CHAPTER 3

1759 Words
CANDICE EMRYS KUSANGKA daya tahan organ pencernaanku sudah mulai terbiasa dengan perpindahan mendadak semacam ini, tetapi ternyata efeknya jauh berkebalikan dari sangkaanku sebelumnya. Bisa kurasakan bagaimana kudapan tadi pagi mulai mengalir naik dari satu organ ke organ lainnya hingga mencapai tepi mulutku. Tidak ada waktu untuk mencegatnya, jadi kutumpahkan segalanya di permukaan tanah hingga kubangan cairan kental berwarna putih s**u terbentuk di sana. “Astaga! Apa kau bersungguh-sungguh ia adalah putri dari Sang Terpilih?!” Suara cengking seorang gadis merebak di indra pendengarku. Aku masih terlampau sibuk untuk menoleh, tetapi segera kulakukan begitu kudapan terakhirku sudah terkuras tak bersisa. Visualku menemukan empat sosok berjubah hitam saat aku berbalik secara impulsif. Mereka tidak mengizinkanku melihat wajah di balik kepalanya yang bertudung sedikit pun. “Pemimpin tidak mungkin salah,” kata salah satu dari mereka. Kali ini, suaranya terdengar lebih berat. Sudah pasti ia adalah seorang pemuda. “Kita bisa langsung menghabisinya.” Seorang pemuda yang lain bersuara, hanya saja terdengar lebih ringan dari pemuda bersuara berat tersebut. Dari gerakan tubuhnya, aku menebak suara itu bersumber dari sosok berjubah yang ketiga. “Jika Sang Terpilih dan pasangannya bisa terkalahkan dengan sangat mudah, apalagi satu ini? Bahkan aku belum bisa melihat potensinya.” “Jangan terlalu bermulut besar dan berotak kosong.” Suara baru itu terdengar lebih tenang di antara kawan-kawannya yang lain—begitu misterius dan elegan untuk seorang gadis dari stratifikasi sosial kelas atas. Ia meneruskan, “Langsung serang dia saja.” Sepasang alisku bertaut seiring dengan munculnya kernyitan pada permukaan keningku. Merasa bingung dengan pembicaraan mereka, sampai-sampai aku hampir melupakan fakta tentang cara yang kutempuh untuk masuk ke pelosok hutan. “Tunggu sebentar!” kataku, tiba-tiba. Saat kurasakan seluruh kepala terselubung mereka mengarah kepadaku seorang, lidahku terasa kram mendadak. Tidak ada suara yang keluar dari bibirku selain indra pengecapku. “Ia tidak akan bisa melarikan diri.” “M-memang tidak bisa.” Pada akhirnya, suaraku dapat terlontarkan meski bak seekor katak yang terjepit almari. “Begini. Mungkin kedengarannya begitu mustahil untuk kalian—kita—maksudku. Dan percayalah, berakhir di pelosok hutan ini pasca disedot untuk kali ketiganya oleh sesuatu yang menjanggal telah kutempuh selama seperempat hari ini.” Kebisuan merangkak selama beberapa waktu. Bayang-bayang dedaunan dari ranting pepohonan yang bergerak naik dan turun jatuh ke permukaan tanah akibat terpantul sinar mentari. Aku memperhatikan bayangan itu sejenak guna mengumpulkan udara segar. Lalu, aku bergegas melanjutkan, “Kemudian, aku bertemu dengan kalian—yang entah sedang membicarakan apa—yang mana intinya bersangkutan dengan Sang Terpilih, serangan, dan lain-lain. Aku sama sekali tidak mengerti dan bisakah kalian menjelaskannya?” Sepasang mataku masih berusaha menerobos tudung kepala mereka untuk melihat wajah-wajah itu. Kurasa aku terlalu banyak bicara dan mengusik pembicaraan mereka, karena belum ada satu pun yang bersuara setelah aku mengatakan kalimat-kalimat itu dengan cepat. Jadi, aku berniat untuk berbalik badan dan mencari jalur keluar dari hutan seorang diri. Namun, setiap visualku pasti hanya menemukan objek-objek yang sama, yakni berupa pepohonan dengan tingkat kerapatan yang cukup tinggi. “Mari kita mengesampingkan betapa menjijikkannya putri dari Sang Terpilih.” Si gadis pemilik suara cengking kembali merebak di indra pendengarku. “Ternyata Pemimpin benar. Ialah penyihir yang dimaksud oleh Pemimpin.” Kulihat kawan-kawan gadis itu mengangguk kecil. “Karena ia terlihat lemah, bisakah kita menghabisinya sekarang?” Satu hal yang aku tahu, mereka semua sedari tadi membicarakan sesuatu yang tak kumengerti. Dan aku rasa pembicaraan mereka ada sangkut pautnya denganku—anggapan itu hanya berdasarkan instingku yang senantiasa benar dan kuharap kali ini tidaklah benar—meski mereka mengatakannya seakan-akan aku tidak mendengar. “Jangan salah.” Pemuda bersuara berat merespons, “Sihir spesialnya adalah pelenyap. Ia berhasil melenyapkan segel bahasa kita.” Si pemuda berjubah ketiga menoleh ke kanan—dan berarti pemuda bersuara berat itu adalah pemilik jubah kedua—segera menimpal dengan santai, “Ketimbang dengan kau yang memiliki sihir—aduh! Kau menginjak kakiku, vampir!” Ia mengaduh saat si pemilik jubah keempat di samping kirinya mengentakkan tulang telapak kakinya. “Maksudku, ia bukanlah tandingan apa-apa untuk kita. Lagi pula, segel bahasa yang sempat kita ciptakan hanya seperempat dari segel aslinya.” “Eh, aku masih ada di sini. Pertanyaanku belum dijawab.” Aku kembali bersuara, memastikan keempat sosok berjubah itu masih menyadari keberadaanku. “Kuharap ini bukanlah sebuah siaran langsung di saluran televisi atau paman dan bibiku akan mencariku kemari.” “Kau belum tahu.” Suara elegan dari si jubah keempat membuat roma bulu halus di sekitar tubuhku berdiri, diam-diam penasaran butuh berapa tahun untuk mengolah suaranya menjadi sesuatu yang dapat mengintimidasi seseorang dengan mudah tanpa melenyapkan keeleganan pada nadanya. “Jelas aku belum tahu!” hardikku. “Dengar. Jika kalian bermaksud untuk menyakitiku atau apalah, ketahuilah bahwa aku hanya seorang remaja biasa yang baru saja keluar dari rutan. Tolong, setidaknya izinkan aku untuk menikmati kehidupan baruku karena aku masih terlalu amatir dan naif untuk ini semua.” “Kurang ajar! Ia menghardik kita,” beo si pemilik suara cengking—jubah pertama. “Akan kuberikan dia sebuah pelajaran yang setimpal.” Ia berlari cepat menuju ke arahku. Tanpa sempat melakukan persiapan apa pun, tentu aku tidak bisa menghindar dari terjangannya yang terlampau mendadak. Jadi, saat ia menerjang perutku dengan kepalan tangan kanannya, tubuhku langsung terhempas ke belakang dengan punggung membentur pepohonan. Bisa kurasakan kerasnya permukaan batang pohon itu—sampai-sampai pening di kepala tadi tergantikan oleh nyeri di bagian punggungku. Sepasang mataku berkaca-kaca. Rasa takut tentu ada—tetapi sebab aku menangis bukan karena itu. Aku mengerang dan mencoba untuk mengusap punggungku, berharap tidak mengalami patah rusuk ataupun kejadian-kejadian yang tak mengenakkan. Amit-amit. Memutarkan pundak, aku mengangkatnya untuk mengusap air mata yang sudah terlanjur keluar akibat rasa sakit yang mendera punggungku. “Serahkan kami Sapphire Galaxy!” Kini, ia berdiri menjulang tinggi persis di depanku. Tudung kepalanya separuh terbuka—di mana aku bisa melihat surai oranye miliknya menjuntai sepanjang d**a. Manik mata kuning merupakan perpaduan yang sinkron dengan warna rambutnya. Sebenarnya, jika tidak ada sarat angkuh di wajahnya, mungkin saja aku akan beranggapan ia lumayan cocok untuk menjadi seorang publik figur. Namun, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memiliki spekulasi seperti itu. Satu tangan lentiknya terulur ke depanku, sampai-sampai aku sempat berpikir ia sedang menawarkan diri untuk membantuku bangkit. Tetapi, aku mengingat kembali pertanyaan yang diutarakannya tadi dan mengurungkan niat untuk membalas uluran tangannya. Sembari melawan rasa sakit yang masih mendera, aku memejamkan netra hijauku sejenak, kemudian menarik napas. “Sapphire Galaxy? Apa yang tengah kaubicarakan?” “Jangan berlagak naif! Kami tahu kau memiliki pedang itu!” Kali ini, gadis bersurai oranye itu yang menghardikku. Diam-diam, hati kecilku ingin sekali menerjangnya demi pembalasan dendam atas alasan yang sama—menghardik dengan kurang ajarnya—tetapi aku masih sangat waras untuk menyadari bahwa keempat sosok berjubah itu bukanlah manusia biasa. Tidak ingin menjatuhkan harga diri di depan mereka, aku memberanikan diri untuk mendesis, “Aku tidak mengerti! Sapphire Galaxy, pedang, Sang Terpilih, sihir, dan lain-lain! Kalian sedang mendongeng atau bagaimana, sih?!” “Kau—” Ketika ia melontarkan geraman muak dan hendak melayangkan telapak tangannya tepat di wajahku, tiba-tiba saja gadis itu terhempas ke arah samping. Embusan angin terasa menerpa wajahku pasca ia terbentur oleh batang pohon yang lain, namun mendarat dalam keadaan yang sama sepertiku tadi. Aku lantas memanfaatkan peluang satu ini untuk bangkit, walaupun agak ngeri setelah tulang punggungku bekertak sesaat. Sedikit kelimpungan, kulihat seseorang mendatangi kami dengan sepasang mata tajamnya. Samar-samar, aku bisa melihat warna merah di manik matanya, namun tidak berlangsung lama. Sedetik kemudian, warnanya menjadi hitam pekat tanpa menjejakkan sedikit pun kemerahan di sana. Aku tidak terlalu ambil pusing dengan itu, karena berkemungkinan besar hanya salah lihat saja. Beberapa detik setelah indra penglihatku berubah menjadi lebih baik, sepasang mataku membeliak bulat besar. Tidak yakin dengan kehadiran si pemilik mata tajam itu, aku memejamkan mata sebentar dan tubuhku sukses menjengit. Bertepatan dengan membukanya kedua mataku kembali, aku menemukan orang itu telah berdiri menghadapku. Cara pandangnya sama persis dengan caranya menatapku di pertemuan kami kali pertama. Dingin, tajam, dan penuh intimidasi berkelibangan menjadi satu—membuat keberanianku menciut kala itu juga. Begitu sepasang mataku menerawang ke sekeliling hutan—melihat apa pun kecuali netra tajamnya, kesadaranku akan kepergian keempat sosok berjubah itu mendadak kembali. Mereka tidak lagi berdiri di sana—tidak terlihat di mana pun—termasuk gadis bersuara cengking tersebut. Kedatangan pemuda itu mungkin adalah sebuah anugerah untukku—sekaligus sebuah prelude dari musibah yang akan hadir dalam bentuk kicauan Paman Miles dan Bibi Harlow sebentar lagi. Sesosok makhluk bertanduk tiba-tiba menerjangku dari balik celah dedaunan. Tidak sakit—setidaknya tidak akan sesakit terjangan gadis tadi. Alih-alih, tanganku refleks merengkuhnya erat-erat saat menyadari makhluk bertanduk itu adalah makhluk sama yang kutemukan di lokasi pintu tersembunyi pada perpustakaan mini. Aku bahkan terlalu sibuk untuk mengingat keberadaannya kala tadi. Entah sejak kapan ia keluar dari rengkuhanku dan berakhir mendatangiku bersama pemuda itu di sisinya. “Ada berapa banyak di antara mereka?” Tristan Baxter tidak melepaskan atensinya dariku ketika sepasang mataku berusaha untuk menatapnya. “Empat,” jawabku, singkat dan hampir menyerupai bisikan. Jiwaku agak terguncang setelah kejadian tadi, apalagi rasa sakit yang menyerang punggungku belum sembuh benar. Kutemukan kernyitan samar di keningnya. Namun, ia tidak mengatakan apa pun setelahnya. Alih-alih mencercaku dengan beragam pertanyaan, Tristan menurunkan pandangannya kepada makhluk imut dan aneh yang masih berada di dalam rengkuhanku. Saat aku melakukan pergerakan yang sama, kulihat makhluk itu memiringkan kepalanya ke arah kanan dan kiri secara bergantian. “Aku tidak mengerti,” gumamku. “Dalam beberapa jam ini, aku melewati hari-hariku dengan serangkaian peristiwa menjanggal.” Sepasang mataku dan milik Tristan bertumbukan begitu aku mengangkat kepalaku kembali. “Mungkin semua ini terdengar aneh, namun aku sudah melakukan perpindahan dari satu lokasi ke lokasi yang lain untuk ketiga kalinya.” Aku tidak tahu mengapa bibirku bisa langsung membeberkan peristiwa-peristiwa itu kepadanya. Tidak ada rasa takut yang menyelinap ke benakku saat memaparkan semua kejadian ini secara rinci kepada Tristan. Jika Paman Miles dan Bibi Harlow mengirimkan seseorang kepadaku, sudah dipastikan ia dan Rhett telah mendapat kepercayaan penuh dari mereka. “Kita kembali,” ujarnya. Suaranya terdengar berat dan terkendali. Ia menatapku, masih dengan sarat yang sama. Kali ini, telapak tangan besarnya meraih lenganku dan bergerak maju selangkah, menghapus jarak yang tercipta di antara kami. Kurasakan telapak tangan besarnya bertumpu di puncak kepalaku, memberikan sedikit penekanan di sana. Ironisnya, aku merasakan gelenyar hangat menyeruak sampai ke pembuluh darahku—kali ini menuntunku bukan menuju lokasi lain, melainkan ke suatu alam abstrak yang sudah kuharapkan sejak tadi untuk mencari kelengangan yang sejati; … dan setidaknya aku tidak perlu repot-repot cemas untuk sementara ini.[]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD