32. Zia Dewananta #3

3166 Words
      Tak terasa ujian Nasional Aluna sudah memasuki hari ke 4 alias hari terakhir mapel yang di ujikan hari ini adalah mapel Matematika. Tapi hari ini tak terlihat seperti hari-hari kemarin, sebelum memasuki ruang ujian biasanya mereka bergerombol di taman atau di koridor sekolah sambil bercanda dan berbincang namun tuk hari ini mereka yang ikut ujian terlihat sangat tegang, sebagian besar dari para siswa dan siswi sedang memegang buku masing-masing, mereka terlihat sedang menghafal rumus Matematika, mulutnya komat-komit sendiri-sendiri, bagi sebagian anak mapel Matematika adalah momok yang paling menakutkan selain terkenal guru nya killer mapel Matematika juga berkutat dengan angka-angka yang bikin pusing, termasuk Author nih reader, Author juga paling anti sama yang namanya MTK wkwkwk.      Aluna sendiri terlihat sangat santai, ia memang sedang memegang buku juga dan hanya sesekali saja di buka nya, ia malah asyik memperhatikan kawan-kawannya yang sedang sibuk menghafal rumus, Luna sudah belajar dari jauh-jauh hari demi ujian Nasional ini, walaupun tidak begitu yakin akan nilainya nanti tapi minimal ia sudah belajar serta berusaha, dan untuk hasilnya nanti ia pasrahkan saja sama Tuhan, semoga soal ujian tahun ini tidak terlalu sulit, karena Luna juga tidak terlalu mahir dalam mapel MTK hanya saja ia selalu mendapatkan nilai bagus karena ia belajar dengan tekun.      Teeett !       Bel sekolah berbunyi 1 kali pertanda waktu ujian telah habis dan saatnya pulang, seketika suasana menjadi riuh, para siswa dan siswi bersorak lega, ada yang teriak agar beban didada nya berkurang, ada yang memukul-mukul meja, ada yang saling ber tos ria, para siswi saling berpelukan merasa haru biru karena merasa bebas dan lepas sudah selesai ujian, dan sebentar lagi mereka akan berpisah untuk meneruskan ke jenjang sekolah menengah atas yang belum tentu mereka mendaftar di sekolah yang sama, meskipun belum pengumuman lulus-lulusan tapi mereka sudah euforia seakan merayakan kelulusan mereka.      Luna pun melakukan hal yang sama, ia bersalaman dan berpelukan, mereka saling mendoakan agar mendapatkan sekolah negeri favorit yang di inginkan, Luna sendiri akan mendaftar ke sekolah negeri terpavorit di daerah nya, selain mendaftar dengan memakai nilai ebtanas murni atau NEM, Luna bisa mendaftar dengan memakai jalur prestasi yaitu prestasi di bidang seni tari.     Para siswa tak langsung pulang mereka menghabiskan waktunya di kantin, ketika sedang di kantin Luna duduk sendiri sembari menunggu Cila datang, tadi ketika hendak ke kantin Cila di panggil oleh guru Matematika untuk membantu membawakan buku serta alat tulis ke ruangan nya.            "Alhamdulillaaaaah akhirnya--selesai juga ya Lun." Sapa Nando gugup kepada Luna yang sedang menikmati jus sirsaknya di kantin.      "Heeh." Angguk Luna masih menyesap jus nya.      Nando ini kelas 9C sedangkan Luna kelas 9D dan ia hampir tidak pernah bertegur sapa dengan Luna, tapi kenapa siang ini tiba-tiba ia menyapa Luna, Nando merupakan siswa berprestasi juga di sekolah ini selain Luna dan Cila.      "Eh iya Ndo." Sahut Luna singkat.      "Kamu sendirian Lun ? eeiium boleh duduk di sini nggak ?" Nando menarik kursi dengan pelan dan ragu. Luna menatap Nando sekilas lalu mengangguk.      Luna membetulkan letak kerudung nya seraya menatap kikuk Nando yang duduk di depannya dan juga sedang menatap nya.     "Setelah lulus nanti kamu mau kemana Lun." Tanya Nando mengulas senyum.     "Pengen nya sih ke SMA Negeri.. kamu kemana Ndo ?" Luna menatap Nando sekilas.     "Aku sih juga pengennya ke Negeri favorit tapi kata ayah aku suruh masuk SMK Telkom Bandung." Keluh Nando dengan menghela nafas.     "Ooh tapi kamu nya mau ?" Tanya Luna lagi.     "Yaaah mau nggak mau deh.. soalnya kan ayah akan di pindah tugaskan ke sana.. kalo di sini kata ayah nggak ada yang ngawasin." Jelas Nando pasrah.     "Kalo itu demi kebaikan kamu ya di turutin aja Ndo.. semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya." Saran Luna.     "Iya sih." Sahut Nando singkat.     "Eh ternyata Luna asyik juga di ajak ngomong nya.. kirain anak pendiem itu nggak asyik.. ternyata nggak kaku-kaku amat." Batin Nando senang, karena Nando sudah lama menginginkan ngobrol dengan Luna.      "Tumbenan Nando ngajak ngobrol.. biasanya kan dia diem aja kalo ketemu aku." Kata Luna dalam hati.      "Sorry Lun lama !" Sapa Cila yang baru datang.      "Nggak papa Cil." Ujar Luna tersenyum.      "Hai Ndo.. tumbenan lo gabung sama Luna.. biasanya sama genk lo." Tegur Cila seraya mengernyitkan dahinya.      "Hehe i--ya Cil.. tadi aku liat Luna duduk sendirian makanya aku ikut gabung." Jawab Nando gugup.      Cila hanya manggut-manggut saja, Luna yang melihat Nando gugup langsung mengulum senyum nya.      "Lo nggak pesen makanan atau minuman gitu." Tanya Cila kepada Nando.      "Eh anu nggak Cil.. gue juga nggak lama kok..berhubung lo udah dateng gue canut dulu ya.. Bye Cil bye Lun." Segera saja Nando pamit dan bergegas pergi dari tempat duduknya.      "Ngobrol apaan aja tuh si Nando.. nggak biasanya dia negur lo." Curiga Cila sambil menatap mata Luna intens.      "Nggak ngobrol apa-apa kok.. cuma dia tadi nyanain aku mau nerusin ke mana.. kalo dia di suruh nerusin di Bandung di suruh ayahnya." Jelas Luna.      "Ooh kirain ngobrol apaan.. gue curiga aja sama dia kok tumbenan.. jangan-jangan ada mau nya sama lo Lun." Curiga Cila lagi.      "Iiih jangan su'udzon ah." kata Luna sambil terkekeh.      "Bukannya gue curiga Lun.. soalnya kan denger-denger dia suka juga sama lo kayak si Arya preman kelas 9F." Kilah Cila sebal saat menyebut nama Arya.      "Udah ah jangan di bahas.. mending kita balik yuk udah siang." ajak Luna seraya bangkit dan menggendong tas nya di punggungnya.     "Yuk.. ohya Metha kan nggak ada.. lo naik apa ?" Cila menghentikan langkahnya menatap Luna.     "Aku naik angkutan umum aja Cil.. yuk bareng." Luna menggandeng tangan Cila yang berhenti.     Rumah Luna dan Cila berlawanan arah, berdua berjalan bersama menuju halte yang ada di ujung jalan sekolah nya. Untuk mencapai rumah Luna ia harus naik angkutan umum sekali, sedangkan Cila dia naik 2 kali.       Di halte nampak ada beberapa anak saja yang Luna kenal sedang menunggu angkot selebihnya anak-anak dari sekolah sebelah. Saat sedang menunggu angkutan umum yang lewat, tiba-tiba datang sebuah  mobil jeep Wrangler hitam itu adalah Nando.       "Hai Luna.. Cila.. bareng yuk ! buruan naik !" Ajak Nando dengan nelongkkan kepalanya keluar jendela mobil. Luna dan Cila saling menatap kemudian saling menggeleng.      "Makasih Ndo aku naik angkot aja." Tolak Luna halus.       "Iya Ndo gue naik angkot aja bareng Luna." Sahut Cila       "Dah nggak papa aku anterin.. lagian arah rumah kalian berbeda.. yuk  buruan naik tuh di belakang udah macet." Ajak Nando memaksa.      "Nggak Nando makasih.. gue mau bareng Luna aja.." Kata Cila tetap pada pendiriannya yang akan naik angkot.      "Yaaah ya udah deh.. aku duluan daagh." Nando melarikan mobil nya meninggalkan Luna dan Cila dihalte.      "Sebel banget gue sama Nando.. orang nggak mau kok di paksa." Omel Cila kesal.      "Iya aku juga nggak bakal mau di anterin apalagi di anterin sama cowok." Ucap Luna yang sudah mulai kepanasan.      Tak jauh dari halte ada warung rokok kira-kira berjarak 10 meter ada sebuah mobil jeep Rubicon yang terparkir, di dalam nya ada seorang cowok yang senyum-senyum sendiri sedang memperhatikan Luna dari jauh. cowok itu segera memakai masker dan kacamata hitamnya, rambut di ikat rapih ke belakang, ia turun dari mobilnya lalu mendekati Luna dan Cila yang sedang berdiri menunggu angkot yang lewat, Luna nampak kepanasan yang membuat pipinya merona.      "Hai Luna.!" Seraya membuka kacamatanya sedikit lalu meletakkan telunjuknya di depan mulut agar mereka berdua diam.      "Kak Zi---a." Luna terbelalak dan menahan suaranya. Luna memandangi Zia dari atas hingga bawah, Luna tak percaya sekarang di depannya ada seorang Zia yang memakai celana jaens robek di lutut dan berkoas abu-abu dengan di lapisi jaket.       "Kak Zia ngapain kesini  ?" Tanya Cila terkejut.      "Sssttt.. yuk mari ikut saya." Ajakan Zia tak mungkin di tolak oleh keduannya       "I--iya tapi kita mau kemana kak  ? Luna mau pulang kak.. soalnya ini kan udah siang." Luna gugup dan masih kaget tak percaya.      "Iya mari saya antar pulang." Kata Zia seraya berjalan menggiring Luna dan Cila ke dalam mobilnya.      "Tapi kak." Cila berusaha menolak.      "Udaaaah pokoknya ikut saya sebentar." Paksa Zia.       Gaya berpakaian Zia yang  keren namun santai menjadi pusat perhatian anak-anak lain yang ada di halte .       "Eh itu kayak artis yang pernah ke sekolah kita deh." Curiga salah satu anak.       "Iih iya tapi siapa ya  ? tapi kok itu sama si Luna dan si Cila sih." Kata anak yang lain.       "Iya wajahnya kayak familiar deh nggak asing lagi." Ucap anak yang lain lagi.       "Gue inget itu Zia Dewananta guyyss." Teriak anak perempuan di halte.       "Kak Zia ya  ? minta tanda tangannya dong." Pinta anak perempuan.       "Luna.. Cila.. kamu duluan ke mobil ya." Pesan Zia sambil menunjuk mobilnya yang terparkir.      Namun dengan sabar dan ihklas Zia memberikan tanda tangan kepada anak itu, dan setelahnya Zia bergegas menyusul Luna dan Cila yang sudah berjalan menuju mobilnya.      Zia segera membukakan pintu mobilnya untuk Luna dan Cila, Cila tanpa ragu masuk dan duduk di kursi belakang, ketika Luna hendak naik melalui pintu penumpang menyusul Cila, buru-buru Zia mencekal tangan Luna dengan lembut.       "Enngg kamu di depan aja Lun.. masa dua-duanya di belakang.. berarti saya sopir dong." Canda Zia dengan mengulas senyuman.      Luna langsung blushing saat Zia mempersilahkan ia duduk di depan, bak ratu saja Zia memperlakukan Luna, kemudian Zia berlari memutari mobilnya lalu masuk dan duduk di belakang kemudi samping Luna seraya melepas masker dan kacamatanya. Luna nampak gugup dan salah tingkah, sedangkan Cila jangan di tanya deh, Cila malah kegirangan meskipun harus duduk di belakang sendirian, secara kapan lagi di ajak naik mobil sama Zia yang artis ganteng dan ramah.      "Okey.. makasih kalian udah mau saya antar.. sekarang mau langsung pulang atau mau jalan dulu ? yaaa barangkali mau makan siang.. kan ini udah hampir jam 12." Tawar Zia seraya focus ke depan tanpa melirik sedikit pun ke arah Luna, karena Zia pun merasakan hal sama dengan Luna, kikuk dan salah tingkah.      "Pulang kak !" Sahut Luna singkat.      "Boleh kak !" Jawab Cila bersamaan dengan sahutan Luna. Zia terkekeh sambil geleng-geleng dan terus focus mengemudi.      "Nah lho yang mana nih kok nggak kompak." Kata Zia masih terkekeh.      Keduanya hanya senyum-senyum saja, Luna menengok ke arah Cila yang duduk di belakang sambil menggeleng kan kepalanya sebagai tanda jangan macam-macam karena Luna malu.      "Makan aja kak.. Luna malu-malu empuss padahal dia mau tuh kak." Kata Cila dengan sengaja seraya menoel pundak Luna, padahal kan kode Luna tadi jangan macam-macam, Cila malah sengaja membuat Luna malu dan merona seketika.       "Iiih paan sih Cila." Rajuk Luna melirik Cila yang sedang tersenyum smirk dan itu membuat Luna jengkel.      "Oh gitu.. ya--ya--ya.. kita makan dulu kalo gitu." Zia terbahak sambil menengok ke arah Luna yang merona.      "Awass ya kamu Cil.. malah di sengaja in." Batin Luna kesal, Cila tersenyum puas dengan berhasil meledeki Luna.      Suasana hening seketika, Luna menatap depan dan sesekali ia melirik ke arah Zia yang sedang mengemudi tapi sambil mengulum senyum.      "Dih kak Zia kenapa senyum-senyum begitu sih.. genit ih." Kata Luna dalam hati namun senang karena bisa melihat Zia dari dekat meskipun melalui lirikan mata saja.       "Oh ya gimana ujian kalian ?" Zia memecah keheningan seraya menengok ke arah Luna.       "Alhamdulillah lancar kak." Cicit Luna lalu tersenyum sambil menunduk.       "Luna.. Luna.. kamu tuh selalu malu-malu gitu sih.. jadi pengen tau dan lebih deket lagi sama kamu." Batin Zia mengulum senyum.       "Jinak-jinak merpati." Gumam Zia lirih.       "Hah.. apa kak ? jinak-jinak merpati ?" Luna mengangkat alis nya, karena Luna tadi mendengar Zia bicara.       "Eeh nggak ada.. nggak papa kok.. hehe." Zia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.       "iih tadi perasaan kak Zia ngomong jinak-jinak merpati kok." Cicit Luna memandang aneh Zia. Sedangkan Zia cuek pura-pura sedang focus nyetir, padahal hatinya merutuki mulutnya yang tadi keceplosan.       Zia melirik kaca spion yang ada di depan nya, ternyata Cila sudah pules di jok belakang, dasar ya.. teman Luna yang satu ini emang pelor alias nempel molor.       "Cila tidur.. saat nya gue ngobrol leluasa sama Luna nih." Kata Zia dalam hati.      "Eeium Lu--na.. Lun." Panggil Zia pelan tanpa menengok, tapi tak ada jawaban, lalu Zia memanggil Luna sekali lagi.       "Lun.. astaga ternyata dia pules juga.. haduuh ciwi-ciwi pada tukang molor nih." Zia menepok jidat nya sambil tergelak.      "Yaaah gagal deh.. baru gue pengen ngobrol tanpa ada yang ganggu.. kapan lagi ada kesempatan kayak gini." Monolog Zia gemas.       "Luna kamu cantik banget kalo tidur gitu.. Bikin gemes." Gumam Zia seraya mengangkat tangan kirinya ingin membelai Luna, namun ia mengurungkan.       "Belum saat nya Zi." Cegah batin Zia.      Akhirnya Zia merasa bete karena di tinggal tidur oleh Luna dan Cila, mungkin mereka berdua merasa ngantuk dan sangat lelah setelah berpikir dengan keras dalam beberapa hari ini, wajar saja mereka tertidur secara mobil Zia sangat nyaman dan air conditioner nya pun sangat dingin di tambah sayup-sayup terdengar dentingan akustik nya Bonjovi.       Meskipun bete tapi Zia sangatlah senang bisa memandangi Luna nya dengan puas, Luna yang tertidur dengan kepala miring ke kanan ke arah Zia.        "Kayak sopir lo Zi." Bisik sisi buruk Zia.       "Nggak papa gue rela jadi sopir Luna yang siap nganterin dia kemana aja asalkan bersama dia." Bisik sisi baik Zia puas dan bangga.       Sampai lah mereka di sebuah Restoran Healthy milik keluarga nya, namun Zia tidak akan memberitahukan Luna atau Cila itu milik keluarga nya. Sengaja Zia tidak membangunkan Luna dan Cila agar Zia bisa terus memandangi wajah Luna yang putih, dengan sedikit rambut yang keluar dari krudungnya, bibirnya yang merah jambu dan tipis, tangannya yang putih bersih memegang tas, di sebelah kanan jari manis Luna tersemat cincin emas berbentuk hati dan ada matanya, dengan masih berseragam putih biru memang Luna masih pantas menjadi anak SMP, namun lebih pantas lagi kalo Luna sudah SMA mengingat badannya tinggi langsing dan pembawaannya yang kalem dan dewasa.      Zia sengaja menambah fan AC nya agar lebih dingin dan nyaman, Zia hampir tak berkedip memandangi wajah Luna, tetiba Zia teringat waktu di Solo, ia tak bisa membayangkan jika saja dirinya tidak mengikuti rombongan Luna, pasti Luna sudah kenapa-napa, Zia menarik nafas dan menghembuskan dengan kasar, ia yak mau membayangkan peristiwa yang seram-seram, maka di buanglah jauh-jauh pikiran itu, lebih baik ia menikmati saja pemandangan indah yang ada di depannya.       Lama-kelamaan Zia bosen juga menunggu keduanya bangun, lalu Zia mengambil handphone nya dari sakunya ia lihat tidak pesan atau panggilan yang masuk, Zia dengan iseng mangambil gambar Luna yang sedang tidur sambil senyum sendiri, lalu Zia mengantongi lagi hapenya, akhirnya Zia pun ikut tertidur dengan menyenderkan kepalanya di sandaran jok.      Waktu sekarang sudah menunjukkan pukul 12.30 itu artinya mereka tertidur kurang lebih 30 menit, ketiganya asyik dengan mimpi masing-masing, tiba-tiba mereka di kagetkan dengan sebuah ketukan pada jendela mobilnya, rupanya yang mengetuk dari luar itu adalah security. Spontan ketiga nya kaget bukan main, Luna terkesiap pada dirinya yang ketiduran juga.      "Astagfirullah aku ketiduran.. duuh malu banget sama deh sama kak Zia." Batin Luna dengan mengerjap-ngerjapkan matanya.      "Yaak ampun gue ketiduran Lun.. dah sampe mana nih.?" Tanya Cila bingung.       "Iya saya juga jadi ketiduran gara-gara nungguin kalian bangun." Kata Zia tergelak lalu ia menurunkan kaca mobilnya.       "Maaf kak." Cicit Luna       "Iya kak sorry habis nya ngantuk banget tadi." Ujar Cila masih menguap.       "Lun kenapa lo nggak  bangunin gue ?" Tegur Cila.       "Yaah Cil aku aja ketiduran.. malu sama kak Zia deh." Desis Luna setengah berbisik.       "Ya pak.. ada apa  ?"  Zia bertanya kepada security itu.        "Anu mas Zia.. sudah di tunggu chef Ibas katanya pesanannya sudah selesai di hidangkan." Security itu menundukkan kepalanya.       "Oh iya pak saya segera kesana." Ujar Zia seraya menaikkan lagi kaca jendela mobilnya.       "Luna.. Cila kita udah sampe yuk turun kita makan siang dulu setelah itu saya antar kalian pulang." Ajak Zia agar mereka segera turun dan makan siang.       Luna dan Cila saling berpandangan, mereka terkejut di ajak Zia ke sebuah restoran mewah di bilangan Jakarta Selatan  yaitu resto n cafe Healty.       "Kok kita kesini kak ?" Tanya Luna ragu.       "Iya emang nya kamu mau kemana Lunaaa.. kita makan siang di sini dulu.. saya yang traktir kalian okey." Zia menaikkan dahinya lalu tersenyum.        Luna dan Cila berpegangan tangan sangat erat, sepertinya Luna agak takut begitu pun dengan Cila, pasalnya mereka berdua belum pernah makan di restoran ini.      "Cila.. aku takut.. kita nggak akan di apa-apain kan sama kak Zia ?" Luna mengeratkan tangannya di lengan Cila.      "Gue juga sebenernya takut tapi kita bismillah aja Lun.. gue yakin kak Zia orang baik kok.. kalo emang dia jahat pasti kita udah di apa-apain tadi waktu kita ketiduran.. nyatanya kita masih utuh kan ?" Bisik Cila sembari meremas tangan Luna.      "Selamat datang pak Zia." Sapa pelayan yang memakai baju putih lengakp dengan dasi kupu-kupu di kerahnya. Zia hanya tersenyum.      "Lun lo denger nggak ? kak Zia di panggil pak oleh pelayan itu." Tunjuk Cila pakai dagu.       "Iya aku denger.. tadi juga pas di mobil katanya security kak Zia udah di tunggu sama chef siapa gitu." Ujar Luna pelan.      "Apa jangan-jangan ini restoran milik kak Zia." Tebak Cila.      Luna dan Cila terus berjalan di belakang Zia yang berjalan mantab penuh wibawa di depannya, Luna dan Cila sangat heran pada pelayan serta pegawai restoran ini, hampir semua karyawan menunduk hormat kepada Zia.      Restoran itu sangat mewah dan bersih warna putih mendominasi seluruh ruangan VVIP yang di pesan oleh Zia. Pelayannya yang ramah menjadikan restoran ini ramai pengunjung,  berbagai menu yang di tawarkan adalah bukan makanan sembarangan pasalnya semua menu yang tersaji di dalam restoran tidak menggunakan MSG tetapi menggunakan penyedap rasa dari kaldu jamur.      Zia memesan makanan dan minuman untuk Luna dan Cila, mereka menikmati santapan makan siang dengan obrolan ringan, sesekali netra Zia dan Luna bertemu, dan keduanya merasakan gugup yang luar biasa.     Setelah mengantar Cila terlebih dahulu barulah Zia mengantar Luna pulang setelah menanyakan alamat rumah Luna, meskipun tidak searah dengan Cila namun Zia sangat senang.      "Eiuum apa aku ngomong aja ya sekarang mumpung lagi berdua. aku kan belum minta maaf dan berterima kasih pada kak Zia atas kejadian waktu itu." Batin Luna.        "Kak.." Panggil Luna pelan nyaris tak terdengar. lalu ia menggigit bibirnya.        "Ya Lun.. kenapa ?" Tanya Zia menengok Luna sebentar lalu kemudian melihat ke depan.         "Maafin Luna kak." Luna menunduk.        "Loh minta maaf untuk apa  ?" Heran Zia.        "Maafin Luna gara-gara Luna kak Zia terluka di bagian paha.. dan makasih juga kak Zia udah nolongin." Ucap Luna dengan nada sedih.         "Udah lewat Luna nggak usah di bahas lagi, lagipula saya nya juga kan nggak kenapa-napa kok.. udah sehat sekarang." Terang Zia seraya memberanikan diri menepuk tanagn Luna pelan.       "Tapi kak.. karena Luna jadi kak Zia bolos kuliah juga berenti bekerja tuk sementara waktu." Mata Luna sudah berkabut.        "Kamu jangan sedih gitu dong.. yang penting saya kan sekarang udah sehat dan udah bisa nganterin kamu pulang kan." Zia coba menghibur Luna yang sepertinya akan menangis.       "Justru kalo nggak ada saya.. saya nggak bisa bayangin kamu nya gimana." Bayang Zia ngeri.        "Iya kak.. hiks.. hiks.."Luna terisak.      "Lhoo kok kamu jadi malah nangis gitu ? kamu terlalu khawatir ya sama saya." Goda Zia seraya mengusak kepala Luna.        "Diiiiih kak Zia ge er." Ucap Luna malu-malu dan sontak berenti dari nangisnya.        "Mending ge er dari pada minder kaan." Ledek Zia dan Luna tersipu malu.        "Luna.. boleh nanya sesuatu nggak ?" Zia sedikit ragu.        "Nanya apa kak ?" Tanya Luna sambil menatap Zia, netra nya saling bertemu.        "Saya yakin gadis seperti kamu pasti belum punya pacar kan ? kalo emang belum punya kamu jadi pacar saya." Tembak Zia. Bersambung..             
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD