari terakhir, keduanya sudah tidak canggung satu sama lain, Luna pun sering terbahak mendengar cerita tentang Dodit yang lucu, dan Zia pun tergelak ketika mendengar cerita bagaimana teman-temannya sangat mengidolakan dirinya yang seorang artis tampan dan ramah.
Mobil Zia memasuki kawasan tanah kavling, daerah nya sangat padat penduduk namun terlihat sepi dan bersih, Luna memang tinggal di kawasan tersebut, setelah memasuki beberapa blok sampai lah mereka tepat di depan rumah minimalis bertingkat 2 yang tidak terlalu besar namun rumah itu sangat lah asri, meskipun tidak ada pohon besar tapi terlihat segar karena ada taman kecil serta pot air mancur.
"Sudah sampe kak." Tunjuk Luna seraya mengeratkan pelukan nya pada bucket bunga mawar pemberian Zia.
"Ini rumah kamu ?" Tanya Zia dengan mendongakkan kelapanya.
"Bukan kak itu rumah bunda dan papa Luna." Ucap Luna mengurai senyuman.
"Hehe iya maksud saya itu." Zia terkekeh.
"Aduuh kenapa gue kalo di depan Luna kayak orang tablo.. mana mungkin anak SMP udah punya sendiri." Batin Zia terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yuk kak turun dulu.. Luna kenalin sama bunda." Ajak Luna dengan wajah bahagia.
"Boleh saya mampir ?" Tanya Zia tak percaya.
"Ya boleh.. kan barusan saya ajak." Sahut Luna dengan menaikkan alis nya.
"Baiklah." Ujar Zia singkat.
Akhirnya mereka berdua turun dari mobil dan Luna membuka pintu pagar nya.
"Ayo kak." Tanpa sadar tangan kanan Luna menarik tangan Zia dan menuntunnya ke dalam. Hati Zia deg-degan bahagia.
"Kak Zia duduk sini dulu ya.. Luna panggil bunda dulu.. Eeehh aduh maaf." Ucap Luna gugup ia baru sadar kalo dari tadi telah menggandeng tangan Zia.
"Assalamu'alaikum bunda.. mbak Sri." Teriak Luna saat membuka pintu rumahnya. Luna masuk kedalam dan tidak mendapati siapapun di dalam.
"Mbak Sriii !" Teriak Luna lagi seraya meletakkan bucket bunga mawar di atas meja ruang tamu, Luna melongok ke kamar mbak Sri.
"Oppss ternyata mbak Sri sedang sholat ashar. Lalu Luna menaiki tangga dan segera ke kamar meletakkan tas nya. Lalu ia mencuci muka sebentar dan mengganti seragamnya dengan pakaian rumah, Luna memakai celana panjang bahan yang longgar serta kaos juga krudung berwarna senada yaitu warna merah maron, ia bercermin sebentar lalu setengah berlari turun untuk menemui Zia di bawah, kasian kalo kelamaan di tinggal lagi pula nggak juga enak kan, apalagi Zia sudah baik pada dirinya.
"Bunda kemana ya ?" Gumam Luna.
Mata Zia menatap sekeliling rumah Luna sambil manggut-manggut, meskipun rumah Luna tidakseluas dan semegah rumahnya namun rumah Luna terlihat hommy sekali.
"Maaf kak.. lama ya ? Say ganti baju dulu soalnya dari pagi udah lengket." Kata Luna seraya duduk di depan Zia. Zia terpana melihat Luna yang menampilkan asli nya dengan memakai baju rumah serta tanpa polesan bedak sedikit pun.
"Udah mandi ?" Zia mengulum senyum nya dan meneguk air liurnya.
"Ng--gak.. kalo mandi dulu takut kak Zia kelamaan nunggu nya." Luna tersipu malu.
"Nggak mandi juga nggak papa kok.. udah keliatan seger dan cantik." Gombal Zia.
"iih kak Zia." Kata Luna malu-malu.
"Bunda nggak ada sedang keluar mungkin." Ujar Luna mengalihkan dirinya yang sedang ke ge er an sambil melongokkan kepalanya kesana kemari
"Ohiya sebentar kak." Luna berjalan menuju samping.
"Bener kak.. bunda lagi keluar motornya aja nggak ada." Tunjuk Luna ke arah garasi.
"Kalo kamu bisa naik motor nggak ?" Tanya Zia.
"Bisa tapi nggak boleh bawa jauh-jauh.. palingan daerah komplek aja.. soalnya kata papa bahaya.. padahal temen-temen Luna udah kemana-mana naik motor." Curhat Luna cemberut.
"Jangan cemberut dong nanti cantik ya ilang loh.. papa kamu benar kalo beliau khawatir kenapanapa dengan putri cantiknya" Goda Zia tergelak.
"Percaya.. anak yang badannya lebih kecil dari kamu aja itu dah jago-jago banget bawa motor nya." Kata Zia lalu mengaihkan pandangannya pada sebuah motor yang baru saja datang dan masuk ke dalam garasi rumah Luna, namun bunda Lea tak melihat jika ada tamu karena pintu garasi terbuka sehingga menghalangi pandangan ke arah teras depan.
"Nah itu bunda datang." Tunjuk Luna sumringah.
"Eemm kira-kira bunda kamu marah nggak ? Karena kamu pulang telat." Ada sedikit khawatir di wajah Zia.
"Yaaah Luna nggak tau kak.. habisnya kan hape Luna di sita bunda jadi nggak bisa ngasih ngabarin." Desah Luna menghela nafas.
"Temuin dulu sana ke dalem.. saya lebih baik pulang langsung ya." Ucap Zia sambil berdiri.
"Eeh kak.. jangan pulang dulu.. Luna kan belum ngenalin bunda ke kakak." Luna menggigit bibir bawahnya.
"Kakak tunggu di dalem aja yuk." Ajak Luna, tapi Zia menolak nya.
"Saya tunggu di sini aja.. nggak papa." Ucap Zia duduk kembali di kursinya.
"Sriii ini bucket siapa di meja." Teriak bundanya dari dalam.
"Bunda ! bunda dari mana ?" Panggil Luna pelan.
"Sayang kamu kemana aja kok baru pulang.. dan ini ?" Tegur bunda Lea sambil menunjuk sebuah bucket di atas meja.
"Bunda di depan ada kak Zia.. hayuuk." Lima menarik tangan bundanya.
"Bund.. ini kak Zia.. kak ini bunda saya." Kata Luna mengenalkan bunda nya pada Zia. Bundanya dan Zia saling berjabatan dan Zia mencium tangan bunda Lea.
"Sepertinya bunda sering liat tapi di mana ya ?" Bunda Lea sedang mengingat-ingat.
"Bunda sering liat di tivi bund." Jawab Luna mengingatkan bundanya sambil tersenyum.
"Oooh iya kamu Zia Dewananta kan." Tebakan bunda Lea tepat sekali.
Zia tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang putih dan bersih.
"Iya tante." Zia mengulas senyum.
"Yaa ampun bener kata Sri.. pantesan dia tergila-gila sama kamu." Bunda Lea terpesona dengan kegantengan Zia, dengan rambut gondrong nya yang di biarkan terurai dan gaya pakaiannya yang biasa namun casual dan santai membuat Zia semakin tampan.
"Eeng Luna masa ada tamu nggak di suruh masuk ke dalem sih.. yuk masuk dulu nak Zia." Ajak bunda Lea agar Zia masuk ke dalam.
"Yuk kak." Luna sedikit menarik lengan Zia, dan Zia menurutinya.
"Ayo duduk dulu nak Zia.. biar di bikinkan minuman dulu ya." Ucap bunda Lea sambil berjalan menuju dapur.
"Sriii buatkan minuman ya 3." Kata bunda Lea.
"Zia.. Zia.. itu kan artis yang sering kasih hadiah ke Luna.. juga yang diceritain Metha tempo hari.. hhmm.. Zia ternyata emang anak yang baik dan sopan.. meskipun dia keturunan dari Dewananta.. tapi nggak sombong. Kata bunda Lea dalam hati lalu tersenyum.
"Iya buk." Suara Sri menyahut terdengar hingga ruang tamu.
"Sri itu siapa Lun ?" Tanya Zia mengerutkan dahinya.
"Mbak Sri itu asisten di rumah ini." Luna menggigit bibirnya seraya menahan tawanya, secara yang nge fans berat sama Zia adalah seornag pembantu di rumahnya.
"Oooh ya ya yaa." Zia terbahak dan menggelengkan kepalanya.
"Maaf." Cicit Luna sambil tertawa.
"Kamu tuh lucu banget deh.. kerjaannya minta maaf mulu." Zia terbahak lagi.
"Ohya bunda kamu masih muda ya.. memang nya kamu berapa sodara Lun ?" Tanya Zia seraya mengabsen isi ruang tamu guna menemukan foto Luna, namun Zia tak menemukannya. Tentu saja Zia tak mendapati foto di ruang tamu, karena foto-foto keluarga di pajang di ruang keluarga.
"Luna 2 bersaudara sama abang Luna kak." Jawab Luna pelan.
"Oohhh kak Zia juga lucu dari tadi jawab nya kebanyakan Ooo mulu." Luna memberengut dan tertawa setelahnya.
"Ohya Luna di antara selipan bunga itu ada kartu.. nanti kamu baca ya." Ucap Zia ragu sambil mengetuk-ngetukkan tangannya di paha.
"Iya kak." Sahut Luna singkat.
Tak lama Sri keluar dengan nampan berisi 3 buah cangkir yang berisi minuman, tapi nggak ada hujan nggak ada angin Sri menjerit kencang dan PRANG.. nampan jatuh, beling berserakan di lantai untung tidak mengenai kakinya, sontak Luna dan Zia menengok kaget, juga bunda Lea berlari dari dalam menuju ruaang tamu.
"ZIAAAA !" Pekiknya terperangah, mulutnya menganga dan mata nya terbeliak.
"Mbak Sri !" Luna menengok ke arah Sri yang sedang berdiri sambil bengong menatap nanar Zia.
"Sriii kamu jatuh ?" Teriak bunda Lea dari dalam.
"Zia Dewananta ! non Luna tolong cubit mbak Sri non.. mbak Sri nggak mimpi kan.. kalo mabk Sri mimpi tolong jangan di bangunkan ya." Racau Sri terpana.
"Iiish apa-apaan sih mbak Sri.. niiih rasain." Kata Luna sambil mencubit lengan mbak Sri dengan kencang.
"Aaooww non ampun non sakit tauk." Pekik Sri kesakitan.
"Lha tadi katanya suruh cubit." Luna dan Zia pun terkekeh sangat geli melihat kelakuan mabk Sri.
"Zia kenapa ada di mari ? Sri serasa mimpi deh.. ya Allah masya Allah ganteng banget aslinya." Pekik dan puji Sri masih terpana melihat ketampanan Zia yang asli.
"Yaa Allah berantakan banget beling di mana-mana." Teriak bunda Lea kaget seraya berjalan sambil jinjit-jinjit khawatir terkena pecahan beling.
"Buk ada Zia di sini buk.. hiks.. hiks." Sri terisak haru karena pria idolanya ada didepan matanya.
"Zia.. boleh nggak mbak Sri minta foto bareng.. boleh ya non mas Zia nya mbak Sri pinjem sebentar buat foto bareng." Izin Sri kepada Luna.
Zia dari tadi hanya tertawa saja saat melihat kelakuan mbak Sri itu. Mbak Sri menangis sambil tertawa bahagia.
"Boleh sini." Ajak Zia, yang di tanya Luna yang menjawab malah Zia, saking baikya Zia terhadap fans nya.
"Iiish mbak Sri genit banget sih.!" Luna menatap sebal kearah asisten rumah tangganya.
"Bentar mas saya ambil hape saya dulu." Kata Sri segera membalikkan badannya namun di cegah oleh Zia.
"Nggak usah mbak.. pake hape saya aja.. nanti saya kirim ke Luna.. okeey." Jelas Zia dengan ramah.
Wajah Sri sangat sumringah sekali ia berfoto dengan Zia, banyak sekali gambar yang di abadikan dengan berbagai pose.
"Alhamdulillah makasih mas Zia.. jangan lupa nanti fotonya di kirimkan ya." Ujar Sri bahagia dan puas bisa berfoto dengan artis pujaannya.
"Satu lagi pertanyaan buat mas Zia dan non Luna.. jangan bilang kalo yang penusukan di Solo itu bahwa mas Zia melindungi non Luna.. iya kan ?" Tuduh Sri dengan akurasi 100 persen benar.
Luna terkejut dan melotot ke arah mbak Sri, Zia pun mimiknya langsung berubah tegang, Zia tidak ingin terjadi apa-apa lagi sama Luna juga dirinya, kalau sampai wartawan dengan kasian Luna nanti di kejar-kejar oleh wartawan demi mendapatka berita gosip.
"Apa kamu bilang Sri.. penusukan di Solo ?" Selidik bunda kepada asisten rumah tangganya.
"Eng nggak kok buk salah denger kali ibuk.. sinopsis tarinya seperti itu buk." Jawab Sri gugup, karena Luna pernah berpesan sama Sri agar tidak menceritakan kejadian di solo kepada bundanya. Untung bunda Lea dengar sekilas,
"Ayo lekas di bersihin jangan sampe ada beling yang ketinggalan." Pesan bunda terhadap Sri
"Diminum nak Zia.. ini tante buatkan yang baru.. sama celimannya di makanin." Kata bunda Lea dengan ramah.
"I..Iya tante makasih jadi negrepotin nih." Ucap Zia malu-malu.
"Nggak ngerepotin kok." Jawab bunda Lea.
"Ennngg maaf tante .. Luna hari pulang telat karena tadi saya mengajak Luna dan Cila makan siang dulu.. kebetulan tadi saya liat Luna di halte.. jadi saya ajak sekalian makan siang dulu." Jelas Zia.
"Iya tadi tuh tante khawatir banget.. soalnya kan hape nya tante sita selama ujain." Terang bunda Lea malu-malu.
"Iya Luna juga bingung ngabarin bunda nya gimana kan nggak bawa hape." Ucap Luna, dan tidak yang terpikirkan kalo bisa aja kan pinjem hape Zia untuk ngabarin orang rumah.
"Ohya jadi nak Zia ini anaknya dokter Bella ya ?" Tanya bunda Leas seraya menatap Zia.
"Iya tante.. ooh tante kenal dengan mama saya ya." Bunda Lea ikut duduk menemani Zia.
Akhirnya sore itu di habiskan mengobrol dengan Zia, panjang lebar mengenai kehidupan Zia juga tentang kehidupan Luna yang sangat jauh berbeda dari segi materi, namun Zia selalu rendah diri dan tidak menonjolkan bahwa dirinya adalah anak pengusaha sukses.
"Sayang bagaimana tadi ujian terakhirnya ?" Tanya bunda Lea kepada Luna.
"Alhamdulillah lancar bund." Sahut Luna sambil menguap.
"Syukurlah." Ucap bunda singkat.
"Ohya ini bucket siapa cantik sekali ?" Tunjuk bunda ke arah meja.
"Itu untuk Luna tante.. sebagai ucapan selamat atas selesainya ujian.. semoga Luna mendapatkan nilai yang bagus." Jelas Zia lancar, sedangkan tadi di tanya Luna, Zia tidak menjawab.
"Iiiih kak Zia nyebelin banget.. tadi aku tanya nggak bisa jawab apa alasannya ngasih bucket.. giliran di tanya bunda dia lancar banget ngomong nya." Batin Luna.
"Aaminn." Jawab bunda juga aku.
"Ngomong-ngomong saya pamit dulu ya Luna.. tante.. karna sudah sore juga.. Luna juga perlu istirahat kan Luna." Tanya Zia dan di anggukin oleh Luna.
"Baiklah kalo begitu hati-hati di jalan ya.. salam buat dokter Bella dari tante.. Luna anter nak Zia kedepan dulu ya.. bunda mau ke dapur dulu." Pamit bunda Lea yang di angguki oleh Zia dan Luna.
"Baik tante nanti Zia sampaikan ke mama." Ucap Zia seraya pamit dan mencium tangan bunda Lea.
Luna mengantar Zia kedepan menuju mobilnya tanpa obrolan sama sekali.
"Kak hati-hati di jalan ya.. kabarin Luna kalo udah sampe rumah." Pesan Luna.
"Kamu khawatir yaaa sama saya.. tuh kaaaan." Ledek Zia tergelak.
"Diiih kak Zia ge er mulu deh." Sanggah Luna malu.
"Ngaku aja pake malu-malu." Goda Zia lagi seraya mengusak pucuk kepala Luna yang di lapisi krudung maron.
"Kamu juga ya jangan lupa baca kartunya." Ucap Zia mengingatkan.
"Siap bos." Gurau Luna dengan tangan di keningnya, dan Zia pun terkekeh lalu Zia menyalakan remote mobilnya lalu naik ke dalam mobilnya. Luna manatap Zia dari belakang, lalu kaca jendela mobil di turunkan Zia.
"Luna." Panggil Zia ragu-ragu untuk bicara.
"Ada apa kak ?"Tanya Luna penasaran dan mendekatkan dirinya ke jendela mobil Zia.
"Akhir minggu ini saya kembali lagi ke Solo.. karena saya sudah sehat jadi di izinkan kembali ke Solo oleh orangtua saya." Ucap Zia dengan raut sedih karena berpisah dengan Luna, meskipun Luna belum jadi siapa-siapa namun bagi Zia saat ini Luna adalah penyemangat hidup nya.
"Iya kak hati-hati di sana jaga diri baik-baik." Cicit Luna menahan tangis.
"Kamu juga ya jaga diri baik-baik.. semoga kamu sukses di dunia seni tarinya.. juga mendapatkan sekolah favorit kamu.. belajar yang tekun jangan macam-macam." Pesan Zia posesif.
"Macam-macam gimana kak ?" Tanya Luna heran.
"Jangan genit-genit.. apalagi sama cowok.. jaga hati kamu untuk saya.. dan saya juga akan menjaga hati saya untuk kamu." Jawab Zia lalu meraih tangan Luna dan di genggamnya erat-erat, Luna menikmati eratnya genggaman tangan Zia, Luna memejamkan matanya.
Luna menarik paksa tangannya lalu cepat-cepat menarik pintu mobil Zia agar terbuka dan segeralah masuk Luna ke dalam mobil Zia lalu menubruk tubuh Zia dan memeluknya tanpa ragu juga menangis di d**a Zia tanpa rasa malu, Luna terisak tanpa berkata-kata, tangis Luna sudah cukup mengungkapkan bagaimana perasaan Luna terhadap Zia, rasa hangat tubuh Zia mengaliri tubuh Luna.
Zia pun memeluk erat tubuh ramping Luna dan mengusap-usap kepala serta punggung Luna, Zia pun tak mampu berkata sepatah katapun, Zia tak menyangka Luna akan memeluk dirinya sambil menangis, Luna semakin mengeratkan pelukannya seolah tak ingin berpisah dengan Zia. Mungkin memang tak perlu mengungkapkan isi hati masing-masing hanya karena gengsi, dengan saling berpelukan saja itu pun sudah cukup menggambarkan perasaan keduanya, Zia merasakan seperti ada arus listrik yang bergerak di tubuh Zia.
"Kak Zia jangan lupain saya ya.. jangan lupain Luna kak." Rengek Luna persis anak kecil yang takut berpisah dengan orang tuanya.
"Sudah jangan sedih lagi ya.. saya kan tadi sudah berjanji saya akan jaga hati saya untuk kamu.. untuk Luna.. hhmm.. sudah ya jangan nangis lagi." Usap Zia di kepala Luna.
Zia melepaskan pelukan Luna lalu mengangkat dagu Luna agar menatap matanya, Luna menolak dan menunduk malu, lalu Zia menangkup pipi Luna dan di angkatnya.
"Udah ya saya pulang dulu ini hampir mahgrib.. kamu harus istirahat." Bisik Zia lirih di telinga Luna.
"Nanti mata kamu sembab.. bunda malah curiga." Zia memberanikan diri mengecup kening Luna sekilas dan tidak sampai menempel.
"Ka-kak ha-ti-ha-ti ya." Desis Luna terbata.
"Pasti.. ingat jadi hati kamu untuk saya." Pesan Zia sekali lagi penuh penekanan.
Luna tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun, ia hanya mengangguk lemah, dadanya masih tersengal. Lalu Luna bergerak turun dari mobil Zia dan menatap mobil Zia hingga tak terlihat lagi.
Apa yang di rasa Luna saat ini, belum pernah Luna rasakan sebelumnya, Luna yang masih SMP masih ABG merasakan jatuh cinta sama anak kuliahan yang saat ini berprofesi sebagai artis terkenal, Luna tahu dan takut akan sakitnya kecewa, tapi untuk saat ini Luna akan menikmati apa yang nyata dan yang ada di depan mata, Luna tak mau memikirkan nanti nya seperti apa, ia akan mencoba menjalani nya terlebih dahulu. Iyaaa Luna telah jatuh cinta kepada Zia.. dan Luna pun merasa bahwa Zia juga cinta kepada Luna.. Zia adalah cinta pertama bagi Luna.
Luna segera bergegas menuju kamarnya dan membawa naik bucket pemberian Zia, ia cari kartu yang di maksud Zia. Tentu saja Luna langsung mendapati kertas kecil berwarna putih itu.
Dear Luna,
Saat kamu membaca kertas ini, seharusnya kamu sudah merasakan apa yang saya rasa, rasa itu muncul tatkala pertama kali melihat kamu, sampai sekarang pun rasa itu masih tetap sama, saya harap kamu mengerti rasa yang di maksud.
Jaga rasa dan hati kamu untuk saya, karena saya juga akan menjaga rasa dan hati saya untuk kamu, pertemuan kita tadi adalah bukan pertemuan yang terakhir atau perpisahan, justru ini adalah suatu permulaan bagi saya untuk memulai semuanya.
Yang mengagumimu,
ZGPD
Luna menangis dengan memeluk erat bucket serta kartu kecil yang bertuliskan kata-kata romantis dari Zia. Luna menangis bahagia.